NovelToon NovelToon
Satpam Sakti: Sang Raja Serigala

Satpam Sakti: Sang Raja Serigala

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Bima hanyalah satpam bergaji kecil di apartemen mewah Surabaya. Ia diremehkan preman, diinjak atasan, dan dipandang rendah penghuni kaya. Tak ada yang tahu, pria ini dulunya Sang Raja Serigala, pemimpin tentara bayaran legendaris, pewaris Aji Surya Candra, serta pemilik rahasia yang bisa mengguncang kota.
Kembali ke tanah air untuk menepati janji melindungi kerabat rekan seperjuangan yang gugur, Bima bersembunyi sebagai satpam dan menanggung segala hinaan. Musuhnya datang beruntun: korlap satpam, konglomerat pengirim pembunuh, hingga Padepokan Giri Wesi. Ia menumbangkan lawan di ring maut Sayembara Pedang Emas, membongkar konspirasi Kelab Arwah, dan mencapai puncak ilmu silat Manunggal.
Di sisinya berkumpul berbagai wanita: janda anggun, polisi cantik keturunan jenderal, direktur muda, dan pesilat wanita misterius. Cinta, dendam, kuasa dan rahasia saling bertaut.
Mereka memerintahnya berlutut. Bima membuat semua orang mendongak kepadanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Bab 16: Wajah Tanpa Malu, Sopir Pribadi Baru

Cakar Rajawali Darman hanya menangkap udara.

Bima bergeser dengan Langkah Kijang. Tubuhnya melintas setengah langkah ke samping tepat sebelum jari-jari keras itu menyentuh seragam.

Darman kehilangan sasaran, tetapi segera memutar siku. Bima masuk lebih dekat, mengunci pinggang dan bahunya, lalu memakai momentum serangan untuk membantingnya.

BRAK!

Tubuh Darman menghantam karpet ruang rapat. Udara keluar dari paru-parunya.

Bima menahan satu lengan di belakang punggung. "Tamu seharusnya duduk baik-baik."

"Lepas! Kau tahu siapa guruku?" Darman meronta. "Aku murid luar Padepokan Giri Wesi. Guru Besar Eyang Sindhu nggak akan membiarkan..."

Nama itu membuat Gita menegang. Bahkan orang di luar dunia silat pernah mendengar reputasi Giri Wesi.

Bima justru mengurangi tekanan. Membuat cacat seorang murid padepokan tanpa kebutuhan akan memberi mereka alasan kehormatan untuk datang. Namun membiarkan serangan itu tanpa konsekuensi juga akan dianggap takut.

Salah satu sandal kulit Darman terlepas saat dibanting.

Bima mengambilnya.

PLAK!

Sandal itu mendarat di pipi Darman.

"Itu untuk keramik."

PLAK!

"Itu untuk mengancam perusahaan."

PLAK!

"Dan itu untuk menyerang orang saat masih mengenakan kartu tamu."

Darman tidak terluka berat, tetapi wajahnya merah dan harga dirinya hancur di depan Vanya, Gita, Selvi, serta dua staf hukum yang merekam sejak ancaman dimulai.

"Cukup!" Selvi berdiri. "Lepaskan dia!"

Bima melempar sandal ke samping lalu mundur. Darman bangkit dengan napas kasar. Ia ingin menyerang lagi, tetapi tatapan Bima menjelaskan bahwa bantingan tadi baru peringatan.

Selvi meraih lengannya. "Kita pergi."

Ia mengumpulkan dokumen yang boleh dibawa, sementara surat penawaran yang sudah diterima resmi tetap berada di meja Larissa. Salah satu staf hukum meminta salinan rekaman rapat; Vanya menolak sampai tim hukum internal memeriksa permintaan tertulis.

"Kalian akan menyesal," kata Selvi di pintu.

"Kirim ancamannya lewat surat resmi juga," balas Gita. "Biar mudah diarsipkan."

Selvi menyeret Darman keluar.

Pak Hadi dan dua satpam menunggu di koridor. Setelah mendengar ringkasan kejadian, mereka mengawal rombongan sampai gerbang tanpa kontak tambahan. Identitas kendaraan dan waktu keluar dicatat.

Vanya segera meminta bagian hukum membuat kronologi. Rekaman rapat, foto keramik retak, daftar saksi, kartu tamu, dan salinan surat penawaran disimpan di server terpisah. Kerusakan lantai akan ditagihkan kepada pihak tamu melalui surat, bukan dipakai sebagai alasan balas dendam liar.

"Kalau Darman membawa nama Giri Wesi?" tanya Gita.

Bima menjawab tanpa membanggakan diri. "Rekaman menunjukkan dia menyerang lebih dulu dan saya berhenti setelah ancaman berakhir. Jangan menghina padepokannya dalam surat. Pisahkan tindakan Darman sebagai individu dari lembaganya. Kalau mereka menjaga nama baik, mereka justru harus menilai siapa yang memulai."

Vanya mengangguk. Nasihat itu menghindarkan Larissa dari kesalahan mengubah konflik dengan satu direktur keamanan menjadi tantangan terbuka terhadap seluruh padepokan.

Di ruang istirahat, para satpam memandang Bima seolah ia baru turun dari ring pertandingan.

"Kamu pernah bilang cuma bisa bela diri sedikit," kata Pak Hadi.

"Sedikit yang sering dipakai, Pak."

"Kalau manajemen melihat rekaman, bisa-bisa kamu dijadikan kepala regu."

Bima menuang air. "Saya baru dua hari di sini. Posisi Pak Hadi aman. Saya nggak tertarik merebutnya."

Jawaban itu membuat bahu para petugas lain turun. Mereka kagum, tetapi tidak lagi merasa Bima datang untuk menyingkirkan orang lama.

Tak lama kemudian, Gita muncul di pintu.

"Bu Vanya memanggilmu."

Dalam perjalanan ke ruang kerja, Bima melihat gelang berlian besar di pergelangan Gita.

"Gelangnya bagus, Bu Gita."

Gita mengangkat tangan. "Asli atau imitasi, Bang Ahli?"

"Kalau asli, pengaitnya terlalu longgar untuk dipakai keliling kantor. Kalau imitasi, Bu Gita membayar terlalu mahal untuk membuat saya menatap."

"Siapa bilang aku ingin kamu menatap?"

"Berarti imitasi."

Gita mendengus, tetapi menahan tawa.

Vanya menunggu bersama staf SDM dan pengawas keamanan. Surat penawaran akuisisi sudah dimasukkan ke map bukti internal. Tim hukum perusahaan akan mengirim penolakan tertulis dan menyimpan rekaman ancaman untuk langkah somasi atau laporan bila ada gangguan lanjutan.

"Pak Bima," kata Vanya, "pekerjaan Anda hari ini melampaui tugas penjagaan pintu."

"Darman menyerang lebih dulu."

"Itu terlihat di rekaman. Saya tidak memanggil untuk menghukum." Vanya mendorong lembar uraian jabatan. "Saya membutuhkan sopir pribadi yang juga mampu menjadi pengawal. Gita sering ikut dalam perjalanan bisnis. Posisi ini kosong sejak dua minggu lalu."

Gita menambahkan, "Dan satpam lain nggak ada yang berani memukul murid Giri Wesi pakai sandal."

Gaji yang ditawarkan Rp15 juta per bulan, belum termasuk lembur dan perjalanan. Kendaraan dinasnya BMW seri 7 milik perusahaan. Bima akan tetap berada di bawah kontrak Larissa, tetapi melapor langsung kepada Vanya untuk jadwal perjalanan dan kepada Pak Hadi untuk protokol keamanan gedung.

"Kami perlu memeriksa SIM A dan kemampuan mengemudi," kata staf SDM.

Bima menyerahkan SIM yang masih berlaku. "Silakan tes."

"Kenapa orang dengan pengalaman keamanan luar negeri bersedia menjadi satpam dengan gaji biasa?" tanya Vanya.

Bima menatap lembar jabatan, lalu memilih sebagian kebenaran.

"Saya pernah jadi prajurit kontrak. Ketika berhenti, sebagian besar uang pesangon saya berikan kepada keluarga rekan-rekan yang gugur. Saya pulang untuk hidup lebih sederhana."

Ia tidak mengatakan bahwa uang itu bernilai jutaan dolar, bahwa para penerimanya adalah anak buah Serigala Merah, atau bahwa ia sendiri yang membubarkan pasukan.

Vanya menatapnya dengan rasa hormat baru. Gita juga berhenti menggoda.

"Kalau lulus tes, posisi mulai efektif besok," kata Vanya.

Tes mengemudi dilakukan di rute kota dan parkir gedung. Bima mengendalikan BMW besar itu dengan halus, menjaga jarak, membaca motor dari titik buta, dan memarkir hanya dalam satu gerakan. Sebelum sore berakhir, perubahan kontrak ditandatangani.

Ia mengantar Vanya dan Gita pulang sesuai jadwal. BMW tetap menjadi aset perusahaan; Bima menerima kunci, kartu bahan bakar, log kilometer, dan kewajiban melaporkan setiap penggunaan.

Ia memotret kondisi bodi, jumlah bahan bakar, dan odometer saat serah terima agar tidak muncul sengketa kerusakan kemudian.

Formulir penyerahan kendaraan turut ditandatangani petugas armada sebagai saksi perusahaan.

Malamnya, setelah mengembalikan kendaraan ke parkir aman perusahaan, Bima menuju rumah Anindya dengan kendaraan daring.

Undangan makan malam itu sempat tertunda oleh Reno. Anindya mengabari bahwa Sasa masih tinggal bersama pengasuh tepercaya sampai ia yakin ancaman benar-benar reda. Tidak ada anak di rumah malam itu.

Bima menekan bel.

Pintu terbuka.

Anindya berdiri di ambang mengenakan kaus rumah longgar dan celana panjang sederhana. Rambutnya diikat asal, wajahnya tanpa riasan kantor. Penampilan biasa itu justru membuat Bima kehilangan kata selama satu detik.

"Mau berdiri di luar sampai makanannya dingin?" tanya Anindya.

1
GEMBONG SAKTI
hilangkan penyebutan saya, pakai aku malah lebih bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!