Kirana cuma pengen kuliah tenang. Tapi dosen paling galak sekampus malah jadi orang yang bikin jantungnya berdebar tanpa alasan.
Status dosen dan mahasiswi jadi tembok pemisah. Masa lalu kelam Alden jadi ancaman yang siap menghancurkan semuanya.
Satu pertanyaan tersisa: berani nggak, Kirana, jatuh cinta pada orang yang paling dilarang buat dicintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W_ Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: PAYUNG YANG SAMA SAAT HUJAN
Rabu sore, langit di atas kampus berubah gelap dengan cepat, awan mendung bergulung menutupi matahari yang tadi masih bersinar terang saat jam makan siang. Kirana keluar dari ruang seminar setelah mengikuti kuliah tamu tentang kewirausahaan, membawa tas ransel yang terasa lebih berat dari biasanya karena tumpukan modul yang dibagikan.
"Kir, kayaknya bakal hujan deres nih," kata Tesa, mendongak menatap langit yang semakin gelap.
"Iya, untung tadi aku bawa payung," Kirana membuka resleting tas, mengeluarkan payung lipat berwarna biru muda. "Kamu bawa nggak?"
"Nggak bawa," Tesa meringis. "Tapi aku ada janji sama kakak tingkat di gedung sebelah, jadi nggak perlu jalan jauh. Kamu duluan aja, Kir, aku masih nunggu dia keluar kelas."
"Yakin nih ditinggal?" Kirana sedikit ragu, meski dia sendiri juga ingin segera pulang sebelum hujan benar benar turun.
"Yakin, tenang aja," Tesa mendorong bahu Kirana pelan. "Buruan sana, keburu deres."
Kirana berjalan cepat menyusuri koridor menuju gerbang keluar, tapi baru beberapa langkah, hujan yang tadi hanya rintik kecil berubah menjadi deras dalam hitungan detik.
Dia buru buru membuka payungnya, berlindung di bawahnya sambil mempercepat langkah.
Di persimpangan koridor menuju parkiran, dia berpapasan dengan Alden yang baru keluar dari ruang dosen, membawa tas kerja tanpa payung sama sekali. Hujan yang deras membuat langkahnya terhenti di ambang pintu gedung, menatap langit dengan raut yang jarang terlihat, sedikit frustrasi.
"Pak Alden?" Kirana menghampiri, sedikit terkejut melihat dosen itu terjebak tanpa perlindungan dari hujan.
Alden menoleh, sedikit terkejut juga melihat Kirana berdiri di sana dengan payung terbuka.
"Kirana. Kamu belum pulang?"
"Baru mau pulang, Pak. Bapak nggak bawa payung?" tanya Kirana, meski jawabannya sudah jelas terlihat dari situasi yang ada.
"Nggak nyangka bakal hujan sederes ini," jawab Alden, menatap hujan yang mengguyur halaman parkiran dengan raut tidak sabar. "Mobil saya di ujung sana, agak jauh."
Kirana melirik payungnya sendiri, lalu menatap Alden yang masih berdiri di ambang pintu, ragu ragu untuk melangkah keluar. Ada dorongan dalam dirinya untuk menawarkan sesuatu, tapi keraguan juga sama besarnya, mengingat percakapan mereka minggu lalu tentang menjaga jarak.
"Pak," Kirana akhirnya memberanikan diri,
"mau pake payung saya bareng? Daripada kehujanan sampe ke mobil."
Alden menatapnya sejenak, terlihat mempertimbangkan tawaran itu dengan raut yang sulit dibaca. "Kamu yakin? Nanti kamu yang malah kehujanan."
"Payungnya cukup gede kok, Pak. Nggak apa apa," Kirana meyakinkan, meski jantungnya sendiri sudah mulai berdebar kencang membayangkan situasi yang akan terjadi.
Setelah beberapa detik ragu, Alden akhirnya mengangguk. "Baiklah. Terima kasih."
Mereka berjalan berdampingan di bawah payung yang sama, jarak di antara mereka lebih dekat dari yang biasa mereka jaga di lingkungan kampus. Kirana memegang gagang payung dengan tangan yang sedikit gemetar, berusaha menjaga agar payung itu cukup melindungi mereka berdua meski ukurannya sebenarnya lebih cocok untuk satu orang.
"Maaf ya, Pak, payungnya agak kecil," Kirana meminta maaf, menyadari bahu Alden sedikit basah karena tidak sepenuhnya terlindung.
"Nggak apa apa, ini udah lebih baik daripada kehujanan total," jawab Alden, suaranya terdengar lebih santai dari biasanya.
Mereka berjalan pelan menyusuri halaman parkiran yang mulai tergenang air, langkah mereka harus disesuaikan agar tetap berada di bawah naungan payung yang sama. Sesekali, bahu mereka bersentuhan tanpa sengaja, membuat Kirana merasakan sengatan aneh setiap kali itu terjadi.
"Pak," Kirana memulai percakapan, mencoba mengalihkan perhatian dari kecanggungan yang mulai terasa, "kok Bapak nggak bawa payung sih? Kan tadi udah mendung dari siang."
"Saya kira bakal reda sebelum saya pulang," jawab Alden, menghela napas kecil.
"Ternyata malah tambah deras."
"Untung saya bawa," Kirana tersenyum kecil, meski dia sendiri berusaha menjaga suaranya tetap terdengar biasa saja, tidak menunjukkan debar aneh yang sedang dia rasakan.
"Untung juga kamu mau nawarin," Alden membalas, matanya melirik sekilas ke arah Kirana sebelum kembali fokus ke jalan di depan mereka. "Padahal kamu bisa aja langsung pergi tadi."
"Nggak enak aja ninggalin Bapak kehujanan," jawab Kirana jujur. "Lagian kan cuma numpang payung doang, bukan hal besar."
Mereka melanjutkan berjalan dalam diam beberapa saat, hanya suara hujan yang menghantam payung dan genangan air yang mengisi keheningan di antara mereka. Kirana bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang terasa lebih keras dari biasanya, mungkin karena jarak mereka yang begitu dekat, atau mungkin karena situasi yang terasa lebih intim dari yang pernah mereka alami sebelumnya.
"Mobil saya di sana," kata Alden akhirnya, menunjuk ke arah sedan hitam yang terparkir tidak jauh dari mereka.
Mereka mempercepat langkah menuju mobil itu, hujan semakin deras seolah ingin mempersulit perjalanan singkat mereka.
Sampai di dekat mobil, Alden berhenti sejenak, menatap Kirana yang masih memegang payung di atas mereka berdua.
"Terima kasih banyak, Kirana," katanya, suaranya terdengar tulus. "Ini bener bener nolong saya."
"Sama sama, Pak," Kirana tersenyum, meski hujan mulai membasahi ujung sepatunya karena mereka berdiri terlalu dekat dengan genangan air.
Alden memperhatikan hal itu, matanya melirik ke bawah, ke sepatu Kirana yang mulai basah. "Kamu jadi ikut basah gara gara ini."
"Nggak apa apa, Pak, cuma dikit kok," Kirana buru buru menjawab, tidak ingin Alden merasa bersalah karenanya.
Alden terdiam sejenak, menatap Kirana dengan ekspresi yang sulit diartikan, campuran antara rasa terima kasih dan sesuatu yang lebih dalam yang coba dia sembunyikan. "Kamu mau saya antar pulang? Daripada jalan kaki sendirian kehujanan kayak gini."
Tawaran itu membuat Kirana terkejut, tidak menyangka akan mendengar hal seperti itu dari Alden. "Eh, nggak usah repot repot, Pak. Saya bisa jalan kaki, kos saya nggak jauh kok."
"Saya nggak keberatan," Alden meyakinkan, membuka pintu mobilnya. "Lagian ini juga bentuk terima kasih saya karena udah bantu tadi."
Kirana ragu ragu sejenak,
mempertimbangkan tawaran itu. Di satu sisi, dia ingin menerima karena hujan memang terlihat semakin deras. Tapi di sisi lain, dia teringat percakapan mereka minggu lalu tentang menjaga jarak, dan naik mobil berdua dengan Alden terasa seperti melangkahi batasan yang sudah mereka sepakati bersama.
"Saya rasa mendingan saya jalan aja, Pak," Kirana akhirnya menolak dengan sopan.
"Nggak enak juga kalau ada yang liat saya naik mobil Bapak."
Alden terdiam sejenak, lalu mengangguk mengerti. "Kamu benar. Maaf, saya nggak mikir sejauh itu."
"Nggak apa apa, Pak. Tapi makasih tawarannya," Kirana tersenyum, mencoba meredakan suasana yang sempat terasa canggung.
"Kalau gitu, setidaknya biar saya pastikan kamu sampe ke jalan besar dengan aman," kata Alden, menutup pintu mobilnya kembali tanpa masuk. "Saya jalan kaki bareng kamu sampe sana, baru saya balik ke mobil."
"Pak, nggak usah, ini kan hujan deres, mending Bapak langsung ke mobil aja,"
Kirana mencoba menolak lagi, khawatir Alden akan semakin basah karena kepeduliannya.
"Saya udah basah juga kok tadi," Alden tersenyum tipis, menunjuk bahunya yang memang sudah agak basah dari perjalanan tadi. "Nggak masalah nambah beberapa menit lagi."
Kirana tidak bisa lagi menolak, akhirnya mengangguk pasrah. Mereka berjalan bersama menuju jalan besar di ujung area parkiran, masih berbagi payung yang sama, jarak mereka tetap dekat karena keterbatasan ukuran payung itu.
"Pak," Kirana memulai percakapan lagi, mencoba mengisi keheningan yang mulai terasa berat dengan makna, "makasih ya, udah mau nemenin sampe sini."
"Ini hal kecil," jawab Alden, meski nada suaranya menunjukkan bahwa dia sendiri menganggap momen ini lebih dari sekadar hal kecil biasa.
Sampai di jalan besar, mereka berhenti sejenak. Hujan masih turun deras, tapi trotoar di sana lebih ramai dengan orang orang yang lalu lalang, membuat situasi terasa lebih aman dan lebih pantas untuk berpisah.
"Saya lanjut sendiri dari sini, Pak. Makasih banyak," kata Kirana, tersenyum tulus.
"Hati hati di jalan," Alden mengangguk, lalu ragu sejenak sebelum melanjutkan, "dan makasih lagi, buat payungnya."
"Sama sama, Pak," Kirana membalas senyum itu, lalu mulai melangkah menjauh, meninggalkan Alden yang berdiri sejenak menatap kepergiannya sebelum akhirnya berbalik kembali menuju mobilnya.
Sepanjang perjalanan pulang, Kirana terus memikirkan momen singkat tadi, cara Alden menawarkan diri mengantar meski tau itu berisiko, cara dia rela ikut basah hanya untuk memastikan Kirana sampai ke tempat yang aman. Hujan yang mengguyur kotanya terasa berbeda sore itu, seolah menjadi saksi bisu dari sesuatu yang perlahan tapi pasti mulai tumbuh di antara mereka berdua, meski keduanya sama sama tahu betapa rumitnya jalan yang harus mereka lalui untuk membiarkan perasaan itu berkembang lebih jauh.
Di dalam mobilnya, Alden duduk diam sejenak sebelum menyalakan mesin, menatap hujan yang membasahi kaca depan. Bayangan Kirana yang berjalan menjauh dengan payung birunya masih terngiang di kepalanya, dan untuk pertama kalinya, dia membiarkan dirinya bertanya tanya, apakah menjaga jarak benar benar pilihan yang tepat, atau justru hanya menunda sesuatu yang cepat atau lambat akan tetap terjadi.