NovelToon NovelToon
Faristya

Faristya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dijodohkan Orang Tua / Bad Boy
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: NdahDhani

Disclaimer: No plagiat, no boom like❗

Karena permintaan terakhir ibunya, Tyasabella Almeera terpaksa menerima kenyataan yang tidak pernah ia inginkan: menikah muda.

Dan lebih parahnya lagi, menikah dengan musuhnya sendiri, Faris Abimanyu Alzavian. Cowok tukang nyolot yang selalu berhasil membuat emosinya naik setiap hari.

"Kenapa harus lo sih?" kesal Tya.

Faris langsung mendelik. "Emangnya gue mau nikah sama lo?"

"Gue juga gak mau."

"Bagus. Berarti kita sepakat."

Tya mendengus. "Sepakat kalau ini ide paling buruk yang pernah ada."

Namun, takdir seolah tidak peduli dengan pendapat mereka. Di tengah kehilangan yang masih terasa, dua remaja keras kepala itu dipaksa menjalani sebuah pernikahan yang tidak pernah mereka pilih sendiri.

Masalahnya, bagaimana jika perlahan mereka mulai menemukan sesuatu yang tidak pernah mereka duga sebelumnya?

Karena terkadang, orang yang paling sering membuat kita kesal justru menjadi orang yang paling sulit dilupakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Efek domino

Kegiatan belajar mengajar berlangsung seperti biasa. Jam pertama diisi dengan pelajaran matematika. Suara guru yang menjelaskan berbagai rumus memenuhi ruang kelas, sesekali diselingi bunyi spidol yang bergesekan dengan papan tulis.

Tak terasa, dua jam pelajaran berlalu. Jam selanjutnya adalah pelajaran fisika. Kelas itu masih berlangsung relatif tenang. Sesekali terdengar keluhan pelan dari beberapa murid yang mulai pusing dengan berbagai rumus dan perhitungan.

Namun, ada satu hal yang sejak tadi menjadi perhatian sebagian penghuni kelas. Batang hidung Faris sama sekali tidak terlihat. Sejak bel masuk berbunyi, kursi di pojok belakang yang biasa ditempatinya kosong.

Entah kemana cowok itu menghilang. Mungkin sedang nongkrong di kantin, tidur di UKS, bersembunyi di belakang gedung sekolah, atau mungkin keluyuran ke tempat lain. Tak ada yang benar-benar tahu. Beberapa temannya bahkan sudah terbiasa dengan pemandangan itu.

"Faris bolos lagi?"

"Pasti, soalnya pelajaran tadi matematika dan fisika."

"Gak usah ikut campur, paling nanti juga nongol."

Dan benar saja, saat jam pelajaran fisika berakhir, Faris masuk dengan langkah santai. Tas disampirkan di satu bahu, sementara kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Ekspresinya datar, seolah tidak terjadi apa-apa. Seolah dirinya memang sudah mengikuti pelajaran sejak jam pertama.

Tya yang masih sibuk merapikan buku-buku pelajaran ke dalam tas mendadak menghentikan gerakannya. Matanya menangkap sosok Faris yang baru saja masuk ke dalam kelas. Matanya langsung menyipit curiga.

"Lo bolos, ya?" Tanya Tya datar, tetapi terdengar jelas.

Faris hanya melirik sekilas ke arah Tya. Tatapannya tetap dingin, nyaris tanpa ekspresi. Tak ada jawaban, cowok itu kembali mengalihkan pandangannya. Lalu, ia melangkah melewati bangku demi bangku menuju tempat duduknya di pojok belakang. Tasnya dijatuhkan begitu saja di atas meja, tidak berbicara dengan siapa pun.

"Dih," gumam Tya kesal. "Ditanya baik-baik juga."

Tya sebenarnya sudah membuka mulut, berniat melontarkan satu kalimat lagi. Namun, sebelum sempat berbicara, seseorang menarik pelan ujung lengannya. "Ty."

Tya langsung menoleh. Megan sudah berdiri di samping bangkunya dengan seutas senyum tipis. "Ayo ke loker," ajak Megan. "Ambil baju olahraga dulu."

Starla yang sudah lebih dulu berdiri ikut mengangguk. "Iya, buruan. Nanti telat."

Tya menghela nafas pelan. Tatapannya sempat melirik Faris sekali lagi yang sama sekali tidak merasa bersalah setelah menghilang selama dua jam pelajaran.

"Ayo," ujar Tya akhirnya.

Mereka bertiga berjalan keluar kelas menuju deretan loker siswa untuk mengambil pakaian olahraga. Hari itu, jadwal olahraga diajar oleh Pak Ben.

Seluruh murid sekolah itu tahu betul bagaimana sifat guru olahraga tersebut. Beliau dikenal tegas, disiplin, dan paling tidak suka dengan murid yang datang terlambat atau mencoba bermalas-malasan saat pelajaran berlangsung.

Karena itu, hampir semua murid kelas XII IPA B memilih segera berganti pakaian olahraga sebelum sang guru tiba di lapangan. Mereka tahu, terlambat beberapa menit saja sudah pasti akan membuat mereka mendapatkan hukuman.

Sementara Faris masih duduk santai di bangkunya. Ia menyandarkan tubuh ke sandaran kursi sambil menghela nafas panjang.

Tangannya mengusap wajah sekilas. Sejujurnya, Faris masih malas mengikuti pelajaran berikutnya. Setelah dua jam menghilang dari kelas, godaan untuk bolos lagi sebenarnya masih cukup besar.

Namun, begitu mengingat pelajaran berikutnya adalah olahraga, Faris justru bangkit dari kursinya. Setidaknya pelajaran itu tidak membuat kepalanya dipenuhi rumus dan angka-angka yang sejak tadi memang sengaja ia hindari.

"Lari masih mending daripada disuruh ngitung," gumam Faris pada dirinya sendiri.

Dengan sedikit enggan, Faris melangkah santai menuju area loker siswa. Tak lama kemudian, ia membuka lokernya, mengambil seragam olahraga, lalu berjalan menuju ruang ganti. Mau tidak mau, kali ini ia harus mengikuti pelajaran.

Tak membutuhkan waktu lama, seluruh murid kelas XII IPA B telah berganti pakaian dengan seragam olahraga. Satu per satu siswa berjalan menuju ke lapangan.

Tya berjalan berdampingan bersama Megan dan Starla. Ketiganya berjalan santai menuju barisan kelas mereka.

Sementara Faris keluar dari ruang ganti putra dengan langkah malas. Kedua tangannya dimasukkan ke saku celana training, sementara wajahnya masih menunjukkan ekspresi datar khasnya.

Tak lama kemudian, seluruh kelas XII IPA B telah berkumpul rapi di lapangan sekolah sesuai barisan masing-masing.

Di saat yang hampir bersamaan, sosok Pak Ben terlihat berjalan memasuki lapangan. Di tangan kirinya tergenggam sebuah map tipis berisi lembar absensi, sementara peluit menggantung di lehernya. Langkahnya mantap, tatapannya menyapu seluruh barisan murid yang sudah menunggu.

Pak Ben berdiri di depan barisan sambil membuka lembar absensi di tangannya. Setelah memastikan seluruh murid hadir, pria paruh baya itu menutup map tersebut, lalu menyelipkannya di bawah lengan.

"Baik," ujar Pak Ben lantang. "Sebelum mulai praktek hari ini, Bapak mau mengulang sedikit pelajaran minggu lalu."

Seluruh murid langsung mengarahkan perhatian ke depan. Beberapa berdiri tegak, sementara yang lain masih berusaha mengatur nafas setelah berjalan dari ruang ganti menuju lapangan.

"Minggu lalu kita belajar teknik dasar lari jarak pendek," lanjut Pak Ben. "Mulai dari posisi start, tolakan kaki, sampai cara memasuki garis finis dengan benar."

Beberapa murid mengangguk pelan. Ada yang masih mengingat materi itu dengan baik, ada pula yang hanya mengangguk agar terlihat memperhatikan.

Pak Ben kemudian menyapu seluruh barisan dengan tatapan tegas. "Nah, sebelum masuk ke materi berikutnya," ujarnya. "Seperti biasa, kita mulai dari pemanasan terlebih dahulu."

Beliau mengangkat sebelah tangan sebagai aba-aba. "Silakan lakukan peregangan otot dari kepala sampai kaki. Jangan asal gerak. Pemanasan itu penting supaya otot tidak kaget saat berolahraga."

"Siap, Pak!" Jawab para murid hampir bersamaan.

"Setelah peregangan selesai," lanjut Pak Ben. "Lanjutkan dengan lari pemanasan sebanyak tiga putaran mengelilingi lapangan. Jaga kecepatan, jangan sprint. Fokus untuk memanaskan tubuh."

"Baik, Pak!"

Pak Ben mengangguk puas, "Baik, mulai!"

Tanpa menunggu aba-aba kedua, mereka semua segera mengambil posisi dengan sedikit memberi jarak satu sama lain. Lapangan yang semula dipenuhi obrolan perlahan berubah lebih tertib.

Mereka memulai pemanasan dengan menggerakkan leher perlahan ke kanan dan ke kiri. Dilanjutkan dengan gerakan peregangan otot lainnya. Gerakan demi gerakan dilakukan mengikuti instruksi Pak Ben. Sesekali terdengar suara tarikan nafas panjang dan keluhan pelan dari beberapa murid yang ototnya masih terasa tegang.

Meski sebagian murid melakukannya dengan serius, ada pula yang sekedar mengikuti gerakan seperlunya sambil sesekali melirik teman di sebelahnya.

Di bawah pengawasan Pak Ben yang berdiri di depan lapangan dengan kedua tangan bertolak pinggang, seluruh murid menyelesaikan rangkaian pemanasan peregangan otot satu per satu. Tubuh mereka kini terasa jauh lebih rileks dan siap untuk memasuki tahap berikutnya.

"Baik," ujar Pak Ben setelah memastikan seluruh murid selesai melakukan peregangan. "Sekarang lanjut lari pemanasan tiga putaran mengelilingi lapangan. Seperti biasa, satu barisan ke belakang."

"Siap, Pak!" Jawab mereka serempak.

Seorang murid laki-laki yang merupakan ketua kelas, segera maju ke barisan paling depan. Satu per satu murid laki-laki berbaris memanjang di belakangnya.

Si urutan paling belakang barisan laki-laki, Faris berdiri dengan kedua tangan bertolak pinggang. Ekspresinya masih terlihat belum sepenuhnya semangat mengikuti pelajaran olahraga pagi itu.

Beberapa meter di belakang barisan laki-laki, para siswi juga mulai membentuk satu barisan memanjang. Kali ini, Tya berada di posisi paling depan sebagai pemimpin barisan perempuan. Di belakangnya, berjejer Megan, Starla, dan siswi-siswi lainnya dengan rapi.

Barisan siswa mulai bergerak lebih dulu mengikuti ketua kelas. Di belakang mereka, barisan siswi pun ikut berlari menyusul mengelilingi lapangan sekolah.

Putaran pertama berlangsung lancar. Barisan laki-laki dan perempuan berlari dengan tempo santai mengelilingi lapangan di bawah pengawasan Pak Ben.

Memasuki putaran kedua, beberapa murid mulai mengatur nafas. Meski mulai terasa lelah, barisan tetap rapi. Karena lintasan terus berputar mengelilingi lapangan, posisi kedua barisan pun berganti.

Di posisi paling belakang barisan laki-laki, Faris masih berlari dengan ekspresi datar. Nafasnya stabil, langkahnya juga terlihat santai.

Namun, memasuki putaran ketiga, nasib berkata lain. Entah sejak kapan, tali sepatu sebelah kiri Faris ternyata terlepas tanpa ia sadari. Saat melangkahkan kaki berikutnya, ujung sepatunya justru menginjak tali sepatunya sendiri.

"Woi—!"

Tubuh Faris langsung kehilangan keseimbangan. Langkahnya yang semula teratur berubah kacau. Ia terhuyung ke depan dengan kedua tangan refleks terulur.

Brukk!

Cowok yang berada tepat di depannya langsung terdorong.

"Eh, eh-"

Belum sempat menyeimbangkan tubuh, cowok itu malah ikut menabrak teman di depannya.

"Awasss!"

"Woiii!"

"Aduhh!"

"Emaakkk!!"

Barisan siswa yang semula rapi mendadak berubah menjadi rentetan tabrakan beruntun, persis seperti efek domino. Setiap siswa yang terdorong otomatis menabrak murid di depannya lagi.

Gelombang tabrakan itu terus merambat dari barisan paling belakang. Hingga efek domino itu akhirnya berakhir pada ketua kelas yang ikut terjatuh karena terdorong ke depan.

Beberapa meter di depan, barisan siswi yang masih berlari serempak menoleh ke belakang begitu mendengar suara gaduh disertai teriakan yang saling bersahutan.

Siswi yang berada di barisan paling belakang menjadi orang pertama yang menyadari kekacauan itu. Ia spontan memperlambat langkahnya, lalu menoleh dengan wajah bingung. "Eh, itu kenapa?" Gumamnya pelan.

Reaksi itu menular. Gelombang penasaran itu akhirnya sampai pada tiga barisan terdepan. Starla yang berada tepat di belakang Tya langsung memanjangkan lehernya, berusaha melihat dari barisan teman-temannya.

"Lho," ujar Starla heran. "Kenapa, tuh?"

Megan ikut menoleh sekilas. Dari kejauhan, yang terlihat hanya barisan siswa yang sudah tidak rapi lagi. Beberapa tampak membungkuk sambil memegangi bahu, ada yang masih berusaha berdiri, sementara yang lain saling menepuk-nepuk baju.

Megan mengangkat bahu pelan. "Entah," jawabnya. "Kok cowok-cowok pada jatuh semua?"

Tya yang sejak tadi memimpin barisan akhirnya ikut melirik ke belakang. Tatapannya menyapu seluruh barisan siswa yang kini berubah kacau. Sorot matanya berhenti pada sosok Faris yang masih berada di posisi paling belakang.

"Pantes aja," gumam Tya lirih. "Dia di barisan paling belakang."

Sementara itu, di barisan siswa, suasana benar-benar berubah kacau. Semua cowok itu perlahan bangkit sambil membersihkan debu yang menempel di seragam olahraga mereka.

"Astaga," gerutu salah seorang siswa sambil memijat pinggangnya. "Woi, siapa yang mulai?!"

Seluruh tatapan perlahan beralih ke arah barisan paling belakang, tepat ke arah Faris. Cowok itu baru saja berdiri tegak sambil menepuk-nepuk celana trainingnya yang sedikit berdebu. Wajahnya tetap datar, seolah dirinya juga korban dalam kejadian itu.

"Ris!" Seru salah satu temannya. "Gara-gara lo, nih!"

"Iya," sahut yang lain. "Kalau lo gak jatuh, kita semua gak bakal ikut ambruk!"

"Jadi kacau semua!"

Faris langsung menaikkan sebelah alis. "Ngapain nyalahin gue?"

"Lah, emang siapa lagi?"

"Ya lo lah, Ris!"

Faris menghela nafas panjang. Ia menunduk melihat tali sepatu kirinya yang talinya masih menjuntai. "Salah nih tali sepatu." Ujarnya. "Kalau dia gak lepas, gak mungkin keinjek."

Beberapa siswa hanya bisa menatap Faris dengan wajah datar. Raut kesal jelas tergambar di wajah mereka. Bukannya meminta maaf setelah membuat satu barisan cowok tumbang, ia justru menyalahkan benda mati.

Beberapa di antara mereka sampai menggeleng pelan, sementara yang lain hanya menghela nafas pasrah. Sudah bukan rahasia lagi, logika Faris memang sering berjalan di jalur berbeda dari orang kebanyakan.

Tak jauh dari sana, Pak Ben yang menyaksikan seluruh kejadian itu sejak awal perlahan mengusap pelipisnya. Guru olahraga itu kemudian berjalan menghampiri barisan siswa dengan langkah tenang namun tegas. "Faris."

"Iya, Pak?" Sahut Faris.

Pak Ben menatapnya beberapa saat. "Kamu tahu kenapa teman-temanmu sampai ikut jatuh?"

Faris menunjuk tali sepatunya yang masih terlepas. "Karena tali sepatu saya lepas, Pak."

Pak Ben menarik nafas panjang. "Kalau talinya lepas, kenapa tidak diikat dari tadi?"

"Gak sadar, Pak," jawab Faris cepat.

Pak Ben menggeleng pelan. "Akibat kelalaianmu, satu barisan jadi berantakan. Untung tidak ada yang cedera." Ujarnya. "Sebagai hukuman, push-up seratus kali."

Mata Faris langsung membulat. "Kebanyakan itu, Pak." Ujarnya. "Lima puluh aja deh, Pak."

"Bukan toko, Faris," sahut Pak Ben sambil menghela nafas.

"Tiga puluh?" Tawar Faris lagi.

Pak Ben menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya menunjuk tanah di hadapannya. "Kalau kamu masih lanjut nego, saya tambah jadi seratus lima puluh."

Faris menghela nafas pasrah. "Iya, Pak."

Dengan wajah pasrah, Faris akhirnya menjatuhkan kedua telapak tangannya ke tanah. Sementara dari belakang mulai terdengar tawa yang terdengar dari teman-temannya. Bahkan, beberapa siswi termasuk Tya, yang menyaksikan dari kejauhan ikut menutup mulut, menahan geli melihat badboy yang paling ditakuti di sekolah itu akhirnya tidak berkutik di hadapan Pak Ben.

"Sial, jatuh image gue sebagai badboy," pikir Faris.

^^^Bersambung...^^^

1
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
yg kuat tya
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
pasti ayahnya pun sedih. tapi berusaha untuk selalu tegar. dan ini rasanya susah bngt
RahmaYesi
Tya, kamu memang kehilangan ibu mu. Tapi tuhan ganti dengan sosok ibu mertua yang sangat tulus sayang sama kamu.
RahmaYesi
Walau memang saat kondisi seperti ini, perut benaran tidak terasa lapar sama sekali. Tapi tetap harus makan sih Tya....
RahmaYesi
Sedih banget pastinya....
M. T🌻
sumpah, aku sampe nangis di tempat kerja thor😭
ѕ⍣⃝✰🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
Tapi kamu egois bu😭
ѕ⍣⃝✰🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
aku dah terbiasa baca novel perjodohan anak Sma. tapi cuma ini yang paling nyesek sih
ѕ⍣⃝✰🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
tapi ini semua atas kemauan kalian
ѕ⍣⃝✰🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
sedih sekali
Mingyu gf😘
yang tabah ya tya😭
Mingyu gf😘
kasihan banget kamu tyz😭
Europa.
Tya sudah terlalu kosong pikirannya akan semua hal yang begitu cepat terjadi/Frown/
Europa.
kamu terlalu muda untuk mengerti semua ini faris/Frown/
Europa.
nooo Tya juga ikutan meningsoy dan dibacain yasin😭😭
Europa.: iya juga wkwk😂😂
total 2 replies
Alia Chans
Kasihan Tya... Tapi yang penting permintaan terakhir mamanya sudah dia lakukan..
THE GIRL COOL😑
semangat😘
RahmaYesi
Huwaaaa 😭😭😭😭😭
RahmaYesi
Yang kuta ya Tya. Kehilangan seorang ibu seperti dunia telah hancur.... 😭😭
RahmaYesi
Alam bawah sadar Faris, ingin melindungi Tya. Lanjutkan ya dek. semoga kamu jadi suami yang bertanggung jawab dan menjaga Tya selamanya hingga maut memisahkan kalian berdua.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!