NovelToon NovelToon
Menimbun Perbekalan, Aku Santai Menonton Kiamat Es Turun

Menimbun Perbekalan, Aku Santai Menonton Kiamat Es Turun

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Hari Kiamat
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Surya Mandala

Hendra Wijaya bertahan empat tahun di neraka beku pasca-kiamat, hingga orang terdekat meracuninya. Ia terlahir kembali tiga bulan sebelum bencana—kini hafal jadwal gelombang panas, banjir, dan badai −50°C.

Kali ini ia bersiap di bunker mewah, sambil menyaksikan dunia saling bunuh. Cincin tembaganya mampu menyimpan kapal tanker, mengawetkan makanan, dan naik level via Lima Unsur. Ia borong logistik, bangun benteng, dan balas dendam pada perampas perusahaan serta pembunuh orang tuanya.
Namun kiamat ini bukan alamiah—ada konspirasi, Bestia, dan ras kuno dari Antartika. Hendra menjelma jadi senjata pamungkas umat manusia.

Pertanyaan: apa sebenarnya cincin itu, dan sejauh mana ia bisa naik—hingga jadi penguasa dunia baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 028: Hidup di Dalam Es

Pada hari kedua dunia membeku, Hendra membuat jadwal baru.

Jadwalnya sudah penuh.

Justru karena jika seseorang punya makanan bertahun-tahun, listrik sendiri, bunker hangat, dan seekor anjing yang mulai manja, musuh paling berbahaya di dalam dinding bukan lagi lapar.

Musuhnya adalah longgar.

Longgar satu jam, lupa mengecek filter.

Longgar satu hari, ventilasi mulai kotor.

Longgar satu minggu, baterai turun tanpa terasa.

Longgar satu bulan, bunker yang seharusnya menjadi istana bisa berubah menjadi peti besi berisi orang bodoh.

Hendra tidak berniat mati karena malas.

Ia menempelkan jadwal di layar utama.

06.00: cek suhu dan tekanan.

07.00: sarapan, porsi manusia dan porsi Blacky.

08.00: inspeksi daya, baterai, genset.

10.00: cek ventilasi dan filter karbon.

13.00: cek sumur dalam, pompa, pipa hangat.

16.00: olahraga.

19.00: radio dan peta intel.

22.00: arsip, riset, tidur pendek.

Di luar layar, Bandung sudah menjadi kota putih tanpa suara. Kamera depan menunjukkan jalan lama yang tertutup es, pagar listrik yang berlapis kristal, dan tubuh pengungsi Bab kemarin yang sudah tidak berbeda jauh dari batu.

Suhu luar pagi itu: -48°C.

Suhu dalam: 22°C.

Blacky tidak peduli pada angka. Ia peduli pada mangkuknya.

Anjing kecil itu duduk di depan pintu dapur dengan punggung lurus, menatap Hendra seolah seluruh kiamat hanyalah alasan manusia terlambat menyiapkan makanan.

"Kau makin tahu jadwal," kata Hendra.

Blacky mengibaskan ekor sekali.

Hendra memberinya daging rebus hangat, sedikit nasi lunak, dan vitamin yang dihancurkan. Untuk dirinya sendiri, ia membuat telur, daging kaleng, sayur kering, dan kopi.

Makanan panas di pagi -48°C terasa seperti tamparan kepada langit.

Setelah makan, Hendra mulai putaran inspeksi.

Ruang daya menjadi ruangan pertama.

Deretan baterai berdiri di balik panel pelindung, masing-masing dengan lampu hijau kecil. Sistem panel surya luar tidak bisa diharapkan sekarang karena langit tertutup badai es dan permukaannya mungkin sudah penuh salju beku. Tetapi bunker tidak bergantung pada itu.

Baterai utama masih kuat.

Genset diesel cadangan siap menyala otomatis.

Tangki bahan bakar internal cukup.

Cadangan solar di Ruang Penyimpanan lebih dari cukup untuk membuat banyak orang saling bunuh jika mereka tahu jumlahnya.

Hendra menulis angka, bukan perasaan.

Daya stabil.

Konsumsi pemanas naik 18% sejak suhu luar turun ke -50°C.

Tidak ada kebocoran besar.

Ia lanjut ke ruang ventilasi.

Di sana suara dunia hanya berupa dengung kipas dan aliran udara. Sistem resirkulasi bekerja dengan filter berlapis. Udara luar tidak langsung masuk; ia melewati jalur pemanas awal, penyaring debu es, filter karbon, lalu ruang penstabil.

Satu celah kecil saja bisa membawa masalah.

Bukan hanya dingin.

Di masa depan, makhluk berdarah panas akan belajar mencari titik panas seperti orang lapar mencari asap dapur. Bunker yang bocor panas akan terlihat seperti lampu di tengah kuburan es.

Hendra mendekatkan punggung tangan ke panel sambungan, lalu memakai alat deteksi termal portabel. Garis-garis di layar tetap rata.

Bagus.

Ia tidak perlu terlihat.

Ia hanya perlu tahu.

Putaran berikutnya adalah ruang air.

Sumur dalam yang dibor sebelum kiamat menjadi salah satu keputusan paling benar dalam hidupnya. Air tanah melewati pompa, pipa berpemanas, tangki penampung dalam, filter kasar, filter halus, lalu sterilisasi UV. Di permukaan, sungai mungkin membeku, pipa kota mungkin pecah, dan orang-orang mungkin menjilat es kotor untuk bertahan.

Di dalam bunker, air keluar jernih dari keran.

Hendra mengisi gelas, mencium baunya, lalu minum seteguk.

Tidak ada rasa besi.

Tidak ada bau busuk.

Ia mengisi mangkuk Blacky juga.

Blacky datang, minum, lalu menempelkan hidung basah ke pergelangan Hendra.

Cincin tembaga di jari Hendra menghangat samar.

Sangat samar.

Hendra menatapnya.

Sejak hujan pertama, reaksi kecil itu muncul beberapa kali saat Blacky terlalu dekat. Belum membuka ruang baru. Belum memberi panel. Belum memanggil suara apa pun.

Tetapi Hendra tidak mengabaikan tanda.

Ruang Penyimpanan lahir dari darah.

Unsur Logam bangkit dari emas.

Jika cincin bereaksi pada makhluk hidup, berarti jalur berikutnya tidak hanya soal benda mati.

Ia membawa Blacky kembali ke ruang kontrol, lalu menyalakan radio wideband pada jadwal intel malam lebih awal. Dua hari setelah beku, suara manusia hampir hilang. Tetapi hampir bukan berarti kosong.

Pada pukul 14.26, saluran pendek menangkap percakapan pecah.

"...kami punya makanan kaleng... ulangi, makanan kaleng masih ada..."

Hendra langsung merekam.

Suara lain menjawab dengan batuk berat.

"Kalian punya obat demam? Kami punya tabung gas. Tabung kecil dan beberapa besar. Tapi kami tidak keluar jauh."

Kelompok supermarket.

Kelompok perusahaan gas.

Nama dan lokasi jelas tidak disebut. Mereka cukup pintar untuk menahan alamat penuh di radio terbuka, tetapi cukup putus asa untuk menawarkan isi gudang.

Hendra memperbesar peta lama Bandung dan menandai kemungkinan.

Supermarket besar yang punya stok kaleng dan radio darurat.

Depo atau kantor distribusi gas yang punya tabung LPG, mungkin pemanas portabel, mungkin kendaraan operasional.

"Baterai," suara supermarket menjawab. "Kami butuh baterai, obat diare, antibiotik. Kalian kirim gas, kami kasih makanan."

"Jalan penuh es. Orang kami cuma bisa sampai jembatan layang kalau angin turun."

"Besok pukul sebelas."

"Kalau kalian bawa orang bersenjata, barter batal."

"Kalau kalian bawa tabung kosong, kalian mati."

Hendra tersenyum.

Dunia membeku, tetapi cara manusia bicara tetap sama. Makanan, obat, bahan bakar, ancaman. Empat mata uang paling jujur setelah hukum mati.

Ia tidak berniat ikut barter.

Belum.

Kelompok yang berani bicara di radio berarti punya sesuatu. Kelompok yang punya sesuatu berarti akan segera didatangi kelompok yang ingin mengambil. Lebih baik ia mendengar dulu, menandai, lalu menunggu siapa yang masih hidup setelah beberapa putaran.

Intel lebih murah daripada peluru.

Hendra menyimpan rekaman itu dengan label:

Supermarket - makanan kaleng - butuh obat/baterai.

Perusahaan gas - tabung LPG - mobilitas terbatas - titik barter jembatan layang.

Potensi konflik antarkelompok.

Blacky menatap layar, tidak mengerti peta, tetapi mengerti nada suara. Ia menggeram kecil saat salah satu orang di radio mengancam.

"Benar," kata Hendra. "Yang masih bisa barter hari ini bisa merampok besok."

Sore, Hendra olahraga.

Ia berlari di treadmill lipat, mengangkat beban, melatih pukulan pendek, lalu menggerakkan jari-jari sampai sendi terasa panas. Unsur Logam membuat tubuhnya lebih kuat dan tahan, tetapi kekuatan yang tidak dipakai akan menjadi karat di kepala.

Setelah itu ia membuat Blacky berjalan di jalur kecil yang sudah dilapisi karpet. Tidak lama. Cukup agar tubuhnya tetap aktif.

Hidup di dalam es bukan berarti tidur di atas stok makanan.

Itu disiplin.

Malam turun tanpa warna.

Hendra duduk di meja riset. Di depan matanya terbuka catatan lima unsur yang ia susun dari ingatan kehidupan lalu, reaksi cincin, dan hasil serapan emas.

Logam sudah tuntas.

Tubuhnya lebih kuat. Tulang, otot, kulit, dan kendali terhadap benda logam berubah menjadi senjata.

Tetapi Logam hanya satu pintu.

Di bawahnya, ia menulis:

Unsur berikutnya: Kayu.

Kemungkinan bahan: pohon tua, inti kayu berusia panjang, akar yang menyimpan vitalitas.

Kemungkinan efek: indra, pemulihan, koneksi hidup.

Risiko: belum diketahui.

Ia membuka peta lahan belakang. Hutan di belakang bunker tidak besar bagi orang biasa. Tetapi sebelum membeli tanah, Hendra sudah memeriksa foto satelit, arsip kehutanan lama, dan cerita warga. Ada beberapa pohon sangat tua di lereng lebih dalam, tumbuh sebelum jalan kecil itu ada, sebelum vila-vila Bandung pinggiran mulai naik harga.

Dulu ia menganggapnya cadangan kayu dan penyamaran alami.

Sekarang, setelah cincin menghangat pada Blacky, hutan itu terlihat seperti gudang bahan yang belum diberi label.

Hendra menyentuh cincin.

"Emas membangun Logam," gumamnya. "Kalau Kayu butuh hidup yang tua..."

Blacky mengangkat kepala dari karpet.

Di layar luar, angin membawa serpihan putih melintasi hutan belakang. Pohon-pohon tua berdiri kaku di tengah es, hitam, sunyi, dan seolah menunggu.

Hendra menutup catatan, tetapi tidak mematikan peta.

Besok ia tidak akan keluar jauh.

Ia hanya akan mengetuk hutan di belakang rumahnya sendiri.

Jika salah satu pohon itu menjawab cincin, maka dunia beku ini baru saja memberinya jalan naik level berikutnya.

1
Alia Chans
Hadir ni... semangat nulis nya😉/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!