Larasati, wanita pekerja keras yang sudah lelah hidup dalam kesulitan dan pernah terluka oleh orang yang hanya mementingkan harta, jatuh hati pada Agung—pria sederhana yang tampak tidak memiliki apa-apa, namun selalu menyayanginya dengan tulus dan penuh perhatian. Meski diperingatkan kerabat dan teman agar tidak membuang waktu pada pria yang dianggap tidak mampu mensejahterakannya, Larasati tetap teguh memilih Agung. Mereka menikah dengan sangat sederhana, berjanji untuk membangun kehidupan bersama dalam suka maupun duka.
Selama berbulan-bulan mereka berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan gaji yang pas-pasan, namun kasih sayang Agung tak pernah berkurang sedikitpun. Hingga suatu hari, kedatangan seorang pria tua berwibawa dengan mobil mewah mengubah segalanya. Larasati akhirnya mengetahui kenyataan yang disembunyikan Agung selama ini: suaminya bukanlah orang miskin, melainkan pewaris tunggal keluarga konglomerat Wijaya yang sengaja menyamar menjadi orang biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Langkah Pertama yang Menyakitkan
Malam sebelum Lala berangkat ke program pelatihan pertanian di perbatasan perkebunan — tempat yang jauh, terisolasi, dan belum tersentuh kemajuan — suasana di rumah terasa berat seperti menahan tangis yang tak kunjung pecah. Di kamar Lala, koper kain tua yang dulu pernah dipakai Larasati saat masih gadis sudah terisi separuh. Di atasnya tergeletak kalung perak sederhana — hadiah ulang tahun pertama Agung untuk Larasati di masa kontrakan, yang kini diwariskan ke putri satu-satunya mereka.
Larasati berdiri di ambang pintu, menahan gemetar di bibirnya. Ia melihat Lala melipat baju dengan gerakan cekatan, berusaha tampil dewasa dan kuat, tapi tangan gadis itu gemetar setiap kali meraih pakaian.
“Kau yakin mau pergi, Sayang?” suara Larasati pecah sebelum ia sempat menahannya. “Di sana tidak ada air bersih, listrik menyala beberapa jam saja, dan sinyal hampir tidak ada. Kau bisa menunggu setahun lagi, sampai jalan selesai dibangun dan tempat penginapan siap.”
Lala berhenti melipat baju. Ia berbalik, dan Larasati melihat mata putrinya sudah berkaca-kaca, berusaha sekuat tenaga agar air mata tidak jatuh.
“Ibu, aku harus pergi sekarang. Dulu Ibu pernah bilang padaku — kalau kita mau benar-benar memahami tanah dan orang yang hidup di atasnya, kita harus turun dan tinggal bersama mereka, bukan sekadar datang berkunjung pakai mobil mewah lalu pulang. Aku mau belajar seperti Ibu. Aku mau menjadi berguna, bukan sekadar putri konglomerat yang hanya tahu nama keluarga besarnya.”
Larasati melangkah mendekat, lalu menarik tubuh putrinya masuk ke dalam pelukan yang erat dan panjang. Ia mencium ubun-ubun Lala berulang kali, air mata yang ditahan akhirnya menetes juga, membasahi rambut hitam putrinya.
“Kau sudah berguna, Nak. Sejak kau lahir, kau sudah menjadi kebahagiaan terbesar kami. Aku hanya… aku hanya takut kau terluka. Dunia di luar sana tidak selembut rumah ini. Banyak keras, banyak kejam, banyak yang tidak akan memandangmu sebagai putri kesayangan siapa-siapa — mereka akan mengujimu, menginjakmu, mencoba mematahkan semangatmu.”
Lala memeluk pinggang ibunya erat, menenggelamkan wajahnya di bahu Larasati — bahu yang dulu pernah menopang kehidupan mereka bertiga saat belum ada apa-apa, bahu yang selalu menjadi tempat pulang paling aman.
“Aku tahu, Ibu. Tapi Ayah juga pernah bilang — kekuatan sejati itu bukan berarti tidak pernah terluka. Kekuatan sejati itu adalah terluka, lalu tetap berdiri dan melanjutkan jalan. Seperti yang Ayah dan Ibu lakukan dulu.”
Di pintu kamar, Agung berdiri diam. Ia tidak masuk. Ia hanya berdiri di sana, menatap dua wanita yang paling ia cintai di dunia ini, dan dadanya terasa sesak oleh rasa bangga sekaligus ketakutan yang luar biasa. Ia yang memimpin perusahaan bernilai puluhan triliun, yang berhadapan dengan pengusaha kejam dan penjahat berdarah dingin setiap hari — tidak pernah merasa takut sedalam saat ini, saat menyadari anak perempuannya yang dulu pernah digendong di pelukannya berangkat menghadapi dunia yang keras sendirian.
Ketika Lala berbalik kembali melipat bajunya, Agung masuk perlahan. Ia meletakkan sesuatu di atas meja samping tempat tidur — sebuah pisau lipat tua bergagang kayu, yang sudah terlihat sangat tua dan terpakai.
“Ini milik kakek buyutku. Milik Ratu. Lalu ke Bu Wulan, lalu ke aku,” suara Agung rendah dan berat, seolah setiap kata menanggung beban seratus tahun. “Dulu saat aku harus pergi ke tempat berbahaya, Bu Wulan memberikannya padaku dan berkata — Pisau ini bukan untuk menyakiti orang lain. Tapi untuk melindungi orang yang kau cintai, dan juga untuk melindungi dirimu sendiri saat kau sendirian. Sekarang… sekarang giliranmu.”
Lala mengambil pisau itu dengan kedua tangan gemetar. Ia melihat bekas-bekas jari leluhurnya di gagang kayu itu, dan seketika merasakan beban sekaligus kekuatan yang mengalir masuk ke tubuhnya. Air matanya akhirnya tumpah, jatuh menetes di atas tangan yang memegang pisau tua itu.
“Terima kasih, Ayah,” isaknya pelan. “Aku akan menjaganya dengan nyawaku.”
Agung mengangguk, menelan benjolan yang menyumbat tenggorokannya. Ia mendekat, lalu memeluk putrinya begitu erat sampai Lala mengerang pelan karena terhimpit — pelukan yang seolah ingin menanamkan seluruh kekuatan, seluruh perlindungan, seluruh cintanya ke dalam tubuh putrinya agar cukup untuk menjaganya selama ia jauh dari rumah.
“Dengarkan Ayah baik-baik, Lala,” bisik Agung di telinga putrinya, suaranya bergetar menahan isak tangis yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun selain istrinya. “Tidak peduli seberapa dewasa kau nanti, seberapa jauh kau pergi… di hati Ayah, kau tetaplah gadis kecil yang dulu tidur di tengah-tengah kami di kasur busa kontrakan. Dan kalau kau terluka, kalau kau lelah, kalau kau takut… kau pulang. Langsung pulang. Tidak perlu gengsi, tidak perlu malu. Rumah ini — dan hati Ayah dan Ibu — akan selalu terbuka untukmu. Selamanya. Bahkan kalau kau pulang tanpa membawa apa-apa selain kelelahan sekalipun.”
“Ayah…” Lala menangis tersedu di dada ayahnya, meremas kemeja pria itu erat-erat seolah tidak mau melepaskannya lagi. “Aku janji akan berusaha menjadi kuat. Seperti Ayah dan Ibu.”
“Kau tidak perlu menjadi kuat setiap saat, Nak,” potong Larasati lembut sambil menyandarkan kepalanya di bahu suaminya dan putrinya, menangis bersama mereka. “Kau boleh lemah. Boleh menangis. Boleh lelah. Yang penting… jangan pernah berjalan sendirian. Ingat — kami selalu ada. Di mana pun kau berada, seberapa gelap pun tempatmu… kami ada di hatimu.”
Pagi harinya, sebelum matahari terbit, mereka berangkat. Reno sudah menunggu di gerbang dengan mobil truk tua yang biasa dipakai mengangkut hasil panen — atas permintaan Lala sendiri, ia menolak dikawal mobil mewah dan pengawal bersenjata. Ia ingin tulus dan sederhana, seperti yang diajarkan orang tuanya.
Lala berdiri di depan pintu, memeluk Bagas yang masih kecil dan menangis tanpa suara, memeluk Ibu yang matanya bengkak semalaman, lalu berhadapan dengan Ayah yang berusaha tersenyum tapi matanya basah dan merah.
Agung menyerahkan tas kain di tangan Lala.
“Di dalamnya ada uang secukupnya, obat-obatan, dan foto kita berempat di hari pernikahan Bu Wulan. Jangan pernah pisahkan dari dirimu. Dan Reno…” Agung menatap pemuda itu yang berdiri menunduk penuh tanggung jawab. “Aku titipkan nyawa putriku padamu. Bukan karena aku tidak percaya padanya. Tapi karena aku tahu betapa berbahayanya dunia luar sana. Jangan biarkan dia menghadapi apa pun sendirian. Bahkan kalau itu berarti kau harus melindunginya dengan nyawamu sendiri.”
Reno menatap mata Agung dalam-dalam, lalu mengangguk perlahan dengan tekad yang membara di matanya.
“Aku bersumpah, Pak. Selama aku bernapas, tidak sehelai rambut pun akan menyentuh tanah karena bahaya yang mendekati Lala. Nyawanya lebih berharga dari nyawaku sendiri.”
Lala masuk ke dalam mobil. Saat pintu tertutup dan mesin mulai menyala, ia menatap keluar jendela — melihat Ayah, Ibu, dan Bagas berdiri berjejer di gerbang rumah besar itu, perlahan menjauh dan mengecil. Ayah melambaikan tangan, tapi Lala melihat dengan jelas bagaimana tangan pria itu gemetar, bagaimana bibirnya bergetar menahan tangis. Ibu menutup mulutnya dengan kedua tangan, bahunya naik turun menahan isak tangis yang meledak saat mobil itu berbelok dan menghilang dari pandangan.
Mobil melaju menjauh dari kemewahan, menjauh dari keamanan, menjauh dari pelukan orang yang paling dicintainya. Dan di dalam mobil yang bergetar di jalan berlubang itu, Lala akhirnya membiarkan dirinya menangis — menangis sejadi-jadinya, memeluk foto keluarganya di dadanya, merasakan perih perpisahan yang pertama kali ia rasakan sekuat ini.
Di gerbang rumah, Agung tetap berdiri diam lama setelah mobil itu lenyap di tikungan jalan. Larasati berdiri di sampingnya, menggenggam tangan suaminya erat-erat, merasakan keringat dingin dan getaran di tangan pria itu — tangan yang tidak pernah gemetar meski memegang senjata atau menandatangani kontrak triliunan.
“Dia akan baik-baik saja, Yang,” bisik Larasati, meski suaranya sendiri tidak yakin penuh. “Dia darah kita. Dia kuat.”
Agung menghela napas panjang yang berat, lalu menoleh menatap istrinya dengan mata yang masih basah namun penuh pengakuan yang menyakitkan namun benar.
“Aku tahu dia kuat, Laras. Tapi masalahnya… aku tahu betapa kejamnya dunia ini. Aku tahu betapa kerasnya perjuangan dari bawah ke atas. Dan aku benci… aku benci harus membiarkan anakku merasakan semua rasa sakit yang dulu pernah kita rasakan sendiri.”
Larasati menarik wajah suaminya mendekat, mencium sudut matanya yang basah — tempat di mana air mata pria terkuatnya bersembunyi.
“Karena rasa sakit itulah yang akan membuatnya menjadi orang yang sesungguhnya, Yang. Sama seperti rasa sakit yang dulu menyatukan kita. Kita tidak bisa melindunginya dari hidup itu sendiri. Kita hanya bisa memberinya keyakinan bahwa dia mampu menghadapinya.”
Agung menutup matanya, menekan keningnya ke kening istrinya, mencari kekuatan yang selalu ia temukan di wanita ini.
“Kau benar. Seperti selalu. Tapi biarkan aku menjadi orang tua yang egois sebentar saja… biarkan aku merindukannya dan mengkhawatirkannya. Karena itulah yang paling membuktikan bahwa dia adalah harta paling berharga yang pernah kita miliki.”
Matahari akhirnya terbit sepenuhnya, menyinari jalan yang menembus hutan menuju perbatasan jauh itu. Di ujung jalan itu, Lala sedang memulai langkah pertamanya menjadi pewaris sejati warisan leluhur — bukan dengan membawa emas atau gelar, melainkan dengan membawa pisau tua leluhur, doa orang tuanya, dan keberanian untuk menghadapi apa pun dengan tangan kosong namun hati yang penuh cinta.
Dan di rumah besar itu, dua orang yang pernah memulai hidup dari nol di kontrakan kecil kini berdiri berpegangan tangan, menyadari bahwa perjuangan mereka belum selesai — kini justru baru dimulai lagi, dari generasi ke generasi, dengan cinta yang sama tulusnya seperti saat mereka berbagi sepotong nasi bungkus di bawah atap bocor bertahun-tahun yang lalu.