Shelin yang masih belia harus menghadapi pahitnya hidup secara bertubi-tubi. Tak cukup dengan kehilangan ayah tercinta, ibunya terlilit hutang pada rentenir, lalu dia juga mesti menjadi korban perdagangan manusia saat mengadu nasib ke kota.
Saat dilanda keputusasaan dan berniat untuk mengakhiri hidup, Shelin diselamatkan oleh Erick, seorang lelaki dewasa dengan segudang permasalahan hati dan cerita masa lalu yang belum usai. Saat kedua hati mereka perlahan menyatu, akankah berakhir dengan Bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiwie Sizo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Orang-orang Baik
"Perkenalkan, ini Shelin. Mulai besok dia akan mulai kerja di sini seperti kalian. Dia juga akan tinggal di kamar atas, menggantikan Juni."
Erick memperkenalkan Shelin pada seluruh karyawan restorannya pada jam istirahat sore. Biasanya, pada Jam tersebut pengunjung resto sedang sepi. Karyawan yang bekerja sejak pagi juga tak lama lagi akan bersiap pulang, berganti dengan karyawan shift malam. Restoran kekinian milik lelaki itu memang buka sampai jam sepuluh malam. Awalnya, hanya buka sampai sore saja. Tapi karena permintaan dari banyak pelanggan, akhirnya jam bukanya pun ditambah.
Para karyawan Erick menyambut Shelin dengan ramah. Meski begitu, gadis itu masih merasa canggung dan kurang nyaman karena semua mata tampak tertuju padanya. Bahkan sebagian terlihat mengamati.
"Ayo, saya antar ke kamar yang akan menjadi tempat tinggal kamu," ajak Erick kemudian pada Shelin setelah gadis itu memperkenalkan diri.
Shelin mengangguk patuh. Dia mengikuti Erick, tentu setelah sempat pamit undur diri pada calon rekan-rekan kerjanya. Ada banyak pertanyaan yang kini bersarang di kepala Shelin, tapi tak bisa dia lontarkan begitu saja di hadapan banyak orang.
"Ini tempat tinggalmu," ujar Erick setelah mereka sampai di depan sebuah kamar yang berada di lantai tiga.
Shelin mengamati sekelilingnya, sementara Erick membuka kunci pintu kamar tersebut.
"Ayo, masuk," ajak Erick setelah pintu terbuka.
"Wah ...." Shelin langsung bergumam tanpa sadar begitu melihat kamar tersebut. Dia masuk dengan binar mata tak percaya.
Kamar tersebut memang tak terlalu luas. Tapi barang di dalamnya sudah sangat lengkap. Ada lemari, tempat tidur, sebuah sofa, televisi dan juga pendingin ruangan. Bahkan ada kamar mandi dan toilet juga di dalamnya. Sudah seperti fasilitas hotel saja, seperti yang dikatakan oleh Anto tempo hari
"Ini kamar buat saya tinggal, Pak?" tanya Shelin tak percaya. Seumur hidupnya, tidak pernah dia tidur di kamar sebagus ini.
"Iya," sahut Erick.
Shelin tampak memperlihatkan raut wajah tidak enak.
"Kenapa? Apa kelihatannya kurang nyaman?" tanya Erick.
"Bukan begitu, Pak." Buru-buru Shelin menggelengkan kepalanya. "Yang ada, ini justru kebagusan buat saya."
"Mulai besok kan kamu mulai bekerja untuk saya. Jadi, sudah kewajiban saya memberikan tempat yang layak untuk karyawan saya," sahut Erick.
"Jadi, restoran ini punya Bapak, ya?" Shelin bertanya hati-hati.
"Iya," sahut Erick.
"Apa semua karyawan Bapak memang diberi fasilitas tempat tinggal?"
Kali ini, Erick sedikit bingung mau menjawab apa. Sebenarnya, yang sejak awal diberi tempat tinggal di restoran itu hanya Anto dan istrinya. Hal tersebut dikarenakan untuk mempermudah Anto menjaga restoran saat malam hari, juga untuk memudahkan istri Anto bersih-bersih restoran di pagi hari sebelum buka. Pasangan itu juga yang bertanggung-jawab mengurus kiriman bahan baku menu resto yang biasanya datang saat subuh. Itulah kenapa mereka sekalian tinggal di sana.
Sedangkan Juni beda cerita. Dia ditampung Erick karena Erick mengetahui karyawannya itu diusir dari kontrakan, entah karena apa. Karena kasihan, Erick pun memberikan Juni tempat tinggal di restoran. Tapi sayangnya, Juni malah menyalahgunakan kebaikan Erick dengan menilap uang di mesin kasir yang harusnya dia setorkan.
"Tidak semua karyawan yang dapat fasilitas tempat tinggal. Hanya yang membutuhkan saja," jawab Erick akhirnya. "Sebagian karyawan juga rumahnya dekat-dekat sini, jadi tidak butuh fasilitas tempat tinggal," tambah Erick lagi.
"Oh ...." Shelin bergumam sembari mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ya sudah, kamu bereskan pakaianmu ke dalam lemari, lalu istirahat. Besok kamu sudah harus mulai bekerja. Ini kunci kamarmu," ujar Erick sembari menyerahkan kunci kamar pada Shelin.
"Ah, iya, Pak. Terima kasih banyak." Shelin menyahut.
"Oh, iya. Kalau kamu mau memasak. Di ujung sana ada dapur yang biasa digunakan Anto dan istrinya. Kamu juga bisa menggunakan dapur itu kalau ingin memasak." Erick memberi tahu.
"Iya, Pak." Shelin kembali menganggukkan kepalanya. Meski dalam hati dia bertanya-tanya, bagaimana caranya dia bisa membeli bahan makanan untuk dimasak nanti malam dan seterusnya. Pasalnya, dia tidak punya uang sepeser pun. Bekerja juga baru mau mulai esok hari, masih jauh dari kata gajian.
"Kalau begitu, saya pergi dulu. Ada apa-apa, bilang saja pada Anto dan istrinya. Mereka tinggal di kamar sebelah," ujar Erick lagi.
"Iya, Pak. Terima kasih banyak," sahut Shelin.
Erick pun beranjak pergi, tapi baru beberapa saat, langkahnya terhenti karena teringat akan sesuatu. Lelaki itu kembali mendekati Shelin.
"Kamu punya uang?" tanya Erick kemudian.
Shelin menggeleng dengan raut wajah yang berubah menjadi sedikit khawatir. Dia takut Erick meminta uang padanya untuk biaya sewa tempat tinggal. Tapi kekhawatiran Shelin berubah lagi menjadi heran dan terkejut tatkala Erick mengeluarkan dompetnya dan mengambil beberapa lembar uang tunai seratus ribu dari sana.
"Ini. Simpanlah untuk peganganmu selama belum menerima gaji," ujar Erick sambil menggenggamkan uang itu di telapak tangan Shelin.
"Ti-tidak perlu, Pak." Shelin menolak uang itu karena malu. Dia pikir mau diminta bayaran, tapi tak disangka Erick malah memberinya uang.
"Sudah, simpan saja. Kamu membutuhkan uang itu untuk makan selama sebulan ke depan. Gunakan sebaik mungkin." Erick mengunci genggaman tangan Shelin agar uang yang dia berikan tak lepas dan terjatuh.
Shelin terdiam. Benar yang dikatakan Erick, dia membutuhkan uang itu untuk mengisi perut. Tidak mungkin dia minta ditraktir Erick setiap hari, kan? Shelin pun akhirnya berhenti menolak.
"Terima kasih banyak, Pak," gumam Shelin akhirnya.
"Saya sungguh tidak tahu bagaimana caranya agar bisa berterima kasih pada Bapak dengan benar. Padahal saya hanya orang asing yang tidak terlalu Bapak kenal, tapi Bapak sudah membantu saya sampai sejauh ini. Saya benar-benar mengucapkan terima kasih," tambah Shelin lagi.
"Bekerjalah dengan giat dan jalani kehidupanmu ke dengan baik ke depannya. Itulah caramu jika ingin berterima kasih padaku," sahut Erick.
"Iya, Pak. Tentu." Shelin kembali menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah, saya pergi dulu." Erick pun berlalu dari hadapan Shelin, meninggalkan gadis itu tertegun seorang diri.
Sepeninggalan Erick, Shelin menutup pintu kamarnya dan kembali melihat sekeliling kamar tersebut. Nyaman, benar-benar nyaman. Sampai dia merasa tak pantas menjadi penghuni kamar itu.
Shelin kemudian bangkit dan membongkar isi tas ranselnya. Dia memindahkan pakaiannya yang tak terlalu banyak ke dalam lemari yang tersedia. Tak lama kemudian, suara ketukan pintu terdengar di telinganya.
Bergegas Shelin bangkit dan membukakan pintu. Seorang perempuan berusia sekitar tiga puluh tahunan berdiri di ambang pintu sambil tersenyum ramah.
"Mbak Shelin, ya? Saya Hana, istrinya Mas Anto, yang tinggal di kamar sebelah," ujar perempuan itu memperkenalkan diri.
"Ah, iya, Mbak." Shelin menyalami tangan perempuan itu seperti biasanya dia mengalami orang yang lebih tua.
"Tadi Pak Erick minta saya ngasih ini," ujar Hana sambil memberikan sebuah paper bag berukuran cukup besar pada Shelin.
"Stok seragam untuk karyawan baru sedang tidak ada, jadi Kak Erick minta saya memberikan seragam bekas Juni untuk dipakai Mbak Shelin bekerja. Sementara saja kok, sampai seragam barunya selesai dibuat." Hana memberi tahu.
"Iya, Mbak. Terima kasih." Shelin menyahut.
"Ya sudah, Mbak. Saya tinggal, ya. Kalau ada apa-apa, panggil saja saya di kamar sebelah. Tidak perlu sungkan." Hana kembali tersenyum ramah.
Shelin mengangguk sambil ikut tersenyum juga.
"Semoga betah kerjanya ya, Mbak Shelin." Hana berujar lagi sebelum benar-benar kembali ke kamarnya.
"Iya, terima kasih." Shelin masih sempat menjawab meski dengan nada yang lebih rendah daripada sebelumnya. Entah kenapa, hatinya jadi merasa terharu. Setelah sebelumnya diperlakukan dengan sangat tak manusiawi oleh Mami Lusi dan para komplotannya, sekarang dia dipertemukan dengan orang-orang baik. Semoga seterusnya seperti ini, harapnya.
Bersambung ....
🙏
makanya maksa shelin nikah sm bandot tua itu spy hutangnya lunas.