NovelToon NovelToon
Bukan Salah Rasa

Bukan Salah Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta
Popularitas:37.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ikha dito

"Cynta, kenalin ini Gama ... temen kampung gue" ucap Maya sambil meraih pergelangan tangan Cynta untuk berkenalan dengan seorang cowok yang terlihat dingin dan angkuh.

"Dan perlahan rasa itu datang dan tumbuh bersemi begitu saja tanpa bisa gue cegah ...." Cynta.

"Jangan salahkan dirimu jika rasa itu datang ... Karna rasa kita sama ...." Gama.

Bagaimana akhir kisah Gama dan Cynta, meski keduanya memiliki rasa yang sama akankah cinta mereka berlanjut di saat Cynta mengetahui bahwa Maya sangat mencintai Gama semenjak sahabatnya itu duduk di bangku SMP ...

Akankah Cynta tega menyakiti Maya ...???

Mampir yak ke lapak Gama and Cynta biar bisa tau kisah akhir ceritanya ...

Kita lanjut baca yukkk ...


Nama tokoh, tempat, alur cerita hanyalah kehaluan othor ... tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan real othor yakk ...

Selamat Membaca ...

Semoga syukak ... Tengyu so much for my beloved readers 😍😍😍

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ikha dito, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kabar Duka

"Ndri lo habis pesta bok3p?" Maya dengan menunjukkan cd film dewasa di tangannya.

Andri yang semula menunduk membereskan cd yang berserakan di atas karpet segera mendongak.

"Shiit." umpatnya lirih.

"Siniin May." seru Andri dengan berusaha merampas cd film dewasa itu dari tangan Maya.

Namun dengan cekatan Maya menyembunyikan kaset tersebut di balik punggungnya.

"May... " Andri berdecak.

Cynta hanya diam terpaku di sana. Dia tak ingin ikut campur. Menurut Cynta, itu adalah hal biasa yang dilakukan oleh cowok seusia mereka. Meski dirinya juga belum pernah menontonnya, namun Cynta menilai hal itu wajar.

"Jawab dulu pertanyaan gue." Maya dengan melotot tajam.

Andri terlihat mendesah.

"Semalem anak anak pada nonton di sini. Rame rame, bukan cuma gue doang." aku Andri karena menurutnya menonton film dewasa tersebut adalah lumrah dilakukan para cowok seperti dirinya.

"Itu kan menodai otak lo Ndri!" pekik Maya kesal. Maya tidak menyangka jika teman teman-temanya telah terkontaminasi oleh polusi film dewasa.

Maya memang gadis polos dan sangat peduli dengan teman temannya. Dia pasti akan bereaksi berlebihan jika teman temannya berbuat atau melakukan sesuatu yang tak sesuai aturan.

"Otak otak gue, ngapain elo jadi repot sih."

"Itu bisa jadi candu Ndri, ngalahin candunya narkoba." Maya mengingatkan layaknya seorang ibu pada anak lelakinya.

Jiwa menaungi dan mengayominya langsung keluar. Dan sifat itulah yang membuat Cynta tidak pernah bisa sungguh sungguh marah pada tetangga kamar kosnya tersebut.

"Enggaklah May. Cuma buat referensi aja kalau nanti gue punya pacar." Andri terdengar santai saat mengucapkannya.

Plak...

Andri meringis seraya mengusap pucuk kepala yang telah menjadi pendaratan tangan Maya itu.

Cynta pun ikut meringis seolah merasakan rasa cenat cenut yang dirasakan kepala Andri. Cynta yakin rasanya pasti lumayan sakit.

"Setelah itu lo praktekin sama cewek cewek inceran lo gitu?" Maya dengan melotot tajam pada Andri.

Pyek...

"Nggak gitu May... udah ah nggak usah dibahas." Andri meraup cepat cd ke wadahnya dan meletakkan di dekat meja komputer yang berada tak jauh darinya.

"Ndri, kita itu hidup merantau. Jauh dari orang tua, jadi harus bisa jaga diri. Bukannya malah mengambil kesempatan buat bersenang senang." Maya dengan mendudukkan bokongnya, diikuti dengan Cynta yang duduk sambil menyenderkan punggung pada tepian kasur.

"Iya... iya... ustadzah." Andri dengan nada masih kesal.

"Dibilangin juga." Maya dengan melempar cd dewasa yang tadi sempat disembunyikan olehnya, kepada Andri. Beruntung tidak mengenai wajahnya.

Andri pun meletakkan cd yang telah dilempar Maya ke tempatnya, menyatukan dengan cd yang lainnya.

"Kalian mau minum apa? Teh, kopi, sirup atau apa?" tanya Andri dengan berdiri hendak beranjak keluar dari kamar.

"Cieh... kek warung dong apa aja ada. Terserah deh. Nggak usah repot repot juga." Maya dengan kekeh kecil.

"Gue nggak repot, kalian kan tamu. Lo apa Cyn?" Andri beralih ke Cynta.

"Terserah. Yang ada aja."

"Ok. Tunggu bentar."

Andri pun beranjak keluar kamar.

"Lo tega banget sih May..."

"Nggak papa. Kita udah biasa kok. Lagian gue bener kan? Kita harus saling mengingatkan dan saling menjaga biar nggak salah jalan." Maya melepas tas punggungnya dan meletakkan di sisi duduknya.

"Tapi kan nggak harus nimpuk kepala May, kalau kepala Andri sampai bocor terus darahnya meluber bisa berabe kan."

"Pukulan gue nggak sekuat itu. Lebay lo." Maya meraup wajah Cynta dengan tangannya.

"Ya kali aja pukulan lo bisa bikin Andri kek... habis itu arwahnya menuntut balas sama lo gimana coba..." Cynta dengan telapak tangan tepat di depan leher. Bergerak seolah menghunus lehernya.

"Dasar otak film horor. Biar gue kawinin arwahnya ntar. Biar nggak balas dendam lagi." Maya dengan terkekeh. Maya dan Cynta memang seabsurd itu kalau udah ngomong berdua.

"Siapa yang mau kawin sama arwah?"

Andri tiba tiba masuk dengan membawa nampan berisi dua gelas berisi air mineral.

Cynta dan Maya kompak menoleh ke arah pintu. Tak ada satupun yang menjawab pertanyaan Andri.

"Yah air putih doang. Ngapain tadi pakek nawarin segala Ndri..." Maya menggelengkan kepala tak habis pikir.

"Adanya cuma itu." Andri meletakkan nampan di lantai yang beralaskan karpet tanpa rasa bersalah.

"Mana laptop lo?" Andri pada Maya setelah mendudukkan bobot tubuhnya dia tas karpet.

"Bentar." Maya meraih tas punggung miliknya yang tergeletak di sisinya.

Setelahnya meangambil laptop dari dalam tas dan menyerahkannya pada Andri.

"Dari kemaren ngadat terus. Bentar bentar mati."

Andri segera menyalakan laptop milik Maya, setelah menerimanya. Menekan tombol keyboardnya dan mengarahkan kursor pada layar laptop dengan sangat cepat.

Cynta meraih salah satu gelas berisi air mineral yang disuguhkan oleh Andri lalu meminumnya. Kedua mata Cynta tak berkedip saat melihat kecepatan tangan Andri dalam mengutak atik laptop milik Maya.

Bahkan Cynta terlihat termangu, memandangi aksi Andri yang terlihat lihai.

"Kok sepi sih Ndri, pada kemana?" Maya dengan menghadap ke arah pintu kamar yang terbuka.

"Adam pergi baru aja sebelum lo dateng. Tadi dijemput sama cewek." jawab Andri dengan tak menghentikan tangannya dari menguasai keyboard laptop Maya.

"Ceweknya? Adam punya cewek? Anak kampus gue bukan?" berondong Maya kepo.

"Tauk." jawab Andri singkat dengan menggedikkan bahunya.

"Lo gimana sih... masak nggak tau sih. Kalian kan satu kontrakan." Dengus Maya kesal.

"Bukan berarti gue harus tau urusan mereka May."

"Aldi?" Maya ganti menanyakan teman satu kampungnya yang lain.

"Aldi ngampus, ada kelas katanya." Andri tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop yang tengah digarapnya. Pun tangannya tak berhenti bergerak menggeser kursor dalam layar laptop.

Sesaat keduanya terdiam.

"Kalau Gama?" Maya dengan sedikit terbata saat bertanya.

Meski semenjak tadi Maya sangat ingin tahu keberadaan sosok yang telah digandrunginya semenjak SMU itu, namun mulut Maya seakan terkunci untuk menanyakan keberadaan cowok dingin itu.

Maya harus mengumpulkan keberanian untuk bertanya, meski hanya pada Andri yang notabene pastinya sudah tahu tentang rasa suka Maya pada Gama.

"Dia lagi hiking sama anak maba."

Jawaban Andri seketika membuat bahu Maya meluruh.

Ternyata niatnya untuk bertemu moodboosternya hanya angan saja. Cowok tampan yang bakal menambah asupan vitamin A pada matanya itu tidak ada di sana.

"May... hape lo bunyi keknya." Andri menyenggol bahu maya dengan sikunya.

Dengan ogah ogahan Maya meraih ponsel pintar yang masih ada di dalam tas punggungnya.

"Rumah..." desis Maya saat melihat nama yang tertera pada layar ponsel pintarnya.

Andri pun menoleh.

"Angkat cepat, siapa tahu penting." sentak Andri saat melihat Maya hanya memandangi layar ponsel pintarnya.

"Ah... eh... iya..." Maya tersadar, karena angannya melayang pada wajah tampan Gama.

"Hallo ma... eh apa... innalilahi wa inailaihirojiun. Iya mah."

"Siapa yang meninggal May?" tanya Andri dengan raut wajah cemas.

"Papa gue Ndri." Maya dengan lemas, bulir bening telah menggenang pada kedua matanya.

"Gue anterin pulang sekarang." Andri dengan gegas mematikan laptop Maya dan beranjak berdiri.

"Cynta..." desis Maya mengingat teman kosnya dengan sedikit linglung.

Andri pun menoleh ke belakang. Dilihatnya teman kos Maya itu tengah meringkuk di atas bed dengan kedua mata terpejam. Dengkuran halus terdengar dari mulut gadis yang tengah terlelap itu.

❤❤❤❤

Jangan lupa jejaknya yak...

Lope you all😍😍😍

1
Aftine
ditungguin up kak
Dina Vanti
kok nggak pernah up lagi to kak...lama amat
Anonim
kk gk mo update th lama aku nunggu kk nya update
Nur fadillah
Wadidadawww...Mas Es batunya sudah caiiir...😀😀🤣
Nur fadillah
Waduh...duh...bikin berabe neng Cynta...🤣🤣❤
Nur fadillah
Heemmm...kalau cinta sudah membara rasanya gimana gitu...love..love..😀😀❤❤❤
Nur fadillah
Pasti cembukuuurr....🤣🤣
Nur fadillah
waduh...wafuh...ciapa tuh...🤣🤣
Nur fadillah
Heehee...asyiik...
Nur fadillah
Heeheer...nah kan..kan...🤣🤣🤣
Nur fadillah
Heeheee...🤣🤣🤣
Nur fadillah
Semangat 45 Thooorrr....💪🏻💪🏻🔥🇮🇩
Leny Mariani
lanjut
Ida Nursanti
up nya kelamaan..jadi lupa ceritanya
nona damayanti
mana sambungan nya
Aftine
ingat gama cyn
septi 💎
aw aw aw gercep nih pak dosen 😁
Rhiedha Nasrowi
wihh pak dosen to the poin aja yak 😁😁😁
septi 💎
ya ketahuan 😂
Septi Husna
ih si dosen main tembak2 aj
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!