Hana Yasmin adalah lambang dari ketegaran wanita yang luar biasa. Enam tahun yang lalu terpaksa diusir dari rumah orang tuanya sendiri karena telah mengandung benih pria yang tidak dia kenal. Sebuah tragedi kelam merenggut paksa kesucianya. Trauma mendalam itu sempat meruntuhkan dunia Yasmin. Namun, takdir berkata lain. Bayi yang dititipkan dalam tahimnya lahir sepasang malaikat kecil laki-laki dan perempuan yang ia beri nama Fatir dan Fathia.
Yasmin berjuang sendiri membesarkan anak kembarnya itu hingga tumbuh menjadi anak yang cerdas, padahal masih usia 5 tahun dan sekolah TK. Yasmin yang bekerja di restoran bertemu Marco Bellini. Pria itu jatuh cinta kepadanya bahkan mengajak menikah dan berjanji untuk membesarkan si kembar, tapi rasa trauma membuat Yasmin tidak mudah untuk menerima.
"Yasmin, menikahlah denganku demi kamu dan anak-anak."
Apakah Yasmin akhirnya menerima Marco? Bagaimana kisah selanjutnya? Kita ikuti kelanjutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Yasmin menolak benda di tangan Marco karena merasa tidak pantas untuk menerima, membuat wajah Marco kecewa.
"Yasmin, aku memberi perhiasan ini tidak bermaksud apa-apa, kemarin itu aku ke mall dan melihat perhiasan ini sangat bagus, aku yakin cocok untuk kamu," Marco memohon agar Yasmin menerima.
"Maaf, tapi saya tidak pantas untuk menerima," Yasmin benar-benar menolak.
"Ya sudah... aku tidak bisa memaksa, tapi tolong terima makan siang ini untuk anak-anak kamu," lanjut Marco menyerahkan kantong plastik.
"Tidak usah selalu repot, anak-anak saya itu biasanya makan-makanan sederhana, kalau sering kamu beri makanan mahal, saya khawatir mereka tidak menyukai masakan saya lagi," jawab Yasmin sedikit ketus.
"Sekali-sekali apa salahnya sih Yas, jangan jadikan alasan anak-anak hanya karena kamu ingin menolak makanan dari aku. Tolong Yas, jadikan aku sahabat kamu. Jujur, aku sayang sekali dengan Fatir dan Fathia, untuk itu, biarkan aku menjadi sahabat kalian," Marco menatap Yasmin penuh permohonan.
Yasmin menarik napas panjang, tangannya pun akhirnya terulur ambil plastik dari tangan Marco. Setelah mengucapkan terima kasih lalu ke dalam. Yasmin meletakkan makanan di atas meja lalu naik ke lantai dua menuju kamar Fatir.
"Sayang... ada Om Marco," ucap Yasmin ketika membuka pintu anak laki-lakinya masih asik bermain.
"Beneran Bun? Yee... Om datang..." sorak Fatir seketika mengait tangan bundanya yang masih berdiri di pinggir pintu. Yasmin melirik Fatir di sebelahnya. Akhir-akhir ini anak-anak lebih ceria setelah kenal Marco. Mungkin sudah saatnya ia mengalah demi anak-anak. Jika ia membenci semua laki-laki tidak dibenarkan juga, nyatanya ia juga punya anak laki-laki yang akan dijadikan kebanggaan.
"Temui Om di teras, tapi jangan diajak masuk ya, Nak," pesan Yasmin ketika mereka sudah sampai di lantai bawah.
"Iya, Bunda..." Fatir segera keluar karena pintu tidak ditutup, sementara Yasmin ke dapur hendak membuat kopi untuk Marco seperti ketika di restoran.
Begitu selesai, Yasmin membawa kopi ke luar, di balik pintu, ia menghentikan langkahnya karena tidak sengaja pendengarannya menangkap obrolan Marco dan Fatir.
"Om tadi pagi kenapa bohong, bohong itu dosa loh," Fatir menggerakkan jemarinya ke arah Marco, membuatnya tertawa lebar.
"Om ada tugas mendadak dari Bos, kalau nggak cepat dikerjakan nanti dimarahi."
"Oh, pasti Om kerjanya membersihkan taman seperti tukang kebun di sekolah aku."
Marco dan juga Yasmin membelalak kaget, kenapa Fatir bisa berpikir seperti itu.
"Kok kamu tahu kalau Om kerja jadi tukang kebun?" Marco menyentuh hidung anak laki-lakinya itu.
"Lihat, celana Om Marco banyak rumput," Fatir memandangi buah rumput seperti gabah tapi lebih kecil menancap di celana panjang bagian bawah. Anak cerdas itu seketika berpikir bahwa Marco bekerja seperti itu.
Di balik pintu, Yasmin bertanya-tanya. Apa sebenarnya pekerjaan Marco sampai celanya banyak rumput? Jelas tidak mungkin jika sebagai tukang kebun seperti yang Fatir pikirkan. Di lihat dari penampilan, paling tidak Marco seorang Ceo bahkan mungkin Owner di perusahaan besar.
Sementara Marco terkejut, karena terburu-buru ingin bertemu si kembar sampai tidak sadar jika celakanya kotor, kemudian membungkuk mengibas celana dengan telapak tangan.
"Nggak mungkin lepas Om, musti dicabut begini-ni," Fatir mencabut satu-persatu kembang rumput tersebut.
Marco tersenyum, tangannya mengusap kepala putranya dengan perasaan sayang dan berkaca-kaca. Namun, senyum itu tiba-tiba saja hilang tergantikan rasa sedih dan takut karena kemungkinan buruk akan datang dan akhirnya kehilangan mereka. Terbayang jelas di benak Marco, perjalanan yang akan ia lalui untuk mendapatkan mereka cukup terjal. Di balik kejamnya Marco di depan para musuh, ternyata ia seperti ayah kebanyakan, merasa sedih bila kehilangan anak-anaknya.
Dia tidak tahu jika Yasmin di dalam sana mengerutkan kening menatap ekpresi pria itu yang berubah-rubah. "Kenapa itu orang? Mungkin dia pernah kehilangan anaknya makanya sedih begitu," batin Yasmin lalu melanjutkan perjalanan membawa kopi ke luar.
Marco terkesiap begitu Yasmin membawa nampan ke arahnya, cepat-cepat merubah ekpresinya agar jangan sampai wajahnya yang melankolis akan tertangkap oleh Yasmin.
"Terima kasih, kamu tahu saja kalau aku sedang membayangkan minum kopi buatan kamu," ucap Marco, ekpresinya kini sudah berubah lagi.
Yasmin hanya melirik dingin, lalu duduk di kursi teras yang masih baru itu.
"Bunda, lihat ini. Masa, celana Om Marco banyak kembang rumput," Fatir berjalan mendekat menunjukkan buah tersebut dalam genggaman.
"Oh, mungkin Om Marco tadi berburu di hutan, lihat sepatunya juga kotor begitu," Sindir Yasmin.
Marco seketika menunduk menatap tanah merah di lantai bekas tapak sepatunya. "Sorry" ucapnya tidak enak hati begitu sepanjang sepatunya memijak teras tadi meninggalkan jejak.
"Emmm... Fatir, mulai besok hingga beberapa hari, Om tidak bisa main sama kalian, tolong nanti bilang Fathia ya," ucap Marco, membuat Yasmin seketika menatap pria itu.
"Memang Om mau kemana?" Fatir memegang erat tangan Marco, seolah nalurinya mencegah ayahnya pergi.
"Om mau pulang ke New York," jawab Marco asal, padahal ia ingin sunat.
"New York itu di mana, Om? Sama sekolahan Fatir jauh nggak?" Tanya Fatir polos. Marco hanya tertawa mendengar itu, begitu juga dengan Yasmin, membuat Marco merasa senang sekali. Sudah berkali-kali ngobrol dengan Yasmin bahkan sering satu mobil, tapi baru kali ini melihat Yasmin tertawa lepas.
"New York itu jauh... naik pesawat. Mudah-mudahan Fatir sama Fathia nanti bisa ke sana," ucap Marco, jelas suatu saat nanti ia akan mengajak mereka ke negaranya jika hati Yasmin sudah luluh.
"Oh, tadi itu pas naik mobil pick, kita lihat pesawat ya Bun."
Yasmin hanya mengangguk saja, mereka mendengar celotehan Fatir yang ceplas ceplos sering kali mengundang tawa Marco dan Yasmin. Suasana kaku yang selama ini dirasakan oleh Yasmin kali ini sedikit mencair. Marco berharap kehangatan yang lebih dari ini akan terus ia rasakan.
Adzan dzuhur menggema dari masjid perumahan itu, Marco segera pamit karena sudah dipastikan anaknya akan mengajaknya shalat. Daripada menjadi kecurigaan Yasmin, ia lebih baik pulang.
"Yas, aku titip anak-anak ya," ucap Marco mengejutkan Yasmin.
Jelas ia akan menjaga anak-anaknya tidak usah pria itu ingatkan.
"Maksud aku, kamu dan anak-anakmu hati-hati ya, soalnya tinggal di rumah ini kan baru, jika kamu tinggal kerja hati-hati," Marco seolah tahu apa yang Yasmin pikirkan.
Yasmin tetap tidak menjawab, tapi ketika Marco beranjak, ia menuntun Fatir mengantar ke depan pagar. Di dalam mobil, tangan Marco melambai dan akhirnya melesat pergi hingga tidak terlihat lagi.
"Sayang... sekarang shalat dulu yuk," ucap Yasmin, sambil mendorong pagar.
"Iya Bun..."
Jika biasanya mereka shalat bertiga kali ini hanya berdua, karena Fathia belum juga bangun.
"Bunda, aku lapar," ucap Fatir selesai shalat.
"Ya sudah, kamu makan dulu saja," Yasmin ambil nasi box oleh-oleh dari Marco memberikan kepada Fatir.
Teng tong, teng-tong.
"Ada tamu, pasti Om Marco kembali," tebak Fatir, anak itu hendak berlari ke depan, tapi dicegah Yasmin.
"Kamu makan saja sayang, biar Bunda yang membuka pintu." Yasmin membuka kunci, ia tarik kenop pintu hingga tampak seorang wanita memegang koper besar berdiri di depan pintu.
"Mencari siapa Mbak?"
...~Bersambung~...
sbar dong Marco dia itu GK mudah percaya ma orang tau yass itu orang nya hati2 percaya ma orang..
hadeh siapa tuh cewe jangan jangan yang nyari marco lagi😌
entah lah hanya emak yg tau