Dinzy Aurora, gadis berusia 21tahun yang hidup sebatang kara di Ibukota, mengadukan nasibnya berharap memiliki kehidupan yang layak. Saat ini Dinzy baru saja lulus dari kampus terbaik di kota tersebut, mendapatkan gelar cumlaude bukan berarti Dinzy bisa mendapatkan pekerjaan dengan mudah. Setalah 2 bulan menerima Ijazahnya, Dinzy belum juga mendapat panggilan wawancara kerja. Dan selama 2 bulan tersebut sambil tetap mencari pekerjaan baru, Dinzy masih bekerja di sebuah coffee shop. Selama Dinzy tinggal di Ibukota, Dinzy memang melakukan pekerjaan paruh waktu untuk menyambung hidupnya, meskipun Dinzy mendapatan beasiswa dan juga biaya hidup, namun itu tidak menghalangi Dinzy untuk tetap bekerja. Dinzy tumbuh di sebuah panti asuhan di pesisir Ibukota. Ia tidak mengenal siapa Ayah dan Ibunya. Meskipun ia sangat penasaran, tapi pihak panti juga tidak bisa membantu Dinzy karena saat itu, Ibunya Dinzy hanya menyerahkan Dinzy begitu saja dan meninggalkan Dinzy di panti asuhan tersebut. Hanya nama yang Dinzy terima dari Ibunya, nama pemberian dari sang Ibu...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yayalifeupdate, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
"Din, handle pekerjaan Siska bisa kan?" tanya Hendra
"Handle yang mana Mas?" tanya Dinzy
"Join meeting after lunch"
"Hah?"
"Din, gak ada yang bisa selain kamu. Maya masih harus nyusun revisian"
"Mas aku takut"
"Aman kok kayak sidang skripsi hehe"
"Hmm... Mas Hendra"
"Oke ya?"
"Iya Mas"
Dinzy menjadi sangat gugup, tapi Hendra meyakinkan semua akan berjalan dengan baik karena Hendra yakin Dinzy bukan perempuan yang tidak mengerti apa-apa, Dinzy hanya perlu mengasah skillnya.
"Ini materi meetingnya Din"
"Makasih Mas"
"Good luck ya!"
"Makasih Mas"
Dinzy hanya memiliki waktu satu jam sebelum istirahat untuk memahami materi meeting hari ini. Namun karena Dinzy sedikit mengalami kesulitan, ia mengurungkan niatnya untuk makan siang diluar. Ia memutuskan makan di pantry dengan memakan snacks yang ada di lacinya.
Sampai akhirnya Dinzy merasa yakin jika ia memahami isi materi tersebut, Dinzy bergegas membuat mie instan cup untuk mengisi perutnya.
"Din, oke ya?" tanya Hendra
"Oke Mas" jawab Dinzy yakin
Keduanya menuju ruang meeting bersama. Hendra menjelaskan sedikit tentang meeting tersebut agar Dinzy tidak terlalu hawatir, karena ini adalah meeting pertama Dinzy.
Dinzy dan Hendra masuk keruang meeting. Beberapa staff dari departemen lain juga sudah berada diruangan tersebut. Beberapa pria menatap Dinzy dengan tatapan kagum, karena Dinzy terlihat begitu cantik.
"Mas..." panggil Dinzy
"Mereka hanya kagum sama kamu. Relax ya" jawab Hendra
Dan setelah menunggu beberapa menit, jajaran direksi perusahaan tersebut memasuki ruang meeting bersama dengan investor baru, yaitu Luca.
Mata Dinzy terbelalak menatap kehadiran Luca. Hendra tidak memberi tahunya jika meeting kali ini adalah lanjutan meeting beberapa hari lalu.
Luca masih tidak menyadari kehadiran Dinzy. Tatapan Luca begitu tajam, sedikit membuat Dinzy merasa ciut kerena ia hawatir akan membawa nama departemennya menjadi lebih buruk.
Beberapa staff dari departemen lain sudah mempresentasikan, dan saat ini giliran Dinzy.
"Selamat siang Bapk dan Ibu jajaran direksi, dan selamat siang Pak Luca" ucap Dinzy
Luca tidak kalah terkejutnya dari Dinzy, namun berbeda dengan Dinzy. Luca begitu senang melihat kehadiran Dinzy siang ini.
Tidak banyak pertanyaan, karena Dinzy mempresentasikan semuanya dengan baik. Hingga membuat Luca hanya terdiam, diam bukan karena fokus dengan apa yang disampaikan melainkan fokus menatap Dinzy tanpa berkedip.
"Terimakasih Bapak dan Ibu semuanya, mungkin ada pertanyaan?" tanya Dinzy
"Tidak ada, terimakasih" jawab Adam
Adam dan beberapa direksi lain menyadari sikap Luca saat menatap Dinzy. tatapan itu berbeda dengan tatapan Luca saat menatap staff lain membuat mereka sedikit berfikir jika Luca dan Dinzy memang saling mengenal.
Seperti tidak ingin melewatkan sesuatu yag bernilai tinggi, Adam meminta sekretarisnya untuk mencari tahu informasi tentang Dinzy dan meminta departemen Dinzy untuk melibatkan Dinzy kedalam tim tersebut.
Meeting hari ini telah selesai, bahkan Hendra tidak perlu mempresentasikan apapun karena Dinzy sudah melakukannya dengan sangat baik.
Semua orang meninggalkan ruangn meeting, termasuk jajaran direksi dan Luca. Hingga tiba-tiba Dinzy di panggil Adam melalui sekretarisnya.
Dinzy yang gugup segera menemui Adam dan Luca di depan lift khusus.
"Permisi Pak, ini Dinzy" ucap sekretaris Adam
"Dinzy, kamu staff baru?" tanya Adam
"Benar Pak" jawab Dinzy
"Dinzy terimakasih, kami cukup puas dengan presentasi kamu. Terutama Pak Luca"
"Kenapa Dinzy tidak dilibatkan kedalam tim ini Pak?" tanya Luca
"Kami akan masukan Dinzy ke dalam tim Pak" jawab Adam
Dinzy hanya terdiam bingung, namun ia berusaha bersikap tenang dan terlihat baik-baik saja di hadapan atasannya.