Saat ujian SMA, Rio menjadi bahan tertawaan satu sekolah karena mengontrak seekor monyet kurus dekil tingkat Warrior (Trash-Rank). Semua orang menganggap masa depannya hancur, namun sebuah panel gaib tiba-tiba muncul di hadapannya:
[Ding! Sistem Push Rank Immortal Aktif!][Target: Monyet Lumpur (Identitas Asli: Sun Wukong - Segel Dewa)][Status Pengguna: SSS-Rank Hidden Power]
Di saat murid lain sibuk pamer kekuatan di sekolah, Rio memilih "mabar" di Dungeon terlarang bersama lima hewan mitologi miliknya: Sun Wukong, Serigala Kegelapan, Qilin, Phoenix, dan Ratu Laba-laba. Ketika gerbang bencana dunia jebol, Rio melangkah maju membawa squad top globalnya yang sudah berada di tier MYTHICAL IMMORTAL!
Siapa bilang dia salah kontrak?
#System #SunWukong #Overpowered #HiddenPower #Evolution #Mythology
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi Pertama
Rio bangun pukul lima empat puluh delapan.
Dua menit sebelum alarm.
Matanya terbuka ke langit-langit yang sudah ia hafal setiap retakannya, termasuk retakan baru di sudut kiri atas yang sudah ada sejak beberapa hari lalu dan belum bertambah panjang. Cahaya subuh masuk tipis dari celah jendela — biru muda dingin yang belum cukup terang untuk menerangi seluruh kamar tapi cukup untuk menandai bentuk-bentuk benda.
Rio berbaring diam selama beberapa detik, membiarkan kesadarannya menyesuaikan diri.
Wukong mendengkur di kursi meja belajar.
Serigala bernafas teratur di pojok jendela.
Dan dari arah meja—
Rio menoleh.
Kotak biola tua itu terbuka. Persis seperti semalam ketika ia menutup mata.
Kosong.
Tiga detik.
Dalam tiga detik itu Rio duduk tegak, matanya menyapu seluruh kamar dengan cepat — sudut-sudut yang gelap, bawah meja, sisi lemari yang tidak punya pintu, celah antara kasur dan dinding.
Tidak ada apapun yang bergerak.
Wukong masih tidur. Serigala masih tidur. Pintu kamar masih tertutup. Jendela masih tertutup.
Tidak ada cara keluar yang terbuka.
Panel sistem—
Rio hampir membukanya ketika sesuatu membuatnya berhenti.
Sesuatu yang sangat tipis. Sangat ringan. Hampir tidak terasa.
Berjalan di punggung tangan kanannya yang tergeletak di tepi kasur.
Rio tidak bergerak.
Tidak menoleh ke bawah secara tiba-tiba, tidak menarik tangannya, tidak mengeluarkan suara apapun. Ia hanya membiarkan tangannya tetap di posisi yang sama — telapak menghadap ke bawah, jari-jari sedikit terbuka, di tepi kasur yang kainnya sudah berbulu dari terlalu sering dicuci.
Dan merasakan.
Delapan titik kontak yang sangat kecil, masing-masing ringan seperti benang yang diletakkan satu per satu di atas kulit. Bergerak dengan sangat hati-hati dari pergelangan ke arah buku-buku jari, berhenti di sana, diam selama tiga detik, kemudian bergerak mundur sedikit.
Seperti seseorang yang sedang mengukur jarak antara diri mereka dan sesuatu yang belum mereka putuskan apakah aman atau tidak.
Rio perlahan menoleh ke bawah.
Abyssal Goddess Weaver berdiri di punggung tangannya.
Kedelapan kakinya menapak kulit Rio dengan tekanan yang setara dengan selembar kertas tisu — ada tapi hampir tidak ada. Tubuhnya yang hitam pekat dengan corak ungu metalik tampak jauh lebih hidup di bawah cahaya subuh yang masuk dari celah jendela dibanding cahaya lampu kamar semalam. Corak ungu itu bergerak sangat halus setiap kali ia bernafas, seperti permukaan danau yang beriak oleh angin yang terlalu pelan untuk dirasakan tapi cukup untuk dilihat.
Delapan matanya menatap ke atas ke arah wajah Rio.
Dari jarak sedekat ini — tangan Rio, wajah Rio — jarak antara mereka mungkin tiga puluh sentimeter. Dan dalam tiga puluh sentimeter itu Rio bisa melihat detail yang tidak bisa ia lihat kemarin malam, detail yang tidak akan pernah terlihat dari jarak wajar seorang manusia menatap seekor laba-laba.
Delapan mata itu tidak seragam.
Empat yang di tengah — lebih besar, lebih terang, warna ungunya lebih pekat dan lebih hidup. Empat yang di sisi — lebih kecil, lebih redup, tapi justru yang paling aktif bergerak, mengikuti setiap detail wajah Rio dengan presisi yang tidak ada hubungannya dengan cara laba-laba biasa menggunakan indra penglihatannya.
Mata yang dibuat untuk melihat segalanya sekaligus.
Mata yang tidak pernah kehilangan apapun dari pandangannya.
"Selamat pagi," kata Rio.
Dengan nada dan volume yang persis sama seperti dua hari lalu di toilet sekolah. Bukan lebih hangat, bukan lebih berhati-hati, bukan dengan intonasi yang dirancang untuk terdengar meyakinkan.
Hanya sapaan.
Seperti berbicara ke seseorang yang sudah biasa ia sapa setiap pagi.
Abyssal Goddess Weaver tidak bergerak selama empat detik.
Kemudian satu kaki depannya terangkat — sangat sedikit, setinggi tidak lebih dari satu milimeter — dan menyentuh kembali punggung tangan Rio di titik yang sedikit berbeda dari sebelumnya.
Bukan gerakan yang punya nama dalam kosakata hewan manapun yang Rio pernah pelajari.
Tapi dalam konteks delapan puluh empat tahun tidak melakukan apapun secara sukarela kepada siapapun, gerakan kecil itu memiliki beratnya sendiri.
Panel sistem menyala dengan sangat pelan.
**[Abyssal Goddess Weaver — Kesadaran Aktif: 61.2%]**
**[Catatan: Entitas memilih melakukan kontak fisik secara mandiri untuk pertama kalinya.]**
**[Estimasi Ikatan Kontrak: 4-5 hari]**
Rio membaca angka itu, menutup panel, dan tidak bergerak dari posisinya.
Membiarkan tangan itu tetap di tepi kasur. Membiarkan delapan titik kontak yang ringan seperti benang itu tetap ada di punggung tangannya.
Karena ada hal-hal yang tidak perlu dipercepat.
Alarm berbunyi pukul enam tepat.
Rio mematikannya dengan tangan kirinya, sengaja tidak menggerakkan tangan kanan.
Wukong terbangun dari mendengkur, mengangkat kepalanya, menemukan situasi yang ada di depannya, dan dengan sangat tenang memilih untuk pura-pura tidak melihat apapun yang istimewa — mengambil rantingnya, mulai mengunyah ujungnya seperti biasa, menatap ke arah lain.
Serigala membuka matanya, melakukan pemeriksaan rutinnya ke arah pintu, kemudian ke arah Rio, kemudian ke arah tangan Rio yang tidak bergerak di tepi kasur. Ia menatap titik itu selama dua detik dengan telinga yang sedikit terangkat.
Kemudian berbaring kembali dengan kepala di atas cakar depannya.
Memberikan ruang.
Empat belas menit berlalu.
Dalam empat belas menit itu Rio tidak melakukan apapun yang produktif secara objektif — ia hanya duduk di tepi kasur dengan tangan kanan di posisi yang sama, membiarkan seekor laba-laba berukuran telapak tangan yang memiliki kesadaran setingkat dewa berdiri di punggung tangannya dan menatap wajahnya dengan delapan mata yang tidak pernah kehilangan apapun dari pandangannya.
Empat belas menit yang, dalam ukuran apapun yang digunakan sistem untuk mengukur progres, mungkin terlihat seperti tidak ada kemajuan sama sekali.
Tapi Rio tidak mengukur pagi ini dengan ukuran itu.
Pada menit kelima belas, Abyssal Goddess Weaver bergerak.
Bukan kembali ke kotak biolanya.
Ia berjalan — delapan kaki yang bergerak dengan koordinasi yang sangat berbeda dari cara laba-laba biasa berjalan, jauh lebih lambat, jauh lebih disengaja, seperti setiap langkah adalah keputusan tersendiri yang diambil secara sadar — dari punggung tangan Rio ke pergelangan, ke lengan bawah, ke siku.
Berhenti di siku.
Duduk di sana.
Dengan cara seekor makhluk yang sudah memilih posisi dan tidak berencana mengubahnya dalam waktu dekat.
Rio menatap sikunya sendiri selama tiga detik.
"Oke," gumamnya. "Siku."
Wukong mencicit dari kursi meja belajar — nada yang Rio terjemahkan sebagai komentar tentang betapa tidak heroiknya lokasi yang dipilih oleh makhluk yang potensi puncaknya adalah Top Global Marksman tingkat Mythical Immortal untuk menghabiskan pagi pertamanya.
Rio mengabaikannya.
Sarapan pagi itu berlangsung dengan satu tambahan yang tidak ada dalam rutinitas sebelumnya.
Rio makan nasi bungkus di tepi kasur dengan tangan kiri karena tangan kanannya masih ditempati. Wukong makan pisangnya di kursi meja. Serigala makan dagingnya di pojok jendela.
Dan di siku Rio, Abyssal Goddess Weaver duduk diam menghadap ke ruangan — delapan matanya yang bergerak aktif mengamati setiap sudut, setiap objek, setiap makhluk di dalam kamar itu dengan cara seseorang yang sedang membuat peta tentang tempat baru yang belum ia putuskan apakah akan ia percaya atau tidak.
Mengamati Wukong yang makan dengan terlalu banyak suara.
Mengamati serigala yang makan dengan sangat sedikit suara.
Mengamati Rio yang makan dengan tangan yang salah karena tangan yang benar sedang dipakai hal lain.
Di tengah sarapan, panel sistem menyala satu kali.
**[Notifikasi: Raymond Pratama — Mengirim pesan ke nomor pribadi Rio]**
**[Isi: "Kapan kamu siap bicara lebih lanjut?"]**
Rio menatap notifikasi itu.
Kemudian menatap sikunya di mana Abyssal Goddess Weaver masih duduk diam, mengamati ruangan.
Kemudian menatap dompetnya di atas meja di mana dua lembar kertas tersimpan — kartu nama dua belas digit dan setengah halaman majalah tua dengan foto wajah yang sama dengan wajahnya sendiri.
Tiga hal yang harus dikelola secara bersamaan.
Raymond yang menunggu jawaban. Ayah yang meninggalkan tujuh pesan dan baru dua yang terbuka. Dan di sikunya, makhluk yang butuh empat sampai lima hari lagi untuk siap terikat kontrak — makhluk yang delapan puluh empat tahun belajar bahwa tidak ada tempat yang benar-benar aman, dan pagi ini memutuskan untuk duduk di siku seorang remaja berambut acak-acakan di kontrakan yang pintunya masih miring.
Rio meletakkan nasi bungkusnya yang sudah hampir habis.
Mengambil ponselnya dengan tangan kiri.
Mengetik balasan untuk Raymond Pratama dengan satu ibu jari karena jari-jari yang lain sedang tidak tersedia.
*Besok. Setelah sekolah. Bapak pilih tempatnya.*
Kirim.
Ia meletakkan ponsel, mengambil nasi bungkus kembali, dan melanjutkan makan.
Di sikunya, Abyssal Goddess Weaver menggerakkan dua kaki depannya sedikit — penyesuaian posisi yang sangat kecil yang membuat tubuhnya menghadap ke Rio alih-alih ke ruangan.
Delapan mata yang sekarang menatap ke samping ke wajah Rio dari jarak yang sangat dekat.
Rio menoleh sebentar, menatap balik.
"Hari ini aku sekolah," katanya pelan. "Kalau mau ikut, harus masuk tas. Kalau tidak mau, bisa stay di sini sama serigala."
Abyssal Goddess Weaver menatapnya selama lima detik.
Kemudian berjalan turun dari siku ke lengan bawah, ke pergelangan, ke punggung tangan, dan berhenti di sana.
Menunggu.
Rio menatap tangan kanannya, kemudian menatap tas sekolahnya di atas meja.
"Ikut," simpulnya.
Pukul tujuh kurang sepuluh Rio menyandang tasnya, Wukong di pundak kanan, dan di pergelangan tangan kirinya yang tidak tertutup lengan jaket karena ia sengaja menggulungnya sampai siku — Abyssal Goddess Weaver bertengger dengan delapan kakinya yang ringan seperti benang.
Tidak tersembunyi di dalam tas.
Tidak masuk ke kotak biola.
Di pergelangan tangan kiri Rio, tepat di atas urat yang terlihat samar di bawah kulit — posisi yang ia pilih sendiri, di tubuh manusia yang pertama kali ia putuskan untuk dipercayai dengan cara yang paling dasar yang bisa dilakukan oleh makhluk yang sudah sangat lama tidak mempercayai apapun.
Berada di sana.
Serigala mengantar mereka sampai ambang pintu seperti biasa, melakukan pemeriksaan dua detiknya, kemudian kembali ke dalam.
Rio menuruni tangga — anak tangga keempat, ketujuh, kesebelas, dihindari secara otomatis.
Di bawah, gang sempit sudah mulai ramai dengan suara pagi.
Matahari baru naik di ujung timur, cahayanya masuk miring di antara celah bangunan dan memantul di genangan kecil bekas hujan semalam, menciptakan kilatan-kilatan kecil di aspal yang biasanya tidak ada yang perhatikan karena terlalu sibuk dengan arah yang mereka tuju.
Rio berhenti satu detik di kaki tangga.
Menatap pergelangan tangan kirinya.
Di bawah cahaya pagi yang nyata, corak ungu metalik di punggung Abyssal Goddess Weaver berpendar sangat tipis — cukup untuk dilihat kalau seseorang memang sedang menatap ke sana, tidak cukup untuk menarik perhatian orang yang tidak menatap ke sana.
Seperti bintang yang masih bisa dilihat di langit yang sudah mulai terang, kalau kamu tahu persis ke mana harus menatap.
"Siap?" tanya Rio pelan.
Abyssal Goddess Weaver tidak menjawab dengan cara apapun yang bisa diukur.
Tapi dua kaki depannya menekan pergelangan Rio sedikit lebih kuat dari sebelumnya — tekanan yang masih sangat ringan, masih sangat hati-hati, tapi sedikit lebih kuat.
Cukup untuk Rio rasakan.
Cukup untuk dihitung sebagai jawaban.
Rio melangkah keluar ke gang, berjalan ke arah jalan raya, ke arah halte angkot, ke arah hari yang sudah menunggu dengan semua yang ada di dalamnya — Raymond yang besok menunggu dijawab lebih lanjut, lima pesan ayahnya yang masih tersegel, Kevin dan Arinda dan semua variabel lain yang terus bergerak di papan catur yang semakin penuh.
Tapi pagi ini, untuk beberapa menit di antara kontrakan dan halte angkot, Rio berjalan dengan satu kera di pundak kanan dan satu laba-laba di pergelangan kiri dan pikiran yang lebih ringan dari biasanya.
Bukan karena masalahnya berkurang.
Tapi karena ada sesuatu yang baru saja terjadi di tepi kasur pukul lima empat puluh delapan pagi tadi — sesuatu yang tidak ada dalam proyeksi sistem manapun, tidak ada dalam kalkulasi yang paling hati-hati sekalipun.
Seekor makhluk yang sudah delapan puluh empat tahun belajar untuk tidak percaya kepada siapapun, memilih untuk berjalan keluar dari kotak biola tuanya sendiri.
Dan menemukan pergelangan tangan seseorang sebagai tempat pertama yang ia putuskan layak untuk berdiri.
#Sistem #Action #Pet #Urban #Rebirth #Overpowered #Fantasy
semangat upnya thor
semangat dah tak krim kopinya👍
klo bsa up besok 2 chpter🤣