Mengisahkan tentang dua orang anak kembar yang memilki dunia yang sama. Karena sejak kecil mereka memang tidak pernah terpisahkan.
Rean Arya Partama, kakak dari Sean Kingston yang terkenal sebagai dokter playboy, padahal dirinya bahkan tidak pernah berpacaran sebelumnya. Sosok hangat yang selalu menjadi partner terbaik dalam hidup adik kembarnya, Sean.
Sean Aryo Pratama, seorang dokter muda yang memiliki kesabaran seluar lautan, namun berubah menjadi dingin saat sebuah kecelakaan merenggut seluruh masa depannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 32
Sena terpaksa harus di rawat di rumah sakit, untuk kembali melanjutkan pemeriksaan. Walau katanya dia baik-baik saja, tapi tetap saja harus di rawat mengikuti prosedur rumah sakit. Apalagi sekarang, Rean juga duduk di rumah sakit. Bahkan katanya dia Bakal di angkat menjadi direktur umum.
Entahlah, Sean seperti bayi sekarang ini. "Bu?" panggil Sean pada ibunya disana.
"Ada, apa Sean? Kamu butuh sesuatu sayang?" tanya ibunya menghampiri.
Sean menggelengkan kepalanya, lalu menatap pada ponselnya di meja. Melihat itu membuat ibunya mengerti jika putranya membutuhkan ponsel.
"Makasih, Bu." ucapnya membuat sang ibu tersenyum.
Setidaknya mereka tau jika Sean baik-baik saja. Hanya membutuhkan waktu untuk istirahat dan menjalani terapi lebih lanjut lagi.
"Ibu pulang aja. Kasihan papa nanti pulang kantor capek, harus menemani ibu di rumah sakit lagi."
"Papa baik-baik aja, Sean. Pasti papa ngerti." jawab ibunya.
"Sean tau Papa baik-baik saja, tapi Sean yang tidak enak. Ibu pulang saja, nanti kalau memang mau kembali lagi silahkan. Tapi jangan menginap disini. Kasihan Papa, Bu." sebagai seorang ibu, Rieka benar-benar bangga pada anak-anaknya yang tumbuh dewasa, dan penuh pengertian.
Andai saja ayah mereka masih hidup, pasti akan sangat bahagia. Tapi beruntung juga dia menemukan laki-laki seperti Pradana yang menerima kedua anaknya dengan penuh kasih sayang. Kehangatan, dan cintanya yang luar biasalah, membuat Rieka kembali membuka hati demi anak-anaknya.
"Yaudah, nanti malam ibu balik lagi sekian antar makan malam." Sean mengangguk tersenyum.
Ibunya pergi meninggalkan anak bungsunya disana. Ini demi kesehatan Sean juga, karena sejak kecil Sean tidak suka merepotkan orang-orang di sekitarnya. Maka dia mengerti keadaan putranya saat ini.
Sedangkan Embun, dia bekerja seperti biasanya, hingga tiba-tiba ponselnya berdering dan itu panggilan masuk dari Sean.
"Halo, Pak Sean. Ada apa, Pak?" tanya Embun langsung menjawab disana.
"Antar semua berkas-berkas yang ada di meja kerja saya ke rumah sakit Internasional. Ruangan Melati VVIP 01." ucap Sean membuat Embun merasa aneh.
Dia kepala divisi keuangan, kenapa tiba-tiba seperti menjadi asisten pribadi?
"Tapi, Pak-?"
"Saya tunggu!"
Tut!
Panggilan terputus, membuat Embun hanya bisa menghela nafasnya dengan berat. Tapi bagaimana pun dia tetap membereskan berkas-berkas tersebut dan membawanya ke rumah sakit.
Disana, dia berjalan perlahan mencari ruangan rawat sesuai dengan apa yang Sean katakan. Sampai dia menemukan Melati VVIP 01.
Mendengar suara pintu ruangannya di ketuk, membuat Sean langsung membersihkan masuk.
"Pak Sean? bapak kenapa, Pak?" tanya Embun panik melihat keadaan Sean yang di rawat.
Dia datang menghampiri ranjang pasien, dan bahkan duduk disana tanpa permisi lebih dulu.
"Bapak baik-baik aja kan, Pak?" tanya Embun lagi melihat tangan Sean yang di gantung begitu.
"Apa kamu mengkhawatirkan saya?" tanya Sean membuat Embun langsung terdiam.
Tatapan Sean membuat Embun tidak berani bergerak. Saat dia hendak bergerak, lengan kekar Sean langsung menangkapnya.
Posisi keduanya membuat Embun semakin tidak bisa bernafas dengan tenang, Terlebih tatapan Sean membuat jantungnya berdebar tak karuan.
"Kenapa wajahmu memerah?" tanya Sean membuat Embun semakin tidak keruan.
"Pak, Sa-saya..." Sean langsung melepaskan Embun yang sepertinya sudah ketakutan.
"Periksa berkasnya, setelah itu berubah ada Saya." ucap Sean membuat Embun bisa bernafas dengan lega.
Setidaknya dia dalam posisi yang serba salah seperti tadi.
***
jevan lho up sn... kok trs di tgl kn
eee jevan noh