NovelToon NovelToon
One Piece: Puppet System

One Piece: Puppet System

Status: tamat
Genre:Sistem / Anime / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: RabilMuhammadTahir

Muzan Kibutsi, seorang remaja dari Bumi, meninggal akibat kecelakaan dan bereinkarnasi ke dunia One Piece beberapa bulan sebelum perjalanan Luffy dimulai. Sebagai orang biasa tanpa kekuatan apa pun, ia memperoleh Puppet System, sebuah sistem yang memungkinkannya melakukan gacha menggunakan Belly untuk mendapatkan boneka karakter dari berbagai dunia anime.

Setiap boneka memiliki penampilan, kemampuan, dan gaya bertarung seperti karakter aslinya, tetapi sepenuhnya dikendalikan oleh Muzan dan setia tanpa syarat.

Dengan mengumpulkan Belly, membangun koleksi boneka, dan bergerak dari balik bayang-bayang, Muzan perlahan mengukir namanya di lautan. Sementara sejarah One Piece terus berjalan, seorang dalang misterius mulai memainkan perannya di balik panggung, siap mengubah keseimbangan dunia dengan pasukan boneka dari berbagai dimensi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RabilMuhammadTahir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Badai yang Terkoyak dan Keputusasaan Pemberontak

Derap langkah kaki hewan tunggangan yang berderak menembus pasir kering memecah kesunyian Yuba yang mati. Suaranya bergema di antara sisa-sisa bangunan yang separuhnya telah tertelan bukit pasir.

​Putri Vivi terkesiap. Ia melangkah maju, memosisikan dirinya di depan Toto yang masih memegang sekop kecilnya dengan tangan gemetar. Dari balik tirai debu yang menutupi jalan masuk desa, muncullah enam orang pemuda yang menunggangi unta padang pasir. Pakaian mereka lusuh, dililit kain usang untuk menahan sengatan matahari, dan di wajah mereka terlukis kelelahan yang bercampur dengan amarah yang mendidih.

​Mereka adalah pasukan pengintai dari Tentara Pemberontak.

​Pemimpin kelompok itu, seorang pria dengan bekas luka memanjang di rahangnya, menarik kekang untanya hingga berhenti beberapa meter dari sumur kering. Matanya yang merah karena debu dan kurang tidur memindai area tersebut, sebelum akhirnya terkunci pada sosok Vivi dan Toto.

​"Paman Toto," sapa pria itu dengan suara serak. Ia meludah ke atas pasir. "Kau masih saja menggali di tempat terkutuk ini? Pemimpin Koza sudah memerintahkan kita semua untuk memindahkan markas ke Katteya. Tidak ada air di sini. Raja Cobra telah mencuri semuanya dengan Dance Powder!"

​"Itu tidak benar!" seru Vivi, suaranya pecah namun dipenuhi tekad yang kuat. Ia melangkah keluar dari bayangan reruntuhan, membiarkan cahaya matahari menerpa rambut birunya yang khas. "Ayahku tidak pernah menggunakan bubuk itu! Kerajaan dijebak!"

​Keenam pemberontak itu mematung. Mata mereka terbelalak lebar mengenali wajah gadis di hadapan mereka.

​"P-Putri Vivi...?" gumam sang pemimpin, seolah melihat hantu di siang bolong. Namun, keterkejutan itu dengan cepat bermutasi menjadi kebencian yang menyala-nyala. Tangannya dengan sigap menarik pedang melengkung dari sarungnya. Kawan-kawannya mengikuti, menodongkan tombak dan senapan laras panjang.

​"Kau berani menampakkan wajahmu di hadapan kami, Tuan Putri?!" bentak pria itu, urat di lehernya menonjol. "Rakyat Alabasta mati kehausan, anak-anak kelaparan memakan pasir, sementara keluarga kerajaan menimbun hujan di ibu kota! Jika kami membawamu ke Katteya sebagai tawanan, Raja Cobra pasti akan menyerah pada tuntutan kami!"

​Vivi membentangkan kedua lengannya, mencoba melindungi Toto. "Kalian salah paham! Ini semua adalah ulah Crocodile! Dia yang menghancurkan negara kita dari balik layar!"

​"Tutup mulutmu! Crocodile adalah pahlawan Alabasta!" teriak salah satu pemberontak, melompat turun dari untanya dan berlari ke arah Vivi dengan tali tambang di tangannya. "Tangkap dia!"

​Mr. 9 melangkah maju dengan tongkat bisbol bajanya, bersiap melindungi sang Putri, namun tubuhnya yang masih kelelahan membuatnya kalah cepat.

​Namun, sebelum pemberontak itu bisa mencapai jarak dua meter dari Vivi, udara di sekitarnya mendadak terdistorsi oleh gelombang panas yang tidak wajar.

​SNAP!

​Suara jentikan jari yang sangat pelan dan elegan bergema di tengah terik matahari.

​Tssssss!

​"AARRGGHHH!"

​Keenam pemberontak itu menjerit serempak, menjatuhkan senjata mereka ke atas pasir. Pedang, senapan, dan tombak yang mereka genggam tiba-tiba memanas hingga mencapai suhu ratusan derajat celcius dalam sepersekian detik. Telapak tangan mereka melepuh merah, bau daging terbakar samar-samar tercium di udara kering.

​Roy Mustang melangkah keluar dari balik bayangan bangunan tua, memposisikan dirinya di antara Vivi dan para pemberontak yang kini berlutut menahan sakit. Ia menatap mereka dengan tatapan dingin seorang perwira yang sedang menghukum prajurit pembelot.

​"Sangat tidak sopan mengangkat senjata di hadapan seorang wanita, apalagi saat kalian bahkan tidak memahami siapa dalang yang menggerakkan tali boneka kalian," ucap Mustang santai, merapikan kerah seragamnya.

​Pemimpin pemberontak itu mengertakkan giginya menahan perih. Matanya menatap Mustang dengan penuh amarah. "S-Siapa kau?! Anjing peliharaan keluarga kerajaan?!"

​"Bukan," sebuah suara bariton yang berat dan sedingin es memotong.

​Muzan Kibutsi melangkah maju. Jubah hitamnya menyerap cahaya matahari, membuatnya tampak seperti lubang hitam di tengah gurun yang terang benderang. Ia tidak mengangkat senjata, ia juga tidak meninggikan suaranya. Ia hanya melepaskan sebagian kecil dari Haoshoku Haki-nya.

​WUSSH!

​Sebuah tekanan spiritual yang teramat pekat menyapu halaman sumur Yuba. Angin tiba-tiba berhenti berhembus. Para pemberontak itu merasa seolah-olah sebuah gunung batu baru saja dijatuhkan ke atas pundak mereka. Napas mereka tercekat di tenggorokan, dan tanpa bisa dilawan, tubuh mereka ambruk mencium pasir, tak mampu mengangkat kepala apalagi melawan.

​Bahkan Vivi dan Toto harus bertumpu pada lutut mereka, gemetar hebat merasakan dominasi mutlak yang memancar dari remaja berjubah hitam itu.

​"Kalian berbicara tentang keadilan dan penderitaan," ucap Muzan perlahan, berdiri menjulang di atas para pemberontak yang tak berdaya. "Namun kalian bertindak bagaikan sekawanan domba buta yang berjalan sukarela menuju tempat penjagalan. Crocodile menciptakan pahlawan palsu dalam dirinya sendiri, membakar rumah kalian, mencuri air kalian, lalu memberikan kalian pedang untuk saling membunuh sesama rakyat Alabasta."

​Muzan menunduk sedikit, matanya yang kelam menembus jiwa pemimpin pemberontak tersebut.

​"Pemberontakan kalian bukanlah sebuah revolusi yang heroik. Itu hanyalah sebuah lelucon tragis yang ditulis oleh seorang Shichibukai yang bosan."

​Pemimpin pemberontak itu menggigit bibirnya hingga berdarah, air mata frustrasi mengalir di pipinya yang kotor. "T-Tutup mulutmu... Apa yang kau tahu tentang penderitaan kami...?"

​"Aku tahu segalanya," potong Muzan dingin. Ia menarik kembali Haki-nya, membiarkan oksigen kembali mengisi paru-paru mereka yang tersengal. "Kalian boleh percaya atau tidak, itu bukan urusanku. Tapi camkan ini: jika pasukan kalian berani menyerang Alubarna sebelum aku selesai berurusan dengan Crocodile, aku sendiri yang akan memastikan tidak ada satu pun pemberontak yang tersisa untuk menangisi kebodohan kalian."

​Muzan berbalik, berniat meninggalkan para pemberontak yang masih syok itu di tanah.

​Namun, sebelum ia bisa memberikan perintah untuk melanjutkan perjalanan, langit di arah utara Yuba perlahan berubah menjadi kuning kehitaman. Suara deru angin yang teramat kencang mulai terdengar, menyerupai lolongan ribuan serigala yang kelaparan.

​Toto mendongak, matanya yang tua membelalak dalam teror yang familiar. "T-Tidak mungkin... Arah anginnya berubah lagi... Itu dia! Badai pasir itu datang lagi!"

​Vivi menoleh dengan panik. Di kejauhan, sebuah dinding pasir raksasa yang menjulang hingga ke awan sedang bergerak dengan kecepatan mengerikan menuju desa Yuba. Itu bukanlah fenomena alam biasa. Intensitas dan pusarannya terlalu fokus, membelah bukit-bukit pasir dan menyedot segala hal di jalurnya.

​Sables (Badai Pasir). Teknik mematikan milik Crocodile yang secara rutin ia kirimkan ke Yuba untuk memastikan oasis itu tertimbun pasir selamanya.

​"Lari!" teriak salah satu pemberontak, melupakan rasa sakit di tangannya dan mencoba meraih kekang untanya. "Badai itu akan menelan kita semua!"

​Toto jatuh terduduk di sebelah sumur yang baru saja ia gali sebagian. Air matanya menetes membasahi pasir yang kering. "Habislah sudah... Yuba akan benar-benar terkubur hari ini... Usahaku sia-sia..."

​Vivi memeluk pria tua itu, mencoba menariknya berdiri. "Tuan Toto! Kita harus berlindung! Bangunan itu tidak akan kuat menahan badai sebesar ini!"

​Di tengah kepanikan massal itu, Muzan Kibutsi berdiri tak bergeming. Ia menatap dinding pasir raksasa yang berjarak kurang dari satu kilometer itu dengan ekspresi datar. Otaknya mengkalkulasi kecepatan, tekanan udara, dan kepadatan partikel pasir dalam badai tersebut.

​"Manipulasi cuaca buatan melalui buah iblis Logia tipe Suna Suna no Mi," gumam Muzan, suaranya sangat tenang. Ia kemudian mendongak ke atas langit, menatap Enel yang melayang santai dengan tangan terlipat di dada.

​"Enel," panggil Muzan, suaranya memotong deru badai yang mulai memekakkan telinga. "Crocodile mencoba mengirimkan pesan ke tempat ini. Tunjukkan padanya bahwa pesan itu telah ditolak."

​Enel menunduk, matanya menyipit angkuh. Ia mendengus geli melihat badai pasir yang mendekat.

​"Sebuah hembusan angin kotor yang bercampur debu... Dan makhluk di dunia bawah ini menyebutnya sebagai ancaman?" Enel tertawa melengking, tawanya bergema di dalam pikiran Muzan dan terdengar samar di udara terbuka. "Baiklah, Pencipta. Biarkan aku membersihkan udara kotor ini dengan penghakiman yang sesungguhnya."

​Enel melesat ke atas, posisinya kini jauh lebih tinggi, berhadapan langsung dengan dinding pasir raksasa yang bersiap menelan Yuba. Ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Cincin emas di punggungnya berputar dengan kecepatan gila, menghasilkan suara dengungan statis yang memekakkan telinga.

​Kilat-kilat biru mulai menyambar-nyambar liar dari tubuhnya, mengubah langit yang berwarna kuning debu menjadi biru menyilaukan.

​"Matilah, kotoran!" teriak Enel dengan arogansi sang Dewa.

​"Vari (Jutaan Volt) - El Thor!"

​Enel tidak mengarahkan petirnya ke tanah. Ia mengumpulkan seluruh energi elektromagnetiknya dan menembakkan sebuah pilar petir horizontal yang ukurannya melampaui kapal perang raksasa, melesat langsung menembus jantung badai pasir Sables tersebut.

​KRAAAAAAK-THOOOOOOOMMMM!!!!!

​Suara ledakan yang dihasilkan tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata. Udara di padang pasir itu seolah pecah.

​Suhu di pusat badai pasir melonjak drastis hingga ribuan derajat dalam seperseribu detik. Tekanan siklon buatan Crocodile yang mempertahankan bentuk badai itu seketika hancur lebur akibat ledakan pemuaian udara (thermal expansion) yang ditimbulkan oleh petir Enel. Partikel-partikel pasir yang berputar liar itu kehilangan momentum gravitasinya, sebagian bahkan meleleh menjadi butiran kaca halus di udara akibat panas yang ekstrem.

​Dalam hitungan kurang dari lima detik, badai pasir raksasa yang bersiap menelan Yuba itu... pecah berkeping-keping.

​Dinding pasir itu runtuh, berubah menjadi hujan debu biasa yang perlahan turun membasuh desa Yuba layaknya salju emas yang tidak berbahaya. Langit kembali cerah, menyisakan hawa panas dari sisa ion listrik yang masih berderak di udara.

​Di darat, kesunyian yang absolut kembali mengambil alih.

​Para pemberontak yang tadinya bersiap melarikan diri, kini berdiri membeku layaknya patung. Rahang mereka jatuh, mata mereka melotot menatap ke arah langit di mana Enel melayang turun dengan perlahan. Toto dan Vivi melepaskan pelukan mereka, tak mampu mengucapkan sepatah kata pun melihat fenomena yang melampaui akal sehat tersebut.

​Badai pasir raksasa... dihancurkan dengan satu serangan cahaya biru dari langit?

​Muzan Kibutsi mengibaskan debu tipis dari jubahnya dengan santai. Bersamaan dengan itu, panel sistem berkedip singkat di sudut matanya.

​━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

​STATUS SISTEM

​Mission :

​[Saga: Alabasta - Intervensi Baroque Works] (Aktif)

​Achievement Tambahan :

​[Penakluk Badai (Badai Pasir Sables Dimentahkan)] -> Hadiah: +10 Poin Kekuatan Mental

​━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

​Muzan merasakan kejernihan di otaknya bertambah setitik, kapasitas mentalnya kini menyentuh angka 696 Poin. Ia menoleh ke arah pemimpin pemberontak yang masih duduk gemetar di atas pasir.

​"Sekarang kalian mengerti," ucap Muzan dengan nada yang jauh lebih menakutkan karena ketenangannya. "Dunia ini tidak berputar pada konflik kecil kalian. Sampaikan apa yang kalian lihat hari ini kepada Koza. Jika dia masih memutuskan untuk menyerang Alubarna, maka dia lebih bodoh dari yang kukira."

​Muzan berbalik, melangkah melewati Toto yang masih meneteskan air mata—kali ini bukan air mata keputusasaan, melainkan ketidakpercayaan yang membahagiakan karena desanya selamat dari kuburan pasir.

​"Ayo bergerak, Mustang. Kita tidak punya urusan lagi di sini," perintah Muzan tanpa menoleh. "Rainbase menunggu. Saatnya kita mencabut taring sang buaya pasir."

​Sementara itu, ratusan kilometer dari Yuba, di dalam ruang bawah tanah kasino megah Rain Dinners di kota Rainbase.

​Sir Crocodile sedang menuangkan segelas anggur merah ke dalam piala kristal. Ia mengangkat gelas itu, bersiap untuk merayakan kehancuran Yuba yang telah ia jadwalkan.

​Tiba-tiba, tangan kirinya yang berbentuk kait emas bergetar hebat. Matanya melebar, pupilnya mengecil menatap lurus ke arah dinding batu di depannya. Sebagai pengguna Suna Suna no Mi, ia memiliki koneksi sensorik yang samar dengan badai pasir yang ia ciptakan.

​Dan detik ini juga, ia merasakan koneksi itu... terputus secara brutal. Bagaikan seutas benang yang dibakar dengan obor.

​Sables-ku... hancur? batin Crocodile, keringat dingin perlahan menetes dari pelipisnya. Badai pasir sebesar itu tidak mungkin menghilang secara alami di tengah gurun. Sesuatu, atau seseorang, telah menghancurkannya dengan kekuatan yang tak terukur.

​Crocodile membanting piala kristalnya ke dinding hingga hancur berkeping-keping. Anggur merah menetes layaknya darah.

​"Erebus..." geram Crocodile, giginya bergemeretak menahan amarah dan setitik teror yang mulai merayap di hatinya. Sang Dalang benar-benar datang, dan ia tidak sedang bermain-main.

1
variable of ancient
batu gravitasi bukanya udah dipasang thor
Bintang Surya
lanjutttt
Bintang Surya
upp terus thor
Jane R.S
lanjut upp
Axel
thor sebaiknya pakai kalimat dewa, jangan pakai kalimat tuhan
Rabil Muhammad Tahir: terimakasih saran nya dan saya sudah revisi ya 🙂‍↕️
total 1 replies
Bintang Surya
uppp thor
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Blue Lock München Gaiden
MP
gas
Bintang Surya
uppppp
Rabil Muhammad Tahir: makasih komennya 😭😭 jadi terharu ada yang semangat sama novel saya
total 1 replies
Bintang Surya
lanjut plisss
Bintang Surya
bagus
Bintang Surya
pliss upp
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!