NovelToon NovelToon
Di Sini Ada Arwah, Di Sana Ada Polisi

Di Sini Ada Arwah, Di Sana Ada Polisi

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Action / Mata Batin
Popularitas:33.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ichageul

Nino dan Asep harus mengungkap peristiwa pembunuhan berantai yang semua korbannya adalah wanita.

Musuh kali ini adalah seorang pembunuh yang kejam, licik, dan cerdas. Mereka berpacu dengan waktu untuk mengungkap pelaku sebelum lebih banyak korban berjatuhan.

Disclaimer:
Seluruh tokoh, tempat, dan peristiwa dalam novel ini adalah fiksi. Apabila terdapat kemiripan dengan orang, tempat, atau kejadian nyata, hal tersebut murni kebetulan.

Novel ini mengandung adegan kekerasan dan pembunuhan yang ditujukan untuk kepentingan cerita. Tidak dimaksudkan untuk mendorong atau membenarkan tindakan tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bukti yang Membungkam

“Bagaimana kalau pria ini?” Nino memperlihatkan foto Rian pada sang resepsionis. “Apa Anda pernah melihatnya?”

“Ya, dia memang penghuni di sini. Tapi saya tidak tahu dia berada di unit berapa. Mungkin petugas security tahu. Karena mereka sering mengantar paket atau makanan ke penghuni unit di sini.”

Nino dan Asep segera mendekati salah satu petugas keamanan yang berjaga di dekat pintu masuk. Setelah menunjukkan identitasnya, Nino memperlihatkan foto Rian. Satpam bernama Saepudin itu langsung mengenali foto Rian.

Pria itu sering kali mengantarkan paket untuk Rian, baik barang maupun makanan. Selain itu, dia juga pernah mengantar perempuan yang mengunjungi Rian beberapa kali.

“Dia di unit 1207, lantai 12.”

“Terima kasih.”

Begitu mendapatkan nomor unit Rian, tanpa membuang waktu, Nino dan Asep segera menuju lantai dua belas. Sesampainya di sana, keduanya segera menuju unit 1207.

Asep menekan bel yang ada di samping pintu. Pria itu menekan bel berkali-kali sebelum pintu dibuka dari dalam.

“Selamat pagi, dengan Anda saudara Rian Firansyah?” tanya Nino.

“Iya,” jawab Rian bingung.

“Kami dari Polda Jabar. Apa Anda bisa ikut dengan kami?” Nino memperlihatkan surat penangkapan untuk Rian.

“Sebentar, apa salah saya?”

“Anda menjadi tersangka atas kasus pembunuhan pada Prisa Handayani.”

“Siapa Prisa? Saya tidak mengenalnya,” Rian mencoba mengelak. “Saya tidak bersalah!”

“Anda bersalah atau tidak, akan dibuktikan nanti di pengadilan. Sekarang ikut kami.”

Begitu melihat celah, Rian langsung berbalik hendak kabur. Namun Asep bertindak lebih cepat. Sebuah tendangan menghantam punggungnya hingga tubuh pria itu tersungkur di lantai.

Nino mendekati Rian lalu menarik kedua tangan pria itu ke belakang. Sebuah borgol melingkari pergelangan tangan Rian.

Pria itu pasrah saja saat Nino menariknya hingga berdiri. Diapit Nino dan Asep, Rian berjalan meninggalkan koridor lantai dua belas.

Seluruh perhatian di lobi langsung tertuju pada Rian yang digiring keluar dengan tangan terborgol. Rian menundukkan kepalanya, terlalu malu untuk bersitatap dengan orang-orang yang tengah memandanginya.

Nino segera menjalankan kendaraan roda empatnya meninggalkan area parkir Apartemen Braga Living. Sepanjang perjalanan, Rian hanya tertunduk lesu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Pria itu tidak menyangka polisi bisa mengendus jejaknya secepat ini.

Setelah berkendara selama hampir satu jam, akhirnya mereka tiba di kantor Polda Jabar. Saat bersamaan, tim identifikasi berangkat ke apartemen Rian untuk melakukan penggeledahan.

Rian segera dibawa ke ruang interogasi. Pria itu tidak langsung menjalani interogasi. Dia hanya ditinggal begitu saja di ruangan berpencahayaan redup.

Di salah satu sisi ruang interogasi terpasang one-way mirror, cermin satu arah yang memungkinkan penyidik mengamati tersangka tanpa terlihat. Miko, Nino dan Asep mengawasi Rian dari ruang sebelah melalui cermin itu.

“Apa kita akan menginterogasinya sekarang?” tanya Nino.

“Bagaimana dengan teman Prisa? Apa Ahqam sudah berhasil menemukannya?”

“Dia ada di kampus, sedang mengikuti perkuliahan,” jawab Ahqam yang muncul tanpa panggilan dari Asep. Setiap namanya disebut, jin tersebut bisa muncul tiba-tiba.

“Nino, kamu interogasi Rian sekarang. Asep, segera jemput temannya Prisa.”

“Siap.”

Nino dan Asep keluar dari ruangan itu. Sekeluarnya dari sana, keduanya berpisah tujuan. Nino masuk ke ruang interogasi. Sementara Asep meninggalkan kantor. Dia akan menjemput teman Prisa yang membantu Rian melakukan aksinya.

Rian mengangkat kepalanya saat mendengar suara pintu terbuka. Nino mendekat dengan laptop di tangannya. Pria itu menarik kursi lalu mendudukkan diri di hadapan Rian. Dia menyambungkan USB dari Pradipta ke laptop.

“Anda mengenal Prisa Handayani?” Nino memulai interogasinya.

“Siapa Prisa?”

“Sejak kapan Anda berhubungan dengan Prisa.”

“Aku tidak kenal siapa Prisa,” tegas Rian. Tetap bertahan dengan jawabannya.

“Benarkah?”

Nino memutar laptop menghadap Rian. Dia memperlihatkan foto-foto dirinya bersama Prisa yang berhasil diambil dari galeri ponsel Prisa.

Sorot mata Rian langsung berubah. Raut terkejut sempat muncul sebelum kembali dia sembunyikan.

“Dia hanya penggemarku. Jadi wajar kalau aku tidak mengenalnya.”

“Benarkah? Apa penggemar bisa diajak naik ke atas ranjang seenaknya?”

Kali ini Nino memperlihatkan foto Rian dan Prisa di atas ranjang. Bahkan ada pula video berdurasi dua puluh detik saat keduanya sedang bercumbu.

Foto dan video itu benar-benar membungkam Riam. Untuk pertama kalinya pria itu kehilangan jawaban.

Belum hilang keresahan yang dirasakan Rian, Nino kembali menunjukkan sebuah video yang sukses membuat pria itu semakin merasa terpojok.

Video rekaman CCTV di kafe seberang kampus. Video di hari yang sama saat Prisa terjun dari rooftop gedung fakultas.

“Hubungi pengacaraku. Aku tidak akan bicara sampai pengacaraku datang,” ujar Rian.

“Baiklah. Kita akan bicara lagi sampai pengacara Anda tiba. Segera hubungi pengacara Anda.”

Rian menelan ludahnya dengan susah payah. Dengan tangan bergetar dia mengambil ponsel dari saku celananya lalu menghubungi pengacaranya. Nino segera meninggalkan ruangan interogasi setelah Rian menghubungi pengacaranya.

***

Asep menghentikan mobilnya di pelataran kampus Global Prestasi. Pria itu keluar dari mobil lalu mendekati Ahqam dan Eris yang sudah menunggunya di depan fakultas ISIP.

“Endah sedang di kelasnya, mungkin sepuluh menit lagi kuliahnya selesai. Kelasnya ada di lantai lima,” ujar Eris.

Asep menganggukkan kepalanya lalu menuju lift. Pria itu secepatnya menuju lantai lima menggunakan kotak persegi itu.

Sesampainya di lantai lima, Asep mengikuti Eris yang memandunya ke kelas Endah. Asep duduk di bangku panjang yang ada di depan kelas.

Lima menit kemudian perkuliahan berakhir. Setelah sang dosen meninggalkan kelas, satu per satu mahasiswa yang mengikuti perkuliahan keluar dari kelas.

Jari Eris menunjuk seorang gadis dengan rambut sebahu, mengenakan blouse berwarna merah muda dan celana jeans. Asep bangkit dari duduknya lalu mendekati Endah.

“Saudari Endah,” panggilan Asep membuat Endah menghentikan langkahnya. Gadis itu menoleh ke arah datangnya suara.

Perasaan Endah langsung tak enak ketika melihat Asep. Pria itu adalah petugas kepolisian yang menangani kasus Prisa.

 “Dengan saudari Endah Prameswari?” tanya Asep seraya mendekat.

“I-Iya.”

“Apa bisa ikut dengan saya? Ada yang ingin saya tanyakan tentang Prisa,” Asep menunjukkan surat yang dibawanya.

“B-Bukannya saya sudah mengatakan apa yang saya tahu kemarin?”

Jantung Endah berdegup tak karuan. Ketakutan seketika menyergapnya. Refleks gadis itu melangkah mundur.

 “Ya. Tapi sepertinya Anda belum menceritakan semuanya. Silakan ikut saya. Atau saya perlu menghubungi orang tua saudari?”

“T-Tidak. S-Saya akan ikut.”

Tak punya pilihan lain, Endah mengikuti Asep. Dengan kepala tertunduk gadis itu berjalan di belakang Asep.

“Ndah, kamu mau ke mana?” tanya salah satu temannya.

Tidak ada jawaban dari Endah. Gadis itu hanya menyunggingkan senyum tipis.

“Pacar kamu?” tanya satunya lagi. Untuk kali ini Endah menggelengkan kepala dengan cepat.

Asep yang mendengar itu sama sekali tidak mempedulikannya. Pria itu segera masuk ke lift yang pintunya sudah terbuka.

***

Sudah dua puluh menit lamanya Endah berada di ruang interogasi. Gadis itu sudah terlihat gelisah. Asep masih belum masuk ke ruangan. Perasaan Endah semakin tidak enak.

Selang beberapa menit kemudian pintu terbuka. Asep masuk sambil membawa laptop. Dia menaruh laptop ke meja lalu memutar layar ke hadapan Endah. Jarinya mengetuk tombol play, rekaman CCTV di kafe dimulai.

Sambil menarik kursi di depan Endah, Asep terus memperhatikan gadis itu. Mata Endah membelalak. Napasnya mendadak terasa berat, sementara telapak tangannya mulai dipenuhi keringat dingin. Buliran keringat pun mulai keluar membasahi kulitnya.

“Apa hubungan Anda dengan Rian Firansyah?” tanya Asep membuka jalannya interogasi.

***

Sorry aja, biar Jomblo tapi gue pilih², kata Asep😂

1
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
tersepona ga tuh
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
hehhhh kau tuh hantuuuuu
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
pria siapa
nayla tsaqif
Q mikirnya visual aqham itu kayak jin nya aladin thor,, tinggi besar, botak warna biru,, 🤭
Munas Tuti
ada2 ajhaa Achqom, pake ganti wajah....jurig mah jurigg wee 😄😄
Cucun Sukmawati
bisa bisanya si ahqam berubah jadi Tom Cruise,,🤣🤣🤣
yula
💪💪💪💪💪thor
Nawang Kasturi
sa AE si ahqam🤣🤣
Sari Hastuti
apartemen pelaku smaa pradipta smaa y,,
Erchapram
🤣🤣🤣
sakura hanae @ mimie liyana❤️
Effort juga si ahqam🤣🤣🤣
sakura hanae @ mimie liyana❤️
😫AMNESIAAAA... streess lue pRisa😭🤣🤣🤣🤣
♋Ichageul💞
Lihat di cover🤣
Teti Usmayanti
pelakuny pintar, sangat profesional dan totalitas ya.. sprt belut. tp namany bangkai tertutup rapat akan tercium bauny. tenang asep dan nino pst akan ada temu titik terang mencari pelaku pembunuhan. by the way, jung kok itu di jadiin sandera sm pembunuh bertopeng. karena sdh lihat muka pembunuh bertopeng itu. apa2 jgn pembunuh bertopeng itu melakukan pembunuhan buat ritual dia ato buat hobi aja. ehm.. msh bnyk misteri yg blm terpecahkan.
Teti Usmayanti
🤣🤣 kykny cuma nino doank yg bisa menistakhan aqham 😄🤭. tuh eris, aqham berubah wujud jd tom cruise tambah ganteng.
tehNci
Tuuh di dalam tas ada drone sama laptop. Tergerak gak, hati Nino melihat kedua benda itu di tas si pembunuh? mungkinkah itu bukti awal yg bisa membongkar identitas si topeng Rahwana?
tehNci
Mission impossible nya Eris udah Dateng...tapi sekarang udah gak impossible lagi. Udah sangat possible kalo Eris makin cinta sama ahqam😅😅😅
tehNci
Lha....sebelum Asep dan Nino dibuang ke gunung Kawi, elu duluan yg dibuang ke kebun jengkol sama Abah Ade, trus gak bisa keluar dari sana karena kekuatan Abah Ade. Sampe mati kamu terpenjara di kebun jengkol Abah ade🤣🤣🤣
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🤎⃟dí́ժαհᄂ⃟ᙚ🥑⃟𝐐⃟❦♬⃝❤
cehhh ......
aaciieeeee.....
Ahqam cosplay jd Tom Cruise...emmhh biar Eris makin semakin...huweee /Puke//Facepalm/
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🤎⃟dí́ժαհᄂ⃟ᙚ🥑⃟𝐐⃟❦♬⃝❤
ahahahahhaha..ada yg nepsong eungg di ghibahin..... Ahqam ooo Ahqam /Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!