NovelToon NovelToon
TERBAWA ARUS TAKDIR BERSAMA SUAMI MAFIAKU

TERBAWA ARUS TAKDIR BERSAMA SUAMI MAFIAKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Mafia / Mengubah Takdir / Keluarga & Kasih Sayang / Romansa / Dark Romance
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: PUTRI

Zara — gadis sederhana, polos, dan hidup dalam keterbatasan, namun tetap memancarkan keanggunan yang tak dimiliki siapa pun. Dipermainkan takdir, ia dipersatukan dengan Adrian Romanov, pria dingin, berkuasa, dan menjadi sumber segala penderitaannya. Dituduh, disakiti, dan dikucilkan, Zara harus menelan semua kepahitan sendirian. Namun ketika sebutir nyawa tumbuh di dalam rahimnya, semangatnya bangkit kembali. Demi bayi yang dikandungnya, ia berjanji akan bertahan, melewati badai, dan membuktikan bahwa ketabahan akan mengalahkan segala kepalsuan. Akankah takdir berubah, atau justru luka yang semakin dalam menantinya?



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penolakan Yang Mengubah Segalanya

Tak lama kemudian, ibu keluar dari ruang rawat ayah dan masuk ke ruangan kosong tepat di sebelahnya. Ruangan itu sedang tidak dipakai siapa pun, jadi terasa sepi dan sunyi, hanya dinding putih dan kursi-kursi yang berdiri diam. Di dalam sana sudah menunggu Paman Arsya dan nenekku — orang yang tadi pagi mengantar kami naik mobilnya sampai ke rumah sakit ini.

Apa yang sedang mereka bicarakan? Aku tidak tahu sama sekali.

Beberapa menit berlalu, pintu itu terbuka sedikit, lalu tertutup rapat lagi begitu ibu masuk sepenuhnya.

Di dalam, selain paman yang duduk santai di kursi, ada juga nenekku — punggungnya sudah membungkuk karena usia, matanya agak kabur sehingga memakai kacamata sederhana, dan ia mengenakan baju katun tipis yang sudah sering dicuci. Itu ibunya paman, sekaligus ibu kandung ayahku.

Ibu mendekat dan duduk pelan di hadapan mereka. Dengan suara lembut, ia bertanya lebih dulu, “Bu, sudahkah Ibu makan tadi?”

Nenek mengangguk perlahan, suaranya terdengar lemah dan bergetar, “Sudah. Bagaimana keadaan suamimu? Apa kata dokter tadi?”

Ibu menarik napas panjang, seolah menahan beban berat yang terasa menekan dadanya. Matanya perlahan mulai berkaca-kaca saat ia menjawab, “Dokter bilang harus segera dioperasi. Masih diberi waktu satu minggu untuk mempersiapkan semuanya, tapi kalau lewat dari itu, nyawanya makin terancam.”

Dengan hati yang remuk namun masih menyimpan harapan, ibu menatap paman dan nenek, lalu memohon dengan suara yang mulai pecah, “Kak, ipar tolonglah pinjamkan kami uang untuk biayanya. Tabungan kami sudah habis untuk pemeriksaan, tak tersisa apa-apa lagi.”

Baru saja kalimat itu selesai terucap, air mata pun mengalir membasahi pipinya.

Paman Arsya menatapnya seolah tak percaya, lalu bertanya dengan nada kaget, “Berapa banyak yang dibutuhkan?”

Ibu menatapnya dengan harapan yang hampir padam, suaranya tercekat saat menyebutkan angka itu, “Dua ratus juta rupiah, menurut perhitungan dokter.”

Mendengar jumlah itu, mata paman terbelalak lebar. Ia langsung berdiri dengan gerakan kasar, suaranya meninggi dan penuh ketidakpercayaan, “Dua ratus juta? Kau pasti sedang bercanda! Sejak kapan aku punya uang sebanyak itu? Itu bukan recehan yang bisa didapatkan begitu saja! Dan kalau pun aku berikan, apa yang bisa kau jadikan jaminan nanti?”

Ibu merasa seluruh tenaganya hilang seketika. Ia menjatuhkan diri berlutut di lantai yang dingin, menggenggam kedua tangannya rapat-rapat seolah memohon belas kasihan. Air matanya jatuh semakin deras, membasahi lantai di hadapannya. “Aku mohon, Kak… suamiku ini saudaramu sendiri. Ia terbaring lemah, nyawanya tergantung. Kasihanilah kami. Aku berjanji, sekuat tenaga aku akan melunasi semuanya, meski harus bekerja siang malam. Dokter bilang kalau terlambat, nyawanya tak bisa diselamatkan lagi.”

Namun permohonan itu justru membuat paman makin kesal. Ia mendengus kasar, lalu bicara dengan nada sinis dan tajam, “Cih! Itu bukan urusanku! Sudah untung aku rela mengantarkan kalian sejauh ini, tapi malah berani meminta sebanyak itu. Sungguh memalukan!”

Ia berbalik hendak melangkah keluar, tapi berhenti sebentar dan menoleh ke nenek, “Ayo, Bu, kita pulang saja. Tak ada gunanya berdiam diri di sini.”

Mendengar kata-kata yang menusuk hati itu, ibu mencoba sekali lagi memohon, suaranya kini parau dan tertahan oleh tangis, “Ingatlah, Kak… dulu tanah warisan yang seharusnya milik ayah, semuanya kau ambil begitu saja. Suamiku tak pernah marah, tak pernah menuntut apa pun, tetap membantu kalian kapan saja dibutuhkan. Mengapa kini hatimu bisa sekeras batu ini?”

Paman hanya menggeleng malas, hatinya tak tergoyahkan sedikit pun. “Itu sudah masa lalu, tak usah dibahas lagi. Sudahlah, ayo pergi, Bu, nanti malah Ibu ikut sedih melihat mereka.”

Nenek yang sudah renta itu berdiri perlahan sambil berpegangan pada lengan putranya. Ia menghela napas panjang, suaranya terdengar berat dan penuh rasa bersalah namun tak berdaya, “Maafkan kami, Nak… sungguh kami tak punya kemampuan untuk membantu apa pun.”

Setelah mengucapkannya, mereka berjalan menuju pintu. Namun tepat saat paman menarik gagang pintu dan membukanya lebar, ia tertegun — di sana berdiri aku, tepat di hadapannya.

Aku berdiri diam, tubuhku masih kecil dan kurus, tinggiku baru sekitar seratus enam puluh sentimeter, tak ada sedikit pun kemewahan yang terlihat. Kulitku putih bersih, halus seperti kapas yang lembut, tak pernah terkena bahan kimia apa pun. Rambutku berwarna cokelat kehitaman, panjang sampai melewati siku, hanya diikat ke belakang dengan seutas karet biasa — tak ada pita, tak ada hiasan, sehingga seluruh wajahku terlihat jelas apa adanya. Kecantikannya alami, tak perlu diperindah: dahi halus bersih, alis melengkung rapi seperti lukisan alam, matanya besar dan jernih berwarna cokelat lembut — tapi saat ini penuh dengan air mata yang tertahan, tatapannya bingung dan terluka. Hidungku mungil sedikit mancung, bibirku merah muda alami tanpa bedak atau lipstik, kini terkatup rapat seolah menahan rasa perih yang menyayat dada. Leherku ramping dan bersih, tak ada kalung atau perhiasan sepeser pun. Baju yang kukenakan hanyalah baju katun tipis berwarna biru pudar, sederhana tanpa motif, tapi selalu kucuci rapi hingga terlihat bersih dan wangi.

Sebelumnya, aku masih duduk diam di samping tempat tidur ayah. Tiba-tiba teringat, aku ingin mengambil ponsel kecil di dalam tas untuk sekadar memberitahu teman-teman bahwa aku tak bisa masuk sekolah dulu. Saat melangkah keluar, mataku menangkap pintu ruangan sebelah yang sedikit terbuka, menyisakan celah tipis. Tanpa curiga apa-apa, aku mendekat perlahan, masih membawa senyum kecil — sampai suara-suara itu terdengar jelas masuk ke telingaku.

Seolah tersambar dingin di tengah panas, senyumku langsung lenyap tanpa bekas. Mataku terbelalak lebar, napas terhenti sejenak, dan air mata segera menggenang di pelupuk mata. Jantungku berdegup kencang hingga terasa sakit di dada, kedua lututku terasa lemas dan sedikit gemetar. Tubuhku membeku terpaku di tempat, pikiranku kosong hanya bergema satu pertanyaan: Apakah ini benar-benar terjadi? Apakah paman bisa sekejam itu?

Aku baru sadar sepenuhnya saat paman membuka pintu lebar-lebar dan menatapku dengan pandangan jijik, seolah kehadiranku saja sudah menjadi kotoran yang mengganggu. Ia tak mengucapkan sepatah kata pun, hanya melangkah cepat melewati tubuhku, menarik tangan nenek dan pergi tanpa menoleh ke belakang sedikit pun.

Begitu melihatku berdiri kaku dan wajahku pucat, ibu langsung terkejut. Ia berlari mendekat, memeluk tubuhku erat-erat seolah ingin melindungiku dari segala rasa sakit itu, lalu menarikku masuk kembali ke dalam ruangan. Sisa air mata masih basah di pipinya, tapi kini ia terlihat panik menatap wajahku.

“Putriku… kenapa kau berdiri di situ? Apa yang kau dengar, Nak? Katakan saja pada Ibu, jangan dipendam sendiri,” tanyanya lembut, suaranya masih bergetar karena emosi.

Aku menarik napas panjang, berusaha menguatkan hati yang terasa remuk, lalu memaksakan senyum tipis yang tak sampai ke mata. “Aku baik-baik saja, Bu… sungguh, hanya sedikit terkejut saja.”

Namun di dalam hati, aku sudah berjanji dalam diam: Suatu hari nanti, aku tak akan membiarkan keluargaku lagi merendahkan diri seperti ini. Aku akan berusaha sekuat tenaga, meski jalannya terasa terjal dan gelap.

1
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Blue Lock Munchen Gaiden
Putry Chan: tentu trimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!