[Terbit Novel]
Perjalanan cinta unik antara Psikiater dan CIA bernama Justin, untuk mendapatkan informasi mengenai mafia yang menjadi targetnya ia harus berpura-pura menjadi pasien dari Psikiater cantik bernama Jessy.
Bukannya berjalan dengan lancar sesuai rencana, ia malah harus terjebak bersama Jessy. Pertengkaran layaknya Tom & Jerry selalu mengisi pertemuan mereka. Tak menyangka, hal itu justru membuat mereka saling jatuh cinta.
Saat keduanya memutuskan untuk menikah, Justin tidak bisa menjawab pertanyaan Jessy 'Apa pekerjaan mu?' semua semakin rumit saat Justin mendapatkan misi tentang pembunuhan berantai yang disusul oleh kematian Larissa, sahabat Jessy. Kesalahpahaman dan kecurigaan mulai muncul. Akankah semuanya terpecahkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhea Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Make-up
Jessy masuk kedalam toilet. Sedikit berpapasan dengan beberapa wanita yang hendak keluar dari dalam. Ia menatap pantulan dirinya sendiri dicermin.
"Aku harus sedikit bermake-up." Jessy membuka kopernya, mengeluarkan tas make-up dan memperhatikan sekilas apasaja yang akan ia gunakan.
"Tidak boleh terlalu polos bertemu dengan orang penting." Jessy tau dari Sam saat dimobil tadi, jika ayah Justin adalah Alex, seorang pembisnis yang sudah beberapa puluh tahun terjun di dunia bisnis, untuk keberhasilannya tidak usah diragukan lagi, bahkan kekayaannya hampir melebihi Richard, tak diragukan lagi jika banyak beberapa pengusaha lainnya ingin bekerjasama dengan Alex.
"Kenapa pria itu tak menurun ke ayahnya? Ayahnya hebat, dan ia malah seperti itu." Gerutu Jessy sambil mengenakan bedak padat, menambah kan warna lipstik dibibirnya yang sudah berwarna pink, tak lupa maskara dan blush-on.
🧚: Jessy belum tahu saja, dibalik keahlian Alex yang handal dalam bisnis, ada kelakuan bejad yang selalu mengintai para wanita cantik.
Setelah dirasa cukup, Jessy memasukkan kembali tas make-up nya kedalam koper. Ia menata kembali rambutnya. Tiba-tiba Jessy terdiam, ia sedikit merenung dan berfikir. Apakah ia harus melanjutkan permintaan pertanggung jawaban dari Justin? Atau ia harus berdamai saja dengan pria itu agar mereka bisa kembali pada kehidupan mereka masing-masing?. Jessy dan Justin tidak bisa bersama, mereka selalu berkelahi dan tak cocok satu sama lain. Tapi disisi lain ia takut terjadi apa-apa pada dirinya, Justin seorang pembohong, ia tak bisa percaya begitu saja pada pria itu. Ia yakin Justin melakukan hal kurang aja saat ia tertidur.
"Kita lihat saja perkembangannya nanti." Gumam Jessy. Ia berjalan keluar toilet.
Alis Jessy sedikit terangkat saat tak menemukan Justin dimeja, ia hanya melihat Sam duduk disana.
"Kemana pria menyebalkan itu?" Tanya Jessy. Merasa sedikit tak sopan, Jessy sedikit terbatuk.
"Maksud ku Justin." Koreksi Jessy. Sam tersenyum ramah.
"Justin sedang mengganti pakaiannya, ia akan kena marah jika berpenampilan tidak rapi seperti tadi." Jessy mengangguk mengerti, sekarang ia sedikit paham. Mungkin Alex seorang pria berkarisma dan tegas, sedangkan anaknya petakilan dan tak beraturan.
"Jadi.."
"Ya?" Tanya Jessy saat Sam tak melanjutkan ucapannya.
"Asal Kanada dan baru 3 tahun di LA?" Tanya Sam. Jessy mengangguk. Sam mengangguk pelan, ia baru mendapatkan biodata lengkap Jessy, ternyata wanita ini begitu jujur dan pertanyaan di mobil tadi, Jessy jawab dengan tepat. Sam sedikit tersenyum saat mengetahui pekerjaan ayah dan Ibu Jessy, Alex pasti akan langsung menyetujui hubungan keduanya.
"Kenapa tidak masuk bidang hukum mengikuti kedua orangtua mu, nona?"
"Sebenarnya sudah banyak orang yang menanyakan ini. Tapi intinya aku tidak suka hukum. Terlalu mengerikan. Aku lebih suka menenangkan oranglain." Jessy menatap sekitar, lalu menatap Sam ragu.
"Aku ingin tau, apakah pria itu sudah memiliki kekasih?" Akhirnya pernyataan itu mengalir lancar. Ini adalah pertanyaan dari beberapa pernyataan yang hinggap di kepalanya. Ia tidak menghancurkan hubungan oranglain bukan untuk meminta pertanggung jawaban ini.
"Tidak. Dia tidak pernah terlihat berpacaran, ia lebih suka mendekati para wanita dan menggodanya saja."
"Benar-benar pria brengsek." Gumam Jessy pelan.
-
Justin tersenyum miring saat berjalan menghampiri kedua orang yang tengah berbincang. Ia kini mengenakan Hoodie hitam.
Ia sedikit memperlihatkan wajah Jessy sebelum ia sampai di meja.
"Kau berdandan? Untuk bertemu pria tua?" Ejek Justin, membuat keduanya menoleh. Justin duduk diseblah Jessy.
"Justin. Pria tua itu adalah ayah mu." Peringat Sam. Justin tak mengindahkan ucapan Sam, ia fokus pada Jessy, wanita itu tampak malas saat mendapati dirinya.
"Itu lebih baik dari pada harus berdandan untuk mu!"
"Jelas-jelas mau menyukai ku, masih saja berlagak membenci ku." Ejek Justin.
°°°
Guys, untuk visual nya kita ganti yaa. kayanya Gigi Hadid sama Zayn Malik lebih cocok, biar banyak juga foto uwu mereka😂.
bingung aku...
mohon pencerahannya para readers sekalian
semangat terus berkarya author
tp aku lebih suka visual jessy yg di cerita tentang Alicia