Warning : Cerita ini hanya untuk pembaca dewasa
Pasca berakhirnya pertunangan dengan mantan kekasihnya yang kasar dan super toxic, Lila memutuskan untuk kembali ke Brisbane, kota tempat ia tumbuh bersama empat sahabat masa kecilnya yang dulu ia perlakukan sebagai kacung.
Henry, Jacob, Aiden dan Pierre. Mereka yang dulu Lila anggap sebagai anak buah, kini menjelma menjadi empat pria dewasa yang super tampan dan sangat mapan. Sementara Lila justru bertahan dengan sisa tabungannya dan honor sebagai novelis tidak terkenal yang sangat sedikit.
Setelah dipermalukan oleh Henry di acara reuni SMA, Lila justru mendapatkan kejutan demi kejutan tak terduga dari keempat sahabat masa kecilnya yang diam-diam mencintainya sejak lama.
Jika kamu suka cerita ini, jangan lupa like, coment dan follow ya 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azmi McFadden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ratu Dan Sang Budak
Brisbane, Australia
17 Januari 2005
"Agh...panas! Panas sekali, kenapa bisa sepanas ini?" Lila terus menerus mengeluh kepanasan sembari mengipas-ngipas tangannya.
Sudah 15 menit sejak Pierre pergi membeli es krim untuk mereka berdua. Namun anak laki-laki bertubuh jangkung itu belum juga kembali. Sementara Lila duduk di atas ayunan taman seorang diri di temani suara jangkrik.
Beberapa saat kemudian, Pierre tampak berlari menghampirinya sembari membawa bungkus plastik berisi dua es krim stik.
"Maaf, kau pasti menunggu lama ya?" Tanya Pierre sembari memberikan bungkus es krim strawberry yang Lila inginkan.
Lila menatap Pierre kesal dan menarik kasar bungkusan dari tangan Pierre.
"Kenapa lama sekali? Kau pikir sudah berapa lama aku menunggu?"
"Maaf! Tadi di tengah jalan aku melihat anak anjing yang tersesat, jadi aku mencari pemiliknya dulu!"
"Cih, aku tidak peduli! Seharusnya kau lebih mendahulukan keinginanku'kan? Cepat dorong ayunannya!" Lila memberikan perintah yang seolah menjadi keharusan bagi Pierre untuk menurutinya.
Tanpa penolakan atau perlawanan, Pierre mendorong ayunan Lila dengan kecepatan yang sama persis seperti yang Lila inginkan. Selama empat tahun berteman dan bertetangga, tampaknya Pierre sudah sangat hafal semua hal yang Lila suka dan hal yang tidak ia sukai.
"Hei Pierre!"
"Apa?"
"Kau tidak pergi liburan dengan keluargamu?"
"Tidak!"
"Aku juga tidak!"
"Aku tahu!"
"Henry pergi berlibur dengan ayah dan ibunya ke Swiss, Jake berlibur bersama ayahnya ke New Zealand, Aiden pergi ke rumah neneknya. Hanya kita berdua saja yang tidak punya kegiatan. Membosankan!"
"Sebenarnya aku ada latihan tambahan setiap sore. Jadi bisa dibilang aku punya kegiatan. Kau saja yang tidak!"
"Ck, curang! Jika kau juga sibuk. Aku main dengan siapa?"
"Kenapa tidak main dengan anak-anak perempuan saja?"
"Tidak seru! Main dengan anak perempuan membosankan. Mereka hanya bermain boneka dan rumah-rumahan. Aku ingin berenang di sungai, bermain sepak bola, bola tangkap atau baseball!"
"Kalau begitu main dengan Ivan dan yang lainnya saja! Aku dengar mereka akan berenang di sungai siang ini. Kau bisa ikut dengan mereka!"
"Tidak, aku tidak mau!" Ucapnya keras kepala. Semua saran yang Pierre berikan yang tampak satupun membuat Lila bersemangat.
Melihat sikapnya yang egois dan keras kepala ini membuat Pierre hanya bisa menghela nafas. Ia sedikit menyadari bahwa Lila sudah terikat dengan mereka.
"Mau bagaimana lagi, kau harus bersabar sampai mereka pulang!"
"Sudah aku putuskan!" Tiba-tiba, Lila lompat dari ayunan dan berdiri tegak penuh keyakinan.
"Memutuskan apa?" Tanya Pierre dengan polos.
"Pierre, mulai hari ini kau adalah budakku!"
"Apa? Budak? Apa maksudmu?"
"Karena Aiden, Henry dan Jake tidak ada. Jadi hanya kau satu-satunya anak buah yang aku miliki. Karena itu, aku putuskan kau menjadi budakku mulai saat ini!"
Lila mengatakannya dengan bangga. Sementara Pierre hanya terdiam tak berkutik. Ia tak tahu apa artinya dengan menjadi budak atau anak buah karena ia merasa keseharian mereka sudah tampak seperti sang tuan dan pesuruhnya. Jadi, untuk apa memintanya lagi?
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan! Tapi, bukankah setiap hari kau memperlakukanku seperti budakmu?"
"Tidak! Tentu saja itu berbeda! Jika sebelumnya kau hanya memanggil namaku. Mulai hari ini kau harus memanggilku dengan sebutan Yang Mulia!"
"Yang Mulia?"
"Kenapa? Kau keberatan ya?"
"Tidak, bukan begitu! Aku-"
"Tidak ada tapi-tapi. Pierre, aku perintahkan kau untuk menggendongku di punggungmu!"
"Tapi-"
"Mau protes ya?" Ucapnya sembari menyiapkan tinjunya dan dengan mata yang melotot marah.
"Tidak! Baiklah, Yang Mulia!" Tanpa perlawanan yang berarti, Pierre membungkuk dan membiarkan Lila naik ke punggungnya.
Lila tersenyum licik karena ia tahu bahwa ia selalu bisa menaklukkan Pierre. Dengan senang hati, ia naik ke punggung Pierre dan membuat Pierre harus menggendongnya.
"Kita mau pergi kemana, Yang Mulia?"
"Pulang! Antar aku pulang!"
"Baik, Yang Mulia!"
***
Pierre menggendong tubuhnya tepat di hadapannya dan mendorong tubuh Lila dengan sangat kuat. Suara nafasnya membuat Lila sangat menikmati permainan Pierre.
Wajah Lila memerah, sejujurnya ia sangat menyukai hal ini. Pierre membuatnya tak ingin berhenti menikmatinya.
"Apa kau menikmatinya, Yang Mulia? Apakah milikku terasa enak? Hmm? Apa anda menikmatinya?" Pierre memaksa Lila yang sedang menikmatinya untuk menjawab pertanyaannya.
Tubuh Lila mulai menegang, ada dorongan dari dalam tubuhnya yang siap untuk diledakkan. Lila mendekap Pierre dengan sangat kuat hingga kuku-kuku jarinya nyaris mencakar punggung Pierre. Lila merasakan sensasi yang luar biasa. Dorongan dan gerakan Pierre yang cepat dan keras merangsang tubuhnya lebih kuat.
Lila lemah, ia kalah dalam menit ke 35 sejak mereka memulai permainan sang tuan dan sang budak ini. Pierre masih sangat tegang, ia tidak akan berhenti sampai ia benar-benar terpuaskan.
Pierre membaringkan tubuh Lila di atas sofa dan memulai kembali pertempuran panjang ini. Setiap kali Pierre mendorongnya tubuhnya. Lila merasakan sensasi penuh dan sesak di bawah sana.
"Bagaimana itu bisa sebesar ini?" Tanya Lila sembari memegang benda dengan tangannya. Pierre tersentak, meski terkejut namun ia sangat menikmatinya.
"Lila, aku bukan anak kecil lagi. Aku sudah tumbuh sangat banyak!" Ucapnya sambil mendorong lebih dalam. Namun tampaknya Lila masih tetap ingin menyentuhnya.
"Aku mengerti, tapi bisakah kau melakukannya sedikit lebih pelan?" Ia ingin memberitahu Pierre apa yang harusnya ia lakukan sekarang. Pierre tersenyum dan menatapnya dengan matanya yang sangat menggoda.
"Apa kau mau aku menstimulasinya lagi, Yang Mulia?"
"Ya, tolong lakukan! Lakukan lebih lama!"
"Baiklah, Yang Mulia! Perintah anda adalah kehormatan bagi saya!"
***