Nadira menghabiskan empat tahun menunggu suami yang hanya ia temui saat akad nikah. Saat Arga akhirnya pulang, ia datang bersimbah darah ke IGD, dan Nadira sendiri yang mengoperasinya. Tapi Arga tidak pulang sendirian. Ada nama perempuan lain di bibirnya, dan anak kecil yang memanggilnya Papa. Di tengah luka tembak, gugatan cerai, dan rahasia masa lalu yang mulai terkuak, Nadira memilih pergi. Arga baru sadar bahwa istri yang ia tinggalkan bukan sekadar nama di buku nikah. Tapi mengejar Nadira berarti ia harus rela terbakar oleh penyesalan yang selama ini ia hindari. Dan saat dua keluarga, dua rahasia, dan dua nama Alya bertabrakan, siapa sebenarnya cinta sejati Arga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 14 - Pagi yang Membuka Rahasia
Nadira terbangun karena suara azan subuh dari ponsel Maya.
Matanya terbuka pelan. Untuk beberapa detik ia tidak tahu berada di mana. Langit-langit kamar hotel, selimut tebal, aroma obat samar, dan tubuh hangat di dekatnya membuat ingatan semalam kembali satu per satu.
Ia bersandar pada Arga.
Lebih tepatnya, Arga duduk di sofa, punggung menempel ke sandaran, dan Nadira tidur dengan kepala di bahunya. Tangan Arga berada di luar selimut, tidak memeluk terlalu erat. Posisi itu terlihat tidak nyaman untuk pria yang baru operasi.
Nadira langsung menjauh.
Gerakan itu membuat Arga terbangun.
"Kamu pusing?"
Nadira menarik selimut sampai dada. "Kenapa Mas masih di sini?"
"Kamu minta aku jangan pergi."
Wajah Nadira memanas.
Arga menambahkan cepat, "Aku tidak akan mengungkit kalau kamu tidak mau."
"Tapi Mas baru saja mengungkit."
"Maaf."
Ia benar-benar terlihat menyesal, membuat Nadira sulit marah lebih lama.
Pintu kamar terbuka dari ruang sebelah. Maya masuk dengan rambut berantakan dan mata merah.
"Kalian masih hidup?"
Nadira menatapnya. "Maya."
"Apa? Aku tidur di kamar sebelah setelah urusan bawah selesai. Bima jaga di depan seperti patung. Dokter Rendra pulang jam tiga. Vania dibawa Kevin ke rumah keluarga Hartono. Laras pulang sambil menangis. Aku butuh kopi."
Arga berdiri perlahan. Wajahnya langsung menegang karena luka tertarik.
Nadira refleks bertanya, "Jahitannya?"
Maya langsung menunjuk. "Nah. Kamu dengar sendiri, kan? Dia masih peduli."
"May."
"Aku cari kopi."
Maya keluar lagi sebelum dilempar bantal.
Nadira mengusap wajah. "Aku harus pulang."
"Aku antar."
"Tidak perlu."
"Kalau kamu tidak mau aku antar, Bima bisa antar. Atau Maya."
Nadira menatapnya. "Mas sedang belajar tidak memaksa?"
"Susah, tapi iya."
Ada kejujuran aneh di wajah Arga. Nadira hampir tersenyum, tapi ia menahan.
Ponsel Arga bergetar. Ia melihat layar, lalu mengerutkan kening.
"Bima?"
Suara Bima terdengar dari speaker karena ruangan terlalu sunyi.
"Komandan, staf hotel sudah memberi keterangan tertulis. Vania yang menyiapkan obatnya, Laras yang meneruskan ke panitia. Kevin meminta penyelesaian internal dulu, tapi bukti aman."
"Jangan lepaskan bukti."
"Siap. Ada satu lagi. Pak Hari, pengacara Dokter Nadira, menghubungi. Katanya ada jadwal mediasi awal dari Pengadilan Agama keluar lebih cepat."
Nadira menegang.
Arga menatapnya.
Bima baru sadar ia bicara terlalu banyak. "Maaf, Dokter. Saya kira..."
"Tidak apa-apa," kata Nadira.
Arga mematikan speaker dan bicara singkat dengan Bima, lalu menutup telepon.
Ruangan kembali hening.
"Mediasi," kata Arga.
"Proses cerai memang begitu."
"Kamu masih ingin lanjut?"
Nadira menatap jendela. Cahaya pagi mulai masuk, membuat wajahnya terlihat pucat tapi tenang.
"Semalam tidak mengubah semuanya."
"Aku tahu."
"Mas tidak tahu. Mas selalu ingin satu kejadian besar menyelesaikan masalah. Operasi selesai, musuh tertangkap, bukti aman. Tapi pernikahan tidak begitu."
Arga mendengar tanpa memotong.
"Aku akan datang ke mediasi," lanjut Nadira. "Aku tidak akan menarik gugatan hanya karena Mas baik semalam."
Arga mengangguk.
"Baik."
Nadira menoleh, heran.
"Tidak membantah?"
"Aku ingin membantah. Tapi aku tahu aku belum punya hak."
Nadira diam.
Maya kembali membawa tiga gelas kopi dan satu roti. "Aku merasa masuk ke ruang sidang."
"Memang hampir," kata Nadira.
Maya menyerahkan kopi pada Nadira, lalu menatap Arga. "Untuk kamu, kopi tanpa gula. Biar hidupmu makin pahit dan kamu sadar."
Arga menerima. "Terima kasih."
Maya tampak kecewa karena tidak dipancing.
Sebelum mereka meninggalkan hotel, Kevin datang ke kamar bersama kuasa hukum keluarga Hartono. Wajahnya lebih lelah daripada semalam.
"Dokter Nadira, saya minta maaf atas nama keluarga saya."
Nadira berdiri dengan tenang. "Saya belum memutuskan langkah hukum."
"Saya mengerti. Apa pun keputusan Anda, saya tidak akan menghalangi."
Maya mengangkat alis, tampak sedikit menghargai.
Kevin melanjutkan, "Vania akan saya jauhkan dari proyek rumah sakit. Dana tetap berjalan, tapi seluruh proses akan lewat tim legal dan direksi."
"Baik."
Kevin menatap Arga. "Mayor, soal bukti..."
"Bukti tetap dipegang Bima dan kuasa hukum Nadira."
Kevin mengangguk. "Saya tidak akan memintanya dihapus."
Nadira melihat Kevin tampak sungguh-sungguh malu. Ia tidak ingin menghukum orang yang tidak terlibat, tapi ia juga tidak mau menjadi korban yang mudah diberi permintaan maaf.
"Pak Kevin, saya datang untuk mendukung ruang rawat anak. Jangan membuat pasien kehilangan manfaat karena kesalahan keluarga Anda. Tapi Vania dan Laras tetap harus bertanggung jawab."
"Saya sepakat."
Setelah Kevin pergi, Maya bersiul pelan. "Kalimat kamu tadi sangat keren."
"Aku cuma ingin pulang."
"Tetap keren."
Di parkiran hotel, Arga tidak memaksa ikut mobil Nadira. Ia berdiri di samping mobil Maya.
"Nadira."
Nadira menoleh.
"Aku akan datang ke mediasi."
"Memang harus."
"Dan aku akan datang bukan untuk memaksa kamu mencabut gugatan. Aku datang untuk mendengar."
Nadira menatapnya. "Semoga Mas benar-benar bisa."
Maya masuk ke mobil, memberi mereka ruang tapi tetap membuka jendela sedikit agar bisa mendengar kalau perlu.
Arga berkata pelan, "Aku juga akan memperbaiki masalah Laras. Tidak akan ada lagi dia datang menekan kamu."
"Itu urusan Mas."
"Dulu aku membuatnya jadi urusanmu. Aku akan menariknya kembali."
Nadira tidak menjawab, tapi kali ini matanya tidak sekeras biasa.
Mobil Maya pergi.
Arga berdiri di parkiran sampai mobil itu hilang.
Bima mendekat. "Komandan terlihat seperti orang ditinggal perang."
"Rasanya lebih berat."
"Mediasi kapan?"
"Lusa."
Bima mengangguk. "Komandan mau strategi?"
Arga menatapnya.
Bima buru-buru mengoreksi, "Maksud saya, mau persiapan bicara?"
"Tidak ada strategi. Aku akan dengar."
Bima tersenyum kecil. "Itu strategi terbaik."
Dua hari kemudian, Nadira datang ke Pengadilan Agama Jakarta Selatan bersama Pak Hari. Ia memakai kemeja putih dan rok hitam, wajahnya tenang. Maya ingin ikut, tapi Nadira menolak. Ini bukan bahan liputan. Ini hidupnya.
Arga datang dengan Papa Surya sebagai pendamping moral, bukan kuasa hukum. Ia memakai kemeja gelap. Wajahnya masih pucat, tapi langkahnya mantap.
Mediator mempersilakan mereka duduk.
"Dalam mediasi, kami memberi ruang kepada kedua pihak untuk menyampaikan pokok masalah. Ibu Nadira, apa alasan utama Ibu ingin bercerai?"
Nadira menatap meja.
Arga menahan napas.
"Saya merasa tidak pernah menjadi istri," kata Nadira pelan. "Saya punya status, tapi tidak punya suami. Saya tinggal dengan keluarga beliau, menjalankan kewajiban sebagai menantu, tapi tidak pernah diberi ruang untuk menjadi pasangan."
Mediator mencatat.
"Ketika beliau pulang, saya melihat perempuan lain dan anak yang memanggil beliau Papa. Mungkin ada penjelasan, tapi saya tidak diberi penjelasan sebelum saya terluka. Setelah saya mengajukan cerai, beliau malah meminta saya keluar dari rumah."
Arga menunduk.
Setiap kalimat Nadira seperti dibacakan dari catatan dosa.
Mediator menoleh padanya. "Pak Arga?"
Arga mengangkat kepala.
"Saya tidak akan membantah luka yang Ibu Nadira sampaikan. Saya memang meninggalkan dia karena tugas, tapi itu tidak menghapus akibatnya. Saya salah karena tidak mengenali dia. Salah karena percaya prasangka. Salah karena mengusir dia dari rumah."
Nadira menoleh sedikit.
Arga melanjutkan, "Saya tidak ingin bercerai. Tapi saya juga tidak ingin memaksa dia tetap menikah hanya karena saya baru menyesal."
Ruangan diam.
Pak Hari bahkan berhenti menulis.
Mediator bertanya, "Jadi apa keinginan Bapak?"
Arga menatap Nadira.
"Saya ingin waktu. Bukan untuk menekan, tapi untuk membuktikan bahwa saya bisa menjadi suami yang seharusnya sejak awal. Kalau setelah itu Ibu Nadira tetap ingin berpisah, saya akan menghormati proses hukum."
Nadira menatapnya lama.
Ini bukan Arga yang mengancam lewat pengacara.
Ini bukan Arga yang memerintah.
Ini seseorang yang untuk pertama kalinya duduk dan mendengar.
Mediator akhirnya berkata, "Mediasi dapat dilanjutkan pada pertemuan berikutnya. Ibu Nadira, apakah bersedia memberi waktu?"
Nadira menarik napas.
Ia tidak ingin mudah luluh.
Tapi ia juga tidak ingin mengambil keputusan hanya dari amarah.
"Saya bersedia mengikuti mediasi berikutnya," katanya. "Bukan berarti saya mencabut gugatan."
Arga mengangguk. "Saya mengerti."
Setelah keluar ruang mediasi, mereka berjalan berdampingan beberapa langkah dalam diam.
Di koridor, Arga berhenti.
"Terima kasih."
"Untuk apa?"
"Karena masih memberi waktu, meski sedikit."
Nadira menatapnya.
"Jangan sia-siakan."
Lalu ia pergi bersama Pak Hari.
Arga berdiri di tempat, menatap punggungnya.
Papa Surya mendekat dan menepuk bahunya.
"Kali ini, jangan bodoh."
Arga tersenyum pahit.
"Iya, Pa."
Namun dari ujung koridor, seseorang mengambil foto mereka diam-diam.
Foto Arga menatap Nadira.
Foto Nadira berjalan pergi.
Beberapa menit kemudian, foto itu terkirim ke Vania.
Mediasi mereka belum selesai. Bagus. Berarti masih bisa dihancurkan.