NovelToon NovelToon
Kepentok Perawat Magang

Kepentok Perawat Magang

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: CovieVy

Teddy Briand Wijaya, adalah pria yang setia. Mencintai 1 wanita semenjak SMA, sampai di usia 34 tahun kenyataan yang membentur dan hampir tidak bisa dipercaya wanita bernama Zarisha Allova, memilih pria lain.

Teddy sempat hancur, pekerjaan tidak fokus, dan memilih berdiri di pinggir dermaga mencoba menenangkan hati.

Ternyata di dermaga, malah menemukan gadis yang sedang menangis sejadi-jadinya. Gara-gara tugas dari konsulernya di rumah sakit jiwa tempat dia magang, ga pernah benar.

"Aku mau bunuh diri!" Teriak gadis Aira Permata Salmi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8. Kerja Sama Dadakan

Aira menyuapkan Teddy sendok demi sendok bubur ayam bagai menyuapi pasiennya sendiri. Sementara itu, jemari Teddy menari dengan sangat lincah di atas keyboard laptopnya.

Setiap kali Aira menjelaskan rasionalitas di balik tindakan keperawatan yang ia tulis, Teddy langsung merombaknya menjadi untaian kalimat analisis yang begitu rapi, runut, dan memiliki landasan regulasi rumah sakit yang kuat. Format asli buatan Aira yang kacau, diubah total menjadi standar laporan eksekutif tanpa cela.

Waktu terus berjalan tanpa bisa dihentikan. Hingga akhirnya, kepala pria itu tegak pada pukul 12.45 WIB. Teddy akhirnya menutup laptopnya dengan satu sentakan tegas. Ia mencetak berkas tersebut menggunakan printer portabel yang selalu tersedia di dalam mobilnya itu.

"Ayo keluar. Kita selesaikan urusanmu dengan si gila itu," ucap Teddy dingin, melangkah keluar mobil diikuti Aira yang buru-buru mendekap map jepit birunya dengan jantung berdebar kencang.

Sesampainya di depan ruangan Dokter Arnold, muncul rasa ragu dan takut di dalam hati Aira. Namun, Teddy yang berdiri di belakang Aira bagaikan tameng siap menjadi pelindung bagi mahasiswi itu.

Aira mengetuk pintu.

"Ya, masuk," sahut pemilik ruangan.

Aira melangkah masuk setelah mendengar sahutan dari dalam. Dokter Arnold tampak dalam keadaan santai di balik meja kerjanya, sedang mengobrol dengan sang istri Lova duduk di atas sofa panjang yang berada di hadapannya.

"Tunggu sebentar ya. Kakak jamin ini tak akan lama," ucap Arnold sedikit membujuk agar istrinya tak merasa diabaikan saat memberi penilaian pada mahasiswa praktek ini.

Lova hanya memberi jawaban lewat anggukan dan senyuman. Lalu, Arnold menurunkan pandangan pada jam tangannya menatap gadis itu yang masih mematung.

"Satu menit lebih cepat dari jadwal, Saudari Aira," sindir Arnold tanpa lepas dari berkas yang ada di tangannya.

Ketika ia menatap ke depan dan mendapati Teddy ikut melangkah masuk dengan gerakan kaku, sudut bibir sang psikiater terangkat tipis.

"Oh, ternyata sang pembimbing ikut mengawal sampai ke dalam ruangan ini."

"Ehem ... Saya hanya ingin memastikan tidak ada waktu yang terbuang sia-sia karena subjektivitas seorang penguji," balas Teddy dengan tenang. Ia melangkah maju mengambil posisi berdiri di samping kursi Aira.

Aira dengan tangan sedikit gemetar menyodorkan laporan hasil revisinya ke atas meja. "Ini laporan asuhan keperawatan jiwa saya yang baru, Dok."

Arnold menerima berkas itu dengan gerakan santai, berniat membolak-balik lembarannya demi mencari satu celah kecil untuk menjatuhkan mental Teddy kembali. Namun, seiring lembar demi lembar ia periksa, kernyitan di dahi Arnold perlahan semakin dalam.

Format laporan itu berubah total. Dosis obat yang kemarin salah ketik kini tidak hanya diperbaiki, tetapi dilengkapi dengan tabel observasi berkala, manajemen risiko perilaku kekerasan, hingga analisis efisiensi pelayanan VIP yang disesuaikan dengan standar operasional prosedur terbaru rumah sakit. Logikanya sangat tajam, dikombinasikan dengan data medis dari Aira yang kini tersaji tanpa cela sedikit pun.

Arnold terdiam selama beberapa saat. Matanya menatap tajam baris terakhir laporan sebelum akhirnya ia menghela napas pendek. Ia tahu, laporan ini dikerjakan oleh otak seorang manajer perusahaan kelas kakap. Bukan sekadar mahasiswi yang sedang galau. Teddy berhasil menyelesaikan masalah laporan Aira dengan baik.

"Bagaimana, Dokter Arnold? Apa ada bagian dari otak kami yang belum bekerja secara logis?" tembak Teddy, membalikkan kalimat manipulatif Arnold di parkiran tadi pagi dengan senyum sinis yang samar.

Arnold meletakkan berkas itu, lalu meraih pulpennya. "Tidak buruk untuk sebuah kerja sama dadakan," ucap Arnold tenang, mempertahankan kendali emosinya dengan sangat baik. Ia menggoreskan tanda tangan pengesahan dan memberikan nilai 'A' di lembar penilaian praktik Aira.

"Praktik stase jiwamu di rumah sakit ini resmi selesai, Saudari Aira. Kamu bisa mengurus berkas kelulusanmu ke bagian akademik sore ini," lanjut Arnold datar.

"Terima kasih banyak, Dokter! Terima kasih, Bu Lova!" seru Aira spontan dengan wajah berbinar-binar gembira.

Ternyata, Lova juga membalasnya dengan senyuman hangat yang teduh dari arah sofa. Rasa lega yang luar biasa seketika membuncah di dada Aira. Masalah besarnya di RSJ ini akhirnya tuntas berkat bantuan pria di sampingnya.

Teddy langsung berbalik tanpa menunggu basa-basi lebih lanjut dari Arnold.

"Ayo pergi."

Begitu mereka keluar dari ruangan dan melangkah menyusuri koridor rumah sakit menuju tempat parkir, Aira berjalan setengah melompat menggelantung begitu saja di lengan Teddy.

"Om Teddy hebat banget! Sumpah, tadi muka Dokter Arnold langsung berubah pas lihat laporannya! Makasih banyak ya, Om!"

Teddy tidak menyahut, ia tetap berjalan lurus dengan langkah sedikit berat karena gadis itu bergelantungan begitu saja tanpa malu di lengannya. Namun, sudut bibirnya diam-diam berkedut tipis. Ada perasaan aneh, merasakan pertama kali ada perempuan sampai sebahagia ini karena dirinya.

Sebelum ini, ia memang selalu kalah bila menghadapi Arnold bila hal itu berkaitan dengan Lova. Kali ini, berbeda. Ia tak lagi berperang untuk Lova, tetapi demi gadis galau yang hampir saja bunuh diri karena kelakuan psikiater gila itu.

Namun, tepat saat mereka berdua sampai di depan pintu mobil sedan hitam milik Teddy, ponsel baru di dalam saku jas praktik Aira bergetar hebat.

Aira meraba sakunya, mengeluarkan ponsel layar sentuh yang masih terasa asing di jemarinya itu. Begitu melihat nama yang tertera di layar, senyum lebar di wajah manis Aira seketika memudar, digantikan oleh kerutan dalam di dahinya.

Tante Nani is Calling ...

Aira menatap layar ponselnya dengan jantung yang berdebar agak cepat. Baru saja beberapa menit kebahagiaan itu hadir, tetapi langsung pudar karena panggilan yang tidak diharapkan. Teddy yang baru saja hendak membuka pintu kemudi sedan hitamnya, menyadari perubahan raut wajah gadis di hadapannya.

​"Kenapa lagi? Jangan bilang itu panggilan dari dokter gila tadi yang bilang kelulusanmu cuma prank?" tanya Teddy.

​"Bukan ... Bukan ..." Aira menatap ponselnya memasang wajah jengkel.

"Ini, bini Om aku yang menyebalkan. Entah kenapa aku merasa ini bagai panggilan dari neraka jahanam," cibir Aira mendecak

​Teddy mengambil alih ponsel itu dari tangan Aira dengan spontan. Belum sempat Aira merebutnya, ternyata tombol terima ditekan tanpa permisi dan menyalakan loudspeaker membuat Aira melongo.

​"Aira! Kamu ke mana saja?! Bisa-bisanya kamu kabur tanpa izin dari kami!? Cepat pulang sekarang, atau semua barangmu Tante lempar keluar!" Suara melengking Tante Nani langsung membuat suasana semakin panas .

​Aira menarik napas bersiap membalas umpatan dari seberang panggilan. Namun, ​Teddy lebih dulu mendekatkan ponsel tersebut ke mulutnya.

​"Selamat siang, Tante. Ini saya, Teddy," ucap Teddy dengan nada suara yang teramat sopan, berwibawa, dan tenang.

"Kebetulan, Aira sedang bersama saya. Tadi dia buru-buru berangkat karena harus menyelesaikan laporan akhir praktiknya di rumah sakit. Alhamdulillah dia mendapat hasil yang sangat baik. Kami akan segera pulang ke sana. Saya harap barang-barang Aira tetap berada di tempatnya."

​Mendengar suara bariton Teddy yang begitu berkelas dan tegas, Tante Nani di seberang telepon mendadak terdiam, kehilangan kata-kata karena syok, sebelum akhirnya mematikan sambungan secara sepihak dengan canggung.

​Teddy membukakan pintu penumpang untuk gadis itu.

​"Masuklah. Kita hadapi mereka," ucap Teddy tenang.

​Aira sedikit mencabik menyelinap masuk ke dalam mobil. Sementara Teddy memutari kap mobil menuju kursi kemudi, pikiran Aira mendadak dipenuhi rencana baru. Pertemuan dengan Tante Nani dan Reta di rumah sudah di depan mata, dan ini adalah momen paling pas untuk mengeksekusi aliansi mereka.

​Aira buru-buru menyandarkan ponselnya di sela dasbor mobil, mengarahkan kamera depan tepat ke arah kursi mereka berdua, lalu menekan tombol record. Begitu Teddy masuk dan menutup pintu, Aira langsung menyengir lebar.

​"Om Teddy ..." rayunya dengan suara mendayu-dayu.

"Mumpung kita mau pulang dan suasana lagi mendukung, gimana kalau kita mulai bikin video sandiwara buat dikirim ke Mas Beni?"

"Hah?" Kening Teddy berkerut dengan dalam. "Lagi? Yang kemarin belum cukup?"

*​bersambung*

1
Evi Lusiana
ortu kocak laen bgt sm anakny
Evi Lusiana
kaku perutku thor gr² aira mo bls jasa pke brondolan sawit
SoVay: dikumpulin dulu smpai 2 karung y kak 🤣
total 1 replies
Evi Lusiana
aku suka karakter cewek tegas ky aira cm sayang aj knp gk milih kost sndri drpd hidup bareng tante jahat
Anbu Hasna
musuh jadi besan 🤣🤣
SoVay: halo kakak, mampir yuk cerita baru aku. udah 5 bab 🙈
total 4 replies
Evi Lusiana
kocak deh si aira,bs² ny lg sedih dia mint fto🤭
SoVay: namNya juga abegeh kak 😭😚
total 1 replies
Dewi kunti
sini ak ajarin om🤭🤭🤭🤭🤭
SoVay: wkwkwkw..punya bakat alami seorang pria kak 🤣🤣🤣
total 1 replies
Dewi kunti
tuch dokter kompor banget ya
Dewi kunti: berarti dikerjain author nya ini😤😤😤😤
total 2 replies
sryharty
eallaaaah modus,,ngomong aja kamu pengen cepet2 belah duren bujang om ted2
SoVay: wkwkwkw awas grasa grusu 🙈
total 1 replies
sryharty
si pak junet lg jadi nyamuk penngganggu neh🤭🤭
Dewi kunti
aduuuuuuhhhh si bapak kenapa gak pergi2 sich
SoVay: jadi nyamuk dulu 🤣
total 1 replies
mimief
hisss...si bapak tau aja yaa🤣🤣
ini demi masa depan kita bersama
modus si dikit,tapi kan biar dia mau pak 🤭
SoVay: modus dikit maunya banyak 🤣
total 1 replies
sryharty
makanya bap junet buruan di sah kan
biar bebas bisa pegang2 tangannya,,
siapa tau bisa pegang yg lain,,kan mantap
nanti pak junet cepet dapat cucu loh dari Aira..
SoVay: wkwkwkwk 😭😭😭 pegang apa tuh kak. sim salabin ja apa prok prok prok 🤣🤣
total 1 replies
mimief
Wkwkwk
ke gap camer
apa rasa tu🤭🤣🤣
SoVay: duh, berani2nya berduaan di tengah org ramai. paling nggak, tunggu rumah kosong dulu kan ya 🤣🤣
total 1 replies
mimief
sabar...sabar
tinggal dikit lagi aku padamu
sryharty
biarin Ra si bujang lapuk di gigitin nyamuk,,di gigit Wewe gombel pun gapapa ko,,aku ikhlas 🤭🤭
mimief
yah begitulah namanya jomblo udah karatan
sekali nya jatuh cinta lagi
begini ni🤭🤣
mimief: lah abis Meleng dikit ilang
trauma Thor 🤣🤣
total 2 replies
mimief
de ileee...yg mulai bisa nge gombal
mimief: iy..y🤭🤣🤣🤣
total 2 replies
mimief
orng dirumah di tuan putriin kok
disini malah jadi begini
hajaar pak🤣🤣
mimief: mang... kepala aj ka
kelamaan jomblo begitu tu, jadinya karatan rasanya 🙄🤣🤣
total 2 replies
mimief
cepet pulih Thor..
saya yg tanggung jawab Bu
lahir bathin juga boleh 🤣🤣
dih,ngarep🤭
mimief
bingung dia ..om Jovannya🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!