Shen Yu dikenal sebagai tuan muda paling bermasalah di Kota Qinghe. Ia gemar menghamburkan uang, membuat keributan, dan menghabiskan waktunya di rumah hiburan. Anehnya, setiap kali ia membuat masalah, sang nenek selalu berada di belakangnya.
Nyonya Lin bukanlah wanita tua biasa. Ia adalah legenda dunia persilatan, pendiri Aliansi Seratus Perguruan, dan sosok yang pernah menjaga kedamaian Dunia.
Namun ketika bayang-bayang perang kembali muncul dan musuh-musuh lama mulai bergerak, Shen Yu harus menghadapi kenyataan bahwa perlindungan neneknya tidak akan ada selamanya. Demi menjaga warisan orang yang paling ia cintai, ia perlahan berubah dari seorang tuan muda manja menjadi pendekar yang akan menentukan masa depan Kekaisaran dan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirage Ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Hutan di kaki Gunung Tianhuang diselimuti kabut pagi. Puluhan sosok berpakaian hitam bergerak cepat di antara pepohonan tanpa mengeluarkan suara. Mereka bukan pasukan Kuil Kegelapan.
Mereka adalah murid-murid pilihan Han Tian.
"Semuanya berhenti."
Han Tian mengangkat tangan.
Dalam sekejap seluruh rombongan berhenti serentak. Ia berlutut menyentuh tanah. Bekas roda kereta masih terlihat jelas, namun tidak dalam.
"Mereka sengaja memperlihatkan jejak."
Seorang murid bertanya,
"Senior Han, apakah kita tetap mengikuti?"
Han Tian menggeleng.
"Kalau mereka ingin kita mengikuti jejak ini, berarti di depan sudah ada penyergapan."
Ia menoleh kepada dua murid di belakangnya.
"Kalian berdua memutar dari timur. Cari jejak yang sengaja disembunyikan."
"Baik."
Kedua murid segera menghilang ke dalam hutan.
Beberapa saat kemudian...
Salah seorang kembali dengan napas sedikit berat.
"Senior Han! Ada bekas jejak lain. Sekitar belasan orang."
Han Tian tersenyum tipis.
Ia langsung mengubah arah rombongannya.
Di saat yang sama...
Sekitar lima kilometer dari sana. Lima Raja Kegelapan berdiri di atas tebing. Wanita berjubah hitam memandang ke arah jalan utama.
"Pasukan Han Tian sudah memasuki jalur penyergapan."
Pria bertopeng merah mengangguk pelan.
"Biarkan mereka semakin dalam."
Namun...
Pria berjubah ungu tiba-tiba mengernyit.
"Tunggu."
Wanita itu menoleh.
"Ada apa?"
"Aura Han Tian menghilang."
Suasana langsung berubah sunyi.
Pria bertopeng merah perlahan memejamkan mata. Indra spiritualnya menyapu seluruh kawasan. Sesaat kemudian...
Matanya terbuka.
"Mereka membagi pasukan."
Wanita berjubah hitam tersenyum.
"Menarik. Mereka juga mulai bermain."
Pria bertopeng merah tertawa kecil.
"Kalau begitu, kita lihat siapa yang lebih pandai berburu."
Ia mengangkat tangan.
"Dua orang tetap di sini dan dua orang ikuti kelompok umpan, sedangkan aku..."
Tatapannya beralih ke arah hutan sebelah timur.
"...akan menemui Han Tian secara langsung."
Empat Raja Kegelapan mengangguk bersamaan.
Dalam sekejap...
Lima sosok itu menghilang ke arah yang berbeda.
Sementara itu...
Di sebuah gua tersembunyi jauh di dalam Gunung Tianhuang. Ratusan penduduk desa masih terikat di dalam formasi hitam. Tangisan anak-anak memenuhi ruangan.
Di depan mereka berdiri tiga orang berjubah hitam yang terus menuangkan darah binatang iblis ke dalam alur formasi. Setiap tetes darah yang jatuh...
Membuat cahaya hitam di tengah formasi semakin terang. Tiba-tiba...
Salah seorang penjaga mengangkat kepalanya.
"Ada seseorang."
Belum sempat ia selesai berbicara—
Sreet!
Cahaya pedang melintas secepat kilat. Kepala penjaga itu langsung terlempar. Dua penjaga lainnya membelalakkan mata.
"Musuh!"
Dari pintu gua...
Muncul Qin Feng membawa pedang panjang.
Tatapannya dingin saat melihat ratusan warga yang disekap.
"Akhirnya aku menemukan kalian."
Pedangnya perlahan terangkat. Sementara di luar gua...
Puluhan bayangan hitam mulai bermunculan dari balik pepohonan, mengepung Qin Feng dari segala arah.
Puluhan bayangan hitam keluar dari balik pepohonan. Mereka mengenakan jubah yang sama. Wajah mereka tertutup topeng besi. Tanpa sepatah kata pun...
Mereka langsung mengepung pintu gua.
Salah seorang melangkah maju.
"Penjaga Langit."
Qin Feng tetap memegang pedangnya dengan tenang.
"Kalian mengenalku."
Pria itu tertawa pendek.
"Selama ratusan tahun, Kuil Kegelapan dan Penjaga Langit telah saling memburu. Tentu kami mengenalmu."
Qin Feng mengalihkan pandangannya ke arah para penduduk desa.
"Kalian sengaja menunggu."
"Benar."
Pria bertopeng itu menghunus pedangnya.
"Perintah kami sederhana. Menahan mu di sini."
Alis Qin Feng sedikit terangkat.
"Hanya menahan? Itu saja."
Mendengar jawaban itu, Qin Feng justru tersenyum tipis.
"Berarti target utama kalian memang bukan aku."
Seketika...
Ekspresi pria bertopeng itu berubah. Ia tidak menyangka Qin Feng langsung memahami tujuan mereka.
"Serang!"
Puluhan orang bergerak bersamaan.
Sreet! Sreet! Sreet!
Puluhan bilah pedang menebas dari berbagai arah.
Namun...
Qin Feng hanya melangkah setengah langkah.
Pedang di tangannya bergetar pelan.
"Teknik Pedang Langit langkah Pertama."
Tebasan Angin Membelah Awan.
Sraaang!
Cahaya pedang menyapu seluruh gua.
Belasan kultivator berjubah hitam terpental bersamaan. Dinding gua bergetar hebat akibat tekanan pedang itu. Namun...
Tak satu pun dari mereka tewas. Qin Feng sengaja menahan kekuatannya. Kalau ia melepaskan serangan penuh...
Gua itu bisa runtuh dan mengubur seluruh penduduk desa. Pria bertopeng tertawa keras.
"Aku sudah menduga kau tidak akan berani bertarung serius."
Qin Feng menyipitkan mata.
"Jadi begitu kalian memang menjadikan mereka tameng."
Di belakang para tawanan...
Tiga orang berjubah hitam lainnya mulai mengaktifkan formasi. Cahaya hitam memenuhi seluruh lantai gua. Tangisan anak-anak terdengar semakin keras.
Qin Feng hendak bergerak.
Namun tiba-tiba...
Dua rantai hitam muncul dari dalam tanah, melilit kedua pergelangan kakinya.
Clang!
Qin Feng langsung menebaskan pedangnya. Rantai itu putus. Tetapi hanya dalam sekejap...
Belasan rantai lain kembali muncul.
"Hahaha!"
Pria bertopeng kembali tertawa.
"Silakan habiskan waktumu di sini."
"Kami hanya perlu menahan mu."
Di saat yang sama...
Jauh di dalam hutan sebelah timur. Han Tian tiba-tiba menghentikan langkah.
"Berhenti."
Seluruh murid langsung waspada. Suasana hutan mendadak menjadi sunyi. Bahkan suara burung pun menghilang. Han Tian perlahan mengangkat kepalanya.
"Aku sudah menunggumu."
Dari balik pepohonan...
Seorang pria bertopeng merah berjalan keluar dengan langkah santai. Setiap langkahnya membuat dedaunan di tanah berubah menjadi hitam.
Aura yang dipancarkannya jauh melampaui para kultivator biasa.
Han Tian mengenali topeng itu.
"Jadi kau, Raja Kegelapan Pertama."
Pria bertopeng merah tersenyum tipis.
"Suatu kehormatan aku juga akhirnya bisa bertemu dengan pemimpin pengikut Lin Xue."
Han Tian perlahan mencabut pedangnya.
"Kalau begitu tidak perlu banyak bicara lagi."
Pria bertopeng merah justru menggeleng.
"Aku datang bukan untuk membunuhmu. Tugasku hanya memastikan kau tetap berada di sini."
Mata Han Tian langsung menyipit.
"Menahan lagi..."
Dalam benaknya, sebuah dugaan muncul.
Qin Feng ditahan.
Dirinya juga ditahan.
Berarti...
Musuh sedang mengalihkan semua petarung terkuat mereka. Kalau begitu...
Siapa target sebenarnya?
Wajah Han Tian berubah.
"Kota Qinghe!"
Pria bertopeng merah tersenyum lebar.
"Sayangnya kau baru menyadarinya sekarang."
Begitu kalimat itu selesai...
Ledakan aura hitam meletus dari tubuh Raja Kegelapan Pertama.
Boom!
Tekanan mengerikan menyapu seluruh hutan, membuat pepohonan besar tumbang satu per satu.
Han Tian menggenggam pedangnya lebih erat. Pertarungan yang sesungguhnya...
Akhirnya dimulai.