NovelToon NovelToon
Sistem Pekerja Super

Sistem Pekerja Super

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bulu-Halus

Adrian Wijaya hanya ingin mendapatkan uang tambahan sebelum kuliah dimulai. Namun sebuah sistem misterius tiba-tiba memberinya akses ke berbagai pekerjaan dengan bayaran luar biasa.

Setiap pekerjaan memberinya uang, kemampuan, dan pengalaman baru.

Dari pekerjaan biasa hingga tugas berbahaya di berbagai penjuru dunia, Adrian perlahan menyadari bahwa sistem ini bukan sekadar alat untuk mencari uang.

Ini adalah awal dari kehidupan yang jauh lebih besar dari yang pernah dia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulu-Halus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 — Waktu Misi Hampir Habis

Adrian menatap jam digital murah yang melingkar di pergelangan tangannya.

Ia baru saja selesai memeriksa tubuh anggota Blood Viper terakhir ketika ekspresinya berubah.

Bukan karena mendengar suara kendaraan.

Bukan pula karena merasakan ancaman baru.

Melainkan karena angka pada layar kecil itu.

07:08:41

Waktu terus berjalan.

Adrian mengembuskan napas panjang.

“Waduh…”

Sienna yang masih duduk bersandar di balik gundukan pasir langsung menegang.

Perubahan ekspresi Adrian begitu mendadak hingga ia mengira sesuatu yang jauh lebih berbahaya telah muncul.

“Kita punya masalah?”

Adrian tidak langsung menjawab.

Ia menekan tombol pada jamnya sekali lagi.

07:09:03

Kurang dari satu jam.

Delapan jam.

Itulah batas waktu yang diberikan untuk menyelesaikan pekerjaan malam itu.

Targetnya bukan sekadar menemukan markas Blood Viper.

Ia harus memastikan seluruh personel yang terdaftar sebagai bagian dari target telah dilumpuhkan.

Dan setelah melihat jumlah pasukan yang berada di markas utama, Adrian mulai merasa pekerjaannya sedikit lebih merepotkan daripada perkiraan awal.

“Waktu hampir habis.”

Sienna mengernyit.

“Berapa lama?”

“Lima puluh satu menit.”

Sienna terdiam.

Ia menatap Adrian beberapa detik, lalu menatap bangkai kendaraan dan puluhan anggota Blood Viper yang berserakan di sekitar mereka.

“Dan kau masih mau pergi ke markas mereka?”

Adrian menoleh.

“Memangnya saya datang ke sini untuk piknik?”

Sienna menarik napas panjang.

“Adrian, dengarkan aku. Yang tadi hanya pasukan patroli.”

Nada suaranya berubah serius.

“Markas utama Blood Viper jauh lebih berbahaya. Mereka punya pertahanan berlapis, kendaraan tempur, senapan mesin berat, penembak jitu, dan kemungkinan besar masih menyimpan persenjataan yang belum mereka gunakan.”

Adrian mengangguk santai.

“Bagus.”

Sienna menatapnya tidak percaya.

“Bagus?”

“Berarti tidak perlu mencari mereka satu per satu.”

Adrian berjalan menuju motornya.

Sienna menatap punggungnya.

“Kau benar-benar tidak takut?”

Adrian berhenti sebentar.

“Takut?”

Ia menoleh sambil menunjuk jam di pergelangan tangannya.

“Saya lebih takut kehilangan bonus karena terlambat.”

Sienna terdiam.

Entah harus kagum atau ingin memukul orang di depannya.

Adrian kemudian memeriksa tali yang mengikat barang-barang di jok belakang.

Dua kardus mi instan masih berada di sana.

Tas besar bermotif garis merah, putih, dan biru juga masih utuh.

Ia menarik talinya sekali.

Kencang.

Sekali lagi.

Lebih kencang.

“Kalau barang ini jatuh di tengah jalan, saya rugi.”

Sienna menatap tas tersebut.

“Isinya apa?”

“Modal kerja.”

“...”

Sienna sudah tidak ingin bertanya.

Adrian mengenakan helm merah muda bergambar karakter kartun yang ukurannya sedikit terlalu kecil untuk kepalanya.

Ia lalu menyalakan mesin.

“Brrr... brrr...”

Motor tua itu batuk beberapa kali sebelum akhirnya menyala.

Asap hitam keluar dari knalpot.

Sienna menutup hidung.

“Kau serius mau pergi dengan kendaraan itu?”

Adrian menepuk tangki motor.

“Jangan menghina.”

“Baru saja kendaraan ini hampir hancur terkena tembakan.”

“Makanya saya harus segera menyelesaikan pekerjaan sebelum rusak lagi.”

Adrian memutar setang.

Sienna tiba-tiba menarik lengannya.

“Tunggu.”

Adrian menoleh.

“Ada apa?”

“Bawa aku.”

Adrian melihat kaki Sienna yang terluka.

Kemudian melihat motornya.

Kemudian kembali melihat Sienna.

“Motor ini sudah membawa dua kardus mi, satu tas besar, dan saya.”

Ia menunjuk jok belakang.

“Kalau ditambah kamu, kemungkinan besar kita tidak sampai.”

Sienna hampir kehilangan kesabaran.

“Aku bisa bertarung!”

“Dengan kaki seperti itu?”

Sienna terdiam.

Adrian menghela napas.

“Cari tempat berlindung. Saya akan kembali setelah selesai.”

“Kembali?”

“Iya.”

Adrian tersenyum tipis.

“Kalau mereka masih punya orang, saya belum selesai bekerja.”

Ia memutar gas.

Motor tua itu melaju meninggalkan tempat tersebut.

“Brrr... brrr...”

Sienna hanya bisa menatap asap hitam yang perlahan menghilang di kejauhan.

---

Sekitar tiga puluh kilometer dari lokasi itu.

Sebuah kompleks industri tua berdiri di tengah gurun.

Dinding beton setinggi beberapa meter mengelilingi seluruh area.

Menara pengawas berdiri di beberapa titik strategis.

Lampu sorot menyapu gurun secara berkala.

Di balik dinding tersebut, puluhan kendaraan bersenjata terparkir.

Inilah salah satu markas terbesar Blood Viper.

Di ruang kendali utama, suasana berubah tegang.

Seorang pria berkepala plontos berjalan cepat memasuki ruangan.

“Bos!”

Pria yang duduk di depan meja langsung mengangkat kepalanya.

“Ada apa?”

“Tim patroli ketiga belum kembali.”

“Berapa lama?”

“Lebih dari dua puluh menit.”

Pria itu mengerutkan kening.

“Hubungi mereka.”

“Kami sudah mencoba.”

“Dan?”

“Tidak ada jawaban.”

Ruangan menjadi sunyi.

Salah seorang operator kemudian berdiri.

“Bos, kami baru menerima laporan dari pos pengawas.”

Ia menunjuk layar besar.

“Seorang pria sedang menuju ke sini.”

Gambar dari kamera pengawas muncul.

Sebuah titik hitam bergerak perlahan di jalan gurun.

Semakin diperbesar, kendaraan itu terlihat jelas.

Motor tua.

Asap hitam.

Pengendaranya mengenakan helm merah muda.

Beberapa orang di ruang kendali saling menatap.

“...Itu serius?”

Operator menelan ludah.

“Serius.”

“Dia sendirian?”

“Sejauh yang terlihat, iya.”

Pria berkepala plontos itu mendekati layar.

“Identitas?”

“Belum diketahui.”

“Senjata?”

Operator memperbesar gambar.

Sebuah senapan terlihat tersampir di tubuh Adrian.

Pria itu menyipitkan mata.

“Berapa orang yang mengikutinya?”

“Tidak ada.”

“Pesawat?”

“Tidak ada.”

“Pasukan lain?”

“Tidak terdeteksi.”

Untuk beberapa saat, ia hanya menatap layar.

Lalu ia tertawa pendek.

“Jadi seseorang benar-benar datang ke markas kita…”

Ia menunjuk layar.

“Dengan motor tua?”

Beberapa anggota Blood Viper ikut tertawa.

“Bisa jadi orang gila.”

“Bisa jadi kurir.”

“Kurir dengan senapan?”

Tawa kembali terdengar.

Namun pemimpin mereka tidak ikut tertawa.

Ia justru mengingat laporan terakhir.

Tim patroli yang menghilang.

Kendaraan tempur yang tidak kembali.

Dan sekarang seorang pria misterius datang sendirian.

Ada sesuatu yang tidak masuk akal.

“Naikkan status pertahanan.”

Tawa di ruangan langsung berhenti.

“Semua penjaga di tembok bersiap.”

“Penembak jitu mengambil posisi.”

“Siapkan kendaraan tempur.”

Ia menatap layar sekali lagi.

Titik hitam itu semakin dekat.

“Kalau dia benar-benar datang untuk mencari masalah…”

Senyumnya perlahan menghilang.

“Pastikan dia tidak pernah keluar dari tempat ini.”

---

Di luar markas.

Adrian melirik jam tangannya.

07:26:17

“Masih ada waktu.”

Ia memutar gas lebih dalam.

Motor tua itu mengeluarkan suara mesin yang semakin keras.

“Brrrraaaak—brrr...”

Adrian menyipitkan mata.

Dari kejauhan, dinding markas Blood Viper mulai terlihat.

Ia tersenyum.

“Ketemu juga.”

Namun beberapa detik kemudian, lampu sorot di atas menara tiba-tiba menyala.

Satu.

Dua.

Tiga.

Kemudian seluruh area di depan Adrian diterangi cahaya putih yang menyilaukan.

Adrian mengurangi kecepatan.

Di atas dinding, puluhan laras senjata mulai diarahkan kepadanya.

Ia menghela napas.

“Wah.”

Adrian menepuk-nepuk tangki motornya.

“Sepertinya mereka tidak suka tamu.”

Dari pengeras suara di atas gerbang, suara seorang pria menggema.

“Berhenti!”

Adrian tidak menjawab.

“Identifikasi dirimu!”

Adrian melihat jam tangannya lagi.

07:27:02

Ia menghela napas.

“Tidak sempat basa-basi.”

Tangan kanannya perlahan meraih senapan yang tersampir di tubuhnya.

Tatapannya berubah.

Senyum santainya menghilang.

Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Sienna, Adrian benar-benar menunjukkan keseriusan.

“Kalau begitu…”

Ia memutar gas.

Motor tua itu meraung.

“...kita masuk lewat cara yang lebih cepat.”

1
Aisyah Suyuti
seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!