Genki Harto, pewaris tunggal konglomerat terkaya se-Asia, baru berusia tiga tahun. Tapi setiap malam, dia mengemas baju-baju kecilnya ke dalam buntalan kain usang dan berjalan keluar gerbang mansion.
"Genki mau cari Mama."
Tidak ada yang bisa menghentikannya — bukan pengawal, bukan pengasuh, bukan ayahnya sendiri, Rayhan Harto, CEO yang membuat seluruh dunia bisnis tunduk. Satu-satunya hal yang bisa membuat Genki berhenti menangis... adalah seorang perempuan biasa bernama Keira.
Keira Yanto. Anak angkat yang selalu dianggap rendah oleh keluarganya sendiri. Desainer muda yang terbiasa menelan kepahitan dalam diam. Perempuan yang tidak ingat apa yang terjadi padanya empat tahun lalu — satu tahun penuh yang lenyap dari ingatannya.
Tapi Genki tahu. Entah bagaimana, anak kecil itu tahu.
Dia menolak semua orang, kecuali Keira. Dia memeluk Keira seperti sudah mengenalnya seumur hidup. Dan saat Rayhan mulai menyelidiki masa lalu Keira yang hilang, kebenaran yang muncul jauh lebih mengerikan dari yang ia bayangkan:
Keira bukan siapa yang ia kira.
Genki bukan anak siapa yang semua orang sangka.
Dan orang-orang yang selama ini tersenyum di hadapan Keira... adalah dalang di balik segalanya.
"Kamu bilang aku cuma anak angkat? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya berdiri di depanmu."
Saat identitas asli Keira terungkap, dunia mereka semua akan terbalik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 20: Pertanyaan untuk Meilan
Tetapi bagi Keira, suaranya lebih berat daripada seluruh pesta di dalam rumah.
Keira duduk di ayunan kayu, jari-jarinya masih menyentuh rantai dingin. Ethan berdiri beberapa langkah di depannya. Jarak itu sopan, tetapi pertanyaannya terlalu dekat.
Selama aku pergi, apa yang terjadi padamu?
Keira menatap lampu taman yang jatuh di atas batu pijakan.
"Tidak banyak," jawabnya.
Ethan tidak langsung bicara.
Dulu, ia selalu tahu kapan Keira berbohong. Bukan karena Keira buruk dalam berbohong, tetapi karena ia terlalu terbiasa mengatakan tidak apa-apa sambil menggenggam ujung bajunya sendiri.
Malam ini, kebiasaan itu masih sama.
"Kamu masih begitu," ucap Ethan pelan.
"Begitu bagaimana?"
"Menyimpan semua hal sendiri."
Keira tersenyum kecil. "Kamu juga masih begitu. Mengajukan pertanyaan yang sulit dijawab."
Ethan ikut tersenyum, tetapi matanya tidak ikut ringan. "Aku menyesal tidak pulang lebih cepat."
"Kamu punya hidupmu sendiri, Ko Ethan."
"Dan kamu?"
Keira terdiam.
Pertanyaan itu lebih berbahaya daripada yang pertama.
Hidupnya sendiri. Ia baru mulai memegang kalimat itu belakangan ini, setelah Rayhan datang dengan cara yang tidak mengambil ruang, setelah Genki tertawa di pelukannya, setelah Salma dan Naomi mengingatkan bahwa ia punya nilai di luar Rumah Yanto.
"Aku sedang belajar," katanya.
Ethan menatapnya lama. "Ada orang yang membantumu belajar?"
Keira tahu ia tidak seharusnya merasa bersalah. Ia dan Ethan tidak pernah punya janji apa pun. Masa kecil bukan pertunangan. Kebaikan lama bukan utang hati.
Namun saat ia memikirkan Rayhan, wajahnya tetap menghangat.
Ethan melihatnya.
Senyumnya menipis.
"Aku mengerti," katanya.
Keira mengangkat wajah. "Ko Ethan..."
"Tidak apa-apa." Ethan menggeleng pelan. "Aku hanya berharap, siapa pun dia, dia memperlakukanmu dengan baik."
Keira teringat Rayhan yang bertanya sebelum menggenggam tangannya. Rayhan yang meminta izin sebelum mencium. Rayhan yang berkata ia tidak harus selalu pulang sendirian.
"Dia baik," jawab Keira.
Ada jeda pendek.
Ethan menunduk, menerima luka yang tidak punya hak untuk ia sebut luka.
"Kalau begitu aku lega."
Suara dari arah pintu kaca memotong mereka.
"Ko Ethan?"
Kiara berdiri di sana bersama Mama Kho. Wajahnya masih manis, tetapi matanya bergerak cepat dari Ethan ke Keira, lalu ke ayunan yang menyimpan terlalu banyak kenangan.
"Tante Lily mencari Ko Ethan," katanya lembut. "Katanya waktunya potong kue."
Mama Kho tersenyum hangat. "Kalian di sini rupanya. Keira, masih ingat ayunan ini?"
Keira berdiri. "Iya, Tante."
"Dulu kamu dan Ethan sering menghilang ke sini. Tante sampai hafal."
Kiara tertawa kecil. "Serius, Tante? Aku malah nggak tahu."
"Waktu itu kamu masih kecil dan lebih suka tidur di sofa," kata Mama Kho tanpa maksud buruk.
Senyum Kiara hampir retak.
Ethan melihatnya, tetapi tidak berkomentar.
Keira segera berkata, "Kita masuk, Tante. Nanti tamu menunggu."
Mama Kho menggandeng lengan Ethan. "Ayo. Jangan sembunyi terus. Ini ulang tahunmu."
Saat mereka berjalan kembali, Kiara sengaja menyamai langkah Keira.
"Kak Keira," bisiknya dengan senyum tetap di wajah, "ternyata banyak sekali kenangan Kakak di rumah ini."
"Kenangan lama."
"Tetap saja, kadang yang lama paling susah dilupakan."
Keira menatapnya. "Kalau tidak ada yang sengaja mengingatkan, biasanya orang juga bisa berjalan maju."
Mata Kiara mengeras.
Namun mereka sudah memasuki ruang utama, dan Kiara tidak bisa membalas.
Acara potong kue berlangsung rapi. Mama Kho berdiri di sisi Ethan, Papa Kho di sisi lain. Kiara, atas dorongan Meilan, membawa pisau kue kecil dengan baki perak.
"Biar Kiara bantu," kata Meilan dengan nada ringan yang bisa didengar beberapa tamu.
Mama Kho tampak senang. "Terima kasih, Kiara."
Kiara menunduk. "Dengan senang hati, Tante."
Ethan menerima pisau itu dari Kiara, tetapi gerakannya singkat. Setelah lilin dipadamkan dan kue dipotong, potongan pertama diberikan kepada Mama Kho, lalu Papa Kho.
Meilan menunggu.
Kiara juga menunggu.
Beberapa tamu ikut memperhatikan, seolah potongan kue berikutnya bisa menjadi tanda.
Ethan mengambil piring ketiga.
"Untuk Keira," katanya.
Ruangan tidak benar-benar hening, tetapi cukup banyak mata yang berhenti bergerak.
Keira membeku.
Kiara menatap piring itu.
Meilan cepat tersenyum. "Ethan memang selalu ingat teman lamanya. Kiara, bantu antar."
Gerakan itu halus. Dalam satu kalimat, Meilan mencoba mengambil kembali momen yang hampir jatuh ke tangan Keira.
Kiara mengambil piring dari Ethan sebelum ia bisa melangkah, lalu membawanya kepada Keira.
"Kak Keira, ini dari Ko Ethan."
Suaranya manis.
Tangannya sedikit gemetar.
Keira menerima piring itu. "Terima kasih."
Ia tidak melihat Ethan terlalu lama. Ia bisa merasakan situasi semakin sulit. Di saat yang sama, ponselnya bergetar di tas kecil.
Ray.
Masih di acara?
Keira menatap layar sebentar, lalu membalas singkat.
Iya. Nanti aku kabari setelah pulang.
Balasan datang:
Aku tunggu.
Dua kata itu membuat Keira kembali punya pijakan.
Malam berlanjut dengan obrolan bisnis dan senyum sosial. Kiara berusaha beberapa kali mengajak Ethan bicara tentang luar negeri, tetapi jawaban Ethan selalu sopan dan pendek. Sebaliknya, setiap kali Keira berjalan melewati meja bunga atau mengambil air, mata Ethan mengikuti tanpa sadar.
Meilan melihat semuanya.
Dan wajahnya makin sulit dibaca.
Menjelang akhir acara, Keira memilih pamit lebih dulu dengan alasan harus bekerja pagi. Mama Kho menggenggam tangannya sebentar.
"Sering-sering datang, Keira. Tante senang lihat kamu."
Keira menunduk. "Terima kasih, Tante Lily."
Ethan berdiri tidak jauh. "Aku antar ke depan."
"Tidak perlu," jawab Keira cepat. "Aku pulang dengan keluarga."
Ia tidak ingin memberi Kiara lebih banyak alasan untuk meledak. Ia juga tidak ingin membuat Rayhan, yang sedang menunggunya dengan sabar, berdiri di luar semua percakapan yang tidak ia jelaskan.
Ethan memahami penolakan itu, meski wajahnya sedikit meredup.
"Hati-hati."
"Iya."
Keira keluar bersama Fengky dan Meilan. Kiara berjalan di belakang, senyumnya hilang begitu melewati pintu utama.
Di mobil, Kiara duduk diam beberapa menit, lalu berkata tanpa menoleh, "Kak Keira puas?"
Keira menatapnya. "Puas soal apa?"
"Semua orang lihat Ko Ethan memperhatikan Kakak."
Meilan langsung menoleh dari kursi depan. "Kiara."
"Aku cuma tanya, Ma."
Keira menahan napas. "Aku tidak meminta siapa pun memperhatikan aku."
Kiara tersenyum tipis ke jendela. "Tapi Kakak selalu begitu. Tidak meminta, tapi tetap dapat."
Kalimat itu membuat mobil terasa lebih sempit.
Setelah keluarga Yanto pergi, ruang tamu perlahan kosong. Mama Kho naik ke kamar untuk beristirahat. Papa Kho berbicara dengan staf rumah. Meilan, yang kembali sebentar karena sengaja meninggalkan scarf Kiara di sofa, menemukan Ethan berdiri di dekat meja bunga.
Pria itu menoleh.
"Tante Meilan."
Meilan tersenyum. "Ada apa, Ethan?"
Ethan menatap pintu tempat Keira tadi keluar.
"Keira bagaimana selama ini?"
Senyum Meilan berhenti tipis.
"Maksudmu?"
Ethan menatapnya lagi. Suaranya tetap sopan, tetapi tidak bisa lagi disebut ringan.
"Selama aku pergi, apa dia benar-benar baik-baik saja?"