NovelToon NovelToon
Restu Yang Ditarik Kembali

Restu Yang Ditarik Kembali

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:338k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Sepuluh tahun membina rumah tangga, Adila mengira restu mertua adalah pelindung abadi bagi cintanya dan Revan. Namun, segalanya runtuh saat Meisya sahabat masa lalu Revan hadir membawa janin di rahimnya karena suaminya meninggal.

​Tiba-tiba, pengorbanan Adila sebagai istri sekaligus calon dokter yang mandiri justru menjadi senjata untuk memojokkannya. Karena dianggap mampu berdiri sendiri, Adila dipaksa mengalah. Revan mulai membagi perhatian, waktu, hingga nafkah bulanan demi menjaga Meisya yang dianggap lebih rapuh.

​Hati Adila hancur saat melihat Revan membelai perut wanita lain dengan kasih sayang yang seharusnya menjadi miliknya. Ketika restu itu ditarik kembali dan posisinya sebagai istri perlahan dijandakan di rumah sendiri, masihkah ada alasan bagi Adila untuk bertahan? Ataukah gelar dokter yang ia kejar akan menjadi jalan baginya untuk melangkah pergi dan meninggalkan pengkhianatan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Restu Yang Ditarik Kembali

Suasana di halaman rumah yang sudah tegang itu mendadak semakin panas ketika sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam metalik berhenti tepat di belakang truk jenazah. Pintu mobil terbuka dengan sentakan kasar, dan keluarlah sosok wanita paruh baya dengan pakaian branded dari ujung kepala hingga kaki, diikuti oleh adik Revan, Tiara, yang wajahnya nampak penuh kemarahan.

"Apa-apaan ini, Revan?! Adila?!" teriak Mama Revan, suaranya melengking membelah udara pagi. Ia berjalan cepat mendekati kerumunan, matanya melotot menatap ambulans dan truk jenazah yang terparkir di sana.

Meisya, yang tadinya sudah terpojok dan hampir menyerah pada gertakan Adila, seketika melihat cahaya penyelamat. Ia kembali memasang wajah memelas, air matanya tumpah lebih deras dari sebelumnya. Ia lari tertatih ke arah Mama Revan dan langsung memeluk kaki wanita itu.

"Tante... tolong Meisya... Kak Adila mau mengusir Meisya dan membongkar makam Mas Bayu... Meisya takut sekali, Tante!" isak Meisya dengan suara yang dibuat tersedak.

Mama Revan merangkul Meisya dengan protektif. Ia menatap Adila dengan pandangan seolah-olah Adila adalah sampah. "Kamu benar-benar sudah tidak punya hati ya, Adila! Kamu mau memindahkan jenazah orang yang sudah tenang hanya karena rasa irimu yang picik?"

Tiara ikut menimpali sambil berkacak pinggang. "Iya, Mbak Adila keterlaluan! Meisya ini sedang hamil calon cucu Mama, calon keponakanku! Kenapa Mbak tega sekali memperlakukan dia seperti binatang?"

Adila berdiri tegak, merapikan jas dokternya yang tidak sengaja sedikit berkerut. Ia tidak gentar sedikit pun. "Ma, Tiara. Ini bukan soal iri. Ini soal aturan di rumah tangga saya. Meisya punya keluarga, dia punya tempat tinggal yang masih dia sewa. Alasan dia bertahan di sini hanya manipulasi."

"Cukup!" potong Mama Revan dengan kasar. "Kamu tidak berhak bicara soal aturan rumah tangga kalau kamu sendiri gagal memenuhi tugas utamamu sebagai istri! Sepuluh tahun, Adila. Sepuluh tahun kamu jadi menantu di keluarga ini, tapi rahimmu itu seperti tanah tandus! Tidak menghasilkan apa-apa!"

Kalimat itu membuat Revan yang berdiri di samping mereka tersentak. "Mah, jangan bicara begitu..." ucap Revan lirih, namun ia tidak berbuat apa-apa untuk menghentikan ibunya.

Mama Revan justru semakin menjadi-jadi. Ia mengelus perut Meisya di depan wajah Adila. "Lihat Meisya! Dia hanya butuh waktu singkat untuk membuktikan kesuburannya. Dia membawa calon penerus yang sudah kami anggap sebagai cucu kami sendiri. Sementara kamu? Kamu hanya sibuk dengan jas putihmu itu, sibuk mengurus orang sakit sampai lupa kalau dirimu sendiri adalah produk gagal bagi keluarga kami!"

Adila merasakan dadanya berdenyut hebat. Rasa sakit itu bukan lagi karena sedih, melainkan karena amarah yang sudah terkristal menjadi keberanian yang dingin. Ia menatap mertuanya tepat di mata sebuah hal yang dulu tidak berani ia lakukan.

"Produk gagal, Mah?" Adila tertawa, tawa yang terdengar sangat menyeramkan hingga membuat Tiara mundur selangkah. "Mama bicara soal kesuburan dan keturunan seolah-olah Mama sedang berbicara di pasar ternak. Mari kita bicara secara medis, karena saya adalah dokter di sini, bukan peramal nasib."

Adila melangkah maju, mendekati mertuanya. "Mama tahu kenapa selama sepuluh tahun ini saya tidak kunjung hamil? Bukan karena rahim saya tandus, Mah. Tapi karena setiap kali saya mencoba membangun suasana yang sehat, Mama selalu datang menyuntikkan racun stres ke dalam pikiran saya. Mama tahu berapa banyak kasus infertilitas yang disebabkan oleh tekanan mental dari keluarga yang toxic?"

"Kamu menyalahkan Mama?!" teriak Mama Revan.

"Saya menyatakan fakta," sahut Adila tajam. "Dan soal Meisya... Mama menyebut janin itu sebagai calon cucu? Mama yakin itu darah daging yang patut Mama banggakan? Wanita yang bisa dengan mudah berpindah hati dan menggunakan air mata untuk merusak rumah tangga orang lain, apakah Mama yakin dia akan mendidik anak yang di anggap cucu Mama menjadi orang yang terhormat?"

Adila beralih menatap Revan yang masih diam seribu bahasa. "Dan kamu, Revan. Lihat ibumu. Lihat adikmu. Mereka menghina istrimu di depan matamu sendiri, menggunakan kekurangan biologis kita sebagai senjata untuk menghancurkan ku. Dan kamu hanya diam? Apa kamu sudah kehilangan fungsi sebagai laki-laki?"

Revan membuka mulut, namun tidak ada kata yang keluar. Dia tampak seperti pecundang di antara wanita-wanita kuat itu.

"Sekarang dengarkan saya baik-baik, Mah," Adila kembali menatap mertuanya dengan wibawa yang luar biasa. "Makam itu tetap akan dipindahkan hari ini. Truk itu sudah dibayar, surat izin dari dinas pemakaman sudah saya urus. Jika Mama ingin membela Meisya, silakan bawa dia ke rumah Mama. Tapi jangan satu detik pun Meisya menginjakkan kaki di rumah ini lagi."

"Kalau kamu mengusir dia, kamu juga mengusir Mama!" tantang Mama Revan.

"Silakan, Mah. Pintu pagar itu terbuka lebar," jawab Adila tanpa ragu sedikit pun. "Jika Mama lebih memilih 'calon cucu' dari rahim wanita yang bahkan bukan istri anak Mama daripada menghargai saya yang sudah sepuluh tahun mengabdi, maka saya tidak butuh restu dari orang yang tidak tahu cara menghargai manusia."

Meisya melihat posisi Mama Revan mulai terdesak oleh logika Adila yang dingin. Ia tahu jika dia tidak pergi sekarang, Adila benar-benar akan melakukan Live Streaming yang ia ancamkan tadi. Dengan akting terakhirnya, Meisya menarik lengan baju Mama Revan.

"Tante... sudah... Meisya tidak mau Tante bertengkar dengan Kak Adila karena Meisya. Biarlah Meisya pergi saja... Meisya akan ikut ambulans itu ke kampung... Meisya akan hidup di dekat makam Mas Bayu sendirian..." ucap Meisya sambil terisak hebat.

"Tidak, Mei! Kamu jangan menyerah!" Tiara membela.

"Sudahlah, Tiara," Meisya berjalan menuju ambulans dengan langkah yang diseret-seret, menoleh ke arah Revan dengan pandangan penuh dendam yang ia sembunyikan dalam kesedihan. "Mas Revan, terima kasih untuk semuanya. Maaf kalau keberadaanku menghancurkan segalanya."

Meisya naik ke dalam ambulans itu. Truk pengangkut jenazah pun mulai bergerak. Pemandangan itu nampak sangat ganjil sebuah ambulans membawa wanita hamil yang menangis, diikuti oleh truk penggali makam.

Mama Revan menunjuk wajah Adila dengan jari yang gemetar. "Kamu akan menyesal, Adila! Kamu akan mati sendirian tanpa ada anak yang mendoakan mu! Revan, ayo kita pergi! Biarkan istrimu yang sombong ini hidup dengan jas putihnya yang dingin itu!"

Mama Revan, Tiara, dan Revan akhirnya masuk ke mobil masing-masing, meninggalkan Adila sendirian di depan rumah yang kini terasa sangat luas dan sunyi. Adila berdiri mematung, menatap debu yang ditinggalkan mobil-mobil itu.

Hatinya hancur, namun punggungnya tetap tegak. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan oksigen yang akhirnya terasa bersih di rumahnya sendiri. Restu yang selama ini ia kejar dengan susah payah, kini benar-benar telah ia lepaskan. Dan untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, Adila merasa benar-benar bebas, meski ia tahu perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.

1
Heni Hendrayani
is the best adilla 👍
Heni Hendrayani
kalau jodoh meskipun beda negara pasti ketemu jiga 😄💪
Heni Hendrayani
lelaki payah 🤣sundel tuh orang
Heni Hendrayani
,mantaap 👍😍
Weni Kasandra
Cerita yg bagus
Kaifstoryy
nama suaminya ganti2 mulu🤭

terus dibilang kerangka. berarti meninggalnya udah bertahun kan? jadi Meisya hamil anak siapa? 🤭
Ida Sriwidodo
Lohh.. katanya Revan ngga tau status Dila sebagai putri bungsu keluarag Wijaya.. piye ki thor? 😭😭🤔🤔
Ida Sriwidodo
Ini aneh lagi..
Meisya pergi kan diusir sama Revan sendiri.. dibeliin tiket pulkam one way.. bukan Meisya yang mencampakkan Revan karena dah jatoh misqueen...🤔🤔🤔
Sarifah_Aini97
Sumpah, bau-bau ada rahasia atau konflik besar yang bakal meledak nih🙂‍↕️
Sarifah_Aini97
Aduh, Adila kenapa nih? Pasti abis lihat atau baca sesuatu di HP-nya sampai tangannya gemeteran gitu.
Ida Sriwidodo
Lhah.. di bab terdahulu katanya mau ambil obgyn karena Dila mo fokus sama kesehatan reproduksi wanita 🤔😬
Ida Sriwidodo
Sampai sini jadi pen komen.. Hadi suaminya Meisya di bab ini katanya dah meninggal bertahun lalu.. tapi koq Meisya nya hamilnya baru sekarang yaa..? 🤔
Wulan Azka: apa saya salah ingat ya, yang saya ingat nama suami di Meisya itu Bayu 🤔
total 2 replies
Yuli Yuliawati
suami nggak dan keluarga g d otak tinggalin aja
Yuli Yuliawati
isteri sah tersakiti
awas aja pelakor dan suami durjana nggak dapat balasan nya
Yuli Yuliawati
Tinggalin aja suami durjana mu
Mama lilik Lilik
nama suami meysa, dari Bayu, Hadi,Danang,orang meninggal bisa ganti nama sampai 3x🤣
Wulan Azka: nah kan barusan di bab sebelumnya saya ikut komen soal nama suami Mesya, seingat saya namanya Bayu, kenapa jadi si Hadi
total 2 replies
Bunda
awal yang menarik,ijin baca kak🙏
Nay Chan
sebagai wanita aq suka sikap Adila💪🤣 buang yg lama cari yg baru🤭
Eric ardy Yahya
the punishment has begun Tiara . waktunya mendapatkan siksaan sesuai Peringatan Adila
Eric ardy Yahya
enak rasanya Tiara ? makanya kamu jadi orang gak usah kayak MONYET yang suka mengumpat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!