Sembilan belas tahun lalu, Ryuichi Soryu ditemukan tewas dengan cara yang mengguncang jagat dunia bisnis Indonesia.
Berita kematiannya menjadi tajuk utama di seluruh kanal media pada saat itu, memicu kepanikan massal hingga membuat saham-saham di bawah naungan Soryu Group terjun bebas ke titik terendah.
Polisi menutup kasus itu dengan dalil "perampokan biasa" sebuah narasi yang tak masuk akal bagi siapa pun yang mengenal konglomerat berdarah Jepang itu.
Yang membuat kasus pembunuhan itu semakin terlihat jangal adalah tak ada satupun barang berharga yang hilang, tak ada satu pun saksi mata dikejadian perkara, seolah nyawa sang konglomerat hilang begitu saja.
Bagi sang putra, kematian ayahnya itu bukan sekadar tragedi. Itu adalah luka yang membekas di hidupnya selamanya.
Sekarang dirinya sedang mencari sang pelaku dan menyeretnya menuju kehancuran yang setimpal dengan apa yang dia dan ayahnya rasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
𖣂|Bab 33 Davian Kau Cengeng Sekali|
...|Legacy of Soryu|...
......· · ─ ·𖥸· ─ · ·......
Di dalam ruangan sempit berbau pengap itu, Davian masih setia duduk di kursi besi di samping kasur tempat Bara dibaringkan. Kedua tangan Davian masih terikat kuat ke belakang kursi, membuat bahunya terasa luar biasa pegal. Matanya sudah bengkak dan sembab karena terlalu banyak menangis sejak beberapa jam yang lalu.
"Wakadanna... tolong bangun," bisik Davian dengan suara yang hampir habis. "Jangan bercanda seperti ini. Ini sama sekali tidak lucu."
Bara masih tetap tidak bergerak. Napasnya terdengar sangat tipis di balik balutan perban darurat yang kini mulai berubah warna menjadi kecokelatan akibat darah yang mengering.
"Wakadanna, saya minta maaf," isak Davian lagi, kepalanya tertunduk lesu.
"Semua ini salah saya. Kalau saja saya tidak mengusulkan ide konyol untuk menyamar jadi mahasiswa di kampus Nona Nana, kita tidak akan berakhir di gudang berdebu ini. Saya yang bersalah, Wakadanna. Tolong hukum saya saja, potong gaji saya juga tidak apa-apa, asal Anda bangun..."
Tiba-tiba, ujung jari telunjuk tangan kanan Bara bergerak sedikit, menggeser debu di atas kasur tipis itu.
Davian langsung menegakkan tubuhnya, matanya membelalak lebar di balik kacamata bulatnya. "Wakadanna?!"
Bara mengerang pelan, sebuah suara serak yang keluar dari tenggorokannya yang kering. Kelopak mata kanannya bergerak, perlahan terbuka setengah, sementara mata kirinya masih terlalu bengkak untuk bisa digerakkan.
Kesadarannya seperti ditarik paksa dari dasar laut yang sangat dalam. Begitu jiwanya kembali ke tubuh, seluruh rasa sakit akibat siksaan Shu langsung menghantam sarafnya secara bersamaan.
"Papa..." bisik Bara dengan suara yang sangat parau.
Davian mengerjap, kebingungan. "Papa? Wakadanna, ini saya, Davian! Anda tidak sedang melihat hantu, kan?"
Bara berkedip beberapa kali sampai fokus matanya kembali normal. Ia menatap langit-langit ruangan yang hanya diterangi sebuah lampu bohlam kuning yang redup. Rasa perih di perut dan dadanya membuat ia harus menarik napas pendek-pendek.
"Davian," panggil Bara serak.
"Iya, Wakadanna! Saya di sini! Anda butuh air? Atau butuh ambulans? Saya akan teriak panggil Shu—"
"Kencing," potong Bara pendek.
Davian tertegun, mulutnya yang tadinya terbuka langsung terkatup kembali.
"...Apa, Wakadanna?"
"Aku ingin kencing, Davian. Lepaskan ikatanku," ulang Bara sembari mencoba menggerakkan kedua tangannya. Ia baru menyadari bahwa anak buah Shu telah melepas tali yang melilit pergelangan tangannya sebelum mereka membalut lukanya tadi.
Davian mendadak tertawa kecil, sebuah tawa histeris yang bercampur dengan sisa air mata di pipinya.
"Aduh, Wakadanna! Saya sudah menangis sampai mau mati karena mengira Anda akan lewat, tapi pertanyaan pertama Anda setelah sadar dari koma justru soal buang air kecil?! Luar biasa sekali mental Anda ini!"
"Tanganmu masih terikat?" tanya Bara, mengabaikan omelan asistennya.
"Iya, menurut Anda bagaimana? Mereka tidak melepaskan saya sejak sore tadi," gerutu Davian sambil menggoyangkan bahunya yang kaku.
Bara memaksakan tubuhnya untuk duduk di tepi kasur. Gerakan sederhana itu memicu rasa sakit yang luar biasa di bagian tulang rusuknya, menyebabkan beberapa jahitan darurat di dadanya kembali merembeskan darah segar.
"Wakadanna, jangan banyak bergerak dulu! Luka Anda terbuka lagi itu!" seru Davian panik.
"Diam, Davian. Aku tidak apa-apa," ujar Bara dingin, mengunci keluhan sakitnya dalam-dalam. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang berukuran tiga kali empat meter itu. Pintu besinya tertutup rapat dari luar.
Secara refleks, tangan kanan Bara meraba bagian belakang pinggang celananya, di balik jaket kulit cokelatnya yang kini robek dan kotor. Jari-jarinya menyentuh permukaan logam dingin yang sangat ia kenal. Pistol semi otomatisnya masih ada di sana—sama sekali tidak tersentuh. Anak buah Shu tampaknya terlalu amatir atau terlalu percaya diri hingga mengabaikan pemeriksaan tubuh secara menyeluruh karena mengira Bara tidak akan melawan.
"Kita akan keluar dari tempat ini," kata Bara sembari menatap ke arah pintu.
"Iya, Wakadanna. Tolong bawa saya pergi sekarang juga, saya sudah tidak tahan dengan bau ruangan ini, bau Pesing!" sahut Davian cepat.
"Tapi tidak sekarang."
Davian mengernyitkan dahinya. "Lho? Kenapa lagi? Senjata Anda masih ada, kan? Tinggal dorong pintunya lalu kita tembak jalan keluar!"
"Aku harus berbicara dengan Shu Hades sekali lagi sebelum kita pergi dari sini," jawab Bara, tidak bisa diganggu gugat.
"Wakadanna, Anda sudah dihajar sampai muntah darah seperti ini! Apa Anda belum kapok juga?!" protes Davian dengan suara melengking.
"Aku baru saja bertemu dengan ayahku di dalam sana," ujar Bara pelan, suaranya terdengar sangat serius. "Dia mengatakan bahwa kebenaran tentang kematiannya akan segera terungkap. Dan aku yakin, Shu... atau mungkin ayahnya, Ariessendy, adalah jembatan menuju kebenaran itu."
Davian terdiam, ia menatap wajah babak belur majikannya dengan pandangan yang melunak. Rasa bersalah kembali mengiris hatinya. Ia tahu betapa besarnya obsesi Bara terhadap masa lalu yang telah merenggut masa kecilnya.
"Wakadanna..." Davian berbisik lirih, air matanya kembali menetes tanpa bisa ditahan.
"Kenapa kau menangis lagi, Davian? Kau ini cengeng sekali," tegur Bara, meskipun nada suaranya tidak sedingin biasanya.
"Saya... saya hanya merasa menjadi asisten yang sangat gagal. Saya yang menjerumuskan Anda ke dalam lingkaran setan ini," jawab Davian di sela isak tangisnya.
Bara terdiam sejenak. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia mengulurkan tangan kanannya yang dipenuhi bekas lebam, lalu menepuk pundak Davian dengan perlahan-gerakan yang mirip dengan apa yang dilakukan ayahnya di dalam mimpi tadi.
"Terima kasih, Davian," ucap Bara tulus.
Davian mendongak, menatap atasannya dengan mata berkaca-kaca. "Untuk apa, Wakadanna?"
"Karena kau tidak melarikan diri meninggalkanku. Karena kau satu-satunya orang di dunia ini yang menangis dengan tulus untukku, bukan karena takut pada kekuasaanku atau menginginkan uangku," Bara menjeda kalimatnya, lalu sebuah garis tipis melengkung di sudut bibirnya yang pecah, "meskipun harus kuakui, kau kadang-kadang sangat menyebalkan dan terlalu banyak bicara."
Davian langsung tertawa di tengah tangisannya, ia mengusap hidungnya dengan bahu. "Itu namanya bumbu pelengkap, Wakadanna. Kalau saya kaku seperti Anda, kantor kita akan berubah jadi kuburan."
Bara menarik kembali tangannya dan bersandar pada dinding semen di belakangnya, bersiap mengumpulkan kekuatan fisik sebelum pintu besi di depan mereka kembali terbuka.
Komen pertama , like + bunga🌹 , semangat😉