NovelToon NovelToon
Dilema Antara Ibu Dan Istriku

Dilema Antara Ibu Dan Istriku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pihak Ketiga / Keluarga & Kasih Sayang / Penyesalan Suami / Romansa / Cinta Murni / Berbaikan
Popularitas:13.4k
Nilai: 5
Nama Author: Oktapia Jumiati

Bagaimana rasanya berada di situasi dimana seorang pria memposisikan dirinya di antara dua pilihan, di satu sisi ia tidak ingin di cap sebagai anak durhaka dan selalu berusaha berbakti ke pada sang ibu, namun di sisi lain ia juga harus bersikap adil dan berusaha melindungi hak dan martabat sang istri, namun ternyata semua tak semudah seperti yang ia bayangkan, sebab ternyata sang ibu tidak menyukai wanita yang ia dipersunting sebagai istrinya, konflik yang terus terjadi di antara sang ibu dan istri membuat sang pria dilema dan frustasi, apa yang akan dilakukan sang pria agar ibunya mau menerima dan menghargai wanita pilihannya, dan akankah sang istri bisa bersabar dan bertahan, yuk kita cari tau bersama🤭🤭🤭

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oktapia Jumiati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

" Gimana semuanya udah sesuai dengan yang aku mintakan, awas jangan sampe gagal," ucap Sari dengan wajah serius.

" Tentu tenang aja, asalkan sesuai kesepakatan, setelah tugas gue selesai loe harus bayar gue,hahahaha," ucap sang pria dengan raut wajah menggoda.

"Asalkan semua berjalan lancar, jangan kan uang, tubuhku juga akan kamu dapatkan, tapi ingat jika gagal jangan pernah sebut namaku," jawab Sari sekaligus memberi peringatan.

"Nggak ada satupun tugas yang gue terima berakhir gagal, makanya gue berani minta mahal, apalagi kali ini tugas yang gue dapet sangatlah mudah, pasti berhasil," jawab sang pria dengan sangat meyakinkan.

" bagus," jawab Sari tersenyum licik.

" akhirnya aku akan mendapatkan mu Mas, kali ini nggak akan ada yang bisa menggagalkan rencanaku, termasuk istrimu yang bodoh itu, aku sudah tak sabar sebentar lagi hidupku akan kembali terjamin,hahahaha," Sari bermonolog riang.

Di sisi lain***

" Ayo kita sudah sampai, Adek sama Riza duluan aja ya, Mas mau nurunin semua barang-barang yang ada di dalam, nggak pa-pa kan Dek," ucap Putra lembut.

" Bisa kok Mas, tenang aja tapi beneran Mas bisa, nggak perlu Aku bantu," jawab Seina balik bertanya.

" Bisa, lagian banyak orang jadi Mas bisa minta bantuan yang lain, kamu masuk aja sama Riza pasti udah banyak keluarga besar yang sudah datang," jawab Putra tersenyum.

Seina dan Riza berjalan beriringan, banyak pasang mata yang melihat, bisik-bisik tetangga mulai terdengar, bagi mereka yang tau siapa Seina maka sudah pasti akan menyapa, sedangkan yang tidak tau akan diam sambil melirik sekilas, dan yang kepo sudah pasti tak akan segan bertanya tuk dapat informasi update.

" Eh Nak....ayo masuk, Bule barusan nanyain soal kamu sama Ima tapi dia malah diem dan nggak jawab, hubungan kalian masih sama ya ?" ucap Bule Intem, saudara perempuan dari mendiang Ayah Mertua.

" Hehehe, ya begitulah Bule, Doain aja semoga Ibu mau nerima aku, dan hubungan kami jadi lebih baik," jawab Seina apa adanya.

" hhmmmm, Bule kadang bingung apa yang membuat Ima nggak suka sama kamu Nak, padahal apa yang kurang dari kamu, ya sudahlah semoga aja kelak Ibu Mertua kamu itu sadar dan kelak hubungan kalian bisa membaik dan jadi Ibu dan Menantu seperti semestinya, " ucap Bule Intem setulus hati.

" ya sudah Bule, Seina sama Riza mau masuk dulu, sekalian nemuin Ibu," jawab Seina dengan sopan.

" eh Riza udah besar ya, iya sana temui Ibu kamu, Bule juga mau keluar buat bantu ngawasin yang di sana," Balas Bule Intem menjawab.

Seina melanjutkan langkah kakinya, Ia berjalan sembari melirik sana sini, mencari posisi sang Ibu mertua, dan Akhirnya Seina menemukan posisi sang Ibu Mertua yang kini sedang mengawasi orang-orang yang sedang sibuk bekerja, membantu persiapan syukuran nanti.

" Nah itu Ibu, ayo Riza kita kesana !" ucap Seina menatap sang Anak.

" Ibu aja ya yang ketemu Nenek, Riza ngantuk bu dari tadi Riza tidurnya ke ganggu terus," ucap Riza dengan wajah mengantuk.

" Ya ampun maaf ya Nak, maaf Ibu lupa kamu dari tadi bilang masih ngantuk tapi Ibu malah cuek, ya udah kamu balik ke kamar aja sekarang, biar Ibu yang nemuin Nenek di sana," jawab Seina merasa bersalah.

" Iya Bu," jawab Riza berjalan menuju kamar tamu.

Setelah melihat Riza masuk ke dalam kamar, Seina melanjutkan niatnya.

" Assalamu'alaikum Bu, maaf baru sampai," ucap Seina sopan sembari mengecup punggung tangan sang Ibu mertua.

Dengan raut muka tak bersahabat, Ima memaksakan tersenyum ketika melihat sosok yang ia tak sukai datang, namun Ima sadar jika sang anak datang seorang diri pasti akan jadi gosip nantinya, apalagi sanak saudara dari mendiang suaminya juga sudah hadir, tidak mungkin Ima mau dengan suka hati membuka topeng keburukannya sendiri, bisa jatuh harga dirinya jika keluarga dan kerabat yang lain tau jika hubungannya dengan sang Menantu tak sebaik yang mereka pikirkan.

" wa'alaikumusalam, iya nggak masalah, terus dimana Putra dan Riza, kok nggak ada ?" jawab Ima dengan nada malas.

" Ada kok Bu, Riza di kamar dan Mas Putra masih di luar, tadi kebetulan bawah beberapa barang buat tambahan di sini," jawab Seina lembut.

" oooo," Ima menjawab singkat.

" Huh, dasar menantu tak tau diri, bilang aja kalau mau caper kan, nggak akan berhasil sama saya, kamu kira dengan bawah banyak barang saya langsung lulu, mimpi," Ima bermonolog kesal.

" Iya Bu, ada yang perlu Seina bantuin!" ucap Seina bertanya.

" Nah Pas banget, kamu mau nyari muka kan, sini aku kasih tapi setelah ini jangan menyesal saja, aish bikin kesel aja," ucap Ima kembali bermonolog.

" Huh, oh iya ada kebetulan ada, tolong kamu kebelakang terus temui Ina bilang aja Ibu yang nyuruh," jawab Ima berpura-pura bersikap baik.

" oh Iya Bu, ya udah Seina ke belakang dulu kalau gitu, kalau Mas Putra atau Riza Tanya tolong kasih tau aja ya Bu kalau Aku di belakang,"jawab Seina tersenyum tulus.

" hahahaha, rasakan kamu Seina, selamat bermain dengan semua jeroan yang banyak itu, siapa suruh sok akrab dan nyari perhatian, jadi tanggung sendiri akibatnya," gumam Ima dengan ekspresi puas.

Di saat Seina berjalan ke bagian belakang rumah, Seina baru ingat jika ia lupa menanyakan di mana posisi Ina, karena sudah terlanjur Seima memilih bertanya dengan beberapa orang yang berada di sana.

" Maaf Bu, yang namanya Ina mana ya!" ucap Seina bertanya dengan sopan.

" Ina! Oh itu orangnya, yang berdiri di sudut, tapi ngomong-ngomong anak ini siapanya Ina ya, kok Ibu belum pernah liat," jawab sang Ibu sembari bertanya.

" Oh makasih Bu, nama Saya Seina Bu, saya menantunya Bu Ima, tadi di suruh nemuin Ina buat bantu-bantu di sini," jawab Seina dengan senyum di wajah.

" oalah....mantunya Ima toh, maaf ya Nak, maklum Ibu baru pertama ketemu di sini, ya udah sana temui Inanya," jawab sang Ibu tak enak hati.

" Iya bu, saya permisi," jawab Seina dengan sopan.

Setelah tau yang mana orang yang di cari, Seina bergegas menemuinya, dan di saat Seina menyapa Ina dan tau pekerjaan apa yang ia akan kerjakan, Seina tersenyum dengan wajah sinis nya, ternyata dirinya sudah salah berharap sang mertua akan bersikap baik di saat susana sedang ramai oleh parah sanak saudara, kerabat dan tetangga, nyatanya sang Ibu mertua masih bisa melancarkan aksinya menunjukkan rasa tak sukanya kepada dirinya, terbukti dengan sengaja sang Ibu mengarahkan Seina bertugas di belakang hanya untuk membantu membersihkan sekantong besar jeroan sapi, sungguh miris nasibnya pikir Seina.

Di saat Seina dengan wajah kesal dan membantu dengan rasa terpaksa, Putra masih sibuk di bagian depan rumah, setelah Putra selesai menurunkan semua barang bawaan dari dalam mobil, Putra berniat menemui sang Istri di dalam, namun baru melangkah Ia bertemu dengan sang Ibu, saat Putra ingin bertanya soal Seina, sang Ibu lebih dulu meminta Putra untuk membantu mengawasi pekerja yang sibuk memasang dekorasi dan kursi, sehingga dengan terpaksa Putra hanya mengangguk setuju.

Putra sibuk di bagian depan rumah, sedangkan Seina masih sibuk membantu membersihkan jeroan sapi di bagian belakang rumah, tanpa ada yang tau seseorang diam-diam masuk kedalam kamar Tamu, dimana Riza saat ini tengah tertidur lelap.

" Sungguh mudah sekali kerjaan gua kali ini, cukup tangkap nih anak, bawah kabur setelahnya gua cukup tunggu, jika semua selesai sesuai rencana gua bisa libur seminggu buat seneng-seneng plus dapet servis gratis pula, sungguh nikmat mana lagi yang kau dustakan, hahahaha," ucap Sang Pria dengan nada berbisik.

Sang Pria melancarkan aksinya, ia membekap hidung Riza dengan kain yang sudah di tetesi obat tidur, setelah berhasil sang Pria segera membungkus Riza dengan kain dengan posisi Riza di ikat posisi duduk dengan tangan dan kaki terikat.

Bak seorang pencuri yang sudah ahli, Sang Pria berhasil membawa Riza keluar dari kamar dan sekarang sang Pria mengendarai mobil menuju tempat persembunyian yang sudah di sepakati oleh Sang Pria dan Sari.

Tut...tut...tut..." Halo, ya gimana udah beres," ucap Sari melalui sambungan telepon.

" Kalau gue telepon loe itu artinya gua berhasil, jadi silakan loe lanjutin rencana berikutnya, kalau udah temui gue di tempat yang udah kita sepakati kemaren, buruan gua udah nggak sabar pengen loe servis, batang gue udah mau ngamuk minta di gesek," ucap Sang pria sedikit frontal.

" aish....kalau bukan karena aku butuh bantuannya buat melancarkan rencana buat dapetin Mas Putra, ogah banget berurusan sama manusia setengah waras ini," umpat Sari dalam hati.

" Iya...tenang aja, setelah rencana yang aku buat berhasil di jalankan kamu akan mendapatkan semuanya, jadi tunggu dan jagain tuh Anak jangan sampe lepas," ucap Sari menjawab.

Tanpa menunggu lama, Sari yang memang sedari awal menunggu telepon dari Sang Pria akhirnya tersenyum senang, kini ia akan melanjutkan rencananya yang selanjutnya, Sari dengan wajah bahagia sudah tak sabar mengendarai motornya menuju kediaman Bu Ima.

" akhirnya sampai juga, ayo Sari kita lanjutkan rencana cemerlang mu ini, pastikan hari ini kamu akan mendapatkan Mas Putra, dan setelahnya kamu bisa menikmati hidup mewah mu lagi, hahahaha," ucap Sari menyemangati diri sendiri.

Sari bergegas turun dari motor dan melangkah menuju rumah Bu Ima, dirinya tak sabar mencari target yang ia cari sedari awal.

"Akhirnya ketemu juga target yang aku cari, mari kita mulai Sari,"ucap Sari pelan.

Tanpa Seina sadari kini bencana besar tengah menanti dirinya, meskipun Seina tau jika Sari pasti akan melakukan hal kotor untuk mendapatkan apa yang ia inginkan, namun Seina tak tau jika kali ini dirinyalah yang di jadikan target utama bukan Putra seperti sebelum-sebelumnya.

" Ehem...ehem, Hay Seina mau di bantu nggak, sini kebetulan aku baru datang juga, pasti kamu capek kan," ucap Sari sengaja dengan nada mengejek.

" Nggak usah dan nggak perlu juga, telat bentar lagi selesai, lagian tumben kamu mau deket sama aku, pasti ada yang kamu rencanakan, ngaku kamu," ucap Seina dengan raut wajah curiga.

" Kalau ia kenapa ! Lagian Aku yakin kali ini Kamu nggak bisa menghalangi rencana yang Aku buat, kamu tau kenapa, sebab kamu sendiri yang akan bantu Aku buat memastikan jika rencana yang aku buat akan berjalan lancar," jawab Sari dengan percaya diri.

" Mimpi....Kamu pikir aku bodoh, mana mungkin Aku mau bantuin buat menjalankan aksi kotor mu, apalagi Aku tau niat kamu dari awal udah nggak bener, Aku nggak akan biarin Kamu buat dapetin apa yang Kamu mau termasuk buat merebut Mas Putra ataupun Ibu Mertua Aku," ucap Seina dengan nada emosi.

" benarkah! Meskipun itu artinya Kamu harus siap kehilangan anak yang Kamu sayangi, hahaha," ucap Sari dengan nada provokasi.

" Apa maksud kamu?" ucap Seina bingung.

" Bantu aku menjalankan rencana tuk dapetin Mas Putra, atau Kamu lebih memilih melihat anak yang kamu cintai kaku berubah menjadi mayat," ucap Sari dengan nada mengintimidasi.

"Kamu....,"ucap Seina tertahan.

Seina sangat marah dan sedih di saat bersamaan, ia tak mungkin memilih salah satu diantara anak dan suami, tapi mendengar ucapan dari Sari sebelumnya, Seina di landa rasa gelisah, apa yang akan ia lakukan sekarang, apapun pilihan yang akan Seina pilih tak ada yang menguntungkan, sungguh cobaan apa lagi yang ia tengah hadapi sekarang, apa ini saatnya ia merelakan semuanya, membiarkan sang suami direbut wanita lain dan berakhir menjanda namun ia masih memiliki sang Anak di sisinya, atau tetap bersikap egois mempertahankan Sang Suami dengan resiko terburuk sang anak menjadi korbannya, apakah dirinya siap dilanda rasa bersalah di sisa hidupnya, sungguh Seina tak bisa berfikir, seakan otaknya di paksa untuk berhenti bekerja, tatapan kosong di mata Seina telah menunjukkan betapa berat tekanan batin yang ia rasakan sekarang.

1
Nadine Alexandra pardede
ceritanya bagus banget /Drool/
falea sezi
cerai kan seina nikah aja ama. jalang sari sana
falea sezi
wah parah kena perangsang
falea sezi
bkin cerai aja lah seina kasian kasih jodoh yg gk. berlindung di bawah kaki. emaknya
falea sezi
namanya jumi apa seina sih
OPJ: makasih udah komen, buat nama pemeran utama tokoh perempuan namanya saya revisi kak dari jumi jadi seina 🙏
total 1 replies
falea sezi
mertua gendeng
Alby Mukfu
kacau 😂 semoga istrinya dtng
OPJ
harus percaya diri kan kalau karya aku bakal disukai
OPJ
makasih atas komennya🥰🙏
Mưa buồn
Buat saya, ini sih cerita yang harus masuk ke dalam top chart semua platform.
yeqi_378
Aduh, cliffhanger-nya bikin saya gak tahan nunggu, ayo lanjutkan thor!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!