NovelToon NovelToon
Terjebak Nikah Kilat dengan Kapten Dingin yang Diam-diam Memujaku

Terjebak Nikah Kilat dengan Kapten Dingin yang Diam-diam Memujaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Kapten
Popularitas:8
Nilai: 5
Nama Author: Elara Aisyah

**Demi menyelamatkan pernikahan mewah sang kakak, Kayla dijadikan tumbal keluarga sendiri.**

Diberi obat bius, dijebak masuk ke kamar hotel untuk dijadikan "simpanan" demi melahirkan ahli waris keluarga Chandra—begitulah rencana kakak dan calon iparnya. Tapi takdir salah alamat: nomor kamar tertukar, dan Kayla justru terdampar di suite **Kapten Adrian Gunawan**, pria berwajah dingin yang katanya paling anti disentuh perempuan.

Malam itu mengubah segalanya.

Untuk lepas dari jeratan keluarga yang ingin menjual harga dirinya, Kayla nekat menikah kilat—dan pria yang dijodohkan padanya, entah kebetulan atau takdir, ternyata Adrian yang itu juga.

*"Kalau kau berharap bisa menjebakku dan menuntut tanggung jawab, jangan harap."*
*"Kebetulan sekali. Aku juga tidak mau kau bertanggung jawab,"* balas Kayla dingin.

Semua orang mengira pernikahan ini cuma kontrak tiga tahun yang cepat atau lambat berakhir cerai. Semua orang mengira Kapten Adrian tidak mungkin mencintai dokter IGD berlatar keluarga toko sembako itu.

Sampai orang-orang mulai memergoki sang kapten dingin memapah istrinya dengan sebutan *"sayang"* di setiap kalimat…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Bab 10

Manis-manis Kaku Pengantin Baru

Satu minggu setelah keluarga Chandra diusir, Kayla menemukan dua kotak makanan di atas meja dapur.

Kotak pertama bertuliskan `Sarapan Adrian`.

Kotak kedua bertuliskan `Sarapan Kayla, porsi satu orang`.

Kayla baru pulang jaga malam. Ia membuka kotaknya dan menemukan bubur ayam, satu telur, serta dua potong buah. Tidak ada lauk berlebihan yang biasanya memenuhi meja keluarga kaya.

Adrian keluar dari ruang olahraga dengan handuk di leher. "Kenapa hanya dilihat?"

"Aku sedang mencari jamuan untuk sepuluh orang."

"Kau bilang tidak suka membuang makanan."

Kayla mengingat makan malam pertama mereka di rumah. Adrian memesan enam jenis makanan karena tidak tahu apa yang disukainya. Separuh berakhir di lemari pendingin dan Kayla menghabiskan dua hari membawanya sebagai bekal.

"Kau mengingatnya?"

"Kau mengomel selama dua puluh menit. Sulit dilupakan."

"Aku tidak mengomel. Aku menjelaskan."

"Dengan nada mengomel."

Kayla duduk sambil membawa kotaknya. "Setidaknya sekarang kau belajar."

"Sekretaris Yusuf yang memesan. Aku hanya memberi instruksi."

"Tetap dihitung belajar."

Adrian membuka lemari dan mengambil kopi. Di papan kecil dekat kulkas, ia sudah menulis jadwal penerbangan selama empat hari ke depan. Jakarta, Surabaya, Makassar, lalu kembali ke Jakarta.

"Aku berangkat siang ini," katanya. "Besok malam menginap di Makassar. Kalau ada perubahan jadwal, aku kabari."

"Aku jaga malam lagi besok."

"Pulang ke apartemen dekat rumah sakit. Jangan menyetir ke PIK setelah tiga puluh jam tidak tidur."

"Aku tidak pernah jaga tiga puluh jam."

Adrian menatapnya.

Kayla menyuap bubur. "Baik. Pernah sekali."

"Gunakan sopir atau apartemen."

Nada suaranya terdengar seperti perintah kapten. Kayla seharusnya merasa terganggu. Namun ia tahu laki-laki itu sudah meminta Yusuf menyimpan nomor sopir rumah sakit dan memastikan apartemen hadiah memiliki perlengkapan dasar.

Perhatian Adrian selalu berbentuk daftar dan prosedur.

"Kirim jadwalmu ke nomor pribadiku," kata Kayla. "Nomor ini terlalu banyak grup rumah sakit. Pesanmu bisa tenggelam."

"Kau punya nomor kedua?"

"Untuk keluarga dan teman dekat."

Adrian mengulurkan ponsel. Mereka bertukar nomor, lalu Kayla menyimpan kontaknya sebagai `Adrian Rumah`.

Adrian melihat layar. "Mengapa bukan suami?"

"Karena aku tidak punya Adrian lain di rumah."

Beberapa detik kemudian, pesan masuk ke nomor baru Kayla.

`Simpan sebagai Suami.`

Kayla mengganti nama kontaknya menjadi `Kapten Cicilan` dan memperlihatkannya.

"Ini sesuai kesepakatan kita di depan keluarga Halim."

Adrian menghela napas, lalu memasukkan ponsel ke saku. "Aku berangkat sebelum terlambat."

Ia berjalan dua langkah, berhenti, lalu kembali mengambil kotak makan Kayla yang hampir terjatuh dari tepi meja dan menggesernya ke tengah.

"Habiskan."

Pintu tertutup di belakangnya.

Kayla menatap nama kontak di layar dan tersenyum sendiri.

Di RS Sentosa, Tiana memperhatikan perubahan itu bahkan sebelum Kayla sempat bercerita.

"Kau tersenyum pada ponsel."

"Tidak."

"Kau tersenyum. Aku punya mata."

Mereka berjalan menuju kantin setelah ronde pasien. Kayla menceritakan kotak sarapan satu orang, papan jadwal, dan nomor pribadi tanpa menyebut perasaan apa pun.

Tiana mendengarkan sambil mengaduk es kopi. "Ini sudah tidak terdengar seperti kontrak."

"Kami hanya sedang belajar tinggal bersama."

"Dia mengingat kau tidak suka makanan terbuang."

"Karena aku menjelaskan cukup panjang."

"Dia mengirim jadwal penerbangan."

"Itu aturan rumah."

"Kau memberi nomor yang hanya dimiliki keluarga dan teman dekat."

Kayla berhenti mencari jawaban.

Tiana tersenyum puas. "Nah."

"Aku baru mengenalnya."

"Hati tidak meminta hasil pemeriksaan laboratorium sebelum mulai tertarik."

"Kalimatmu semakin buruk sejak mengenal Oma Melly."

"Aku belajar dari yang terbaik."

Dua hari kemudian, Kayla menyelesaikan jaga malam pukul enam lewat dua puluh. Ketika keluar dari pintu samping IGD, ia melihat seorang laki-laki berdiri di dekat mobil hitam sambil memegang setangkai mawar merah.

Adrian masih mengenakan seragam kapten. Empat garis emas terlihat di bahunya. Wajahnya tampak lelah, tetapi ia berdiri setegak saat pertama kali masuk kokpit.

"Kau baru mendarat?" tanya Kayla.

"Satu jam lalu."

"Kenapa tidak langsung pulang?"

Adrian menyerahkan mawar itu. "Kebetulan lewat."

Kayla melihat jalan raya. Bandara dan PIK berada di arah yang sama. RS Sentosa tidak.

"Lewat mana?"

"Jalan memutar."

"Dan bunga ini juga kebetulan ada di mobil?"

"Yusuf membelinya terlalu banyak untuk kantor."

Seorang laki-laki berkemeja rapi yang berdiri beberapa meter di belakang mereka hampir tersedak. Ia pasti Sekretaris Yusuf.

"Pak Adrian meminta saya mencari satu tangkai terbaik sejak subuh," katanya jujur.

Adrian menoleh pelan. "Yusuf."

"Saya pamit, Pak."

Yusuf segera masuk ke mobil lain.

Kayla menahan senyum dan menerima bunga tersebut. Kelopaknya masih dingin, dibungkus kertas cokelat sederhana.

"Terima kasih."

"Jangan salah paham."

"Aku belum mengatakan apa-apa."

"Wajahmu mengatakan banyak hal."

Tiana muncul dari pintu IGD bersama dua perawat. "Akhirnya bunganya diterima juga!"

Kayla menoleh. "Akhirnya?"

"Kapten Adrian sudah berdiri di sini setengah jam. Foto dirinya memegang mawar sudah masuk grup rumah sakit."

Salah satu perawat memperlihatkan layar. Foto Adrian sedang menunggu telah mendapat puluhan komentar.

`Suami dr. Kayla romantis sekali.`

`Dingin-dingin ternyata bucin.`

Kayla menatap Adrian. "Katanya baru lewat."

"Aku datang lebih cepat dari perkiraan."

"Setengah jam?"

"Penerbangan juga kadang mendarat lebih awal."

Ia membukakan pintu mobil sebelum Kayla menemukan balasan.

Di dalam, ada dua porsi mi sapi hangat dari kedai sarapan yang sering didatangi staf rumah sakit.

Satu porsi untuk masing-masing.

Tidak lebih.

Mereka tidak memakannya di mobil. Adrian membawa Kayla ke kedai kecil di seberang rumah sakit dan memilih meja paling pojok. Seragam kaptennya menarik beberapa tatapan, tetapi ia hanya menggulung lengan kemeja lalu membagi sumpit.

"Kenapa IGD?" tanyanya tiba-tiba.

"Kenapa bertanya sekarang?"

"Kita tinggal serumah, tetapi aku hanya tahu kau suka menghabiskan makanan dan tidur setelah jaga."

Kayla mengaduk kuah. "Di IGD, orang datang tanpa sempat memilih dokter. Kaya, miskin, baik, menyebalkan, semuanya harus ditolong berdasarkan kondisi. Tidak ada yang bertanya aku anak kandung atau anak angkat sebelum membiarkanku mengambil keputusan."

Adrian diam sejenak. "Karena di sana kemampuanmu yang menentukan."

"Ya." Kayla memandang empat garis emas di bahunya. "Kalau kau? Kenapa menjadi kapten kalau keluargamu sudah menyediakan perusahaan?"

"Di udara, nama Gunawan tidak bisa menjaga pesawat tetap terbang. Keputusan yang benar bisa."

Jawaban mereka ternyata tidak jauh berbeda.

Kayla memakan satu suap mi. "Jadi kau melarikan diri dari keluarga ke kokpit."

"Dan kau melarikan diri ke IGD."

"Aku menyebutnya memilih karier."

"Aku juga."

Mereka saling menatap, lalu tertawa kecil hampir bersamaan.

Untuk pertama kalinya, Kayla melihat laki-laki di balik seragam dan nama keluarga itu. Bukan pewaris, bukan penyelamat, hanya seseorang yang sama-sama ingin dinilai dari pilihannya sendiri.

Adrian menunjuk mawar di samping tasnya. "Bunganya jangan ditinggal."

"Bukankah itu sisa bunga kantor?"

"Tetap jangan ditinggal."

Kali ini Kayla tidak menahan senyumnya.

Saat mobil bergerak, Adrian berkata, "Setelah jadwalku dari Denpasar selesai, kita harus datang ke rumah utama Gunawan. Engkong tidak menerima penundaan lagi."

Kayla memandang mawar merah di pangkuannya.

Manisnya pagi itu belum sempat menetap ketika pintu keluarga Gunawan kembali muncul di depan mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!