Gimana rasanya suka sama customer sendiri?
Kalau customer-nya jomblo, oke lah... masih bisa dideketin pelan-pelan.
Lah, aku?
Aku ajah kerja di toko bunga.
Yang artinya, sebagian besar customer-ku datang buat beli bunga untuk pacarnya, calon istrinya, atau bahkan istrinya beneran.
Sial banget nggak sih?
Gini nih kalau kelamaan jomblo. Sekalinya suka sama cowok, malah suka sama cowok yang kemungkinan besar udah ada yang punya.
Huhuhu.
Tapi tenang, aku tahu diri kok.
Aku cuma mengaguminya dari jauh.
Lagian, mana mungkin ada kisah cinta antara karyawan toko bunga biasa sepertiku dengan customer yang cuma datang sesekali?
...kan?
Atau jangan-jangan, semesta memang sedang menyiapkan sesuatu yang nggak pernah aku duga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rygobii_15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30 salah paham
Suasana Ibusya Flower Studio siang itu kembali dipenuhi kesibukan.
Beberapa pesanan buket wisuda berjajar rapi di meja kerja, sementara Sarah masih sibuk menyempurnakan revisi konsep dekorasi pernikahan Nara dan Rafi di depan laptopnya.
Wulan berdiri di samping meja sambil menyusun beberapa contoh bunga preserved ke dalam kotak akrilik.
"Lan Nanti kalau mereka datang, sekalian tunjukin contoh warna pitanya ya."
"Siap."
Belum lama setelah itu, bel pintu berbunyi.
"Ting... tong..."
"Selamat siang!" Suara ceria Nara langsung memenuhi ruangan.
Wulan spontan menoleh. "Eh, Kak Nara."
Di belakangnya, Rafi masuk sambil menatap layar ponselnya Beberapa langkah di belakang Rafi, Saka ikut masuk dengan kemeja berwarna abu-abu muda yang lengannya digulung hingga siku.
"Selamat siang."
"Selamat siang, Kak."
Tatapan mereka bertemu sesaat.
Entah kenapa, setiap kali melihat senyum tipis itu, perasaan Wulan selalu terasa sedikit lebih tenang.
Sarah keluar dari ruang kerjanya.
"Pas banget. Revisi konsepnya udah hampir selesai."
Nara langsung duduk di area konsultasi. "Aku penasaran hasil akhirnya."
Sarah membuka laptop. "Oke, jadi yang berubah cuma lorong masuk sama area photobooth."
Beberapa menit berikutnya mereka kembali berdiskusi, Rafi sesekali mengangguk tanpa melepaskan pandangan dari ponselnya.
Nara beberapa kali memberi komentar Sementara Saka lebih banyak memperhatikan sketsa yang ditampilkan Sarah.
"Nah, kalau bagian ini gimana?" tanya Sarah.
Saka mengamati beberapa detik.
"Lebih rapi yang revisi."
Sarah tersenyum puas."Sama kayak yang aku pikir."
Wulan ikut memperhatikan layar, Menurutnya memang jauh lebih seimbang dibanding konsep sebelumnya.
"Lan."
"Iya, Kak?"
"Tolong ambilin contoh pita warna champagne sama ivory."
"Oke." Wulan segera mengambil kedua pita tersebut lalu meletakkannya di atas meja.
Sarah membandingkannya satu per satu."Hm... bentar ya."
Sarah berdiri. "Aku ambil hasil print revisinya di ruangan dulu."
Baru saja Sarah masuk ke ruang kerjanya, Nara ikut berdiri. "Aku ke toilet bentar ya."
"Oke," jawab Rafi singkat tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya.
Kini suasana menjadi lebih tenang.
Di meja hanya ada Wulan, Saka, dan Rafi yang masih sibuk membalas pesan.
Wulan mulai merapikan kembali contoh-contoh bunga yang tadi digunakan.
Saka memperhatikan salah satu tangkai baby's breath di tangannya.
"Yang ini masih asli?"
Wulan mengangguk."Iya."
"Kirain artificial."
"Hehe... banyak yang ngira gitu."
Saka mengamati bunga kecil itu lebih dekat. "Awet ya."
"Kalau dirawat benar, lumayan lama."
"Lumayan menarik."
Wulan tersenyum kecil. " dulu ya kaa aku nggak ngerti apa-apa soal bunga tau."
"Terus?"
"Ya belajar pelan-pelan."
"Susah?"
Wulan terkekeh pelan."awalnya iya tapi sekarang kalau lihat bunga dikit langsung hafal namanya."
Saka ikut tersenyum tipis.
"Berarti saya harus banyak belajar."
"Nanti kalau Kak Saka bingung lagi soal nama bunga, tanya aja."
"Oke."
Obrolan sederhana itu kembali mengalir begitu saja Tanpa terasa canggung Tanpa dipaksakan.
Sesekali Rafi masih sibuk mengetik sesuatu di ponselnya, benar-benar tidak memperhatikan percakapan mereka.
Saka kemudian mengambil satu tangkai eucalyptus. "Kalau ini?"
"Eucalyptus."
"Fungsinya?"
"Buat isi rangkaian. Biar nggak kelihatan kosong."
Saka mengangguk pelan. "Pantes."
"Pantes apa?"
"Selalu ada."
Wulan tertawa kecil."Iya sih."
Melihat Wulan tertawa, sudut bibir Saka ikut terangkat tanpa sadar.
Entah sejak kapan, Mengobrol dengan Wulan terasa jauh lebih mudah dibandingkan dengan orang lain.
Tidak perlu mencari topik, Tidak perlu memikirkan harus mengatakan apa Semuanya mengalir begitu saja.
Bzzztt...
Suara getaran ponsel memecah keheningan, Ponsel Saka yang tergeletak di atas meja menyala.
Karena posisi duduk mereka saling berhadapan, tanpa sengaja pandangan Wulan menangkap layar yang menyala itu.
Alya
"Kak, kamu lagi sibuk?"
Jantung Wulan seolah berhenti berdetak sesaat.
jangan dulu saat pertama kali Saka datang membeli bunga, ia sempat mengira bunga itu untuk pacarnya?
Apa...
Nama orang itu Alya?
Belum sempat Wulan mengalihkan pandangan, Saka sudah mengambil ponselnya.
Ia membaca notifikasi sekilas, mengusap layar hingga notifikasinya hilang, lalu meletakkan kembali ponselnya di atas meja.
Tidak tampak panik, Tidak juga buru-buru membalas Bahkan ekspresinya tetap sama seperti tadi.
Saka kembali menoleh kepada Wulan. "Tadi sampai mana?"
Namun, Wulan sudah kehilangan fokus."Oh..."
Jawabnya pelan.
Saka masih melanjutkan.
"Kalau eucalyptus dipadukan sama mawar putih memang paling sering ya?"
"Iya."Jawabannya singkat.
Berbeda dari beberapa menit yang lalu Saka sempat mengernyit tipis.
"Tapi tergantung konsep juga?."
"Iya."
"Kalau rustic?"
"Masih cocok."
Saka menatap Wulan beberapa detik, Biasanya Setiap kali membahas bunga, Wulan akan menjelaskan panjang lebar dengan mata berbinar.
Jawabannya hanya satu atau dua kata. Di sisi lain, Wulan berusaha tetap tersenyum.
Namun pikirannya sudah dipenuhi berbagai pertanyaan. " Alya. berarti dari dulu dia emng dah punya seseorang jadi bener dong? terus selama ini gua.. akh sialan"
Tanpa sadar, ia menggenggam ujung apron yang dikenakannya Berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Padahal Belum ada satu pun yang benar-benar ia ketahui Yang ia lihat hanyalah sebuah nama di layar ponsel.
Namun nama itu sudah cukup membuat dugaan lamanya kembali muncul Dan tanpa ia sadari, Sikapnya mulai berubah sedikit demi sedikit.
Wulan berjalan kembali ke area kerja dengan langkah yang jauh lebih pelan dibanding beberapa menit yang lalu.
Kotak pita satin di tangannya terasa lebih berat dari biasanya
Padahal isinya sama, Tidak ada yang berubah, Yang berubah hanya pikirannya.
Ia menarik napas pelan sebelum kembali ke meja.
"Oke, kita lanjut ya."Suara Sarah membuyarkan lamunannya.
"Iya, Kak." Wulan langsung duduk dan mulai membantu menyusun contoh bunga sesuai catatan revisi.
Tangannya tetap bekerja seperti biasa Namun pikirannya sama sekali tidak berada di sana.
"Yang warna cream dipindah ke sebelah kanan, Lan."
"Iya."
"Yang eucalyptus jangan terlalu banyak."
"Oke."
Semua jawabannya terdengar singkat.
Sarah sempat melirik sekilas, tetapi mengira Wulan hanya mulai lelah karena seharian bekerja.
Sementara itu, di sisi lain meja, Saka masih sesekali berdiskusi dengan Rafi mengenai penempatan dekorasi.
Nada bicaranya tetap tenang Sesekali ia ikut melihat sketsa yang ditunjukkan Sarah.
Sikapnya sama seperti biasanya Tidak ada yang aneh Justru karena itu, dada Wulan terasa semakin sesak.
Berarti memang cuma aku yang kepikiran.
Dia mah biasa aja.
Kenapa gue malah jadi begini sih?
Wulan menggigit pelan bibir bawahnya.
"Lan."
"Hm?"
"Bisa tolong ambilin sampel pita yang satin doff?"
"Iya, Kak."
Tanpa banyak bicara, Wulan langsung berdiri.
batinya " sebel banget suka ma cowo orang kayanya harus minum beras kencur 5 shott dehh"
Biasanya, kalau Saka sedang berdiri di dekat rak, ia akan tetap santai mengambil barang di sana.
Bahkan mereka sering mengobrol sebentar, Sekarang...
Begitu melihat Saka berdiri tidak jauh dari rak pita, Wulan justru memilih memutar sedikit jalannya.
Seolah sengaja menjaga jarak Ia mengambil pita secepat mungkin lalu kembali Tidak ada satu kalimat pun yang keluar.
...
Saka memperhatikannya sekilas.
Aneh. Barusan kayaknya...
dia ngindarin saya?
Ia mengerutkan dahi tipis.
Namun pikirannya kembali teralihkan saat Rafi menunjukkan revisi denah ballroom.
"Ka."
"Hm?"
"Kalau meja keluarga dipindah sini gimana?"
Saka ikut melihat."Boleh."
Obrolan kembali berjalan.
Namun tanpa sadar, pandangan Saka beberapa kali mencari sosok Wulan.
Biasanya cewek itu paling sering nimbrung kalau mereka sedang membahas dekorasi.
Kadang ikut memberi ide Kadang iseng menyela Hari initidak, Wulan hanya diam sambil menulis.
...
Sekitar lima belas menit kemudian, revisi konsep akhirnya selesai.
Sarah menutup map besar di hadapannya. "Nah, kalau gitu tinggal final revisi."
Rafi mengangguk."Berarti minggu depan udah mulai produksi."
"Iya"
"Untung konsep nya cepet beres"
Sarah tersenyum. "Karena kalian juga gampang diajak diskusi."
Semua tertawa kecil, Hanya Wulan yang tersenyum tipis tanpa banyak bicara.
Saka kembali melirik ke arahnya Semakin yakin, Ada yang berbeda.
...
Saat Sarah sedang menyimpan beberapa sketsa ke dalam map, Saka berdiri mengambil botol air mineral yang berada di meja samping.
Tanpa sadar, ia mengambil satu botol lagi.
Ia berjalan mendekati Wulan. "Minum dulu."
Wulan yang sedang menulis langsung mendongak, Tangannya refleks menerima botol itu. "Makasih, Kak."
"Sama-sama."
Biasanya setelah itu Wulan akan menimpali dengan candaan.
Hari ini tidak.
Ia hanya membuka tutup botol, minum sedikit, lalu kembali menunduk.
Saka berdiri beberapa detik.
"..."
Akhirnya ia kembali duduk Perasaan aneh itu muncul lagi.
Kenapa ya?, Apa saya salah ngomong?
Tak lama kemudian Sarah berdiri.
"Eh, aku ke gudang bentar ya. Mau cek stok pita."
"Oke."
Sarah berjalan meninggalkan area konsultasi. Kini yang tersisa hanya Wulan, Saka, Rafi dan nara.
Rafi sejak tadi sibuk membalas beberapa email di laptopnya dan nara yang ikut nimbrung pada rafii.
Suasana mendadak jauh lebih hening Biasanya Wulan pasti sudah membuka obrolan.
Sekarang justru sebaliknya.
Saka akhirnya memecah keheningan. "Wulan."
"Iya, Kak?"
"Kamu capek?"
Pertanyaan sederhana itu membuat Wulan sedikit terkejut.
"Hah?"
"Dari tadi kelihatan lebih diem."
Wulan buru-buru tersenyum.
" Ohh nggak kok."
"Yakin?"
"Iya." Jawabannya terlalu cepat.
Saka menatapnya beberapa saat.
"Tapi biasanya kamu lebih rame."
Wulan tertawa kecil. "Emangnya kak?"
"Iya, tadi aja masih."
Wulan mengalihkan pandangan.
"Nggak tahu Mungkin emang capek aja."
"Oh."Saka mengangguk pelan.
Meski begitu Entah kenapa ia merasa jawaban itu bukan alasan sebenarnya.
Di sisi lain, Wulan justru semakin salah tingkah.
Kenapa dia malah perhatian?
Padahal Dia mungkin udah punya seseorang.
Pikiran itu kembali datang, Mengganggu.
Ia mencoba mengusirnya dengan kembali merapikan contoh bunga.
Namun semakin dipaksa melupakan, bayangan notifikasi itu justru semakin jelas.
Alya nama itu terus berputar di kepalanya.
Sampai akhirnya Sarah kembali dari gudang."Oke, stoknya aman."
Suasana kembali ramai.Diskusi kecil kembali berlangsung.
Namun sejak saat itu, Wulan tanpa sadar mulai menjaga jarak Kalau biasanya berdiri di dekat Saka saat melihat sketsa, Kini ia memilih berdiri di samping Sarah.
Kalau biasanya langsung menyambung obrolan Saka
Kini ia hanya mendengarkan Semuanya terasa sangat halus, Nyaris tidak terlihat Tapi cukup untuk membuat seseorang mulai menyadarinya.
Saka Beberapa kali matanya mengikuti Wulan.
Semakin lama, Semakin terasa jelas
Bukan cuma hari ini dia lebih pendiam.
Dia juga seperti...
menghindari saya.
Perasaan itu membuat Saka ikut terdiam ia tidak tahu apa penyebabnya.
Ia mencoba mengingat kembali semua percakapan mereka hari ini.
Apa tadi saya ngomong yang bikin dia tersinggung?
Apa ada sikap saya yang salah?
Tidak ada jawaban.
Yang ada justru rasa penasaran yang perlahan tumbuh Dan untuk pertama kalinya, Saka menyadari satu hal.
Saat Wulan tiba-tiba menjauh,
Ia ternyata tidak bisa benar-benar bersikap biasa saja.
Beberapa pelanggan datang silih berganti untuk mengambil pesanan, sementara Sarah sibuk memastikan daftar kebutuhan dekorasi yang akan segera dipesan.
"Kalau begitu tinggal nunggu konfirmasi terakhir dari vendor bunga," ujar Sarah sambil menutup map di tangannya.
Rafi mengangguk pelan. "Berarti minggu depan udah mulai sibuk."
"Banget," jawab Sarah sambil terkekeh.
Wulan yang sedang merapikan meja hanya mengangguk kecil.
"Lan, tolong simpan sampel bunganya, ya."
"Iya, Kak." Ia langsung mengangkat beberapa vas kecil dan membawanya ke rak display.
Biasanya, di sela-sela pekerjaan seperti ini, ia akan mengobrol dengan siapa saja yang ada di dekatnya.
Hari itu berbeda, Ia lebih memilih diam Sesekali hanya menjawab seperlunya.
Saka berdiri tak jauh dari meja konsultasi, Pandangannya tanpa sadar mengikuti Wulan yang mondar-mandir merapikan toko.
Semakin diperhatikan...
Semakin terasa, Ada yang berubah, Cewek itu memang masih tersenyum.
Masih membantu pelanggan, Masih bekerja seperti biasa Tapi Setiap kali berada di dekatnya, Wulan selalu mencari alasan untuk bergerak ke tempat lain.
Kalau bukan membantu Sarah Ya melayani pelanggan, Kalau bukan mengambil bunga, Ya merapikan rak, Seolah-olah selalu ada pekerjaan yang harus dilakukan.
Dan entah kenapa, Semuanya terasa seperti sedang menghindarinya.
Suara Nara terdengar. " Ayo yang Aku udah booking tempat makan."
Rafi langsung menutup laptopnya.
"ayo."
Nara kemudian menoleh ke arah Sarah."Kak Sarah, kita duluan ya."
"Hati-hati."
"Iya." Nara melambaikan tangan ke arah Wulan. "Dadah, lann!"
Tak lama kemudian mereka keluar dari toko. Kini tinggal Sarah, Wulan, dan Saka.
Sarah melihat jam di pergelangan tangannya. "Eh, bentar ya. Aku mau nelpon vendor dulu di belakang."
Sarah berjalan menuju ruang kerjanya sambil membawa tablet, Area depan toko mendadak terasa jauh lebih sepi.
Hanya terdengar suara pendingin ruangan dan musik instrumental yang mengalun pelan, Wulan masih sibuk menyusun beberapa pot bunga.
Sementara Saka berdiri beberapa langkah di belakangnya Ia menarik napas pelan.
Akhirnya memberanikan diri membuka percakapan."Wulan."
"Iya, Kak?"
"Kamu marah sama saya?"
Tangan Wulan langsung berhenti bergerak. "Hah marah kenapa coba?"
"Saka mengusap tengkuknya pelan.
" Saya ngerasa kamu dari tadi kayak menghindar."
Wulan langsung menggeleng cepat.
"Nggak kok."
"Yakin?"
"Iya."
"Terus kenapa dari tadi diem?"
Pertanyaan itu membuat Wulan semakin gugup Ia jelas tidak mungkin berkata jujur.
Masa iya gue cuma gara-gara lihat nama cewe muncul di layar hpnya?
Itu juga belum tentu siapa Bisa aja temen, Bisa aja saudara, Atau Memang orang yang spesial.
Memikirkan kemungkinan terakhir membuat dadanya kembali terasa sesak. "Nggak kenapa-kenapa, Kak."
Saka menatapnya beberapa detik Tatapan Wulan tidak sedang berbohong Tapi Juga tidak sedang mengatakan yang sebenarnya.
"Oke." Hanya itu yang keluar dari mulutnya.
Kalau memang Wulan ngga mau ngomong Ia tidak ingin memaksa.
Keheningan kembali hadir Aneh Padahal beberapa hari terakhir mereka bisa mengobrol panjang tanpa merasa canggung.
Sekarang Bahkan mencari satu topik saja terasa sulit.
Tak lama kemudian Sarah kembali keluar. "Nah, udah beres."
Ia tersenyum melihat mereka.
"Eh, kok pada diem?"
Wulan langsung tersenyum tipis.
"Lagi capek aja, Kak."
"Oh..." Sarah mengangguk tanpa curiga. "Kalau gitu kita beres-beres aja."
Saka membantu membereskan beberapa katalog yang masih berada di atas meja.
Sebelum pulang, ia sempat menoleh ke arah Wulan sekali lagi.
"Kalau gitu saya pamit ya."
"Iya Hati-hati."
" Kamu juga."Jawaban Wulan tetap ramah.
Tetap sopan Tetap seperti biasanya tapi entah kenapa, Terasa ada jarak yang tidak pernah ada sebelumnya.
Di perjalanan pulang, Saka duduk diam di balik kemudi Lampu merah membuat mobilnya berhenti.
Namun pikirannya justru terus kembali ke satu orang, Wulan.
Kenapa, ya?
Apa saya bener-bener bikin dia nggak nyaman?
Apa ada ucapan saya yang salah?
Atau...
Dia memang lagi ada masalah?
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama Saka menyadari bahwa perubahan kecil Wulan ternyata bisa memengaruhi pikirannya sepanjang hari.
Ia bahkan tidak bisa fokus memikirkan hal lain.
Tanpa sadar, sudut bibirnya membentuk senyum tipis yang penuh keheranan. "Kenapa saya jadi kepikiran terus..."
Lampu lalu lintas berubah hijau Mobil kembali melaju Namun satu pertanyaan itu masih tertinggal di kepalanya.
Sementara di sisi lain kota...
Wulan yang sedang duduk di kursi penumpang motor Siwi hanya memandang jalanan tanpa benar-benar melihatnya.
Nama yang muncul di layar ponsel Saka siang tadi kembali terlintas.
pikirannya melayang"siapa sih alya alya itu, kenapa juga ni hati rasanya jadi sakit gini, sebel. patah hati tanpa ada hubungan ngenes banget gue anjirrr"
Wulan mengembuskan napas pelan Tanpa ia sadari.
Perasaan yang selama ini berusaha ia anggap biasa saja, ternyata sudah tumbuh jauh lebih dalam dari yang ia bayangkan.