Teddy Briand Wijaya, adalah pria yang setia. Mencintai 1 wanita semenjak SMA, sampai di usia 34 tahun kenyataan yang membentur dan hampir tidak bisa dipercaya wanita bernama Zarisha Allova, memilih pria lain.
Teddy sempat hancur, pekerjaan tidak fokus, dan memilih berdiri di pinggir dermaga mencoba menenangkan hati.
Ternyata di dermaga, malah menemukan gadis yang sedang menangis sejadi-jadinya. Gara-gara tugas dari konsulernya di rumah sakit jiwa tempat dia magang, ga pernah benar.
"Aku mau bunuh diri!" Teriak gadis Aira Permata Salmi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Kerja Sama Dadakan
Aira menyuapkan Teddy sendok demi sendok bubur ayam bagai menyuapi pasiennya sendiri. Sementara itu, jemari Teddy menari dengan sangat lincah di atas keyboard laptopnya.
Setiap kali Aira menjelaskan rasionalitas di balik tindakan keperawatan yang ia tulis, Teddy langsung merombaknya menjadi untaian kalimat analisis yang begitu rapi, runut, dan memiliki landasan regulasi rumah sakit yang kuat. Format asli buatan Aira yang kacau, diubah total menjadi standar laporan eksekutif tanpa cela.
Waktu terus berjalan tanpa bisa dihentikan. Hingga akhirnya, kepala pria itu tegak pada pukul 12.45 WIB. Teddy akhirnya menutup laptopnya dengan satu sentakan tegas. Ia mencetak berkas tersebut menggunakan printer portabel yang selalu tersedia di dalam mobilnya itu.
"Ayo keluar. Kita selesaikan urusanmu dengan si gila itu," ucap Teddy dingin, melangkah keluar mobil diikuti Aira yang buru-buru mendekap map jepit birunya dengan jantung berdebar kencang.
Sesampainya di depan ruangan Dokter Arnold, muncul rasa ragu dan takut di dalam hati Aira. Namun, Teddy yang berdiri di belakang Aira bagaikan tameng siap menjadi pelindung bagi mahasiswi itu.
Aira mengetuk pintu.
"Ya, masuk," sahut pemilik ruangan.
Aira melangkah masuk setelah mendengar sahutan dari dalam. Dokter Arnold tampak dalam keadaan santai di balik meja kerjanya, sedang mengobrol dengan sang istri Lova duduk di atas sofa panjang yang berada di hadapannya.
"Tunggu sebentar ya. Kakak jamin ini tak akan lama," ucap Arnold sedikit membujuk agar istrinya tak merasa diabaikan saat memberi penilaian pada mahasiswa praktek ini.
Lova hanya memberi jawaban lewat anggukan dan senyuman. Lalu, Arnold menurunkan pandangan pada jam tangannya menatap gadis itu yang masih mematung.
"Satu menit lebih cepat dari jadwal, Saudari Aira," sindir Arnold tanpa lepas dari berkas yang ada di tangannya.
Ketika ia menatap ke depan dan mendapati Teddy ikut melangkah masuk dengan gerakan kaku, sudut bibir sang psikiater terangkat tipis.
"Oh, ternyata sang pembimbing ikut mengawal sampai ke dalam ruangan ini."
"Ehem ... Saya hanya ingin memastikan tidak ada waktu yang terbuang sia-sia karena subjektivitas seorang penguji," balas Teddy dengan tenang. Ia melangkah maju mengambil posisi berdiri di samping kursi Aira.
Aira dengan tangan sedikit gemetar menyodorkan laporan hasil revisinya ke atas meja. "Ini laporan asuhan keperawatan jiwa saya yang baru, Dok."
Arnold menerima berkas itu dengan gerakan santai, berniat membolak-balik lembarannya demi mencari satu celah kecil untuk menjatuhkan mental Teddy kembali. Namun, seiring lembar demi lembar ia periksa, kernyitan di dahi Arnold perlahan semakin dalam.
Format laporan itu berubah total. Dosis obat yang kemarin salah ketik kini tidak hanya diperbaiki, tetapi dilengkapi dengan tabel observasi berkala, manajemen risiko perilaku kekerasan, hingga analisis efisiensi pelayanan VIP yang disesuaikan dengan standar operasional prosedur terbaru rumah sakit. Logikanya sangat tajam, dikombinasikan dengan data medis dari Aira yang kini tersaji tanpa cela sedikit pun.
Arnold terdiam selama beberapa saat. Matanya menatap tajam baris terakhir laporan sebelum akhirnya ia menghela napas pendek. Ia tahu, laporan ini dikerjakan oleh otak seorang manajer perusahaan kelas kakap. Bukan sekadar mahasiswi yang sedang galau. Teddy berhasil menyelesaikan masalah laporan Aira dengan baik.
"Bagaimana, Dokter Arnold? Apa ada bagian dari otak kami yang belum bekerja secara logis?" tembak Teddy, membalikkan kalimat manipulatif Arnold di parkiran tadi pagi dengan senyum sinis yang samar.
Arnold meletakkan berkas itu, lalu meraih pulpennya. "Tidak buruk untuk sebuah kerja sama dadakan," ucap Arnold tenang, mempertahankan kendali emosinya dengan sangat baik. Ia menggoreskan tanda tangan pengesahan dan memberikan nilai 'A' di lembar penilaian praktik Aira.
"Praktik stase jiwamu di rumah sakit ini resmi selesai, Saudari Aira. Kamu bisa mengurus berkas kelulusanmu ke bagian akademik sore ini," lanjut Arnold datar.
"Terima kasih banyak, Dokter! Terima kasih, Bu Lova!" seru Aira spontan dengan wajah berbinar-binar gembira.
Ternyata, Lova juga membalasnya dengan senyuman hangat yang teduh dari arah sofa. Rasa lega yang luar biasa seketika membuncah di dada Aira. Masalah besarnya di RSJ ini akhirnya tuntas berkat bantuan pria di sampingnya.
Teddy langsung berbalik tanpa menunggu basa-basi lebih lanjut dari Arnold.
"Ayo pergi."
Begitu mereka keluar dari ruangan dan melangkah menyusuri koridor rumah sakit menuju tempat parkir, Aira berjalan setengah melompat menggelantung begitu saja di lengan Teddy.
"Om Teddy hebat banget! Sumpah, tadi muka Dokter Arnold langsung berubah pas lihat laporannya! Makasih banyak ya, Om!"
Teddy tidak menyahut, ia tetap berjalan lurus dengan langkah sedikit berat karena gadis itu bergelantungan begitu saja tanpa malu di lengannya. Namun, sudut bibirnya diam-diam berkedut tipis. Ada perasaan aneh, merasakan pertama kali ada perempuan sampai sebahagia ini karena dirinya.
Sebelum ini, ia memang selalu kalah bila menghadapi Arnold bila hal itu berkaitan dengan Lova. Kali ini, berbeda. Ia tak lagi berperang untuk Lova, tetapi demi gadis galau yang hampir saja bunuh diri karena kelakuan psikiater gila itu.
Namun, tepat saat mereka berdua sampai di depan pintu mobil sedan hitam milik Teddy, ponsel baru di dalam saku jas praktik Aira bergetar hebat.
Aira meraba sakunya, mengeluarkan ponsel layar sentuh yang masih terasa asing di jemarinya itu. Begitu melihat nama yang tertera di layar, senyum lebar di wajah manis Aira seketika memudar, digantikan oleh kerutan dalam di dahinya.
Tante Nani is Calling ...
Aira menatap layar ponselnya dengan jantung yang berdebar agak cepat. Baru saja beberapa menit kebahagiaan itu hadir, tetapi langsung pudar karena panggilan yang tidak diharapkan. Teddy yang baru saja hendak membuka pintu kemudi sedan hitamnya, menyadari perubahan raut wajah gadis di hadapannya.
"Kenapa lagi? Jangan bilang itu panggilan dari dokter gila tadi yang bilang kelulusanmu cuma prank?" tanya Teddy.
"Bukan ... Bukan ..." Aira menatap ponselnya memasang wajah jengkel.
"Ini, bini Om aku yang menyebalkan. Entah kenapa aku merasa ini bagai panggilan dari neraka jahanam," cibir Aira mendecak
Teddy mengambil alih ponsel itu dari tangan Aira dengan spontan. Belum sempat Aira merebutnya, ternyata tombol terima ditekan tanpa permisi dan menyalakan loudspeaker membuat Aira melongo.
"Aira! Kamu ke mana saja?! Bisa-bisanya kamu kabur tanpa izin dari kami!? Cepat pulang sekarang, atau semua barangmu Tante lempar keluar!" Suara melengking Tante Nani langsung membuat suasana semakin panas .
Aira menarik napas bersiap membalas umpatan dari seberang panggilan. Namun, Teddy lebih dulu mendekatkan ponsel tersebut ke mulutnya.
"Selamat siang, Tante. Ini saya, Teddy," ucap Teddy dengan nada suara yang teramat sopan, berwibawa, dan tenang.
"Kebetulan, Aira sedang bersama saya. Tadi dia buru-buru berangkat karena harus menyelesaikan laporan akhir praktiknya di rumah sakit. Alhamdulillah dia mendapat hasil yang sangat baik. Kami akan segera pulang ke sana. Saya harap barang-barang Aira tetap berada di tempatnya."
Mendengar suara bariton Teddy yang begitu berkelas dan tegas, Tante Nani di seberang telepon mendadak terdiam, kehilangan kata-kata karena syok, sebelum akhirnya mematikan sambungan secara sepihak dengan canggung.
Teddy membukakan pintu penumpang untuk gadis itu.
"Masuklah. Kita hadapi mereka," ucap Teddy tenang.
Aira sedikit mencabik menyelinap masuk ke dalam mobil. Sementara Teddy memutari kap mobil menuju kursi kemudi, pikiran Aira mendadak dipenuhi rencana baru. Pertemuan dengan Tante Nani dan Reta di rumah sudah di depan mata, dan ini adalah momen paling pas untuk mengeksekusi aliansi mereka.
Aira buru-buru menyandarkan ponselnya di sela dasbor mobil, mengarahkan kamera depan tepat ke arah kursi mereka berdua, lalu menekan tombol record. Begitu Teddy masuk dan menutup pintu, Aira langsung menyengir lebar.
"Om Teddy ..." rayunya dengan suara mendayu-dayu.
"Mumpung kita mau pulang dan suasana lagi mendukung, gimana kalau kita mulai bikin video sandiwara buat dikirim ke Mas Beni?"
"Hah?" Kening Teddy berkerut dengan dalam. "Lagi? Yang kemarin belum cukup?"
*bersambung*
sepadan lah juragan dan boss besar besanan,,si Jovan dan keluarga nya bakalan kebakaran jenggot
kerjain sekalian si bujang lapuk,,biar kamu puasss🤭🤭🤭
jiaaah ada yg pengen jadi mokondo ternyata,,wes mending sama om2 bujang lapuk Aya Ra
pasti nanti kamu di ratukan sama bujang lapuk dan orang tuanya
bikin ted2 merana dulu 😁
calon mertua langsung gercep ga tuh
inikah novel tentang dia. biar Aira makin klepek2 dan nahan Teddy dekat dia. jadi sama-sama move on😍😍
Yakin kamu bisa ngalahin Arnold si dokter gemulai, jadi deg"an aku 🤣🤣🤣 memangnya kamu ngerti di bidang kejiwaan 🥺 awas entar salah revisi habislah Aira di marahi lagi 🤣🤣