NovelToon NovelToon
Harga Turun Sejuta Kali

Harga Turun Sejuta Kali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Kaya Raya
Popularitas:101
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad

Saldo rekening Rp 350000
Pacar selingkuh
Harga diri nol

Lalu dunia berubah

Seluruh harga turun 1000000 kali Rumah mewah jadi Rp 50000 Mobil sport Rp 5000 Tapi uang Raka Tidak berubah

Rp 350000 Rp 350 MILIAR

Dari pemuda yang diludahi dunia menjadi pria yang membeli kotanya sendiri

Sistem Ilahi sudah aktif
Misi pertama beli rumah paling mahal di kota ini tunai
Misi kedua hancurkan semua yang pernah menghinamu

Harga Turun Sejuta Kali update setiap hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 20: Gelang untuk Bibi

"Jangan bawa batu itu ke tukang yang tangannya belum pernah gemetar karena hormat."

Pak Hasan berkata begitu sambil mengantar Raka dan Fajar ke bengkel kecil di bagian belakang Pasar Batu Giok. Di papan kayunya tertulis nama Pak Bambang, pengrajin tua yang bengkel kerjanya lebih mirip ruang operasi daripada toko. Di dalam, alat potong tersusun bersih, kain beludru menutup meja, dan lampu putih jatuh tepat ke tengah ruang.

Pak Bambang keluar dengan kacamata tebal di ujung hidung. "Mana batunya?"

Raka mengeluarkan imperial green dari kotak.

Pria tua itu tidak langsung menyentuh. Ia mencuci tangan, mengeringkan dengan kain, lalu memegang batu itu seperti memegang bayi yang baru lahir.

"Ya Allah..." bisiknya. "Empat puluh tahun saya memotong batu. Baru kali ini saya pegang imperial green sebesar dan sebersih ini."

Fajar, yang biasanya bercanda, ikut diam.

"Bisa dibuat gelang?" tanya Raka.

"Bisa. Tapi harus hati-hati. Salah potong sedikit, nilai turun."

"Nilai uang bukan utama. Saya ingin gelang yang nyaman dipakai Bibi saya. Tidak terlalu berat. Tidak terlalu mencolok sampai membuatnya takut."

Pak Bambang menatap Raka, lalu mengangguk pelan. "Kalau begitu saya paham. Ini bukan untuk pamer. Ini untuk pulang."

Kalimat itu tepat.

Selama menunggu, Fajar mengunggah video pembelahan batu yang tadi ia rekam. Raka baru tahu setelah ponselnya bergetar berkali-kali.

Judul unggahan Fajar: Abang gue ini emang beda. Tiga batu, tiga jackpot. Raja Giok baru lahir.

"Jar."

Fajar langsung memasang wajah tidak bersalah. "Personal branding, Bang. Gratis pula."

"Kamu tahu video itu bisa menarik orang macam-macam?"

"Makanya saya sensor lokasi detail dan wajah pedagang muda. Pak Hasan malah minta ditag."

"Pak Hasan minta ditag?"

Dari jauh, Pak Hasan mengangkat jempol.

Raka mengusap wajah. "Kalian berdua berbahaya."

Komentar naik cepat. Ada yang kagum, ada yang menuduh settingan, ada yang meminta Raka menjual batu, ada pula yang menghubungkan namanya dengan video balap dan festival belanja sebelumnya. Perisai digital belum ia beli, jadi ia meminta Fajar membatasi informasi pribadi.

"Mulai sekarang, semua unggahan tentang saya lewat izin dulu."

"Siap, Bang. Tapi yang ini sudah viral kecil."

"Kecil menurutmu?"

"Belum lima juta views. Jadi kecil."

Raka memutuskan tidak menjawab.

Tiga jam kemudian, Pak Bambang keluar membawa kotak kayu. Ketika tutupnya dibuka, gelang itu berbaring di kain hitam seperti lingkaran air hijau yang dibekukan. Tidak berlebihan. Tidak penuh ukiran. Permukaannya halus, warnanya dalam, dan ukurannya dibuat pas untuk tangan Bibi.

Pak Bambang berkata, "Saya sisakan potongan kecil. Bisa dibuat liontin nanti. Jangan buang."

Raka membayar jasa dengan harga yang membuat Pak Bambang merasa dihargai tanpa merasa dibeli. Pak Hasan mengantar sampai mobil.

"Pak Raka," kata Pak Hasan, "kalau suatu hari Tuan perlu masuk pasar permata yang lebih tertutup, hubungi saya. Setelah hari ini, nama Tuan akan dibicarakan."

"Saya akan ingat."

Di vila, Bibi Lestari sedang melipat baju Bintang. Ia terkejut ketika Raka berlutut di depannya.

"Nak, kamu kenapa?"

Raka membuka kotak.

Cahaya hijau memantul di wajah Bibi.

"Ini untuk Bibi. Terima kasih sudah membesarkan Raka."

Bibi menutup mulut. Tangannya langsung ditarik mundur, seolah benda itu terlalu mahal untuk menyentuh kulitnya.

"Tidak, Nak. Ini pasti mahal sekali. Bibi tidak bisa pakai. Nanti hilang. Nanti rusak. Nanti orang jahat lihat."

"Bibi bisa pakai di rumah. Bisa simpan kalau takut. Tapi jangan bilang tidak pantas."

"Bibi tidak butuh benda mahal. Bibi cuma berharap kamu sehat dan bahagia."

"Saya tahu. Justru karena Bibi tidak pernah meminta, saya ingin memberi."

Ia memegang tangan Bibi yang penuh garis halus dan bekas kerja, lalu memasangkan gelang itu perlahan. Ukurannya pas. Hijau imperial itu tidak membuat tangan Bibi terlihat asing. Justru seperti memberi hormat kepada semua tahun yang ia habiskan untuk bertahan.

Air mata Bibi jatuh sebelum ia sempat bicara.

Bintang berdiri di pintu kamar, matanya ikut basah. "Bibi cantik."

Fajar pura-pura melihat ke arah lain. "Gue nggak nangis. Ini alergi debu vila."

"Vila ini dibersihkan tiap hari," kata Bintang.

"Berarti alergi kebahagiaan. Diam."

Tawa kecil pecah di antara tangis. Raka memeluk Bibi. Untuk beberapa detik, tidak ada sistem, tidak ada musuh, tidak ada transaksi. Hanya rumah.

Malamnya, ketika Bibi sudah tidur dan Bintang sibuk memotret gelang untuk dilihat sendiri, Fajar membawa amplop hitam ke ruang kerja.

"Bang, ini dikirim kurir khusus. Tidak ada nama pengirim."

Di dalamnya ada undangan berlapis kertas tebal dengan tulisan emas.

Lelang Permata Privat - Hanya Undangan. Grand Hotel Surabaya. Dua hari lagi.

[Mimpi: sumber undangan kemungkinan pengamat di Pasar Batu Giok. Peserta diperkirakan kolektor dan pengusaha dengan aset besar. Risiko sosial: menengah. Peluang peningkatan jaringan: tinggi.]

Fajar menatap undangan itu. "Bang, kita diundang pesta orang kaya? Aku harus beli jas baru."

Raka memasukkan undangan ke map khusus.

Selama Pak Bambang bekerja, Raka melihat prosesnya dari balik garis aman. Batu itu ditandai, diputar, dibasahi, lalu dipotong sedikit demi sedikit. Tidak ada gerakan mubazir. Setiap sentuhan punya akibat. Raka menyadari kekayaan pun begitu. Salah potong, nilai turun. Salah beri, orang rusak. Salah hukum, dendam baru lahir.

Pak Bambang menolak mempercepat pekerjaan meski Fajar beberapa kali melihat jam. "Kalau mau cepat, beli gelang toko," katanya. "Kalau mau benda yang bisa diwariskan, tunggu." Raka menyukai jawaban itu. Ia membayar hasil kerja sekaligus kehormatan seorang ahli terhadap pekerjaannya.

Saat video Fajar mulai ramai, satu nomor tak dikenal mengirim pesan menawar batu dengan harga jauh lebih tinggi daripada penawaran pasar. Mimpi menandai nomor itu sebagai perantara kolektor luar kota. Raka tidak membalas. Ia tidak ingin hadiah untuk Bibi berubah menjadi lelang diam-diam. Ada barang yang nilainya justru muncul karena tidak dijual.

Di rumah, setelah gelang dipasang, Bibi meminta Raka berjanji satu hal: jangan membiarkan uang membuatnya lupa makan di meja yang sama dengan keluarga. Raka mengiyakan. Ia boleh membeli restoran, gedung, mobil, dan batu langka, tetapi rumah tetap harus menjadi tempat ia dipanggil Nak. Panggilan itu terasa lebih hangat daripada Tuan.

Raka kemudian menyimpan dua batu berkualitas tinggi yang tersisa dalam kotak terpisah. Satu akan dipakai untuk jaringan kolektor, satu lagi untuk cadangan jika suatu hari Bibi ingin membuat liontin kecil. Fajar mengusulkan menjual satu untuk konten, tetapi langsung menarik usulnya ketika melihat tatapan Raka.

"Baik, Bang. Tidak semua benda harus jadi konten."

"Akhirnya kamu belajar."

"Pelan-pelan. Aku masih Fajar. Jangan suruh aku hidup seperti biksu."

"Kali ini bukan cuma belanja, Jar. Kita buktikan kita layak duduk di meja mereka."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!