Selama tujuh tahun, Zahira Narapati mengorbankan karier dan mimpinya demi mendampingi Deris Adikara membangun usaha. Namun, saat kesuksesan akhirnya diraih, Deris justru menceraikannya karena menganggap Zahira tak lagi sejalan dengan kehidupannya dan memilih wanita lain.
Semua orang mengira perceraian itu akan menghancurkan Zahira. Nyatanya, ia bangkit dari nol, membangun kembali kariernya hingga menjadi perempuan sukses yang berdiri di atas kakinya sendiri.
Dalam perjalanan itu, Zahira bertemu Revan Wiranata, pria yang menghargai kesetiaan dan memberinya kebahagiaan baru. Ketika Deris menyesali keputusannya dan ingin kembali, Zahira memilih melangkah bersama seseorang yang benar-benar menghargainya. Sebab, setiap luka bukanlah akhir, melainkan awal dari kebangkitan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode — 31.
Sore itu, setelah seluruh rangkaian seminar hari pertama selesai, para peserta Business Leadership Summit kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat dan mempersiapkan diri menghadiri International Gala Dinner yang akan dimulai pukul tujuh malam.
Koridor hotel tampak lebih lengang dibanding siang tadi, beberapa staf hotel berlalu-lalang mendorong troli berisi perlengkapan acara.
Di kamar bernomor 2020, Zahira baru saja menutup laptopnya. Ia mengembuskan napas lega setelah kembali memeriksa materi diskusi yang akan ia ikuti keesokan hari.
Ponselnya bergetar, Revan menelepon. Zahira segera mengangkat panggilan itu.
"Halo."
"Apa aku mengganggu?"
"Nggak."
"Sudah siap untuk gala dinner?"
"Hampir siap..."
Revan tersenyum tipis di seberang sana. "Kalau begitu, aku akan menunggumu di lobi tiga puluh menit lagi."
"Oke."
"Jangan terburu-buru."
"Aku mengerti."
"Kalau sudah selesai bersiap, langsung turun."
"Baik."
Panggilan berakhir.
Zahira meletakkan ponselnya di atas meja, lalu membuka koper. Ia memilih gaun panjang berwarna biru tua yang sederhana tetapi elegan. Dipadukan dengan blazer putih tipis dan sepatu hak rendah, penampilannya tampak anggun tanpa berlebihan.
Setelah merapikan rambut dan mengenakan riasan tipis, Zahira mengambil kartu akses kamar serta tas tangan kecilnya. Ia sama sekali tidak menyadari, di ujung koridor, sepasang mata sedang memperhatikannya.
Beberapa menit sebelumnya, lantai pelayanan hotel. Seorang pria berpakaian seperti staf kebersihan berdiri di dekat ruang penyimpanan. Ponselnya bergetar, Ia segera mengangkatnya.
"Semuanya sudah siap?" tanya suara Almira dari seberang.
"Siap, Nona."
"Pastikan tidak ada kesalahan."
"Tenang saja."
Pria itu mengeluarkan sebuah kartu akses hotel dari saku seragamnya.
"Itu kartu yang sudah dibuat?"
"Iya."
"Bagus." Suara Almira terdengar dingin. "Begitu target keluar dari kamar, masuklah. Masukkan benda itu ke dalam tasnya."
"Kalau ketahuan?"
Almira tersenyum tipis. "Mustahil! Semua orang sedang sibuk bersiap menghadiri gala dinner."
Panggilan terputus.
Pria itu menatap nomor kamar yang tertulis di secarik kertas—2020. Ia segera berjalan menuju lift layanan.
Di saat yang sama, di lobi hotel. Revan sudah menunggu sambil berbincang dengan beberapa CEO dari Jepang.
Tak jauh darinya, anggota tim keamanan internal Wiranata Corp menerima laporan melalui earphone kecil yang tersembunyi.
"Target mulai bergerak."
"Pantau terus."
"Orang suruhan Almira menuju lantai dua puluh."
Tatapan pria itu langsung berubah tajam, Ia segera mengirim pesan singkat kepada Revan.
>Pak, orang yang kami curigai bergerak menuju lantai kamar Bu Zahira.
Tak sampai lima detik, balasan masuk.
>Jangan cegah, rekam semuanya. Pastikan tidak kehilangan satu detik pun.
"Baik, Pak."
Tim keamanan segera menyebar tanpa menarik perhatian.
Di lantai dua puluh pintu lift terbuka perlahan, pria berseragam staf hotel melangkah keluar sambil mendorong troli. Dari kejauhan ia melihat Zahira keluar dari kamar dan pintu otomatis terkunci setelah tertutup, wanita itu berjalan menuju lift tanpa sedikit pun menoleh ke belakang.
Begitu sosok Zahira menghilang di balik tikungan koridor, pria itu segera mengeluarkan kartu akses.
Bip...
Lampu pada gagang pintu berubah hijau.
Klik.
Pintu kamar terbuka, pria itu masuk dengan cepat. Kurang dari satu menit kemudian ia keluar kembali, di wajahnya tersungging senyum puas.
"Beres."
Ia kembali mendorong troli seolah tidak terjadi apa pun. Namun tanpa ia sadari, sebuah kamera kecil yang terpasang di sudut koridor merekam seluruh gerakannya dengan jelas.
Dari balik lorong lain, dua anggota tim keamanan internal Wiranata Corp juga memotret wajah pria tersebut beserta nomor kartu akses yang digunakannya.
"Pak, target sudah menjalankan rencana." Salah seorang segera menghubungi Revan.
"Bagus." Suara Revan terdengar tetap tenang. "Apa barangnya berhasil dimasukkan?"
"Iya."
"Hilangkan jejak?" tanya tim keamanan.
"Tidak, biarkan tetap di sana." Revan justru tersenyum tipis.
"Pak?"
"Kalau barang itu hilang, mereka akan sadar rencana mereka terbongkar." Ucap Revan, Ia menghentikan ucapannya sejenak. "Biarkan mereka percaya... malam ini Zahira benar-benar akan jatuh."
Anggota keamanan itu mengangguk. "Dimengerti."
Di dalam lift yang membawa Zahira turun menuju lobi, wanita itu sama sekali tidak mengetahui bahwa sebuah jebakan telah dipasang untuk menghancurkan nama baiknya.
Dan beberapa saat lagi, ketika International Gala Dinner dimulai... rencana Almira dan Kayla akan memasuki babak berikutnya.
Dan kesalahan tu yg bikin mereka gx ingin melihat Dunia luar lgii ,, 😏😏😏😏😏😏
dsnii bakal keliatan ,,
mana yg berdiri dg kaki ny ,,
Dan mana yg berdiri msh menggunakan kaki orang tuany ,, 😒😒😒😒🤭🤭🤭🤭