NovelToon NovelToon
Liontin Dewi: Jalan Sang Raja Obat

Liontin Dewi: Jalan Sang Raja Obat

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Rizky Pratama adalah lambang kegagalan; hidup miskin, sering dipecat, dan selalu sial, sampai sebuah kecelakaan tragis merenggut segalanya. Namun, maut justru membawakannya keajaiban berupa Liontin Dewi yang menyatu dengan tubuhnya, memulihkan lukanya secara instan dan melambungkan kecerdasannya di atas rata-rata manusia. Lebih gila lagi, liontin itu memberinya kemampuan mengendalikan tanaman, dari mempercepat pertumbuhan, menemukan herba langka, hingga menciptakan varietas obat ajaib yang belum pernah ada sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Rizky merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan ponsel pintarnya dengan gaya sangat santai.

Ia mencari sebuah nama di daftar kontaknya lalu menekan tombol panggil.

TUT TUT.

Suara nada sambung terdengar beberapa kali sebelum akhirnya dijawab dari seberang sana.

"Halo Nak Rizky, ada angin apa kamu menelepon tua bangka ini di jam kerja begini?" sapa suara berat Darmawan dari telepon.

Rizky sengaja menghidupkan mode pengeras suara agar Haris dan Indah bisa mendengar percakapan mereka.

"Halo Pak Darmawan, maaf mengganggu waktunya sebentar."

"Tidak ada kata mengganggu untuk penyelamat nyawaku, ada masalah apa yang bisa kubantu?" tanya Darmawan ramah.

"Saya sedang berada di kantor BPOM untuk mengurus izin edar obat baru saya."

Rizky melirik sinis ke arah Haris yang masih berdiri angkuh di balik mejanya.

"Tapi sepertinya ada seorang pejabat bernama Inspektur Haris yang mempersulit saya karena menerima suap dari PT Medika Raya."

Suasana di seberang telepon mendadak hening selama beberapa detik.

Aura membunuh yang sangat dingin entah bagaimana bisa terasa menembus speaker ponsel tersebut.

"Inspektur Haris dari Divisi Pengujian? Anak buahnya Si Bima kan?" suara Darmawan kini berubah sangat menakutkan.

"Tunggu di ruangan itu Nak Rizky, jangan biarkan tikus kotor itu pergi ke mana-mana."

KLIK.

Sambungan telepon diputus sepihak oleh Darmawan dari seberang sana.

Haris tertawa canggung mencoba menutupi rasa panik yang mulai menjalar di dadanya.

"Kamu pikir kamu bisa menakutiku dengan menelpon sembarang orang tua di jalanan?" ejek Haris gemetar.

"Kita tunggu saja lima menit lagi Pak Haris, lihat apakah kursi empukmu itu masih menjadi milikmu atau tidak," balas Rizky santai.

Indah memegang lengan Rizky dengan erat karena suasana di ruangan itu menjadi sangat mencekam.

Hanya berselang tiga menit kemudian, pintu ruangan itu didobrak paksa dari luar dengan sangat keras.

BRAAAK.

Seorang pria bertubuh tinggi besar memakai seragam dinas lengkap dengan banyak bintang di pundaknya masuk dengan napas memburu.

Itu adalah Kepala BPOM Kota, atasan tertinggi di gedung ini yang bernama Bima.

Di belakang Bima, ada dua orang petugas keamanan berseragam hitam yang berwajah garang.

Haris langsung melompat dari kursinya dan memberi hormat kaku pada atasan tertingginya itu.

"Pa-pak Bima, ada urusan apa Bapak turun langsung ke ruangan sempit saya ini?" sapa Haris terbata-bata.

PLAK.

Sebuah tamparan keras mendarat mulus di pipi kanan Haris hingga pria buncit itu terpelanting menabrak rak buku.

"Dasar babi serakah, kamu baru saja mencari masalah dengan orang yang salah hari ini," bentak Bima murka.

"Pak Darmawan Kusuma menelepon saya langsung dan mengancam akan menarik semua dana donasi kliniknya kalau masalah ini tidak selesai."

Wajah Haris seketika seputih kertas HVS yang kosong tak bernoda.

Siapa di kota ini yang tidak kenal dengan nama Darmawan Kusuma, sang penguasa properti nomor satu.

"Tangkap tikus ini dan periksa semua rekening pribadinya, aku yakin dia sudah banyak menerima uang haram dari Medika Raya," perintah Bima pada sekuritinya.

Dua petugas bertubuh kekar itu langsung menyeret Haris yang sudah lemas tak bertulang keluar dari ruangan.

"Ampun Pak Bima, saya khilaf, tolong jangan pecat saya," tangis Haris meronta-ronta di lorong.

Bima menghela napas kasar untuk menenangkan emosinya lalu berbalik menatap Rizky dan Indah.

Sikap kasarnya tadi mendadak berubah seratus delapan puluh derajat menjadi sangat sopan dan membungkuk hormat.

"Tuan Rizky, Nona Indah, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya atas kelakuan memalukan bawahan saya."

Rizky mengangguk pelan dan menunjuk map dokumen yang sudah dicap ditolak di atas meja.

"Lalu bagaimana nasib izin edar obat baru saya ini Pak Bima?" tanya Rizky langsung pada intinya.

Bima segera mengambil map tersebut dan merobek kertas yang sudah dicap merah itu menjadi kepingan kecil.

Ia mengeluarkan selembar kertas formulir baru dari laci meja dan membubuhkan stempel hijau bertuliskan LULUS UJI KHUSUS.

CAP.

"Ini adalah sertifikat izin edar jalur VVIP yang sudah disetujui, obat Anda bebas dijual ke seluruh penjuru negeri mulai detik ini."

Bima menyodorkan dokumen resmi itu ke tangan Rizky dengan kedua tangannya yang sedikit gemetar.

"Bapak tidak mau menguji sampelnya dulu di laboratorium?" sindir Indah tersenyum puas.

"Tidak perlu Nona Indah, obat yang direkomendasikan langsung oleh Tuan Darmawan pasti adalah obat terbaik di dunia," jawab Bima mengelap keringat di dahinya.

Rizky mengambil dokumen itu dan melipatnya rapi masuk ke dalam saku jaketnya.

"Terima kasih banyak atas kerja cepatnya Pak Bima, kami permisi dulu karena harus menyiapkan pabrik produksinya."

Rizky dan Indah berjalan keluar dari gedung pengawas itu dengan kepala tegak seperti sepasang jenderal pemenang perang.

Di dalam mobil, Indah tidak bisa menahan tawanya yang meledak begitu saja.

"Astaga Rizky, kau benar-benar membuat kepala BPOM bertekuk lutut seperti anak kucing ketakutan."

Rizky ikut tersenyum lebar sambil melihat dokumen resmi di tangannya.

"Ini semua berkat kekuatan modal sosial Nona Indah, di dunia ini uang dan koneksi adalah sihir terkuat setelah obatku."

"Sekarang izin edar sudah di tangan, apa langkah kita selanjutnya Raja Obat?" goda Indah sambil mulai menyalakan mesin mobil.

Rizky menatap ke arah luar jendela mobil melihat gedung-gedung tinggi kota Jakarta.

"Besok pagi, kita mulai produksi massal Pil Pemulih Vitalitas dan menghancurkan dominasi pasar PT Medika Raya."

Di dada Rizky, tato daun hijau zamrud itu tiba-tiba kembali berdenyut hangat memberikan sebuah petunjuk baru.

1
Abady Ehm
cerita sampah, seharusnya dia obati dulu ibunya yg sakit2an, habis beli lahan, carilah pekerja untuk dibersihkan dan dipagar keliling, lalu dibuatkan pondok untuk preman penjaga lahan tuh, jgn ngsal gitu ceritanya, baru bab 11 udah bosan bacanya,.....
Nissa Safira: Terima kasih atas kritiknya kak😅
Saya paham concern-nya soal ibu Rizky dan pengelolaan lahan.
Semua itu sengaja belum dieksekusi sekarang karena ada konflik dan konsekuensi yang mau saya bangun di bab-bab selanjutnya.
Kalau Rizky langsung "sempurna" dari awal, cerita dan pertumbuhannya jadi kurang greget.
Mohon bersabar ya, saya janji bakal dijawab semua di bab bab berikutnya 🙏😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!