Dua tahun menjalani hubungan rahasia (backstreet) dengan Dimas—pria matang keturunan darah biru—Kirana rela mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya. Ia melepaskan masa lalu, melawan restu keluarganya sendiri, hingga meruntuhkan tembok perbedaan besar demi menyamakan arah masa depan dan bersiap melangkah ke jalan yang sama dengan sang kekasih.
Namun, tepat di hari saat ia siap menyerahkan seluruh hidupnya, takdir menghempaskannya tanpa belas kasihan. Di sebuah gedung pesta yang megah, dunia Kirana seolah runtuh. Di atas pelaminan mewah, Dimas justru bersanding dengan wanita lain yang merupakan atasannya sendiri. Tanpa ada kata putus, tanpa perpisahan hangat. Kirana ditinggalkan begitu saja dalam kehampaan oleh pria yang berjanji menjadi kompas hidupnya.
Sanggupkah Kirana bertahan dan menemukan kembali jati dirinya setelah pengorbanan tulusnya diinjak-injak? Dan bagaimanakah takdir menjemput penyesalan terdalam sang lelaki darah biru tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lembaran Baru dan Pria Pelindung di Balik Layar
Matahari siang ibu kota bersinar terik, memantulkan cahaya menyilaukan di atas aspal jalanan raya yang dipadati kendaraan. Di dalam kabin mobil SUV mewah keluaran terbaru milik dr. Adrian, suhu udara terasa teramat sangat sejuk, berbanding terbalik dengan panasnya cuaca di luar sana. Alunan musik instrumental klasik mengalun pelan dari speaker mobil, menciptakan atmosfer yang menenangkan.
Di kursi penumpang depan, Kirana duduk dengan postur tegak yang anggun. Sepasang mata bulatnya yang jernih terus menyapu deretan bangunan di sepanjang jalan raya yang ramai, mencari-cari plakat bertuliskan "Disewakan" yang menempel pada ruko-ruko strategis.
Sementara itu, di kursi belakang, Aisyah bertingkah seperti seorang ratu dadakan. Wanita bermulut ceplas-ceplos itu menyandarkan punggungnya di jok kulit yang super empuk, sembari asyik memakan camilan mahal yang sengaja disiapkan oleh Ibu Sarah sebelum mereka berangkat tadi.
"Pak Dokter... ini mobil empuk banget deh rasanya kayak kasur air! Pantesan orang kaya pada gak pernah masuk angin ya, AC-nya aja wangi bunga melati, bukan wangi stella jeruk kayak angkot," celetuk Aisyah dengan mulut penuh, membuat Kirana langsung memijat pelipisnya karena malu dengan tingkah udik sahabatnya itu.
Dr. Adrian yang sedang fokus memegang kemudi hanya terkekeh pelan. Pria dengan kemeja kasual yang digulung sebatas siku itu melirik sekilas ke arah Kirana melalui ujung matanya. Senyum tipis yang teramat maskulin terukir di bibirnya.
"Biarkan saja, Kirana. Aisyah bebas mau ngapain saja di belakang," ucap dr. Adrian dengan suara baritonnya yang berat dan menenangkan.
"Bagaimana? Apa kamu sudah melihat ada lokasi ruko yang sekiranya cocok dengan kriteriamu?"
Kirana menggeleng pelan, wajahnya tampak serius menimbang-nimbang. "Belum ada yang pas, Dokter. Saya ingin mencari ruko yang posisinya persis di pinggir jalan raya utama, memiliki akses parkir yang terang, dan kalau bisa berada di kawasan niaga yang hidup selama dua puluh empat jam. Dengan begitu, Dimas tidak akan punya celah sedikit pun untuk bertindak nekat. Kawasan yang ramai adalah sistem keamanan alami yang paling baik."
Mendengar pemikiran Kirana yang teramat sangat logis dan cerdas, rasa kagum di dalam dada dr. Adrian semakin membengkak. Pria itu mengangguk setuju. Ia lalu memutar setir, membawa mobil SUV mewahnya memasuki sebuah kawasan pusat bisnis terpadu yang terkenal sangat sibuk, elit, dan padat oleh lalu lalang masyarakat.
Tidak butuh waktu lama, pandangan mata dr. Adrian menangkap sebuah ruko dua lantai dengan cat putih bersih yang terletak tepat di sebelah minimarket 24 jam dan sebuah klinik apotek yang ramai. Di depannya, terdapat pos keamanan lingkungan yang dijaga oleh dua orang satpam (security). Ada plakat bertuliskan "Disewakan" tertempel di kaca depan ruko tersebut.
"Kirana, coba kamu lihat ruko putih di sebelah kiri depan itu," tunjuk dr. Adrian sembari menepikan mobilnya secara perlahan. "Lokasinya tepat berada di jantung jalan raya. Di sebelahnya ada minimarket dan klinik yang buka dua puluh empat jam penuh. Bahkan ada pos satpam persis di depan halamannya. Saya rasa ini adalah tempat berlindung sekaligus lokasi bisnis yang teramat sangat sempurna untuk kamu."
Mata Kirana langsung berbinar terang. Hatinya seperti menemukan sebuah oase di tengah gurun. Lokasi ruko itu mengekspresikan seluruh doa dan kriterianya. Tanpa membuang waktu, mereka bertiga langsung turun dari mobil dan menemui agen properti yang kebetulan sedang berada di lokasi untuk mengecek kondisi ruko.
Begitu masuk ke dalam, Kirana langsung dibuat takjub. Lantai bawahnya sangat luas dan memanjang, sangat cocok untuk memajang patung manekin dan hasil jahitan konveksinya. Sementara lantai duanya bener-bener bersih, memiliki dua kamar tidur dengan sirkulasi udara yang sangat baik, serta dapur kecil yang rapi.
"Masya Allah, Ran... ini mah ruko sultan namanya! Bersih kinclong bgt, kamar mandinya aja pakai shower segala! Fix, kita ambil yang ini aja, Ran! Biar keluarga Dimas nangis darah kalau liat kita sukses di tempat mewah begini!" Bisik Aisyah heboh sembari menarik-narik lengan gamis Kirana.
Kirana mengangguk mantap. Menoleh ke arah agen properti tersebut. "Bapak, saya berminat menyewa ruko ini untuk durasi satu tahun penuh di awal. Boleh saya tahu berapa harga sewanya?"
Ketika agen properti itu menyebutkan angka sewa tahunan yang cukup fantastis karena letaknya yang berada di kawasan elit, Aisyah langsung menelan ludahnya dengan susah payah. Namun, Kirana tampak teramat tenang. Bisnis konveksinya sebelum dihancurkan oleh teror Dimas sudah meraup omset puluhan juta berkat kerja samanya dengan influencer, sehingga tabungannya sangat mencukupi.
Baru saja Kirana hendak membuka tasnya untuk mengambil buku cek, sebuah tangan besar dengan punggung tangan yang dihiasi urat-urat maskulin lebih dulu menyodorkan sebuah kartu ATM Black Card berkilau ke hadapan sang agen properti.
"Biar saya yang melunasi pembayaran sewanya untuk tiga tahun ke depan sekalian, Pak," ucap dr. Adrian dengan nada suara yang teramat datar namun sarat akan kekuasaan finansial yang absolut.
Kirana terkesiap kaget. Dengan sigap, wanita mualaf yang memiliki harga diri tinggi itu langsung menahan lengan dr. Adrian, membuat gerakan pria itu terhenti di udara. Sengatan aneh mengalir deras ke seluruh pembuluh darah Adrian begitu merasakan sentuhan lembut jemari Kirana di lengannya.
"Dokter Adrian, mohon maaf... jangan lakukan ini," ucap Kirana dengan tatapan mata yang teramat tegas tapi tetap lembut dan sopan.
"Kirana, ini tidak ada artinya bagi saya. Anggap saja ini sebagai bentuk dukunganku untuk usaha mandiri kamu," balas dr. Adrian dengan sorot mata yang penuh dengan perlindungan tulus.
Kirana menggeleng pelan, menarik tangannya mundur dengan anggun. "Saya sangat menghargai kebaikan hati Dokter. Tapi saya sudah berjanji pada diri saya sendiri, bahwa saya akan membangun ulang bisnis ini dengan keringat dan uang hasil kerja keras saya sendiri. Saya tidak ingin memulai lembaran baru dengan berutang budi, apalagi dalam jumlah yang sebesar ini. Tabungan hasil konveksi saya kemarin Alhamdulillah masih sangat mencukupi untuk membayar sewa ruko ini."
Mendengar ketegasan prinsip wanita di depannya, dr. Adrian kembali dibuat bungkam. Ia menarik kembali kartu Black Card-nya sembari tersenyum penuh kekaguman. Wanita ini berlian yang sangat mahal. Kirana bukanlah parasit yang silau akan kekayaan pria. Kemandirian dan harga diri Kirana membuat dr. Adrian semakin jatuh cinta gila-gilaan pada sosok mualaf sholehah tersebut.
"Baiklah, Kirana. Saya menghargai keputusanmu. Kamu luar biasa," puji dr. Adrian dengan suara baritonnya yang melembut, sukses membuat pipi Kirana sedikit merona.
Transaksi pun selesai dilakukan oleh Kirana secara mandiri. Siang itu juga, dr. Adrian tidak tinggal diam. Pria tampan itu mengerahkan anak buah dan jasa angkut profesional bayarannya untuk membantu memindahkan seluruh mesin jahit, gulungan kain, dan barang-barang konveksi dari ruko lama Kirana yang sudah digembok Aisyah, menuju ke ruko mewah yang baru.
Waktu berlalu dengan sangat cepat. Sore harinya, ruko baru itu sudah tersusun rapi. Tiga mesin jahit utama telah berada pada posisinya. Patung-patung manekin telah dihiasi dengan gaun-gaun muslimah best seller karya Kirana dan dihadapkan langsung ke arah jalan raya yang ramai dari balik kaca transparan.
Di sudut ruangan, dr. Adrian tampak sedang sibuk berbicara dengan kepala keamanan (security) dari pos depan. Pria itu menyodorkan sejumlah uang pelicin yang cukup tebal ke tangan sang satpam.
"Saya minta tolong kepada Bapak untuk memantau keamanan ruko ini selama dua puluh empat jam penuh. Jika ada laki-laki bernama Dimas yang berani menginjakkan kakinya ke halaman ruko ini, apalagi sampai berbuat keributan, Bapak tidak perlu segan untuk langsung menyeretnya atau menghubungi saya detik itu juga. Ini nomor telepon pribadi saya," ucap dr. Adrian dengan raut wajah yang berubah menjadi sangat dingin dan mengintimidasi layaknya seorang mafia pelindung.
Sang satpam langsung mengangguk hormat dengan sikap sempurna. "Siap, laksanakan, Pak! Bapak tenang saja, kami akan menjaga ruko ini seperti menjaga markas kepresidenan!"
Kirana yang sedang menata gulungan kain dari kejauhan, tidak sengaja melihat interaksi dr. Adrian dengan satpam tersebut. Meski ia tidak bisa mendengar jelas apa yang diucapkan Adrian, tapi aura gentleman dan pelindung mati-matian dari pria itu mampu menghancurkan dinding trauma di dalam dada Kirana. Tanpa sadar, sebuah senyuman tulus dan manis kembali mekar di bibir Kirana.
"Cieee... yang senyum-senyum sendiri liat Pak Dokter turun tangan ngurusin keamanan ruko," goda Aisyah yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Kirana sembari menyikut peling pinggang sahabatnya itu. "Udah deh, Ran. Pria lajang kualitas premium kayak Dokter Adrian tuh bener-bener langka di bumi. Udah tampan, tajir, matang, gak pernah ke sentuh asmara karena sibuk sama dunianya, dan sekarang tanggung jawabnya luar biasa. Kamu tunggu apa lagi sih? Mending langsung digas aja jadi imam."
Kirana langsung mencubit lengan Aisyah dengan gemas, membuat sahabatnya itu mengaduh pelan. "Aisyah, kamu ini bener-bener deh! Jaga bicara kamu. Dokter Adrian itu sudah terlalu banyak membantu kita, jangan sampai ucapan kamu membuat beliau tidak nyaman."
Kirana menghela napas panjang, menatap seluruh ruangan ruko barunya yang kini memancarkan aura harapan baru yang teramat benderang. Perasaannya bercampur aduk antara rasa syukur, haru, dan semangat yang kembali berkobar.
"Syaah, Alhamdulillah... akhirnya kita bisa kembali berbisnis tanpa harus terus-terusan dilanda rasa takut," ucap Kirana sembari mengusap mesin jahit kesayangannya. "Oh ya, Syaah. Karena sekarang tempat kita sudah luas dan layak, dan bener-bener sudah aman dari gangguan Dimas..."
Kirana menghentikan kalimatnya sejenak, matanya menatap Aisyah dengan binar antusias. "Aku ingin mengadakan acara syukuran kecil-kecilan besok lusa. Sekalian mengundang anak-anak yatim untuk berbagi rezeki atas ruko baru ini."
"Wah, ide bagus bgt itu, Ran! Aku setuju seribu persen! Kita masak besar besok!" Sahut Aisyah dengan mata berbinar.
"Dan satu lagi, Syaah..." suara Kirana melembut, sarat akan kerinduan pada ilmu spiritual. "Aku rindu ingin kembali mendalami ilmu agama dan hafalan suratku yang sempat tertunda akibat teror kemarin. Tolong hubungi Gus Yusuf, ya. Sampaikan undangan syukuran kita ke beliau, dan tolong tanyakan apakah beliau bersedia kembali menjadi guru pembimbing spritualku dan mengisi kajian rutin di ruko baru kita ini."
Di detik yang sama saat nama 'Gus Yusuf' terucap dari bibir Kirana dengan nada penuh kekaguman dan kerinduan spiritual, langkah kaki dr. Adrian yang baru saja selesai berbicara dengan satpam dan hendak menghampiri mereka, langsung terhenti kaku di tengah ruangan.
Jantung dr. Adrian seperti tertembak peluru kasat mata. Senyuman tipis di bibir pria tampan itu seketika luntur, berganti dengan rahang maskulinnya yang tiba-tiba mengeras kaku. Sorot matanya yang tenang mendadak dipenuhi oleh kabut api cemburu yang teramat sangat asing dan membakar dada!
pasti ada kekecewaan disitu ,wajar sih kalau mereka marah
malahan Ratna lebih peduli kehilangan Dimas,kalau ayahnya Dimas koid,Dimas bebas haha,dsar otak nya 😄
dia yang salah tapi tidak mau disalahkan
hasil merebut itu ga awet bu, inget umur
kamu wanita kaya ,mandiri knp harus merebut hak orang lain. percuma hartamu😄
udah merebut malahan dia merasa korban😄
kan bisa dibicarakan baik" ,kalian sudah mendzolimi kirana
rasakan akibatnya sendiri
setidaknya harus ada omongan, Ratna juga ksian hasil merampas itu ga akan tenang
kalau kamu itu seorang yang tau agama
tidak akua menawarkan nikah siri ,padahal baru 3hari
ayo tetap semangat
tapi semoga ini bisa jadi pelajaran buat kamu iya
cinta beda agama apakah mereka akan bahagia