NovelToon NovelToon
Tuan Adiwangsa Hanya Bergairah Kepadaku

Tuan Adiwangsa Hanya Bergairah Kepadaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / CEO / Disfungsi Ereksi
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Purnama

Seluruh Jakarta percaya Narendra Adiwangsa impoten.

Tiga puluh lima tahun hidupnya, pewaris Grup Adiwangsa itu tak pernah menginginkan perempuan. Bahkan dua tahun menikah, ia tak pernah menyentuh istrinya. Setelah perceraian, semua orang yakin satu hal—Narendra memang “tidak bisa”.

Narendra tak pernah repot membantah.

Sampai Sekar Melati Wardani muncul di hadapannya.

Perancang kebaya dari Bekasi itu bukan siapa-siapa. Tak punya nama besar, tak punya harta, bahkan keluarganya sendiri menganggapnya barang tukar demi mahar. Namun saat Narendra melihat Sekar mengenakan kebaya yang membungkus lekuk tubuhnya, sesuatu yang mati selama tiga puluh lima tahun tiba-tiba bangkit.

Untuk pertama kalinya, Narendra menginginkan seorang perempuan.

Bukan sekadar ingin menyentuhnya.

Ia ingin Sekar di rumahnya, di ranjangnya, dan memakai namanya.

Sekar mengira lelaki tampan di seberang apartemennya hanyalah pekerja kantoran biasa. Ia tak tahu Narendra sengaja menyewa tempat itu demi mendekatinya—dan semakin Sekar mencoba menjaga jarak, semakin pria itu kehilangan kendali.

“Katanya kamu tidak bisa?”

Narendra menarik pinggangnya hingga tubuh mereka menempel.

“Coba sendiri. Masih percaya rumor itu?”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 32

Rumah Angin

Hujan menutup halaman dalam waktu kurang dari semenit.

Sekar membantu Mbah Ginem memindahkan dua gulung kain yang sedang diangin-anginkan. Mereka membungkusnya dengan lapisan kertas bebas asam, lalu memasukkan setiap gulung ke kantong antilembap.

"Kainnya aman di sini," kata Mbah Ginem. "Kamu tidur di rumah saya saja."

Namun Sekar masih berharap bisa kembali ke penginapan kota. Ia menelepon pengemudi. Pria itu sedang menunggu di warung dekat jalan utama dan bersedia mencoba sampai titik penjemputan.

Sekar mengenakan jas hujan pemberian Narendra, memeluk tas dokumen di dada, lalu berjalan bersama seorang cucu tetangga menuju jalan besar.

Air mengalir setinggi mata kaki. Selokan meluap, dan lampu rumah tampak kabur di balik tirai hujan.

Mobil sewaan tiba dua puluh menit kemudian. Pengemudi turun dengan celana basah sampai lutut.

"Kita nggak bisa turun malam ini, Mbak."

"Jalannya putus?"

"Belum putus, tapi dekat tikungan bawah ada pohon jatuh. Dua titik tergenang, satu ada longsor kecil. Kalau hujan terus, mobil bisa terjebak."

Sekar melihat jalan gelap di belakangnya. Memaksa turun berarti membahayakan dua orang.

"Baik. Saya menginap di desa. Bapak kembali saja sebelum air naik."

"Saya jemput kalau jalannya dibuka besok."

Pengemudi memberi nomor pos desa, lalu pergi perlahan.

Mbah Ginem menyarankan sebuah homestay dekat sungai karena rumahnya sedang penuh oleh keluarga. Mereka berjalan tidak sampai sepuluh menit menuju bangunan kayu dua lantai dengan papan bertuliskan Rumah Angin.

Bu Tri, pemiliknya, menyambut Sekar dengan handuk dan teh panas.

"Kamar atas masih kosong. Menghadap sungai, tapi aman dari genangan," katanya. "Kalau hujan besar, suara air memang keras."

"Jalan turun sering begini, Bu?"

"Setiap musim hujan ada saja. Kadang banjir, kadang tanah turun. Hampir tiap tahun. Orang sini sudah biasa menunggu."

Kalimat itu terdengar menenangkan sekaligus tidak.

Kamar Sekar berada di lantai dua. Jendelanya menghadap sungai yang mulai cokelat dan deras. Tempat tidur kayu, lemari kecil, dan meja dengan termos air memenuhi ruangan sederhana itu.

Ia kembali ke rumah Mbah Ginem ditemani Bu Tri untuk mengambil satu gulung sampel serta dokumen pembayaran. Seluruh kain utama tetap disimpan di gudang tinggi, sudah terbungkus rapat. Sampel yang dibawa Sekar dimasukkan ke kantong kedap air dan diletakkan di atas lemari kamar, jauh dari jendela.

Baru setelah semua aman, ia menelepon Bu Laksmi.

"Jangan turun malam-malam," kata gurunya begitu mendengar kondisi jalan. "Pesanan bisa menunggu satu hari."

"Kainnya sudah dapat dan aman. Besok pagi kami hitung ulang."

"Bagus. Kirim foto kuitansinya."

Sekar mengirim dokumen, lokasi Rumah Angin, serta nomor Bu Tri. Bu Laksmi mengonfirmasi penerimaan laporan dan berjanji mengabari klien tentang kemungkinan keterlambatan satu hari.

Panggilan berikutnya kepada Narendra berlangsung lebih lama.

"Kamu bilang aman," ucapnya setelah Sekar selesai menjelaskan.

"Tadi memang aman. Hujannya datang mendadak."

"Sekarang kamu di mana?"

Sekar mengarahkan kamera mengelilingi kamar. "Rumah Angin. Homestay punya Bu Tri. Lantai dua."

"Kunci pintunya."

"Sudah."

"Jendelanya?"

"Juga sudah."

"Sungainya dekat sekali."

"Bu Tri bilang lantai ini aman."

Narendra berdiri dari kursinya di Jakarta. "Aku bisa minta Satria kirim mobil dari kota."

"Mobilnya tetap nggak bisa lewat kalau ada pohon dan longsor. Aku nggak mau orang lain ikut terjebak."

Ia terdiam. Sekar benar, tetapi tidak mengetahui jarak dan kondisi secara langsung membuatnya gelisah.

"Tiap hari telepon," katanya akhirnya. "Pagi dan malam. Jangan matikan ponsel. Kalau ada apa-apa, hubungi Satria."

"Nomornya masih tersimpan. Power bank juga penuh."

"Kirim lokasi langsung lagi."

Sekar melakukannya. Narendra kemudian meminta nomor Bu Tri dan pengemudi, lalu meneruskannya kepada Fikri.

"Mas belum pulang?" Sekar melihat latar ruang kerjanya.

"Aku akan pulang setelah Fikri dapat laporan jalan."

"Jangan begadang karena aku."

"Aku nggak bisa tidur kalau belum tahu kamu aman."

Sekar mendekatkan ponsel ke wajah. "Aku aman. Lihat, aku bahkan dapat teh jahe."

Ia menunjukkan cangkir dari Bu Tri. Narendra akhirnya tersenyum tipis.

"Minum sampai habis."

"Iya, Mas."

"Aku sayang kamu."

Sekar berhenti. Narendra belum pernah mengatakannya sejelas itu. Biasanya ia hanya menyebut Sayang sebagai panggilan.

"Aku juga sayang Mas," jawabnya pelan.

Sesudah panggilan berakhir, Narendra menghubungi Fikri.

"Pantau cuaca Jawa Tengah, rute Giriwangi, dan laporan longsor. Kalau statusnya memburuk, kabari aku kapan pun."

"Siap, Pak."

Fikri membuka laporan cuaca resmi, menghubungi pengemudi Sekar, lalu mencatat dua titik genangan dan satu longsor kecil. Belum ada penutupan wilayah, hanya imbauan agar kendaraan tidak melintas malam hari.

"Curah hujan diperkirakan menurun menjelang pagi," lapornya setengah jam kemudian. "Jaringan seluler masih aktif."

Narendra belum puas. Ia menelepon Satria.

"Orangmu bisa cek jalur dari sisi Klaten?"

"Bisa, tapi malam ini jangan kirim siapa pun masuk," jawab Satria. "Tanahnya sedang bergerak. Lebih aman Sekar tetap di desa sampai terang."

"Kalau sinyal hilang?"

"Hujan besar memang bisa memutus listrik. Itu belum berarti darurat. Kalau sampai pagi tidak ada kabar dan pos desa juga tidak bisa dihubungi, saya kirim tim dari dua sisi."

Narendra memandang lokasi langsung Sekar yang masih bergerak beberapa menit sebelumnya. "Kabari saya begitu ada perubahan."

"Pasti. Coba tidur, Nara."

Narendra tidak menjawab bagian terakhir. Ia menyimpan nomor pos desa, Bu Tri, pengemudi, dan Satria dalam satu catatan di ponsel.

Sekar, yang tidak tahu tentang perintah itu, turun sebentar untuk makan nasi hangat dan telur bersama Bu Tri. Pemilik homestay menunjukkan jalur keluar menuju halaman terbuka jika ada keadaan darurat.

"Kenapa harus ke halaman?" tanya Sekar.

"Cuma aturan rumah. Kalau alarm bunyi atau ada apa-apa, jangan turun lewat sisi sungai. Pakai tangga depan."

Sekar mengangguk dan mengingat jalurnya.

Hampir tengah malam, listrik sempat berkedip. Ia kembali ke kamar, memeriksa sampel kain, lalu menaruh ponsel di meja samping tempat tidur untuk diisi daya. Power bank berada di dalam tas dekat pintu.

Hujan memukul atap tanpa jeda. Suara sungai di bawah jendela semakin besar, seperti kendaraan berat yang tidak pernah lewat.

Sebelum tidur, Sekar membuka kembali voice note dari bandara.

Sayang, aku akan merindukanmu.

Ia membalas dengan rekaman baru meski Narendra mungkin sudah tidur.

"Aku aman di Rumah Angin. Besok pagi aku telepon lagi. Jangan khawatir terus, ya."

Pesan itu terkirim dengan dua centang sebelum listrik kembali berkedip.

Di Jakarta, Narendra memutarnya dua kali sebelum akhirnya menutup layar.

Sekar mematikan lampu dan menarik selimut.

Ponselnya tetap terhubung ke kabel di samping bantal.

Ia tidak tahu bahwa malam ini ia tidak akan sempat membawanya keluar kamar.

1
Siti Kamisah Hasnul
Bagusss sekalii
semoga konsisten bagus sampe tamat 🥰
Qwerty789 10
suka banget pokoknya,,,,lanjut trus kakakkkk💪
Qwerty789 10
sukak banget ma kata-katanya 🫰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!