NovelToon NovelToon
Residu Ingatan

Residu Ingatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Teen / Time Travel
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: yopoyoi

Layaknya residu yang menggumpal dan sudah mendangkal, sulit sekali untuk dibersihkan. Ingatan yang sangat membekas itu juga sulit sekali disingkirkan-tentang dia yang ternyata tereliminasi oleh waktu.

Arinta masih tak menyangka kejadian ini benar-benar menimpanya. Kejadian yang melemparnya kembali ke dua puluh tahun silam. Tahun dimana bibit-bibit kehancuran dari rasa damai dikeluarganya dimulai.

Kejadian yang entah bisa dibilang membawa berkah atau justru membawa bencana?


Mulai: 6 Juni 2026
Selesai:

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yopoyoi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. Abang Pulang

"Kamu serius ini?" tanya Diah yang sudah mulai lelah berjalan.

"Iya. Dikit lagi," jawab Arinta.

"Kenapa nggak yang deket-deket aja sih? Kenapa harus yang jauh?" keluh Wiwin.

"Ya biar sekalian jalan-jalan aja."

"Kayaknya cuma Arinta doang yang jalan-jalannya di jalanan sore yang sumpek plus penuh motor, mobil ini," ucap Diah.

Arinta hanya terkekeh. Ya mau bagaimana lagi? Ini kesempatan untuknya supaya bisa datang lagi ke toko parfum kemarin untuk menemui ibunya.

"Abangmu setakut itu ngelepas kamu pergi sama kita-kita, padahal kan tugas sekolah. Emang kamu abis ngelakuin apa sih?" tanya Wiwin.

"Tau nih. Kenapa juga kamu nggak mau dianter sama abangmu aja? Kalo tau sejauh ini, tadi aku nggak nolak deh," tambah Diah.

"Maaf ya."

Arinta bisa melihat raut wajah kesal yang berusaha disembunyikan dari kedua temannya. Jujur, ia juga merasa bersalah sudah mengorbankan keduanya.

"Yahh.. Kok tutup sih."

Ekspresi lelah Diah dan Wiwin tambah kusut ketika mendengar ucapan Arinta yang tanpa dosa.

"Tutup?!" Wiwin berjongkok pasrah.

"Gimana sih, Ta! Kita udah capek-capek loh ini," gerutu Diah.

"Deadline tugasnya lusa ya? Berarti besok-"

"Apa sih, Ta?! Kenapa pengen banget di tempat ini juga? Apa spesialnya sih?! Kalo kita ke tempat yang deket sekolah pasti dari tadi udah kelar," omel Wiwin.

Arinta tertunduk merasa bersalah.

"Maaf ya."

"Ya udah. Kalo gitu besok aja, tapi... Yang deket sekolah!" final Diah.

"Oke," jawab Arinta lirih.

***

"Terus abang biarin gitu aja dia pergi sama temennya setelah kemarin kabur?"

"Ya gimana ya. Sama temen perempuannya ini."

Terlihat dua sosok laki-laki sedang beradu mulut di ruang tamu, menunggu seseorang pulang.

"Udah mau jam lima loh, masa- Arinta?! Darimana aja kamu?! Katanya kerja kelompok, kok lama banget? Segala nggak mau pegang hp, biar apa? Biar nggak bisa dicariin?"

Arinta yang baru datang dengan wajah kusut, menatap orang di hadapannya aneh. Bukan Miza yang barusan mengomel, tapi sosok laki-laki yang sepertinya lebih muda dari kakak pertamanya.

Ia tak menghiraukan dan sedikit berlari ke kamar.

"Arinta?! Abang belum selesai?!"

"Mario!!" kali ini Miza yang angkat suara, entah akan membela siapa.

Arinta ikut membeku di tangga mendengar bentakan sarat kemarahan tersebut, tapi ia masih belum membalikkan tubuhnya.

"Apa?! Kenapa abang biarin aja dia begitu?! Dia itu perempuan! Nggak bisa pergi-pergian ninggalin rumah seenaknya!"

"Kamu nggak pernah berubah ya? Jiwa egoisnya masih sama. Abang tau kamu takut kehilangan lagi, tapi nggak gini juga lah caranya."

Perdebatan sengit ternyata masih berlanjut. Arinta memutuskan berbalik badan dan menatap keduanya, walaupun sepertinya mereka sudah tidak menyadari keberadaannya lagi.

"Abang nggak ngerasain langsung, abang nggak ngeliat langsung, abang nggak ada di sini pas mama sama papa pergi, cuma Rio. Rio yang ada di tempat kejadian yang sama waktu itu, Rio juga cari bantuan sendiri, Rio bingung. Sekarang Rio cuma mau Arinta nggak ngerasain rasa takut dan bingungnya Rio waktu itu, makanya dia nggak boleh pergi sendirian," Mario menjelaskan setenang mungkin, walaupun ketakutan memancar dari matanya.

"Dan satu lagi. Ini bukan egois, tapi trauma. Trauma yang nggak bisa dibagi dan diceritain ke siapapun."

Mario beranjak pergi meninggalkan Miza yang kembali terduduk di sofa. Sepertinya ia memang benar-benar orang asing di keluarga ini yang tidak tahu apa-apa.

"A-abang.." Arinta mencegah Mario yang sudah berada di teras rumah.

Arinta masih punya tanda tanya besar. Pasalnya tidak ada ingatan apapun yang muncul. Biasanya kalau ada orang baru atau sesuatu yang penting, otaknya akan otomatis memutar ingatan.

Mario menoleh dengan wajah yang sudah tidak seemosional tadi.

"Maaf, dek."

"J-jangan pergi!"

Entah kenapa kalimat itulah yang keluar dari bibir Arinta.

Laki-laki berusia sekitar 23 tahun itu mengulas sebentuk senyum.

"Abang ada perlu, nanti kesini lagi kok."

"Abang tinggal dimana? Kenapa nggak pernah pulang?"

"Di asrama kampus."

Arinta memicingkan mata tidak percaya. 23 tahun belum sarjana? 6 tahun kuliah belum sarjana? Bodoh kali lah. Miza saja terpaut 7 tahun lebih tua dari Mario sudah jadi Dokter spesialis.

"Oh, kamu belum tau ya abang ngambil S2?"

Oke. Itu cukup keren.

"Kuliah dimana ya kira-kira?" gumam Arinta.

Mario terkekeh singkat. "Masih kedengeran loh."

"Di luar negeri, beasiswa."

Arinta tidak bisa tidak tercengang. Di zamannya saja kuliah di luar negeri terdengar sangat keren, apalagi di sini.

"Dimana? Jurusan apa?" tanya Arinta lagi.

"Di Todai, jurusan sains."

"Todai?"

"The University of Tokyo. Biasanya orang Jepang bilangnya Todai, singkatan dari Tokyo Daigaku, artinya ya universitas Tokyo."

"Woah.. Keren, keren.. Nanti Arinta mau kuliah disana juga ah," ucap Arinta refleks.

"Iya, nanti bareng sama abang. Abang jadi dosennya." Mario terkekeh.

"Boleh boleh."

"Oh iya." Pandangan Mario menyapu seluruh halaman, hanya ada mobil Miza di sana.

"Bang Miza katanya beli mobil lagi. Kemana? Udah dijual?"

Arinta tampak berpikir. Mobil? Mungkinkah mobil yang waktu itu ia pakai saat kecelakaan? Huh. Arinta saja tidak tahu bentukannya. Tunggu! Mobil itu kan rusak karena kecelakaan dan masih ada di bengkel. Kalau Mario tidak tahu mobil itu rusak, berarti..

"Di bengkel." sahut Miza.

"Kalo mau ngobrol di dalam, kayak orang nggak diaku aja."

Ah benar. Mereka berdua sedang berdiri di teras seperti sedang menunggui orang beranak.

"Nggak, makasih. Pesawatnya mau take off nanti jam sepuluh, jadi sekarang Rio mau langsung siap-siap," Mario melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul setengah enam lewat.

"Jadi abang kesini mau pamit doang?" tanya Arinta.

Mario mengangguk.

"Nanti Desember abang usahain liburannya full di sini," Mario melirik Miza singkat.

"Tanggung banget sih. Sekarang aja udah Oktober awal," gerutu Arinta.

"Jam sepuluh masih lama. Makan dulu lah, kasian Arinta masih kangen banget tuh sama abang tercintanya," ucap Miza yang terasa aneh di telinga Arinta, seperti selalu ada bumbu-bumbu pertengkaran di dalamnya.

"Oh iya, boleh. Ayo, Ta! Kita makan berdua di luar, kapan lagi kan?" ajak Mario.

Arinta melirik Miza meminta persetujuan, tapi yang ia lihat justru tatapan tak bersahabat Miza yang menusuk tepat ke arah Mario.

"Eum.. Oke! Arinta ke dalam dulu ganti baju!" ucapannya tidak digubris sama sekali oleh dua makhluk di sana, yang masih setia adu pandang.

Arinta diam-diam menempelkan telinganya ke lantai balkon, posisi itu tepat di atas teras rumah, siapa tahu obrolan kedua kakaknya itu bisa terdengar. Namun ternyata tidak, sepertinya mereka memang musuhan.

Ah sudahlah. Arinta akhirnya memutuskan langsung berganti pakaian.

Matanya tak sengaja menangkap sebuah kotak di lemarinya. Jujur saja ia tidak pernah mengorek lemarinya sampai sebegininya saat mencari baju, makanya keberadaan kotak itu tidak pernah ia sadari sebelumnya.

Arinta memindahkan kotak itu keluar, tapi tidak membukanya. Nanti saja. Dikeluarkan dahulu supaya tidak lupa.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!