NovelToon NovelToon
Buang Sopan Santunmu, Nikmati Hidup Tanpa Belas Kasihan

Buang Sopan Santunmu, Nikmati Hidup Tanpa Belas Kasihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:99
Nilai: 5
Nama Author: Galih Lestari

Bima Liem wakes in another's body—a young Chinese-Javanese man in Waringin, East Java, crushed by family pressure, insults, and silent injustice.

This time, he won't stay silent. A mysterious Golden Defiance System binds to him: every time he resists moral blackmail, social pressure, or unfairness, he earns points for extraordinary abilities—god-level legal skills, deadly combat, hacking, spy drones, and hidden wealth.

Armed with law and the system, he begins an unprecedented mission: send every wrongdoer to prison—one by one. Trolls, bullies, corrupt officials, fake doctors, campus thugs, cruel neighbors—none escape the People's Prosecutor.

Everyone sees a humble village youth, unaware behind that calm face lurks a hidden billionaire, national hero, and the most dangerous man in any courtroom. You can choose silence. But if you choose evil—don't expect me to choose good.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 3: Pulang Kampung dan Hadiah Pertama

Di tepi Terminal Waringin, tombol Undian Gratis masih menyala di sudut pandang Bima seperti lampu kecil yang sengaja menggoda.

Ia belum menekannya.

Rasa penasarannya justru terlalu besar. Setelah satu bus dibuat diam, angka poin melonjak, dan video dirinya mulai berputar di TikTok, Bima tahu satu hal: sistem ini tidak memberi hadiah tanpa alasan.

Kalau hadiah pertama salah dipakai, ia sendiri yang rugi.

"Mas Bima!"

Suara perempuan muda memotong pikirannya.

Bima menoleh. Seorang gadis berkaus putih dan celana jeans melambai dari dekat deretan tukang ojek. Rambutnya diikat asal, wajahnya cerah, dan di tangannya ada ponsel yang sudah siap merekam apa pun. Di belakangnya, seorang pria paruh baya bertubuh agak kurus membawa helm cadangan. Di samping pria itu, seorang perempuan dengan tas belanja kain menatap Bima dari kepala sampai kaki dengan mata basah yang ditahan.

Ingatan tubuh ini bergerak lebih cepat daripada pikiran Bima.

Ratna.

Pak Harto.

Bu Sri.

Keluarganya.

Atau lebih tepatnya, keluarga tubuh ini.

Ratna berlari duluan dan hampir menabraknya. "Mas! Lama banget! Busnya macet? Mama dari tadi panik, katanya jangan-jangan kamu ketiduran sampai terminal akhir."

"Aku baru turun," jawab Bima.

Kata aku keluar lebih natural daripada yang ia duga. Mungkin sisa ingatan Bima Liem masih tahu cara pulang.

Bu Sri maju dan menyentuh bahunya. Sentuhan itu singkat, tapi cukup membuat dada Bima terasa aneh. Hangat, khawatir, dan sedikit memarahi tanpa suara.

"Kamu kurusan atau Mama yang salah lihat?" tanya Bu Sri.

Pak Harto tertawa pelan. "Baru juga turun, Bu. Kasih anaknya minum dulu."

Bima menatap pria itu. Pak Harto hidup sederhana. Sandalnya usang, kemejanya pudar di bagian kerah. Cara ia mengambil koper dari tangan Bima begitu otomatis, seolah beban anaknya memang harus ia angkat.

"Biar saya bawa, Pak," kata Bima.

Pak Harto berhenti sebentar. Ia menatap Bima, agak heran.

Biasanya, Bima lama selalu membiarkan koper itu diambil.

"Tidak apa-apa," kata Bima, mengambil kembali kopernya dengan tenang. "Bapak capek. Biar saya."

Ratna menyipitkan mata. "Wah. Bandung mengubah orang."

"Terminal juga bisa mengubah orang," jawab Bima.

Ratna tertawa. Bu Sri ikut tersenyum, tapi matanya masih memperhatikan wajah putranya. Ada sesuatu yang berubah, dan naluri seorang ibu mencium itu lebih cepat daripada sistem mana pun.

Rumah keluarga Liem berada di gang kecil tak jauh dari pasar Waringin. Rumah itu layak, meski tampak bertahan dengan hati-hati. Cat pagarnya mulai kusam. Di ruang depan ada kipas angin tua, dua kursi kayu, dan foto keluarga yang tergantung sedikit miring. Dari dapur, aroma bawang goreng dan kuah opor membuat Ratna langsung berteriak, "Mama, aku lapar!"

"Kamu itu yang pulang dari terminal atau Mas Bima?" Bu Sri memukul pelan lengan Ratna dengan serbet.

Suara mereka memenuhi rumah kecil itu.

Bima berdiri di ambang ruang tamu beberapa detik lebih lama dari seharusnya.

Di dunia lamanya, pulang hanya berarti membuka pintu kamar sewaan yang lampunya kadang berkedip. Di sini, bahkan omelan pun terasa seperti sesuatu yang punya akar.

Panel SBE muncul pelan.

[Stabilitas emosional meningkat.]

[Tuan Rumah menemukan jangkar keluarga.]

Bima menatap panel itu. "Kamu juga ikut sentimental?"

[Komentar tidak relevan.]

[Poin +1]

Bima hampir tersenyum. Bahkan sistem pun bisa tersinggung.

Malam belum turun ketika ia masuk ke kamar lama Bima Liem. Kamar itu sempit, tapi rapi. Ada meja belajar, rak buku bekas, dan satu kasur yang seprai birunya sudah pudar. Dari luar terdengar Bu Sri menyuruh Ratna membeli gula dan minyak goreng di toko kelontong dekat pasar.

Bima mengunci pintu.

"Baik," gumamnya. "Kita lihat hadiah pertama."

Panel SBE terbuka.

[Poin: 520]

[Level: 2]

[Undian Gratis: 1]

Bima menekan tombol itu.

Lingkaran cahaya muncul di udara. Lima warna berputar: putih, hijau, biru, ungu, emas. Putarannya cepat, lalu melambat tepat ketika jantung Bima ikut menahan satu ketukan.

Cahaya berhenti di hijau.

[Selamat!]

[Anda memperoleh: Kapsul Penguatan Tubuh (Dasar).]

[Kualitas: Biasa / Hijau.]

[Efek: meningkatkan stamina, kekuatan, refleks, dan daya tahan tubuh ke tingkat atlet pemula.]

Sebuah kapsul kecil muncul di telapak tangannya. Warnanya hijau pucat, dingin, dan terlalu ringan untuk benda yang katanya bisa mengubah tubuh.

Bima tidak langsung menelannya. Ia membaca keterangan dua kali. Tidak ada efek samping. Tidak ada syarat aneh. Tidak ada kalimat kecil yang mengatakan ia akan berubah menjadi makhluk lain.

"Kalau kamu menipu, aku akan menuntut sistem," katanya.

[Silakan. Yurisdiksi tidak ditemukan.]

[Poin +3]

Bima menelan kapsul itu.

Rasa dingin turun ke tenggorokan, lalu pecah di dada seperti air es yang berubah menjadi api. Otot-ototnya menegang. Tulang punggungnya terasa ditarik lurus. Napasnya berhenti setengah detik. Tubuhnya seperti tiba-tiba mengingat cara bekerja yang lebih baik.

Keringat keluar dari pori-porinya.

Bima menahan suara. Tangannya mencengkeram tepi meja. Tiga puluh detik kemudian, tekanan itu hilang.

Ia berdiri di depan cermin kecil di pintu lemari.

Wajahnya masih sama. Tubuhnya tetap wajar. Bahunya lebih tegap. Pinggangnya terasa ringan. Napasnya panjang. Ketika ia mengepalkan tangan, ada tenaga padat yang bergerak dari lengan sampai buku-buku jarinya.

Bima mengambil koper kecilnya dengan dua jari.

Ringan.

Sebelumnya koper itu normal. Sekarang seperti kotak kosong.

Panel SBE berkedip.

[Penguatan selesai.]

[Poin tersisa: 303]

Bima meletakkan koper perlahan.

Hadiah pertama datang dalam bentuk yang jauh lebih praktis.

Tubuh.

Di dunia yang senang memaksa orang baik mengalah, tubuh yang lebih kuat berarti ia punya satu alasan lebih sedikit untuk takut.

"Mas Bima!" suara Ratna mengetuk pintu. "Mama suruh beli gula sama minyak. Kamu mau ikut? Sekalian aku traktir es teh. Tapi bayarnya pakai uang kamu."

Bima membuka pintu. Ratna langsung berhenti bicara.

"Kenapa?" tanya Bima.

Ratna menatapnya dari atas ke bawah. "Mas... kamu tadi mandi?"

"Belum."

"Kok kelihatan lebih... segar?"

"Efek pulang kampung."

"Bohong. Pulang kampung biasanya bikin orang lecek."

"Berarti aku pengecualian. Ayo."

Toko kelontong dekat pasar penuh orang yang membeli kebutuhan Lebaran terakhir. Karung beras ditumpuk di depan. Minyak goreng, gula, telur, sirup, dan biskuit kaleng memenuhi rak sempit. Ratna mengambil keranjang kecil, sementara Bima berdiri di belakangnya, memperhatikan arus orang.

Ia baru menyadari efek kapsul itu di tempat ramai.

Suara jadi lebih terpisah. Langkah orang di belakangnya, plastik diremas, uang koin jatuh di meja kasir, semua terdengar jelas. Matanya menangkap gerak lebih cepat. Seorang anak hampir menabrak tumpukan telur, dan tangan Bima sudah menahan bahunya sebelum telur itu jatuh.

"Eh, makasih, Mas," kata ibu anak itu gugup.

Bima mengangguk.

Ratna menatapnya lagi. "Serius, kamu aneh hari ini."

"Anak kecilnya hampir bikin telur pecah."

"Iya, tapi tanganmu cepat banget. Kayak editan video."

Sebelum Bima menjawab, seorang pria berkemeja kuning menyelip dari samping dan langsung meletakkan dua botol sirup di meja kasir, memotong antrean tiga orang.

Kasir muda itu membuka mulut, tapi ragu. Di belakang pria itu, seorang ibu tua memegang gula dua kilo dan minyak goreng, wajahnya lelah. Ratna spontan maju setengah langkah.

"Pak, antreannya dari belakang," kata Ratna.

Pria itu menoleh malas. "Saya cuma dua barang. Cepat kok."

"Kami juga cuma beberapa barang," balas Ratna.

Pria itu melihat Ratna, lalu Bima. Mungkin ia menilai mereka anak muda yang mudah ditekan. "Dik, ini mau Lebaran. Jangan ribut. Hormati orang tua sedikit."

Bima bergerak ke samping Ratna.

"Pak," katanya, "kalau umur bisa dipakai untuk memotong antrean, nenek di belakang Bapak harusnya berdiri paling depan."

Ibu tua yang tadi diam langsung terkejut. Beberapa pembeli menoleh.

Pria berkemeja kuning mendengus. "Saya buru-buru."

"Semua orang di sini punya urusan. Bedanya, yang lain masih punya malu."

Ratna menutup mulutnya. Kasir muda itu menunduk, tapi sudut bibirnya naik.

Wajah pria itu mengeras. "Kamu siapa?"

"Orang yang antre di belakang adik saya."

"Mau sok jago?"

Bima menatap dua botol sirup di meja kasir, lalu menggesernya pelan ke samping. Gerakannya tenang, tapi pria itu otomatis mundur ketika bahu mereka hampir bersentuhan. Entah karena tatapan Bima, entah karena tubuh Bima sekarang membawa tekanan yang tidak ia sadari.

"Saya tidak sok jago," kata Bima. "Saya cuma mengembalikan barang Bapak ke tempat yang sesuai: setelah orang yang datang lebih dulu."

Beberapa pembeli langsung bersuara.

"Iya, Pak, antre."

"Dari tadi kami juga nunggu."

"Lebaran bukan alasan nyerobot."

Pria itu melihat kerumunan yang mulai tidak memihaknya. Ia mendecak, mengambil botol sirupnya, lalu pindah ke belakang dengan wajah merah.

[Poin +27]

Ratna menatap panel yang tentu saja tidak bisa ia lihat, lalu menatap Bima. "Mas, sejak kapan kamu kalau ngomong bikin orang susah balas?"

"Sejak orang-orang terlalu gampang cari alasan."

Ibu tua di depan mereka tersenyum. "Terima kasih, Mas. Anak muda sekarang jarang yang berani menegur tapi tetap sopan."

Bima membantu mengangkat gula dan minyak ibu itu ke meja kasir. Benda dua kilo itu terasa seperti kapas.

Ratna memperhatikan lagi, kali ini lebih curiga.

Saat mereka pulang, langit Waringin sudah oranye. Ratna berjalan di sampingnya sambil membawa plastik kecil, sedangkan Bima membawa sisanya tanpa terlihat terbebani.

"Mas," kata Ratna tiba-tiba, "video bus itu kamu, ya?"

Bima berhenti setengah detik. "Video apa?"

Ratna mengangkat ponsel. Di layarnya, wajah Bima terlihat dari samping di dalam bus. Judulnya masih sama, penontonnya sudah melewati tujuh puluh ribu.

"Jangan pura-pura. Itu jaketmu. Itu tasmu. Itu gaya sok kalemmu."

"Kalau sudah tahu, kenapa tanya?"

Ratna tertawa keras. "Gila, Mas. Kamu viral sebelum sampai rumah. Mama belum lihat. Kalau lihat, dia pasti pingsan dulu baru marah."

"Jangan kasih lihat dulu."

"Tergantung. Kamu bayar es tehku berapa hari?"

Bima menatap adiknya. Gadis ini cerewet, jahil, dan terlalu cepat menangkap peluang. Tapi matanya bersih. Tidak ada rasa ingin memanfaatkan, hanya kegembiraan punya bahan meledek kakaknya.

"Tiga hari," kata Bima.

"Seminggu."

"Empat hari."

"Deal. Aku murah hati karena Lebaran."

Mereka pulang dengan kesepakatan konyol itu. Untuk pertama kalinya sejak terbangun di bus, Bima merasa dunia baru ini tidak hanya berisi orang yang harus dilawan.

Ada juga orang yang harus dijaga.

Malam itu, setelah makan, ponsel Bu Sri berdering. Nama di layar membuat Pak Harto yang sedang minum teh langsung menurunkan gelas.

Tante Lina.

Bu Sri menekan tombol speaker karena tangannya masih sibuk merapikan piring.

"Sri, sudah siap-siap belum?" Suara perempuan di seberang terdengar manis, terlalu manis. "Besok kami mampir. Darmawan juga ikut, Siska juga. Kasihan Mas Harto, Lebaran masa sepi-sepi saja. Biar rumah kalian agak ramai."

Ruang makan kecil itu langsung berubah sunyi.

Pak Harto tersenyum kaku. Bu Sri menjawab ramah, tapi jari-jarinya berhenti bergerak. Ratna, yang tadi masih bercanda, langsung memutar mata.

Bima mendengar nada di balik kata-kata itu.

Kasihan.

Itu label, bukan perhatian.

Tante Lina melanjutkan, "Oh ya, jangan repot-repot masak banyak. Kami biasa makan yang agak bersih sekarang. Nanti kalau tidak sempat, kita makan di luar saja. Darmawan tahu restoran yang layak."

Ratna mengepalkan sendok.

Bu Sri masih tersenyum. "Iya, Mbak Lina. Besok kami tunggu."

Telepon ditutup.

Beberapa detik tidak ada yang bicara.

Pak Harto menghela napas. "Namanya juga saudara. Sudah, jangan dipikirkan."

Kalimat itu lembut, tapi Bima mendengar lelah di dalamnya. Lelah yang sudah bertahun-tahun dipaksa terlihat sabar.

Panel SBE muncul.

[Pemerasan Moral Keluarga terdeteksi.]

[Target awal: Tante Lina.]

[Misi lanjutan sedang disiapkan.]

Ratna menatap Bima. "Mas, besok pasti Tante Lina pamer lagi. Tolong kamu jangan terpancing, ya. Mama nanti sedih."

Bima mengambil gelasnya, minum seteguk, lalu meletakkannya dengan tenang.

"Besok kalau Tante Lina datang, duduk tenang saja," katanya.

Ratna mengerutkan dahi. "Maksudnya?"

Bima tersenyum tipis.

"Biar Mas yang urus."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!