CERITA MASIH ACAK-ACAKAN AKAN AUTHOR REVISI SATU PER SATU.
-DALAM PROSES REVISI -
Sejak kecil Rania hidup bersama keluarga yang telah mengadopsinya dari sebuah panti asuhan. Segala hal akan Rania lakukan agar keluarganya bangga terhadap Rania, termasuk mengorbankan perasaannya sendiri.
Sampai kakak tirinya divonis tidak bisa memiliki anak. Sejak itu Rania ditunjuk untuk menikahi suami dari kakak tirinya agar bisa memiliki keturunan. Tetapi dengan perjanjian setelah memberinya anak Rania akan diceraikan.
Apakan Rania menyanggupi permintaan kakak tirinya? atau Rania memilih untuk pergi menghilang dari keluarga yang telah mengadopsinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon slwarulla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17 Kehangatan (revisi)
Minggu kemaren giliran Dimas dirumah Salsa yang berarti minggu ini giliran Dimas dirumah Rania, lebih tepatnya apartemen milik Dimas yang kini ditempati oleh Rania.
Dimas keluar dari pintu depan dan membuka pintu belakang mobil. Terlihat banyak makanan yang telah ia beli. Dimas membawa itu semua bersamanya dan melangkah memasuki lift. Dimas menekan sesuai dengan lantai yang ia tuju, tidak lama kemudian ia memasuki pin apartemen dan mendapati Rania sedang didepan laptop dengan muka serius.
"serius banget" ucap Dimas mengagetkan Rania dan kemudian ia menaruh belanjaan yang telah ia beli disamping Rania
"ini apa?" Rania membuka satu persatu belanjaan tersebut, matanya menatap binar-binar ke isi belanjaan, "widih martabak, bakso, seblak. Ihh... banyak banget. Buat apa mas beli ini semua?" Rania menatap Dimas meminta jawaban
"ya buat kamu semua" Dimas membuka jas yang sedari tadi masih ia pakai dan diberikannya kepada Rania
"aku mana kuat makan sebanyak itu" Rania menaruh jas yang telah diberikan Dimas keranjang isi pakaian yang sudah kotor
"bisa disimpen dikulkas kan, besok bisa dimakan lagi tapi dipanasin terlebih dahulu"
"iya mas"
"saya bersih-bersih terlebih dahulu ya. Kamu siapin makanan tesebut di piring, nanti setelah saya mandi kita langsung makan"
"iya mas"
Dimas memasuki kamar dan mulai membersihkan diri.
Rania merapihkan laptop dan berkas-berkas terlebih dahulu yang tadi sedang ia kerjakan. Kini ia memasuki dapur dan mengeluarkan piring beserta sendok dan garpu. Ia menyiapkan semua makanan yang Dimas beli keatas meja makan.
"sudah siap?" Dimas keluar dengan setelan baju santainya dan kedua tangan yang sedang mengeringkan rambutnya dengan kasar
"jangan kasar begitu mas, nanti rambut kamu rusak" Rania mengambil alih handuk Dimas, "duduk dulu mas, kalau berdiri aku gak sampai"
"pendek sih" ledek Dimas membuat Rania bersungut kesal
Dimas duduk dan Rania langsung mengambil alih posisi dibelakang Dimas. Dengan perlahan ia mulai mengeringkan rambut Dimas, membuat lira itu tertegun.
Tidak pernah ia diperlakukan seperti ini oleh Salsa.
Ngomong apa saya! Saya tidak boleh membanding- kan Salsa dengan Rania. Mereka perempuan yang berbeda, Yang pastinya Salsa lebih bisa segala- galanya lebih baik daripada Rania.
"udah mas" ucap Rania menyadarkan Dimas dari lamunannya
"makasih"
Rania duduk dihadapan Dimas dan mulai melahap makanan yang tersedia. Makan dengan rakus tanpa memperdulikan Dimas dihadapannya yang sedang menatap kagum.
Buset nih perempuan gak ada jaim-jaimnya dihadapan gue.
Rania yang merasa ditatap sedari tadi kini menoleh kepada Dimas, "kenapa mas? aku ada salah, kamu kok netep akunya gitu banget" ucap Rania dengan mulut yang masih penuh dengan makanan
Dimas menyentil kening Rania dengan pelan, "jorok! kalau mau ngomong makanannya telan terlebih dahulu"
"hehe... iya mas maaf"
Makanan yang tadi sekian banyaknya kini habis hanya menyisakan piring-piring yang kotor.
"katanya makanan yang saya beli terlalu banyak, eh habis juga" sindir Dimas membuat Rania tertawa pelan
"gak sadar akutuh udah makan segitu banyak. Lagian makanan yang kamu beli enak semua, jadinya kan aku kalap" bela Rania
"emang gak takut gendut kamu"
"enggak, malahan aku pengen nambah berat badan. Badan aku terlalu kurus"
Dimas memperhatikan Rania dari ujung rambut sampai ujung kaki, "iya kamu terlalu kurus, nanti kalau dilihat orang saya malu"
"hah? kenapa mas yang malu"
"ya kan nanti saya dikira gak ngebahagiain kamu. Terus kalau gak bahagia, kamunya stress. Kalau stress berhubungan sama berat badan, pasti ujung-ujungnya kamu kurus" ejek Dimas
"apaan sih mas, gak stress juga kali" Rania memukul Dimas pelan
Dimas menangkap tangan Rania yang masih terus memukulnya dan menenggelamkan Rania ke pelukannya.
"maafin kesalahan saya ya" ujar Dimas tiba-tiba
Rania mengeratkan pelukan Dimas yang sangat nyaman itu, "iya mas aku akan terus maafin kamu" ucap Rania
Dimas mengelus rambut Rania berulang kali, membuat perempuan itu semakin nyaman berada dipelukan Dimas.
Tuhan, aku ingin seperti ini selamanya. Aku ingin merasa kebahagian. Ucap Rania dalam hati
😡😡😡😈😈😈
😡😡😡
😡😡😡
tokoh laki-laki.y juga gampang dibohongin pokok.y nambah beban pikiran dah
plis deh jangan goblok 😩 gak usah cari penyakit fokus aja ke karir Ama si kembar😑