"Jangan tertipu dengan kelembutan kelopak bunga, karena di balik keindahannya ada duri yang bisa menembus jantungmu tanpa suara."
Putri Arabella Costa adalah perpaduan keanggunan bangsawan dan ketangguhan jiwa modern. Terlahir kembali sebagai putri bungsu Kerajaan Costa, Bella menolak diam di istana mewahnya dan memilih hidup bebas menyamar sebagai gadis biasa. Dia memiliki ruang dimensi berisi air kehidupan yang mampu menyembuhkan segala penyakit.
Lucian Alistair sosok pria yang dingin, dominan, memiliki insting bertarung serta indra penciuman yang tajam, menguasai garis depan militer, dan memiliki harga diri setinggi langit yang tidak bisa disentuh oleh sembarang orang.
Dua karakter kuat pemilik rahasia besar ini mendadak terikat dalam pernikahan tak terencana. Siapa yang akan menyerah lebih dulu? Akankah kebuasan serigala bisa menaklukkan sang putri rahasia, atau justru sang Alpha yang akan bertekuk lutut di bawah kendali Arabella?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENYELESAIKAN MASALAH
Lucian tiba di istana kerajaan Harper, dia melangkah masuk dengan langkah kaki yang menghentak keras.
Di belakangnya, Patrik menyeret tubuh seorang pria muda berpakaian perwira yang sudah babak belur dan berlumuran darah di wajahnya. Pria itu tidak lain adalah Viscount Gerald.
Raja Lucius dan Mantan Raja Reifan yang sedang membicarakan persiapan pernikahan mendadak langsung berdiri dari kursi singgasananya dengan wajah terkejut sekaligus geram.
Brakk
"Lucian! Keributan apa lagi yang kamu bawa ke istanaku ini?!" bentak Raja Reifan, memukul tongkat kebesarannya ke lantai dengan sangat keras.
"Kakek, aku datang untuk membawa keadilan yang sejak kemarin diteriakkan oleh wanita ular itu," jawab Lucian dingin, sambil melemparkan gulungan kertas bukti suap ke atas meja depan sang Raja.
Tepat saat itu, Michelle yang kebetulan sedang berjalan-jalan di koridor istana bersama dua pelayannya langsung berlari masuk ke aula karena mendengar keributan.
Begitu matanya menangkap sosok Gerald yang terkapar tak berdaya di lantai, wajah Michelle seketika langsung pucat pasi.
"G-Gerald?!" pekik Michelle tertahan, tangannya refleks memegangi perutnya yang mendadak terasa benar-benar sakit karena ketakutan.
Lucian menoleh ke arah Michelle, memberikan senyuman miring yang sangat kejam.
"Kenapa wajahmu pucat begitu, Lady Michelle? Bukankah kamu harus menyapa kekasih gelap mu yang sebenarnya ini? Pria yang sudah meniduri mu di malam festival musim panas!" ucap Lucian, sinis.
"B-Bohong! Itu fitnah! Yang Mulia Raja Reifan, tolong saya! Kak Lucian sengaja membawa pria asing untuk memfitnah saya!" jerit Michelle histeris, langsung berlutut di depan Raja Reifan dengan tubuh yang gemetar hebat.
"Tutup mulutmu, jalang!" bentak Duke Lucas yang tiba-tiba melangkah masuk ke dalam aula bersama istrinya, Jasmine.
Kehadiran mereka langsung membuat tekanan di dalam aula meningkat dua kali lipat.
"Ayah, lihat sendiri kertas di mejamu! Itu adalah bukti suap antara Earl Kendrick dan Kepala Tabib Istana! Dan perwira di lantai itu sudah mengaku bahwa dialah ayah kandung dari janin di perut wanita tidak tahu malu ini!" ucap Lucas menatap ayah mertuanya, dengan pandangan tajam.
Raja Reifan dengan tangan gemetar membaca isi kertas tersebut, sementara Raja Lucius memeriksa laporan pengakuan tertulis yang dibawa oleh Patrik.
Wajah kedua penguasa Harper itu perlahan berubah menjadi merah padam karena merasa telah ditipu mentah-mentah di dalam istana mereka sendiri.
"Panggil Kepala Tabib Istana ke sini sekarang juga!" perintah Raja Lucius dengan suara baritonnya yang menggelegar penuh amarah kepada pengawal.
Viscount Gerald yang berada di lantai mengangkat kepalanya dengan susah payah, menatap Michelle dengan pandangan penuh rasa bersalah sekaligus ketakutan.
"M-Maafkan aku, Michelle, Duke Muda Lucian terlalu kuat, aku tidak bisa menahannya, aku sudah menceritakan semuanya pada mereka..." ucap Viscount Gerald, lirih.
Mendengar pengakuan langsung dari mulut Gerald, seluruh pertahanan Michelle runtuh, air mata ketakutan akhirnya keluar dari matanya, tubuhnya lemas dan terduduk di lantai yang dingin dengan tatapan kosong.
Rencana besarnya untuk menjadi seorang Duchess kini berubah menjadi tiket menuju kematian.
Kepala Tabib Istana berjalan masuk ke dalam aula dengan tubuh yang sudah gemetaran.
Begitu Tabib melihat gulungan kertas surat perjanjian suapnya berada di tangan Raja Lucius, lutut pria paruh baya itu langsung lemas.
Bruk
"Mohon ampun, Yang Mulia! Mohon ampun! Saya terpaksa melakukannya karena diancam oleh Earl Kendrick!" tangis Kepala Tabib Istana, langsung membuang harga dirinya demi menyelamatkan kepalanya sendiri.
"B-Bohong! Kamu yang meminta tambang emas itu, Tabib sialan!" teriak Michelle nekat, melotot tajam dengan napas memburu kasar karena merasa dikhianati dari segala sisi.
"DIAM!"
Bentak Raja Reifan, menghentikan adu mulut yang memuakkan di depannya.
"Diam kalian semua manusia menjijikkan!" raung Raja Reifan, wajahnya yang sudah dipenuhi keriput kini merah padam menahan malu dan amarah yang luar biasa besar.
Pria tua itu berbalik, menatap Michelle dengan pandangan mata yang sangat dingin.
"Berani sekali kamu membawa darah haram ke atas lantai istanaku, membohongi seluruh petinggi Harper, dan membuat putri kesayangan ku dilingkupi rasa sakit!" bentak Raja Reifan, geram.
"Yang Mulia... tolong ampuni saya... saya melakukan ini karena saya sangat mencintai Kak Lucian..." rintih Michelle, mencoba merangkak maju hendak menggapai jubah Raja Reifan, namun langsung dihadang oleh ujung pedang Patrik.
SRING
"Jangan sentuh Yang Mulia dengan tangan kotor mu, Lady Michelle," ucap Patrik dengan nada datar tanpa emosi.
Raja Lucius berdiri dari kursi singgasananya, memperbaiki posisi jubah kebesarannya lalu menatap komandan pengawal istana dengan tegas.
"Bawa Kepala Tabib Istana, Viscount Gerald, dan Lady Michelle ke penjara bawah tanah sekarang juga!" perintah Raja Lucius.
"Dan untuk keluarga Earl Kendrick, sita seluruh aset mereka tanpa terkecuali, seret Earl Kendrick ke pengadilan militer besok pagi! Aku tidak mau melihat satu pun keturunan Kendrick tersisa di ibu kota Harper!" lanjut Raja Lucius, memberikan perintah tegas yang tidak bisa diganggu gugat.
"Baik, Yang Mulia Raja!" jawab puluhan pengawal istana serempak, langsung meringkus Michelle yang mulai menjerit histeris dan menangis meraung-raung saat tubuhnya diseret kasar keluar dari aula utama.
"Kak Lucian! Tolong aku! Kak Lucian! Aku mengandung anak mu! Tolong perlakukan aku dengan adil!" teriakan Michelle perlahan-lahan menghilang di balik pintu koridor istana.
Lucian berdiri tegak, merapikan sedikit kerah baju nya yang agak berantakan tanpa memedulikan drama murahan yang baru saja selesai.
Di sampingnya, Duke Lucas mendengus puas, sementara Jasmine mengembuskan napas lega yang sangat panjang sembari bersandar di lengan suaminya.
Raja Reifan berjalan mendekati Lucian, wajah pria tua itu kini tampak dipenuhi rasa bersalah dan canggung yang amat sangat setelah menyadari bahwa dia hampir saja menghancurkan hidup cucu sulungnya sendiri.
"Lucian... maafkan Kakek, Nak," ucap Raja Reifan dengan suara yang melembut, menepuk bahu tegap cucunya dengan pelan.
"Kakek terlalu terburu-buru mengambil keputusan karena mencemaskan kondisi ibumu dan nama baik keluarga kita," lanjut Raja Reifan, menyesal.
Lucian membungkuk hormat dengan sangat sopan, namun matanya tetap memancarkan kilat emas yang dingin.
"Tidak apa-apa, Kakek, yang terpenting sekarang kebenaran sudah terungkap, dan nama baik keluarga Alistair dan Harper tidak tercoreng oleh bualan wanita ular itu," ucap Lucian datar.
"Lalu, mengenai larangan keluar dari ibu kota, mulai detik ini, larangan itu resmi dicabut. Kamu bebas pergi ke mana pun yang kamu mau, Duke Muda," ucap Raja Lucius ikut menimpali, menatap keponakannya dengan senyuman tipis penuh rasa bangga.
Mendengar kalimat pamannya, jantung Lucian langsung berdegup kencang, ingatan tentang gubuk sederhana di perbatasan Costa dan wajah ketus Ara yang sedang menangis memanggil namanya lewat ikatan batu amber langsung kembali memenuhi isi kepalanya.
"bertanya dengan nada selembut sutera /Grin/
tolong ksi bonchap dong