NovelToon NovelToon
TAKDIR DI BALIK SORBAN

TAKDIR DI BALIK SORBAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:738
Nilai: 5
Nama Author: Secret A

Aurel Nathania tidak pernah percaya bahwa hidup harus berjalan sesuai aturan orang lain. Di usia dua puluh satu tahun, ia menikmati kebebasan, sahabat, perjalanan spontan, dan kehidupan yang jauh dari lingkungan pesantren. Sampai ayahnya tiba-tiba menjodohkannya dengan Rasyid, ustadz muda sekaligus putra seorang kiai. Bagi Aurel, Rasyid adalah simbol segala sesuatu yang ingin ia hindari: aturan, nasihat, dan kehidupan yang terkekang. Namun Rasyid tidak pernah berniat mengubah istrinya dengan paksaan. Ia hanya berusaha menjadi teladan sambil memberinya ruang untuk memilih. Pernikahan yang dimulai dengan penolakan perlahan mempertemukan dua manusia berbeda yang sama-sama menyimpan luka, rahasia, dan ketakutan tentang arti sebuah keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3 — “JADI KITA SAMA-SAMA TERPAKSA?”

Suara gemericik air kolam di selasar restoran malam itu perlahan mengisi keheningan yang membentang di antara mereka. Angin berembus pelan, membawa keharuman samar kayu cendana dan tanah basah.

Aurel masih berdiri kaku, menatap wajah Rasyid yang berada sejangkauan lengan darinya. Pria itu menunggunya bicara dengan kesabaran yang rasanya nyaris tidak masuk akal. Tidak ada desakan di matanya, tidak ada intonasi terburu-buru, apalagi gesture defensif.

Aurel menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya lewat bibir yang agak gemetar. "Kamu... beneran bakal ngomong gitu ke Ayah? Kamu tahu kan Ayahku kayak gimana? Dia bisa ngamuk, Rasyid. Dia bisa aja batalin kerja sama atau bahkan mutus hubungan sama keluargamu."

"Saya tahu risiko itu," jawab Rasyid tenang. Kedua tangannya tertaut rapi di depan tubuhnya. "Tapi Pak Hamdan adalah orang yang berilmu dan bijaksana dalam berbisnis. Beliau mungkin akan marah pada awalnya, tapi beliau pasti paham bahwa pernikahan yang dibangun atas dasar paksaan salah satu pihak tidak akan pernah membawa keberkahan."

Aurel menyipitkan mata. Ia memiringkan kepalanya sedikit, meneliti garis wajah pria berpeci hitam itu dengan rasa curiga yang masih menyisa di dasar hatinya.

"Kenapa?" tanya Aurel pelan, hampir berupa bisikan. "Kenapa kamu mau pasang badan buat cewek yang baru kamu temu sepuluh menit lalu? Cewek yang bahkan nggak pantes masuk ke standar keluarga ustadz kayak kamu?"

Rasyid tersenyum tipis—sebuah kurva amat samar di sudut bibirnya yang membuat raut kaku di wajahnya mendadak melunak.

"Sederhana," ujar Rasyid. "Kerana kebebasan Mbak Aurel bukan hak saya untuk merenggutnya. Jika Mbak menolak, maka keberadaan saya di sini hanya akan menjadi beban. Dan saya tidak ingin menjadi alasan seseorang merasa terperangkap dalam hidupnya sendiri."

Aurel terdiam. Kalimat itu menamparnya tepat di dada. Sejak semalam, ia mengutuk ayahnya, mengutuk Rasyid, dan mengutuk seluruh dunia yang seolah bersekongkol menata masa depannya tanpa izin. Ia mengira Rasyid adalah sosok predator berkedok agama yang siap memenjarakannya dalam aturan.

Namun sekarang, pria yang sama justru menawarkan kunci menuju kebebasannya secara cuma-cuma.

Aurel membuang muka ke arah kolam ikan koi. Jemari tangannya meremas tepi jaket denim oversized-nya yang melonggar. Otaknya bekerja keras mempertimbangkan segala kemungkinan.

Jika ia menerima tawaran Rasyid... jika Rasyid masuk ke dalam dan menggagalkan perjodohan ini... apa yang akan terjadi selanjutnya?

Hamdan akan murka besar. Ayahnya tidak hanya akan menyalahkan Rasyid, tapi juga akan melipatgandakan pengawasannya pada Aurel. Ayahnya bisa saja memotong uang saku, membatalkan izin wisuda, atau bahkan menjodohkannya lagi dengan pria pilihan lain—mungkin pengusaha kolega ayahnya yang jauh lebih tua, jauh lebih dominan, dan tidak akan pernah peduli pada perasaan Aurel.

Sedangkan di depan mata Aurel saat ini... ada Rasyid. Seorang pria yang mau mendengarkan dan menawarkan jalan keluar.

"Jadi..." Aurel menoleh kembali, menatap mata Rasyid dengan sorot tajam yang penuh tanya. "Kita ini sama-sama terpaksa?"

Rasyid mengangguk pelan tanpa ragu. "Bisa dikatakan begitu. Saya menjalankan keinginan Bah Abdul sebagai bentuk bakti, dan Mbak Aurel berada di sini karena tekanan dari Pak Hamdan."

Aurel terkekeh hampa, menyisir rambut bergelombangnya yang tertiup angin ke belakang telinga. "Konyol banget ya. Dua orang dewasa, sama-sama punya otak, tapi harus berdiri di sini gara-gara urusan orang tua yang kita sendiri nggak paham dasarnya apa."

"Mungkin konyol bagi Mbak Aurel," Rasyid menanggapi tanpa nada tersinggung. "Tapi bagi orang tua kita, mungkin ada alasan yang belum sempat mereka jelaskan."

"Alasan apa?" Aurel bersedekap, memasang wajah menantang. "Paling juga janji masa lalu, atau bisnis, atau Ayahku yang cuma pengin ada orang yang bisa 'menjinakkan' aku. Ayahku selalu mikir aku ini masalah, Rasyid. Dia pikir dengan menaruh aku di samping ustadz, aku mendadak bakal berubah jadi cewek santun yang cuma sibuk di dapur dan ngaji."

Rasyid mendengarkan seluruh kekesalan itu tanpa memotong. Ketika Aurel menghentikan kalimatnya karena napas yang memburu, Rasyid hanya mengangguk pelan.

"Pak Hamdan mungkin punya harapan seperti itu," sahut Rasyid. "Tapi saya tidak."

Aurel mengerutkan kening. "Maksudmu?"

"Saya sudah sampaikan pada Bah Abdul dan Pak Hamdan sebelum kita bertemu malam ini," Rasyid memajukan langkahnya setengah tindak, membuat jarak di antara mereka sedikit terkikis meski tetap bersahaja. "Jika pernikahan ini benar-benar terjadi, saya punya satu syarat yang tidak bisa diganggu gugat."

"Syarat apa?"

"Mbak Aurel tidak boleh dipaksa menjadi orang lain."

Aurel menahan napasnya seketika. "Kamu... ngomong gitu ke Ayahku?"

"Saya katakan pada beliau," Rasyid menatap lurus ke netra cokelat terang milik Aurel, "bahwa saya tidak akan pernah menikahi seorang perempuan hanya untuk mengubahnya secara paksa menjadi figur yang diinginkan orang lain. Perubahan hanya berharga jika datang dari kesadaran hati, bukan dari tekanan hukum maupun ikatan pernikahan."

Keheningan kembali menyelimuti selasar restoran. Hanya ada alunan gamelan sayup-sayup dari dalam bangunan utama yang mengisi celah di antara mereka.

Aurel merasa seluruh pertahanan yang telah ia bangun sejak semalam mulai goyah, gumpalan es amarahnya melumer perlahan. Pria di depannya ini membingungkan. Ia bukan tipe pria pemaksa seperti ayahnya, juga bukan tipe pria yang sibuk menggurui.

"Kalau kamu nggak berniat mengubahtuku..." Aurel menelan saliva, suaranya kini terdengar lebih rapuh dari yang ia harapkan, "...lalu untuk apa kamu mau nikah sama aku, Rasyid? Buat apa kita jalanin pernikahan kalau dari awal udah terpaksa?"

Rasyid tidak langsung menjawab. Ia menundukkan pandangannya sejenak, menatap lantai kayu selasar tempat bayangan mereka berdua jatuh berdampingan di bawah pendar lampu taman.

Ketika Rasyid kembali mendongak, tatapannya menyatukan ketenangan dan keteguhan yang sangat kontras.

"Untuk mencoba mengenalmu," jawab Rasyid singkat.

Aurel tertegun. "Cuma... untuk itu?"

"Apakah itu belum cukup?" Rasyid balik bertanya halus. "Mengenal seseorang yang datang dari dunia yang sama sekali berbeda dengan saya. Belajar memahami bagaimana sudut pandangmu, apa yang membuatmu bahagia, apa yang membuatmu takut. Dan jika memang takdir menetapkan kita berjalan bersama, saya hanya ingin menjadi teman perjalanan yang aman buat kamu."

Aurel mengepalkan tangannya di samping paha. "Aku nggak gampang nurut, Rasyid. Aku suka jalan-jalan, aku suka nongkrong sama temen-temenku sampai malam, aku suka dengerin musik keras, dan aku benci banget kalau ada yang ngatur-ngatur hidupku."

"Saya tahu," Rasyid mengangguk perlahan. "Saya sudah melihat bagaimana cara Mbak membela diri malam ini. Dan saya tidak berniat melarang hal-hal yang menjadi bagian dari dirimu, selama itu tidak melanggar batasan kebaikan dan tidak merugikan siapapun."

"Termasuk kalau aku nggak bisa jadi istri sempurna yang pinter masak atau hafal kitab?" tembak Aurel lagi.

Rasyid tersenyum tipis—kali ini senyum itu terlihat lebih jelas dan hangat di matanya. "Saya mencari seorang istri, Mbak Aurel. Bukan mencari juru masak atau murid pesantren."

Kalimat sederhana itu membuat tenggorokan Aurel terasa tersekat. Ada rasa hangat yang aneh menjalar di dadanya, sebuah perasaan terikat yang tidak pernah ia rasakan saat berada di dekat ayahnya sendiri.

Selama bertahun-tahun sejak ibunya meninggal, Aurel selalu merasa dinilai. Ayahnya menilainya dari nilai akademik, dari jam pulang malamnya, dari pakaian yang ia kenakan. Namun dalam beberapa menit percakapan di selasar malam ini, pria yang baru ia temui justru menjadi orang pertama yang tidak memandangnya sebagai sebuah masalah yang harus diperbaiki.

Aurel membuang napas panjang, menatap langit malam Kota Arunika yang tidak berbintang.

"Jadi..." Aurel kembali menatap Rasyid, menyilangkan tangannya di dada. "Keputusannya ada di aku?"

"Sepenuhnya di tangan Mbak Aurel," tegas Rasyid. "Jika Mbak menggelengkan kepala sekarang, saya akan masuk dan menyelesaikan semuanya. Mbak tidak perlu takut pada amarah Pak Hamdan, karena saya yang akan menanggungnya."

Aurel menatap Rasyid lama sekali. Ia membayangkan kembali pilihan hidupnya. Lari dari pernikahan ini dan terus berhadapan dengan perang dingin yang tak pernah usai bersama ayahnya... atau melangkah ke dalam dunia baru yang asing bersama pria tenang di depannya ini.

Pria yang berjanji tidak akan merenggut kebebasannya.

Aurel mengembuskan napas berat, lalu bibirnya mengukir senyum kecil yang agak sarkas.

"Kamu gila ya, Ustadz," ujar Aurel pelan. "Kamu beneran mau ambil risiko nikah sama cewek pemberontak kayak aku?"

Rasyid tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menatap Aurel dengan binar tenang yang tak tergoyahkan.

Aurel berbalik, memunggungi Rasyid dan mulai melangkah pelan menuju pintu ruang VIP. Di ambang pintu, ia menghentikan langkahnya tanpa menoleh ke belakang.

"Aku nggak janji bakal jadi istri yang baik," kata Aurel dengan suara cukup keras agar terdengar di antara desir angin. "Tapi... kalau kamu beneran nggak akan ngatur-ngatur hidupku... aku ikut alur permainan orang tua kita."

Rasyid yang berdiri beberapa meter di belakangnya tidak menunjukkan reaksi berlebihan. Ia tidak melompat kegirangan, tidak pula mendesah lega. Pria itu hanya mengatupkan kedua tangannya di depan dada, mengangguk pelan dengan rasa hormat yang mendalam.

"Terima kasih sudah memberi kesempatan ini, Mbak Aurel," bisik Rasyid pelan.

Aurel mendorong pintu kayu ruang VIP dan melangkah masuk kembali ke dalam ruangan berhawa dingin tempat dua ayah mereka sedang menunggu dengan cemas. Saat duduk kembali di kursinya, Aurel melirik ayahnya yang menatapnya penuh selidik.

Aurel tidak mengatakan apa-apa pada Hamdan. Ia hanya mengambil gelas air putihnya dan meminumnya hingga kandas.

Beberapa saat kemudian, Rasyid melangkah masuk dengan tenang, kembali mengambil tempat duduknya di seberang Aurel. Pria itu menatap ayahnya, Kiai Abdul, lalu mengangguk singkat.

Sebuah sinyal pelan yang mengubah seluruh arah takdir hidup mereka berdua.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!