Selama sepuluh tahun, Bumi diinvasi oleh monster dari "Gerbang Dimensi" (Gates). Han Do-Yoon adalah seorang Hunter Peringkat-F yang bertahan hidup sebagai kuli panggul di dalam Dungeon. Pada Hari Kiamat, saat "Dewa Luar" (Outer Gods) menghancurkan pertahanan terakhir umat manusia, Do-Yoon mengorbankan dirinya untuk melindungi artefak kuno.
Alih-alih mati, ia terbangun sepuluh tahun di masa lalu—tepat di hari di mana sistem kebangkitan pertama kali turun ke Bumi. Namun kali ini, ia tidak membangkitkan kelas biasa. Ia mendapatkan kelas tersembunyi berperingkat Myth: Pewaris Ketiadaan. Dengan pengetahuan masa depan dan sistem absolut di tangannya, Do-Yoon bersumpah untuk mengubah nasib dunia dan membantai para Dewa yang mempermainkan umat manusia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Daftar Nama Sang Penguasa
Malam kedua kiamat menyelimuti kota Seoul dari balik jendela kaca lantai seratus Menara Surga. Angin kencang menderu di luar sana, membawa dentuman jauh dari ledakan-ledakan kecil atau raungan monster yang berbenturan di jalanan yang gelap.
Namun di dalam griya tawang mewah itu, keheningan terasa begitu hangat dan nyata.
Ji-Ah baru saja keluar dari kamar mandi utama setelah membersihkan tubuhnya dengan air dingin yang tersisa di tangki penyimpanan. Seragam olahraganya yang kotor oleh darah iblis telah digantikan oleh kemeja putih longgar dan celana kain yang ia temukan di lemari pemilik lama apartemen tersebut. Rambutnya yang basah terurai di bahu.
Ia melangkah ke ruang tamu yang luas dan menemukan Do-Yoon sedang duduk bersila di atas karpet tebal, membelakangi jendela kaca raksasa. Di hadapannya melayang beberapa lembar kertas hologram bercahaya emas—fitur catatan pribadi dari Sistem.
"Adikmu sudah tidur nyenyak?" tanya Do-Yoon tanpa menoleh, jarinya sedang menuliskan baris-baris nama menggunakan bahasa kuno di atas hologram tersebut.
"Ya. Ji-Hye tidur sangat lelap. Kasur ini... sudah lama sekali ia tidak merasakan tempat tidur yang nyaman," jawab Ji-Ah seraya mendekat, lalu duduk melipat kaki di samping Do-Yoon. Ia mengamati nama-nama yang tertera di layar emas tersebut.
Meskipun bahasa yang ditulis Do-Yoon terlihat asing, ada lima nama yang ditulis menggunakan abjad standar di bagian paling atas:
Yoo Ji-Ah — Ahli Pedang Angin Bersih (Telah Direkrut)
Kang Tae-Ho — Garda Perunggu Absolut (Lokasi: Rumah Tahanan Seoul)
Seo Ah-In — Penyembuh Jiwa Suci (Lokasi: Rumah Sakit Universitas Yonsei)
Baek Hyun-Woo — Pemanah Bayangan Angin (Lokasi: Lapangan Panahan Incheon)
Kwak Min-Soo — Pencipta Mekanik Ilahi (Lokasi: Kawasan Industri Guro)
Ji-Ah menyipitkan mata, membaca nama-nama itu satu per satu. "Siapa mereka, Do-Yoon? Dan bagaimana kau bisa tahu lokasi pasti serta kelas yang akan mereka miliki?"
Do-Yoon menghentikan gerakan jemarinya. Layar hologram emas itu meredup sejenak sebelum ia melipatnya menjadi ukuran kecil.
"Mereka adalah jenderal-jenderalku di masa depan," jawab Do-Yoon datar, matanya menatap lurus ke arah Ji-Ah. "Orang-orang yang memiliki potensi untuk menembus batas manusia biasa. Di kehidupan... di masa yang akan datang, mereka akan menjadi pilar utama dari lima serikat terbesar."
Ji-Ah menahan napas. Rasa penasarannya yang menumpuk sejak kemarin akhirnya tidak bisa ditahan lagi. Pria di hadapannya ini terlalu sempurna. Ia tahu letak artefak tersembunyi, tahu kelemahan setiap jenis monster, mengenal para Rasi Bintang, dan kini memiliki daftar nama orang-orang berbakat yang bahkan belum tentu menyadari kekuatan mereka sendiri.
"Siapa kau sebenarnya, Han Do-Yoon?" suara Ji-Ah melembut, dipenuhi kebingungan dan rasa ingin tahu. "Kau selalu bilang 'di masa lalu' atau 'di masa depan'. Apakah kau... bisa melihat masa depan?"
Do-Yoon terdiam sejenak. Ia mengalihkan pandangannya ke luar jendela, menatap kehampaan malam di bawah sana. Menjelaskan konsep regresi garis waktu kepada orang yang baru dua hari mengalami kiamat terdengar seperti dongeng yang mustahil. Namun, Do-Yoon sadar bahwa Ji-Ah bukanlah sekadar bawahan biasa. Gadis ini adalah tangan kanannya. Kepercayaan adalah fondasi utama dari sebuah Serikat.
"Aku tidak bisa melihat masa depan," Do-Yoon memulai, suaranya terdengar sangat berat dan dalam, memancarkan kepedihan purba yang membuat bulu kuduk Ji-Ah merinding. "Aku datang dari masa depan."
Ji-Ah membeku. Jiwanya terguncang. "M-masa depan?"
"Sepuluh tahun dari sekarang," lanjut Do-Yoon. "Di garis waktu asliku, Bumi kalah. Manusia punah. Para Rasi Bintang yang kau lihat memberi sumbangan koin itu... mereka menjadikan penderitaan kita sebagai hiburan sebelum akhirnya menghancurkan planet ini seutuhnya."
Mata Ji-Ah membelalak. "Dan kau... kau selamat?"
"Aku mati di hari terakhir kiamat," Do-Yoon memamerkan senyum tipis yang penuh kepahitan. "Sebagai Pemburu Tingkat-F yang tidak berdaya, aku mati memegang sebuah artefak terlarang di dasar Labirin terdalam. Namun alih-alih hancur, artefak itu memutar balik waktu, mengembalikan jiwaku ke sepuluh tahun yang lalu—tepat di hari pertama Sistem turun ke Bumi."
Keheningan yang mencekam menelan ruang tamu tersebut. Ji-Ah menatap wajah Do-Yoon dengan rasa takjub yang tak terungkapkan. Semua puzzle di kepalanya kini terpasang rapi. Dinginnya sikap pria ini, efisiensi bertarungnya yang kejam, dan ketiadaan rasa takutnya terhadap monster maupun para dewa—semuanya lahir dari keputusasaan seseorang yang telah menyaksikan akhir dunia.
"Di masa lalu itu..." suara Ji-Ah bergetar. "Apakah aku... mengenalmu?"
Do-Yoon menoleh kembali, menatap Ji-Ah dengan lembut.
"Kau tidak mengenalku di awal," kata Do-Yoon. "Kau adalah salah satu Pemburu terkuat di Korea, ditakuti sebagai 'Permaisuri Pedang'. Di hari terakhir sebelum dunia runtuh, kau bertarung di sisiku. Kau mempertaruhkan nyawamu untuk melindungiku, seorang Pemburu Tingkat-F yang bahkan tidak bisa memegang senjata dengan benar."
Mata Ji-Ah berkaca-kaca. Dada terasa sesak mendengar takdir tragisnya di kehidupan yang lain.
"Tapi di kehidupan ini," Do-Yoon mengepalkan tangannya kuat-kuat, energi Kehampaan hitam meletup tipis di jemarinya. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun memanfaatramu atau membunuhmu. Aku merekrutmu lebih awal agar kau tidak harus kehilangan adikmu atau mengorbankan lenganmu demi bertahan hidup. Aku akan mengubah takdir dunia ini, Yoo Ji-Ah."
Ji-Ah menatap tangan Do-Yoon yang mengepal. Rasa ragu dan ketakutan yang sempat tersisa di dalam hatinya musnah sepenuhnya. Pria ini tidak sekadar memanfaatkan dirinya; pria ini memikul beban keselamatan dunia sendirian di atas pundaknya.
Tanpa ragu, Ji-Ah mengulurkan tangannya dan meletakkannya di atas kepalan tangan Do-Yoon.
"Aku tidak tahu seberapa mengerikannya masa depan yang kau saksikan," ucap Ji-Ah dengan nada tegas yang memancarkan tekad seorang prajurit. "Tapi di garis waktu yang baru ini, pedangku adalah milikmu, Han Do-Yoon. Ke mana pun kau melangkah, aku akan menebas musuh-musuhmu."
Do-Yoon menatap tangan Ji-Ah yang menggenggam tangannya, lalu tersenyum tulus.
[Rasi Bintang 'Perawan Pedang Suci' tersentuh oleh ikatan takdir kalian! Ia menyumbangkan 2.000 Koin Emas!]
[Rasi Bintang 'Dewa Perang Tanpa Nama' tertawa puas: "Ikatan darah dan takdir! Ini adalah awal dari sebuah legenda sejati!"]
"Terima kasih, Ji-Ah," bisik Do-Yoon pelan.
Ia lalu membubarkan kertas hologram emas di hadapannya dan berdiri. Aura kepemimpinannya kembali mendominasi ruangan.
"Tujuan kita besok pagi adalah target nomor dua di daftarku," Do-Yoon menunjuk ke arah barat daya kota Seoul dari balik jendela. "Rumah Tahanan Seoul."
"Kang Tae-Ho?" tanya Ji-Ah seraya ikut berdiri. "Seorang tahanan?"
"Di masa lalu, dia adalah benteng terkuat yang dimiliki manusia. Seorang 'Tanker' yang sanggup menahan serangan dari monster Tingkat S sendirian," Do-Yoon menjelaskan. "Saat ini, dia ditahan karena dituduh membunuh seorang pembual kaya yang mencoba merusak keluarganya. Di hari kiamat besok, penjara itu akan berubah menjadi sarang kanibal dan monster. Kita harus mengeluarkannya sebelum jiwanya hancur oleh kegelapan tempat itu."
"Kapan Misi Utama tahap tiga akan dimulai?"
"Tepat pukul delapan pagi esok hari," Do-Yoon memeriksa arlojinya. "Istirahatlah sekarang. Besok, kita akan menghadapi bukan hanya monster, tetapi juga manusia-manusia yang telah kehilangan kewarasan mereka di dalam penjara terisolasi."
Ji-Ah mengangguk tegas. "Baik, Ketua."
Gadis itu berbalik dan melangkah menuju kamar utama dengan hati yang kini jauh lebih mantap. Ia bukan lagi sekadar mahasiswa yang ketakutan; ia adalah pilar pertama dari Serikat Ketiadaan.
Do-Yoon kembali menatap kegelapan kota dari balik jendela seratus lantai. Tangan kirinya mengusap Cincin Subruang di jari telunjuknya.
"Garis waktu ini adalah milikku," bisik Do-Yoon pada kegelapan malam. "Para dewa di atas sana... bersiaplah untuk bertekuk lutut."
jangan lupa hadir juga 😉