NovelToon NovelToon
Menikahi Ayah Mantanku

Menikahi Ayah Mantanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Perjodohan
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dunia_halusinasi

Diana Ayuningtyas, Berniat memberikan kejutan. dengan sengaja mendatangi Apartemen Gilang Wijaya - sang kekasih, untuk merayakan ulang tahunnya.

Tetapi malah mendapatkan kenyataan bahwa kekasihnya ternyata tinggal bersama wanita lain.

"Kamu siapa ?"

"Aku? Aku tunangan pemilik Apartemen ini!"

Duarrr...

Diana langsung terdiam mematung, tidak ingin percaya.

"Sayang ! Siapa yang datang ?"

Tapi suara Gilang dari dalam, yang memanggil wanita di depannya ini dengan panggilan mesra, membuatnya tidak bisa menahan nya lagi.

Sebelum Gilang datang, Diana segera pergi dengan air mata yang perlahan mengalir.

Lift perlahan tertutup, matanya menatap lurus ke depan, hatinya bergemuruh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia_halusinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Bab 25: Arga yang seperti kuda

Malam itu, suasana di rumah besar begitu tenang.

Sebagian besar pelayan sudah kembali ke paviliun untuk beristirahat, kecuali Bi Mari yang memang memiliki kamar sediri di rumah utama.

Kesunyian itu hanya menyisakan cahaya lampu ruang tengah yang redup dan hangat.

Di ruang makan,

Nyonya Amara sudah duduk menunggu dengan santai, menanti putra dan menantunya turun untuk makan malam bersama seperti kebiasaan mereka belakangan ini.

"Bibi, jika berbelanja bulanan, beli buah yang banyak, Diana menyukai nya!" Nyonya Amara selalu memperhatikan setiap orang, begitu juga Diana, dia selalu melihat Diana lebih menyukai buah buahan dari pada kue.

Bi Mari yang sedang menata piring langsung mengangguk mengerti.

"Baik, Nyonya!"

Nyonya Amara masih menunggu sambil melihat handphonenya,

Tetapi, yang ditunggu tidak kunjung muncul.

"Bi, panggil Arga dan Diana untuk makan malam, mungkin mereka ketiduran!" Perintahnya

Bi Mari segera melaksanakan perintahnya, tetapi baru saja naik tangga pertama

"Tuan sudah turun Nyonya !" Ujarnya

Nyonya Amara menoleh lalu mengangguk, bi Mari pamit undur diri .

Arga turun sendirian dengan langkah agak lambat, wajahnya terlihat sedikit kikuk seolah sedang memikirkan sesuatu yang membingungkan.

Begitu melihat putranya sendirian, Nyonya Amara langsung mengangkat alisnya, merasa heran.

“Mana istrimu? Kenapa turun sendiri? Apa diana sakit ?” tanyanya langsung tanpa basa-basi.

"Emmm..."

Arga menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, wajahnya memerah samar.

Ia bingung harus menjawab apa.

Mengatakan yang sebenarnya rasanya malu sekali, tetapi ia tahu sifat ibunya — tidak akan diam dan berhenti bertanya sebelum mendapatkan jawaban yang jelas.

Akhirnya, ia menghela napas panjang dan berkata dengan suara pelan,

“Bukan sakit, Bu… tapi Diana cuma kelelahan, kakinya juga terasa pegal dan tidak nyaman untuk berjalan. Makanya aku mau minta Bi Mari untuk mengantarkan makan malam ke kamar saja, biar dia bisa istirahat sambil makan.”

Mendengar penjelasan itu, wajah Nyonya Amara seketika berubah menjadi cemas.

Ia langsung berdiri dan meraih tongkat kayunya, bersiap untuk berjalan menaiki tangga.

“Kelelahan ? Tadi siang dia hanya duduk dan mengobrol denganku, tidak melakukan pekerjaan berat apa pun. Mana mungkin bisa sampai lelah seperti itu? Biar aku lihat sendiri keadaannya, siapa tahu dia menahan rasa sakit dan menahannya sendiri.”

"Tapi Bu !"

Arga segera melangkah cepat dan menahan lengan ibunya, berusaha mencegahnya naik.

“Benar, Bu, Diana cuma kelelahan, tidak ada yang parah. Ibu tidak perlu khawatir dan tidak perlu naik ke atas, biarkan dia beristirahat dengan tenang.”

"Tidak bisa, ibu harus memastikannya sendiri!"

kekhawatiran Nyonya Amara sudah memuncak.

Ia mengira kelelahan itu terjadi karena terlalu banya belajar dengannya, sehingga ia merasa bersalah.

Tanpa mempedulikan larangan Arga, ia mengangkat tongkatnya dan memukulkannya perlahan dan mengenai lengan putranya itu.

“Diam saja kau! Jangan menghalangi ibu. Kalau sampai dia sakit karena terlalu banyak belajar, ibu yang akan menyesal seumur hidup,” bentaknya.

Karena kaget dan perih, Arga melepaskan cekalannya secara refleks.

Dengan cepat, Nyonya Amara melangkah menaiki tangga dengan langkah yang terasa lebih lincah dari usianya, diikuti oleh Arga yang masih terus berusaha membujuk dan mencegahnya dari belakang.

“Ibu, percayalah padaku, istriku baik-baik saja! Jangan memaksakan diri masuk, nanti dia kaget,” kata Arga terus-menerus, namun ibunya seolah tuli dan tidak mendengarkan sepatah kata pun.

Tak lama kemudian, sampailah mereka di depan pintu kamar.

Tanpa mengetuk terlebih dahulu, Nyonya Amara segera mendorong pintu itu hingga terbuka lebar.

Di dalam, Diana sedang duduk bersandar di kepala ranjang, rambutnya terurai indah menutupi bahunya.

Begitu mendengar suara pintu terbuka, ia mengira itu adalah suaminya yang kembali.

Ia tersenyum lembut dan bertanya, “Di mana makan malamnya, Mas? Aku sudah lapar.”

Namun, begitu matanya menangkap sosok yang berdiri di ambang pintu itu adalah Nyonya Amara, bukan Arga, senyumnya langsung membeku.

Ia segera berdiri dengan tergesa-gesa dan berjalan menghampiri mertuanya itu, namun langkahnya terlihat agak kaku, sedikit mengangkang, dan seolah menahan rasa sakit di bagian bawah tubuhnya.

"Ibu ! Ada apa ? Maaf aku tidak bisa menemani ibu makan malam di bawah" Ujar Diana

Dia hanya mengenakan baju tidur pendek tanpa lengan berwarna putih bersih yang sangat tipis.

Lengannya terbuka lebar, dan paha serta kakinya terlihat jelas.

Tetapi,bukan perkataan menantunya yang menjadi fokusnya,

yang paling membuat Nyonya Amara terbelalak adalah seluruh kulit tubuh Diana, mulai dari leher, bahu, dada, hingga paha, dipenuhi bekas cium*n dan gigit*n berwarna merah keunguan yang terlihat jelas seperti bercak-bercak pada kulit.

Seketika itu juga, pandangan Nyonya Amara beralih tajam ke arah Arga yang berdiri di belakangnya. Matanya memancarkan rasa marah dan kesal yang tidak bisa disembunyikan.

“Jadi ini alasannya kau melarang ibu masuk? Kau apakan menantu ibu! Tubuhnya penuh bekas cup*ng seperti kulit macan tutul, kakinya sampai susah berjalan. Ternyata bukan karena pelajaran ibu, tapi karena ulahmu sendiri!” bentak Nyonya Amara dengan suara yang cukup keras.

"Aku sudah mengatakan nya tadi, istriku cuma kelelahan, tapi ibu tidak percaya" Sanggah Arga

Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut lagi, ibunya langsung mengayunkan tongkat kayu dan memukulkannya tepat mengenai kaki Arga.

“Dasar tua bangka keladi! Sudah tua masih doyan, tidak tahu malu dan tidak tahu batas! Menyiksa istri sendiri sampai seperti ini!”

Astaga.... Malunya aku...

Wajah Diana seketika memerah padam hingga ke telinga, ia merasa sangat malu dan ingin menghilang saja di tempat itu.

Ia baru sadar betapa cerobohnya dirinya memakai baju tidur yang terlalu tipis dan pendek, hingga bekas-bekas itu terlihat jelas.

Sore tadi memang Arga tidak memberi ampun.

Setelah selesai di kamar mandi, mereka melanjutkan kembali di atas ranjang.

Arga melakukannya berkali-kali dengan berbagai gaya, seolah tidak pernah merasa puas.

Bahkan setelah Diana beristirahat sebentar dan mulai mengantuk, suaminya itu kembali membangunkannya untuk melanjutkan lagi.

Sampai-sampai Diana sempat berpikir dalam hati, apakah Arga diam-diam meminum obat kuat? Padahal selama menikah, ia tidak pernah melihat suaminya itu meminum obat apa pun.

Arga hanya bisa meringis kesakitan dan terus menghindari pukulan tongkat ibunya.

Ia melompat ke kiri dan kanan, lalu akhirnya bersembunyi di belakang tubuh Diana sebagai tameng.

“Ibu, sudah cukup! Nanti Diana malah makin kaget dan takut melihat Ibu memukulku,” pinta Arga sambil memegang bahu istrinya.

Melihat putranya yang pengecut bersembunyi di balik istrinya, Nyonya Amara makin kesal.

Ia menghentakkan kakinya di lantai, lalu berkata dengan nada masih tinggi,

“Untung saja Diana baik hati dan sabar! Kalau tidak, sudah lama dia meninggalkan mu!”

"Benarkah sayang?" Tanya Arga pada istrinya.

Diana hanya menggeleng, wajahnya masih memerah karena malu.

Setelah merasa cukup meluapkan kekesalannya, Nyonya Amara akhirnya memutar badan dan berjalan keluar dari kamar dengan langkah masih terlihat marah.

“Ibu turun dulu, jangan membuat menantu ibu kelelahan lagi malam ini!”

Begitu pintu tertutup kembali, Arga segera memeluk bahu Diana yang masih menunduk malu.

“Maafkan Ibu ya, Sayang. Dia memang suka marah-marah, tapi hatinya baik. Sudah, jangan dipikirkan lagi.”

Tidak lama kemudian, Bi Mari datang membawa nampan besar berisi makanan hangat dan minuman, lalu meletakkannya di meja samping ranjang.

 

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Sekitar pukul sepuluh malam, suasana rumah sudah semakin sunyi.

Arga berniat turun ke bawah menuju ruang kerjanya untuk menyelesaikan beberapa dokumen yang tertinggal.

Namun, begitu ia melangkah keluar ruang tengah, matanya menangkap sosok ibunya yang sedang duduk sendirian di bangku dekat kolam renang, memandang air yang berkilau terkena cahaya lampu taman.

Arga segera menghampiri dan duduk di sampingnya.

“Kenapa Ibu duduk di sini sendirian? Angin malam cukup dingin, tidak baik untuk kesehatan tulang Ibu. Lebih baik masuk ke dalam.”

Nyonya Amara hanya tersenyum tipis, lalu menggeleng pelan.

“Ibu ingin menikmati udara segar sebentar saja. Sudah lama tidak duduk di sini.”

Arga pun mengalah, tetap duduk menemani ibunya. Suasana hening sejenak, hanya terdengar suara jangkrik dan desiran angin.

“Bagaimana keadaan Diana sekarang? Sudah tidur?” tanya Nyonya Amara memecah keheningan, nadanya sudah jauh lebih lembut dibandingkan tadi.

“Sudah, Bu. Dia sudah beristirahat,” jawab Arga pelan.

Nyonya Amara menghela napas panjang, lalu tersenyum lebar seolah merasa puas.

“Dia wanita yang baik, Arga. Lembut, sabar, dan hatinya tulus. Ibu senang akhirnya kamu mendapatkan pendamping seperti dia.”

Arga mengangguk setuju, hatinya juga merasa beruntung. "Aku memang beruntung , Bu. Dia anugerah terindah yang Tuhan berikan padaku.”

“Ibu merasa sudah tenang sekarang,” lanjut Nyonya Amara sambil menatap bintang di langit.

“Rasanya Ibu sudah siap jika suatu saat dipanggil Tuhan. Ibu sudah melihatmu bahagia, dan itu sudah cukup membuat hati ibu damai.”

Mendengar kalimat itu, Arga langsung menepuk bahu ibunya pelan. “Jangan bicara seperti itu, Bu. Ibu harus tetap sehat dan menemani kami puluhan tahun lagi. Kami masih butuh Ibu di sini.”

Nyonya Amara hanya tertawa kecil mendengar kecemasan putranya.

“Ibu sudah masuk usia senja, Nak. Waktunya sudah semakin dekat. Kadang Ibu juga rindu pada ayahmu, ingin segera bertemu dengannya.”

“Jangan bicara itu lagi, Bu. Arga belum siap kehilangan Ibu,” potong Arga dengan nada sedikit serius.

Mereka pun kembali terdiam, menikmati heningnya malam.

Sesaat kemudian, Arga teringat pada rencananya dengan Gilang sore tadi.

Ia berdehem pelan, lalu membuka pembicaraan dengan hati-hati.

“Bu… Aku ingin membicarakan sesuatu. Gilang berniat melamar anak Tuan Hartono, Nona Clara. Mereka berencana melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat.”

Mendengar itu, Nyonya Amara seketika teringat kedatangan asisten Tuan Hartono tadi siang.

Ia mengangguk perlahan. Lalu menceritakan kedatangan asisten tuan Hartono dan beberapa pesan yang di sampaikan nya.

Arga merasa heran, karena dia belum membicarakan apapun dengan tuan Hartono.

“Mungkin Tuan Hartono sudah menduga hal yang sama,” jawab Nyonya Amara.

“Sejujurnya, hari itu saat ibu melihat Gilang yang memandang Diana, Ibu bisa melihat jelas tatapan matanya.

Ia masih menyimpan perasaan pada Diana.

Jika dia menikah dengan Clara, mungkin hatinya akan beralih dan suasana di rumah ini bisa kembali tenang tanpa ada rasa canggung atau sakit hati.”

Nyonya Amara menoleh menatap Arga dengan pandangan bijak.

“Kalau itu bisa membuat kalian semua hidup tentram dan tidak saling bermusuhan, maka Ibu akan memberikan restu sepenuhnya. Semoga ini menjadi jalan terbaik bagi semuanya.”

Arga mengangguk, meski hatinya masih menyimpan kekhawatiran.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!