Alexander pria yang dingin dan sangat susah untuk di sentuh. Dan semenjak meninggalnya sang istri, Alexander tidak lagi membuka hati untuk siapapun. Karena hati dan cintanya juga ikut mati dengan istri tercintanya.
Dan karena satu insiden membuat Alex terpaksa menikahi wanita yang bernama Kartika.
Mampukah Kartika meluluhkan hati Alex, atau malah sebaliknya?
"Cinta? Bagiku hanya ada satu cinta untuk satu wanita saja."
"Cinta? Bagiku, selama kau bisa membuat orang bahagia maka itulah yang di sebut cinta." Kartika Wijaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Hana terus saja tertawa saat membaca lembaran yang tertulis kalau Alex hanya ingin menjadikan dirinya sebagai istri kontrak selama enam bulan lamanya. Dan selepas itu, Alex akan menceraikan dirinya dan memberikan konpensasi atas kerjanya selama menjadi istri kontrak.
Miris bukan? Dimana biasanya malam pertama bagi sepasang kekasih akan di habiskan dengan penuh gairah di atas ranjang. Namun pasangan yang baru saja menikah ini sangat berbedah jauh dari pasangan lainnya.
"Dan satu lagi. Jangan pernah berani mencoba mencuri hati anak-anakku." Kata Alex.
"Kau pikir aku mau menandatangani berkas ini?" Tanya Kartika sambil mengangkat selembar kertas di hadapan Alex. "Dan kau pikir aku ini tukang beda? Yang bisa mencuri hati? Aneh sekali kamu." Ucap Kartika.
"Kau!" Geram Alex melihat tingkah wanita yang saat ini ada di hadapannya. Wanita yang tidak pernah habis kata-kata untuk membalas perkataannya.
"Kenapa? Kau mau bilang aku cantik? Ouh yah, makasih..." Kartika tersenyum seakan mengejek Alex.
"Ini ambillah. Aku tidak butuh uang darimu." Kata Kartika sambil melempar kertas di atas meja.
Alex menatap tajam Kartika yang dengan santainya melempar kertas perjanjian kontrak yang sudah di siapkan oleh asistennya.
Perempuan macam apa yang ada di hadapannya ini.? Sudah banyak sekali tawaran yang Alex berikan namun semua di tolak mentah-mentah oleh wanita yang kini telah menjadi istrinya.
"Katakan apa maumu?" Tanya Alex sambil menahan tangan Kartika agar tidak pergi.
"Aku?" Jawab Kartika sambil melihat wajah Alex.
"Aku hanya ingin menjaga Molki dan juga Mora." Jawab Kartika dengan jujur
"Bullhsit." Ucap Alex dengan tajam.
Ya, mana bisa wanita jaman sekarang mau menikah dengan pria yang sudah memiliki anak, dan mau tulus menyayangi anaknya. Yang ada wanita jaman sekarang menikah hanya karena ingin hidup mapan dan serba berkecukupan. Jadi bagi Alex, ucapan Kartika hanya kebohongan saja. Untuk menutupi jati dirinya, atau untuk mengelabui Alex dan juga anak-anaknya.
"Bagaimana jika aku memang benar?" Tantang Kartika.
"Semua wanita sama saja. Mereka hanya baik di awal namun dengan tujuan yang sama. Mereka hanya murni mencintai harta, harta dan harta saja. Dan aku yakin kau pun sama dengan wanita di luar sana."
"Bagaimana jika aku berbeda."
"Hahahahhahaha." Alex tertawa.
"Kau sama saja. Kau tidak akan mungkin bisa berada di rumah ini saat ini jika bukan karena kelicikanmu."
"Ouh yah?"
"Kau!" Alex ingin sekali menampar pipi Kartika namun tangannya masih melayang di udara kala Kartika menatap tajam pada Alex.
"Simpan semua hartamu itu. Aku tidak butuh sepersen pun. Jika sudah waktunya, aku pun akan pergi dari rumah ini. Tanpa membertahukan mu, dan tanpa membawa sepersen pun harta milikmu." Ucap Kartika dengan tegas, lalu memutar tubuhnya dan berjalan keluar dari kamar Alex.
Alex masih memantung mendengar jawaban Kartika yang tadi ia dengar. Lalu beberapa saat kemudian Alex menarik sudut bibir atasnya membuat senyum tipis yang sulit untuk dilihat.
"Aku akan buktikan, kalau kau! Hanya wanita pencinta harta saja." Gumam Alex.
Di luar pintu. Kartika memegang da*da nya yang terasa nyeri. Entah kenapa setiap berhadapan dengan Alex, jantung Kartika berdetak lebih cepat dari biasanya. Dan entah kenapa perasaan itu, perasaan yang sulit untuk Kartika gambarkan selalu saja muncul ketika berhadapan dengan Alexander. Pria yang namanya pernah sempat bertahta di dalam hati Kartika.
"rumah yang tadinya gelap, kini menjadi terang kembali. suasana yang tadinya sunyi, kini kembali diisi suara obrolan, candaan dan tak jarang terdengar tawa riang. hingga akhirnya beberapa jam kemudian kembali terdengar sunyi. tak terasa waktu bergulir, matahari kembali menampakkan diri di ufuk timur. kegiatan manusia kembali nampak di lingkungan rumah itu. termasuk truk sampah yang rutin singgah mengambil sampah dari rumah itu. ketika sang awak truk turun untuk memindahkan sampah dari dekat pagar rumah, beberapa serpihan kertas coklat jatuh dari tong sampah yang dibawa sang awak truk. ya, serpihan kertas sampul coklat yang berisi surat gugatan cerai yang kini sudah koyak hancur tak bersisa. hanya menyisakan kenangan di secuil tempat di sudut hati. untuk menjadi pelajaran menatap masa depan yang bahagia. TAMAT.