Kania mengira pernikahannya dengan Firman adalah takdir bahagia. Selama dua tahun, Firman menjadi suami sempurna sekaligus pahlawan yang menyelamatkan ekonomi keluarganya.
Meski hidup dengan disabilitas pada kaki kirinya akibat sebuah kecelakaan, Kania tak pernah menyerah menjalani hidup. Ia percaya, selama Firman tetap berada di sisinya, semua kekurangan itu bukanlah penghalang untuk meraih kebahagiaan.
Namun, saat perusahaan Firman bangkrut, badai besar menghantam rumah tangga mereka.
Pria yang pernah berjanji akan terus menggenggam tangannya mendadak berubah dingin. Lalu, seorang wanita dari masa lalu Firman datang menawarkan suntikan dana untuk menyelamatkan perusahaan dengan satu syarat, Firman harus membuang Kania dari hidupnya.
Demi mengembalikan kejayaan dan mempertahankan ambisinya, Firman tak ragu mengkhianati janji suci pernikahan mereka.
Terluka hebat, Kania memutuskan pergi meraih kebahagiaannnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 20 Melihat Suami Dan Wanita Lain
"Pak Abi, saya permisi ke toilet sebentar," pamit Kania.
"Jangan lama-lama, Tante! Nanti Bian tinggal lho!" sahut Abian iseng.
Kania hanya tersenyum tipis dan buru-buru beranjak. Ia benar-benar tak kuasa menahan tangis haru yang sejak tadi mendesak keluar, sekaligus ingin merapikan riasannya.
Namun, langkah Kania mendadak terhenti kaku saat melewati area VIP restoran yang bersebelahan dengan kafe tersebut.
Jantungnya seolah diremas tangan tak kasat mata. Di balik dinding kaca pembatas, ia melihat sosok yang sangat dihafalnya.
"Mas Firman?"gumam Kania lirih. Tenggorokannya seolah tercekat.
Suaminya yang mengaku bangkrut dan sedang kesusahan itu, kini duduk berhadapan dengan seorang wanita. Mereka tampak begitu mesra, saling bertatapan dan tersenyum bak pasangan paling romantis di dunia.
"Kamu makannya belepotan, Sayang," ucap Firman samar-samar terdengar.
Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan, lalu dengan lembut mengusap sudut bibir wanita itu menggunakan ibu jarinya. Penuh cinta. Penuh pemujaan. Sebuah tatapan yang sudah beberapa hari ini tidak pernah Firman berikan lagi pada Kania.
Dada Kania seketika terasa sesak, seolah pasokan oksigen di sekitarnya direnggut paksa. Luka pengkhianatan itu menganga lebar, menorehkan perih yang luar biasa hingga ulu hatinya terasa kebas.
Tak ingin air matanya tumpah dan menjadi tontonan, Kania memalingkan wajah dan setengah berlari menuju toilet. Di depan wastafel, ia mencengkeram tepi meja pualam itu kuat-kuat, menatap pantulan dirinya dengan napas memburu.
Ia mengusap air mata yang sempat menetes dengan kasar.
"Cukup, Kania. Jangan menangis lagi," ucap Kania pada bayangannya sendiri di cermin. "Mulai detik ini, laki-laki brengsek itu bukan lagi urusanmu!"
*
*
Kania melangkah keluar dari toilet dengan wajah yang sudah kembali segar. Sisa-sisa air mata telah ia hapus bersih, digantikan oleh sorot mata tajam.
Tidak ada lagi Kania yang lemah. Mulai detik ini, ia akan hidup untuk dirinya sendiri.
Namun, langkahnya yang sedikit diseret itu seketika terhenti saat melihat seorang bocah laki-laki berdiri berkacak pinggang tepat di depan toilet.
"Tante kenapa lama sekali sih di dalam? Tante ketiduran di kloset, ya?!" omel Abian dengan dahi berkerut dan bibir mengerucut sebal. "Papa udah duluan ke mobil tuh. Ayo buruan!"
Kania tersentak kaget. "Eh? Loh, Bian kok masih di sini? Tante kira kalian sudah pulang. Lagipula, Tante juga harus pulang sekarang, Bian."
"Nggak ada bantahan! Nanti biar papa yang antar Tante pulang. Sekarang kita ke mobil papa. Ayo cepat, Tante, jalannya jangan lelet!"
Tanpa aba-aba, tangan mungil Abian menarik ujung kemeja Kania, setengah menyeret wanita itu menuju area parkir. Kania yang langkahnya sedikit tertatih karena kondisi kakinya, tak punya pilihan selain menurut mengikuti bocah ajaib tersebut.
Sesampainya di depan mobil, Kania membuka pintu penumpang bagian belakang dan langsung duduk dengan ragu.
Abimanyu yang duduk di kursi kemudi melirik Kania melalui kaca spion tengah.
"Memangnya aku ini supir kamu Pindah ke depan. Biarkan Abian yang duduk di belakang. Dia harus tidur siang," ketus Abimanyu.
Kania tersentak, wajahnya seketika memerah karena malu. "Astaga. Maaf, Pak."
Tanpa berani membantah lagi, Kania buru-buru turun dari mobil. Ia berpindah membuka pintu depan dan duduk tepat di sebelah Abimanyu.
Tiba-tiba, Abimanyu menyodorkan ponsel pintarnya yang mahal ke hadapan Kania.
"Mulai besok kamu resmi menjadi karyawanku," ucap Abimanyu tanpa menoleh, matanya tetap fokus ke depan. "Masukkan nomor ponselmu. Asistenku akan mengirimkan lokasi kantor dan detail kontrakmu malam ini."
"Baik, Pak." Kania menerima ponsel itu dengan tangan sedikit gemetar. Ia mengetikkan deretan nomornya, lalu mengembalikannya dengan sopan.
"Sudah, Pak."
Abimanyu hanya berdehem singkat sebagai jawaban, lalu mulai melajukan mobilnya membelah jalanan ibu kota.
Setengah jam perjalanan yang diwarnai keheningan dan dengkuran halus Abian di jok belakang, mobil mewah itu akhirnya berhenti tepat di depan halaman sebuah rumah.
Kania melepas sabuk pengamannya. "Makasih banyak atas tumpangannya, Pak Abi. Maaf merepotkan. Saya permisi dulu," ucap Kania sopan.
Abimanyu hanya mengangguk samar, tidak merespons dengan kata-kata. Namun, baru saja Kania menutup pintu mobil dan berbalik, pintu belakang tiba-tiba terbuka.
"Tunggu, Tante!"
Abian melompat turun dari mobil dan berlari menghampiri Kania. Tanpa aba-aba, bocah enam tahun itu memeluk pinggang Kania dengan erat. Kania terkejut, instingnya langsung membalas pelukan hangat itu.
Abian mendongak, menatap kaki kanan Kania yang posisinya sedikit tidak seimbang.
"Kaki Tante sakit, ya? Dari tadi Bian perhatiin, Tante jalannya agak pincang," tanya Abian dengan wajah polos tanpa niat mengejek, murni karena rasa ingin tahu seorang anak kecil.
Kania berjongkok, menyejajarkan tingginya dengan Abian.
"Iya, Bian. Kaki Tante memang begini," jawab Kania lembut sembari mengusap lengan Abian. "Tante memang wanita cacat. Tante banyak kekurangan."
Di luar dugaan, raut wajah Abian berubah serius. Tangan mungilnya kembali memeluk leher Kania dengan erat, menepuk-nepuk punggung Kania layaknya orang dewasa.
"Nggak masalah! Walaupun kaki Tante sakit dan Tante miskin, asalkan hati Tante baik, Bian tetap suka kok!" ucap Abian lantang. "Papa juga pasti suka! Kan papa yang mau pekerjakan Tante!"
Abimanyu yang mendengar ucapan putranya lewat jendela yang terbuka hanya bisa membuang muka
Kania tertawa kecil, matanya sedikit berkaca-kaca karena terharu.
"Makasih ya, Bian. Kamu anak yang sangat baik."
Setelah melepaskan pelukannya, Abian berlari kembali masuk ke dalam mobil. Ia menurunkan kaca jendela sepenuhnya.
"Sampai jumpa besok di kantor Papa, Tante! Jangan telat, nanti dipotong gaji!" seru Abian sambil melambaikan tangan.
"Dadah, Abian," balas Kania sambil melambaikan tangannya hingga mobil mewah itu menghilang di tikungan jalan.
Senyum Kania perlahan luntur saat ia memutar tubuh menghadap pintu rumahnya. Begitu ia mendorong pintu kayu yang mulai rapuh itu, suara melengking langsung menyambutnya.
"Bagus ya! Siang bolong begini baru ingat jalan pulang?!" teriak Tuti yang sudah berdiri berkacak pinggang di ruang tengah.
"Mama lapar, Kania! Kamu ini istri macam apa, suami lagi susah cari uang di luar, kamu keluyuran nggak jelas dan biarin Mama kelaparan di rumah!"
"Susah cari uang? Suamiku sedang berselingkuh dan makan enak di restoran mewah!" batin Kania berteriak sinis.
Namun, Kania memilih untuk tidak membuang energinya. Dengan ekspresi sedatar tembok, ia melangkah melewati Tuti begitu saja. Ia mengabaikan rasa sakit yang berdenyut di kakinya yang cacat, mempertahankan postur tubuhnya agar tetap tegak dan bermartabat.
"Hei! Kania! Kamu budek ya?! Berani kamu mengabaikan Mama?!" teriak Tuti semakin histeris melihat menantunya yang biasanya penurut kini berlalu tanpa menoleh sedikit pun.
kamu pasti bisa bangkit kembali😭😭
kamu gak tau KLO mawar ingin menjadikan firman sebagai budak catur
yg harus kerja rodi
siap siap lembur stiap hari dan istri barumu akan menghabiskan uang perusahaan
dan Bu Tuti akan kehilangan jatah bulananmu
ahay
Nah betul nih si 🌹 berduri adiknya si kulkas. Eng ing eng...
sebenarnya itu bukan dosa
hanya ujian😁
ternyata dia dari anak pengusaha
ish ish kelakuannya berbanding terbalik sama kakaknya
huh dasar pelakor