Dia meninggal dalam kesengsaraan, dikhianati oleh suami dan sahabatnya sendiri. Tapi takdir memberinya tiket pulang ke masa lalu. Siren terbangun kembali di tubuh mudanya, lima tahun sebelum tragedi itu menghancurkan hidupnya. Kali ini, dia bukan lagi istri penurut yang naif. Dengan ingatan utuh tentang setiap kebohongan Fadli dan setiap rencana jahat Nia, Siren bersiap memainkan skenario baru. "Kalian pikir aku lemah? Tunggu saja sampai kalian melihat siapa yang sebenarnya memegang kendali." Di kehidupan barunya, Siren tidak hanya fokus menghancurkan karir dan rumah tangga Fadli, tetapi juga membangun imperiumnya sendiri. Di tengah permainan kucing-kucingan yang penuh sarkasme dan ketegangan ini, hadir Arya Wijaya—konglomerat dingin yang di kehidupan sebelumnya ia abaikan. Arya bukan sekadar pelarian. Dia adalah sekutu cerdas yang menyadari perubahan drastis pada Siren. Bersama Arya, Siren mengubah air mata menjadi senjata, dan rasa sakit menjadi bahan bakar untuk bangkit. Siap-siap m
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LAHAN KOSONG
Angin kencang menerbangkan debu kering di atas lahan seluas dua hektar di BSD City. Rumput liar tumbuh setinggi lutut, bercampur dengan sampah plastik sisa pembongkaran bangunan ilegal sebelumnya. Di tengah keheningan itu, hanya ada suara deru angin dan langkah kaki kami yang menginjak tanah keras.
Aku berdiri di tepi lahan, menatap hamparan kosong itu. Arya berdiri di sampingku, memegang tablet yang menampilkan denah arsitektur awal.
"Kotor," komentarku singkat, mengangkat ujung sepatu hak tinggiku agar tidak terkena lumpur bekas hujan semalam.
"Akan bersih dalam sebulan," jawab Arya tenang, jari-jarinya mengusap layar tablet. "Tim konstruksi Wijaya Group sudah siap masuk besok pagi. Pembersihan lahan, pemagaran, dan survei tanah akan dilakukan paralel."
Aku menoleh padanya. "Kamu terlalu cepat. Aku belum bahkan memilih nama untuk proyek ini."
Arya tersenyum tipis, menyerahkan tablet padaku. "Nama bukan prioritas utama saat ini. Prioritasnya adalah fondasi. Dan lihatlah..." Ia menunjuk ke arah horizon, di mana crane-crane pembangunan apartemen mewah terlihat menjulang. "...lokasi ini strategis. Dalam tiga tahun, nilai aset ini akan naik 300%. Ini bukan sekadar tanah, Siren. Ini adalah catur bidak pertama di papan permainan properti Jakarta."
Aku menatap denah di tablet. Gedung perkantoran hijau, pusat komunitas, dan area residensial eksklusif. Desainnya modern, minimalis, namun elegan. Sangat 'aku'.
"Siapa arsiteknya?" tanyaku, jempolku menyusuri garis-garis desain yang rapi.
"Tim internal Wijaya Group, dipimpin oleh Arsitek Utama kami, Pak Hendra. Tapi..." Arya berhenti sejenak, menatapku dalam-dalam. "...semua keputusan akhir ada di tanganmu. Jika kamu tidak suka bentuk atapnya, kita ubah. Jika kamu ingin menambah taman vertikal, kita tambahkan. Ini proyekmu. Namamu yang akan terpampang di plakat peresmian nanti."
Jantungku berdegup kencang. Tanggung jawab itu besar. Tapi rasanya... menggairahkan.
"Aku ingin ada ruang khusus," ucapku tiba-tiba.
"Ruang apa?" tanya Arya, alisnya terangkat.
"Pusat pelatihan kewirausahaan untuk wanita," jawabku tegas. "Gratis. Untuk ibu-ibu tunggal, korban kekerasan domestik, atau wanita yang ingin bangkit dari keterpurukan ekonomi. Seperti aku dulu."
Arya terdiam. Matanya melembut. Ia meletakkan tablet di atas kap mobil SUV hitam yang parkir di dekat kami.
"Itu ide brilian," bisiknya. "Bukan hanya bisnis. Tapi dampak sosial. Itu akan membuat brand Siren Group dicintai publik, bukan hanya dihormati."
"Aku tidak butuh cinta publik, Arya," koreksiku, meski senyum kecil terbentuk di bibirku. "Aku butuh makna. Selama lima tahun, hidupku tidak punya makna selain melayani ego Fadli. Sekarang, aku ingin hidupku berarti bagi orang lain yang senasib."
Arya melangkah mendekat, mengurangi jarak di antara kami. Angin memainkan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Kamu selalu penuh kejutan, Siren," ucapnya lembut. "Di tengah ambisi bisnis yang tajam, kamu masih menyimpan hati yang empuk. Itu kombinasi yang berbahaya bagi musuh, tapi menyelamatkan bagi dunia."
Ia mengulurkan tangannya, menyentuh pipiku yang diterpa angin. Sentuhannya hangat, kontras dengan dinginnya suasana lahan kosong ini.
"Apakah kamu takut?" tanyanya pelan. "Memulai dari nol? Membangun sesuatu yang sepenuhnya milikmu?"
Aku menatap matanya. Mencari keraguan. Tidak ada. Hanya dukungan murni.
"Sedikit," akuku jujur. "Tapi ketakutan itu berbeda dengan dulu. Dulu, aku takut karena aku sendirian. Sekarang... aku takut karena aku tidak ingin mengecewakanmu. Atau mengecewakan diriku sendiri."
Arya menggeleng pelan. "Kamu tidak bisa mengecewakanku, Siren. Selama kamu berusaha, selama kamu jujur pada dirimu sendiri, aku akan selalu bangga. Bahkan jika proyek ini gagal total, aku akan tetap di sini. Membantumu bangkit lagi. Karena bagiku, keberhasilan bukan tentang uang atau gedung. Tapi tentang keteguhan hatimu."
Air mata menggenang di pelupuk mataku. Kata-kata itu lebih berharga daripada miliaran rupiah yang baru saja keluar dari rekeningku.
"Terima kasih, Arya," bisikku, menutup mata sejenak untuk menahan air mata. "Kamu membuatku merasa... layak."
"Layak?" ulang Arya, suaranya sedikit naik karena emosi. "Siren, dengarkan saya baik-baik. Kamu bukan hanya layak. Kamu adalah standar. Standar kekuatan. Standar integritas. Dan standar cinta."
Ia menarik aku ke dalam pelukannya erat. Di tengah lahan kosong yang berdebu, di bawah langit biru yang luas, pelukan itu terasa seperti rumah. Tempat di mana aku bisa menjadi lemah tanpa dihakimi, dan menjadi kuat tanpa ditakuti.
"Lalu," bisik Arya di telingaku, "apa langkah selanjutnya, Nyonya Direktur?"
Aku tertawa kecil, melepaskan diri dari pelukannya meski enggan. Aku mengambil tablet kembali, membuka aplikasi catatan.
"Langkah pertama," ucapku, jari-jariku mengetik cepat. "Kita hubungi kontraktor terbaik. Langkah kedua, kita rekrut tim manajemen yang loyal, bukan yang hanya mencari gaji. Langkah ketiga..."
Aku menatap Arya, mataku berbinar nakal.
"...kita undang Ibu Ratna dan Dimas ke acara peletakan batu pertama. Sebagai tamu kehormatan."
Mata Arya membelalak, lalu ia tertawa terbahak-bahak. Tawa yang renyah, lepas, dan penuh kekaguman.
"Kamu benar-benar jahat, Siren," katanya sambil menggelengkan kepala. "Memaksa mereka menyaksikan kebangkitan wanita yang mereka hina. Itu... sangat puitis."
"Bukan jahat," koreksiku sambil tersenyum miring. "Itu edukasi. Agar mereka tahu, bahwa menghina Siren adalah kesalahan terbesar dalam hidup mereka."
Arya mengangguk setuju. "Saya akan siapkan undangan khusus. Dengan amplop emas. Dan kursi paling depan."
Kami berdua tertawa. Di atas lahan kosong itu, visi masa depan mulai terbentuk. Bukan hanya gedung-gedung beton. Tapi simbol kemenangan. Simbol bahwa dari tanah yang paling gersang, bunga terindah bisa tumbuh.
Ponselku bergetar. Pesan dari bank: Pencairan dana tahap pertama untuk proyek Siren Green Residence berhasil.
Aku menunjukkan layar itu pada Arya.
"Permainan dimulai," ucapku.
Arya mengecup keningku sekilas. "Dan saya siap menonton pertunjukan terbaik dalam hidup saya."
Mobil kami melaju meninggalkan lahan itu. Debu beterbangan di belakang kami, tapi di depan, jalan raya terbuka lebar menuju masa depan yang cerah. Bersama.