NovelToon NovelToon
MENANTU YANG TAK DIINGINKAN

MENANTU YANG TAK DIINGINKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Rumah Tangga
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Alena menikah dengan Hendra meski tak direstui keluarganya karena dianggap miskin. Selama lima tahun ia dihina, dianggap mandul, dan hanya diberi satu juta rupiah sebulan untuk kebutuhan rumah. Saat Alena mulai berusaha bangkit, tekanan ibu mertua membuat Hendra akhirnya berselingkuh. Alena memilih bertahan, hingga ia menemukan jalan untuk membuktikan dirinya dan membalas semua perlakuan yang menyakitkan itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HAMILNYA ALENA

Mobil Hendra melaju pelan saat lampu lalu lintas berubah merah. Ia menumpu dagu di kemudi, matanya menatap kosong ke jalanan yang mulai padat. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada seseorang yang berhenti di sebelah jendela mobilnya.

Alena memakai baju kemeja sederhana, rambutnya diikat rapi, dan wajahnya terlihat sedikit lelah namun tetap tenang. I

Jantung Hendra seakan berhenti berdetak sesaat. Tangannya langsung mencengkeram setir begitu kuat hingga kuku jarinya memutih. Ia ingin sekali menurunkan kaca, memanggil nama Alena, bertanya bagaimana kabarnya, bertanya ke mana ia akan pergi.

Namun dikantor tempat kerjanya sudah menumpuk berkas rapat penting yang harus dipimpinnya sepulang dari sini. Jika terlambat, jabatannya bisa terancam.

"Masih banyak hal yang harus dikerjakan... Lupakan saja," gumamnya pelan dengan suara serak, lalu memalingkan wajah pura-pura melihat ke arah lain.

Lampu hijau menyala. Ojek yang ditumpangi Alena melaju lebih dulu menjauh. Hendra memacu mobilnya perlahan, tapi bayangan wajah Alena tak mau hilang dari pikirannya.

 

Sementara itu, Alena baru saja melangkah keluar dari pintu ruang pemeriksaan rumah sakit. Kakinya terasa lemas seperti kapas, ia harus bersandar di dinding koridor sejenak agar tidak jatuh.

"selamat ya bu," kata dokter tadi sambil tersenyum ramah. "ibu positif hamil. Usia kandungannya sekarang sudah masuk empat minggu."

Alena hanya bisa diam, mulutnya terbuka sedikit namun tak ada satu kata pun yang keluar. Tangannya bergetar pelan menyentuh perutnya yang masih rata. Ada rasa bahagia takut dan sedih yang tercampur yang luar biasa. Anak ini adalah sisa-sisa dari rumah tangganya yang hancur.

Sepanjang jalan pulang menuju tempat kerjanya, pikirannya melayang entah ke mana. Ia hampir menabrak tiang listrik, sempat salah naik angkot, dan beberapa kali orang harus menegurnya karena berjalan lambat di tengah jalan.

Setelah sampai di toko kain tempatnya bekerja, Alena belum sempat meletakkan tasnya namun tiba-tiba perutnya terasa mual

"Uugh..."

Alena langsung menutup mulutnya, namun terlambat. Ia muntah tepat di lantai depan toko.

"Ya ampun Alena! Kamu kenapa?" seru Bu Ratna, pemilik toko yang langsung berlari menghampiri.

Beberapa menit kemudian, Alena sudah duduk di ruang belakang dengan wajah pucat pasi. Bu Ratna duduk di hadapannya dengan wajah berat.

"Alena, sebenarnya kamu sakit apa? Dari tadi terlihat aneh sekali," tanya Bu Ratna lembut.

Alena menunduk, air matanya mulai menetes. "Maaf Bu... Sebenarnya tadi aku dari rumah sakit, dokter bilang saya hamil."

Bu Ratna menghela napas panjang, tangannya mengusap dada pelan.

"Kalau begitu, maafkan saya ya Alena," kata Bu Ratna pelan namun tegas. "Saya tidak bisa mempekerjakanmu lagi di sini."

"Tapi Bu... ? Saya masih bisa bekerja kok, saya tidak akan menyusahkan Ibu," mohon Alena dengan suara bergetar.

"Alena, kamu tahu sendiri pekerjaan di sini berat. Harus mengangkat gulungan kain, berdiri seharian, melayani pembeli yang kadang rewel. Kalau kamu kenapa-napa, saya yang akan disalahkan. Lagipula..." Bu Ratna terdiam sejenak, "Kamu kan sudah tidak punya suami lagi. Siapa yang akan menjagamu kalau kamu sakit di sini?"

Alena tak bisa menjawab. Ia hanya bisa menangis tertahan.

"Saya sudah siapkan gajimu sampai akhir bulan ini, ditambah uang pesangon. Anggap saja bantuan dari saya," Bu Ratna menyodorkan sebuah amplop tebal ke meja. "Kamu pulang dan istirahatlah."

Dengan langkah gontai dan hati yang hancur, Alena meninggalkan tempat yang sudah menjadi sumber hidupnya selama bertahun-tahun.

 

Di kantor, rapat sudah berlangsung tiga puluh menit. Namun Hendra sama sekali tidak mendengarkan apa yang disampaikan rekan kerjanya. Pikirannya terus melayang pada sosok Alena yang dilihatnya tadi, pada tingkah Siska yang keterlaluan, juga pada keluhan ibunya yang tak pernah habis.

"Bapak Hendra!"

Suara bentakan keras membuat Hendra tersentak kaget hingga hampir menjatuhkan pulpennya. Ia mendongak dengan wajah pucat.

"Maaf Pak... Ada apa?" tanyanya terbata-bata.

"Ada apa?! Saya sudah tiga kali memanggil nama Bapak! Apa yang Bapak lakukan di sini? Tidur berjalan?" Pak Direktur berdiri dengan wajah merah padam. "Lihat laporan ini! Angkanya berantakan semua! Kamu pikir kita main-main di sini?"

"Maafkan saya Pak... Saya akan perbaiki segera," jawab Hendra sambil menunduk dalam.

"Perbaiki? Sudah berbulan-bulan kinerjamu menurun! Dulu kamu karyawan terbaik, sekarang apa? Melamun terus, salah bicara, sering terlambat! Apa urusan rumahmu itu lebih penting dari pekerjaan?" Pak Direktur menunjuk meja dengan keras.

"Bukan begitu Pak... Saya hanya sedikit ada masalah pribadi," jelas Hendra pelan.

"Masalah pribadi urus di rumah! Jangan bawa ke kantor! Kalau sampai ini terulang lagi, jangan salahkan saya kalau saya harus menurunkan jabatanmu atau bahkan memecatmu!" ancam Pak Direktur dingin.

"Baik Pak... Saya mengerti. Saya janji akan memperbaiki diri," ucap Hendra dengan suara tertahan.

Rapat pun berakhir dengan suasana yang sangat canggung. Semua orang keluar sambil menatap Hendra dengan pandangan aneh.

Hendra duduk sendirian di ruangannya yang sunyi. Ia menatap pantulan dirinya di kaca jendela. Wajahnya terlihat lelah, matanya sayu, dan ada rasa penyesalan yang dalam tertanam di sana.

"Kenapa semuanya jadi berantakan begini..." gumamnya pelan, memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa berdenyut sakit.

bantu like dan komennya teman2

1
Thewie
jangan keluarkan airmatamu buat suami keparat itu ya alena
Thewie
terlalu lemah kau Alena. jadi agak gak suka lihat otor🤣🤣
Thewie
kapan Alena bahagia thorrrrr...
Nuna_Pena: ditunggu aja ya hehe,
total 1 replies
Thewie
5 tahun Alena... salut buatmu hidup dengan caci maki keluarga mertua .. luarbiasa kamu Alena..
Nuna_Pena: sprti diriku 7 tahun lbih bertahan dn sekarang menjauh dulu dri mereka😌😌😌.. hehe ngemeng2 makasi sudah mampir
total 1 replies
Himna Mohamad
lanjut kk
Cha Libra
jngan biarkan s alena d tindas mlu thour scpetnya cerai..semoga ja ada karma buat keluarga dajjal
Nuna_Pena: 😁😁😁... sabar sayang...
total 1 replies
Cha Libra
thour klo bsa hruf kapitalnya yg biasa ja jdi enak bacanya..
Nuna_Pena: makasi sudah mampir, nanti saya buat huruf biasa aja
total 1 replies
..
keren!
..
Hai kak, semangat yah. aku sudah bom like karya kamu. jangan lupa like balik karya aku juga yah. mari saling dukung!
Himna Mohamad
lanjut
..
semangat, kak. jangan lupa like balik dan saling dukung yah💪💪💪
SRIANA
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!