Pernikahan adalah hal yang diinginkan banyak orang, sayangnya pernikahan Aina Putri Arman tak semulus seperti yang di harapkan sebelumnya.
Calon suaminya tidak datang dan akhirnya, Davian Kin Sanjaya menggantikan posisi calon suami Aina di pelaminan.
Adakah sesuatu yang membuat calon suami Aina tidak hadir dalam pernikahannya sendiri?
Lalu bagaimana kehidupan rumah tangan Davian dan Aina selanjutnya?
Sekuel dari Takdir Janda Muda.
Ini adalah cerita hiburan semata, semoga suka😊🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tinayuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Di Kafe
Setelah kejadian semalam, rasanya sangat canggung dan entah kenapa mendebarkan. Berkali-kali Aina menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan, menata hati dan pikiran untuk keluar dari sarangnya, tapi langkahnya selalu saja terhenti.
Malu? Atau lebih pada kesal pada Dav?
Dua-duanya. Itulah yang dirasakan Aina sekarang. Kini ia berdiri dan menatap pantulan wajahnya dari cermin besar di hadapannya, ada rona merah pada pipinya, padahal dia tidak memakai blush on hari ini.
Sialan. Umpatnya.
Ia memegang blush on dan mengoleskan nya pada kedua pipinya agar terlihat merah blush on, bukan merah malu. Ia juga menebalkan sedikit lipstiknya agar gigitan Dav tak terlihat di sana.
Rambutnya ia gerai, poninya ia taruh di atas dahi bak seorang anak gadis. Ia tersenyum dengan penampilan nya, tapi biarlah, sesekali menjadi muda lagi.
Sebelum dia menyeret kakinya keluar kamar, ia melirik jam dinding yang berada di kamarnya terlebih dahulu.
Jam 08.00.
"Biasanya Vi sudah berangkat kerja, setidaknya aku akan aman di bawah jika tidak bertemu dia!" bahunya mengedik dan kemudian dia keluar dari kamar.
Sayangnya apa yang ia pikirkan tak sejalan dengan kenyataan.
"Kenapa malah bertemu Vi di depan kamar?" gumamnya dalam hati.
Kedua mata mereka bertemu dan sama-sama canggung. Kedua mulut itu terasa kelu dan cedal seketika saat tidak tahu tegur sapa apa yang pantas untuk pagi hari ini.
Hanya tangan Dav yang bergerak mengisyaratkan agar Aina berjalan lebih dulu untuk turun ke bawah.
Di dapur, bi Inah sudah memasak sarapan untuk mereka dan menatanya di atas meja, kemudian ia pamit untuk pulang sebentar karena ada urusan di rumah yang tak jauh dari komplex mereka.
Tinggalah kini dua pasutri yang hanya duduk pada tempatnya dan saling melirik saja.
Aina menegakkan tubuhnya dan mengambil satu lembar roti tawar di depannya.
"Apa kau mau roti? Aku akan mengambilkan nya!" itulah akhirnya kalimat pertama yang keluar dari mulut Aina dengan menahan rasa canggung dan malunya karena tragedi semalam.
"Mau. Pakai selai kacang!"
Terdengar suara Dav menyeruput kopi panas yang ada di depannya.
"Hmmm. Bolehkah aku jalan-jalan hari ini?" ucap Aina kemudian sembari tangan mengoleskan selai kacang pada bagian roti tawar.
"Boleh. Kau bisa pergi kemanapun yang kau inginkan, asalkan jangan terlalu memakai pakaian terbuka seperti itu!"
Seketika Aina menatap dirinya yang saat ini memakai dress pendek dengan bahu yang terlihat.
"Iya, aku akan ganti baju yang lebih sopan nanti!"
Ingin rasanya Dav meminta istrinya itu memakai hijab, tapi melihat situasi dan kondisi yang kurang bersahabat, mungkin Dav akan menahan keinginan itu.
"Aku akan meminta Agil menemanimu!"
"Nope. Aku akan naik taxi saja!"
"Kenapa tidak bawa mobil sendiri?"
Sejenak Aina terdiam," Aku tidak bisa menyetir!" ucapnya tertunduk malu.
"Baiklah, nanti aku akan carikan sopir baru untukmu!"
Selepas sarapan, Dav hendak berangkat kerja dan Aina mengantarkannya hingga ke depan.
"Telepon aku jika kau membutuhkan sesuatu nanti!"
Hanya deheman dari Aina yang menjawab kalimat dari bibir Dav.
Ia masih menatap mobil Dav yang perlahan bergerak dan menghilang dari halaman rumahnya.
**
"Kafe yang nyaman. Apa kau pernah kemari sebelumnya?"
"Sering, Ruby. Tapi baru kali ini aku ke sini dengan seorang wanita. Biasanya aku sendiri!" jawab Alee setelah menyeruput kopi espresso tanpa gula miliknya.
"Kau tidak suka gula?" tanya Aluna yang heran kenapa Alee tidak meminta gula pada kopinya tadi.
"Sedang tidak ingin saja. Kopi ini tidak terlalu pahit, tidak sepahit kisah hidupku!" senyumnya kecut.
Sedikit memperhatikan, wajah Alee tampan juga, pikir Aluna. Matanya berwarna sedikit kebiruan dan alisnya tebal hampir menaut satu sama lain. Rambutnya tebal dan saat ini terlihat bergerak lantaran tertiup angin. Pantas saja, mereka berada di dekat jendela sekarang.
Aluna menyesap minumannya dan menatap Alee kembali setelahnya." Aku bukan konsultan, jadi jangan salahkan jika nanti aku tidak bisa memberikan jawaban yang kau inginkan!"
Alee tergelak," Tidak. Aku tidak memaksamu menjadi konsultan yang baik. Aku hanya butuh teman untuk berbicara saja."
"Sebenarnya, aku kehilangan calon istriku, kehilangan rumah kontrakan ku sebelumnya, kehilangan mobil, ponsel dan dompetku,"
Aluna tersedak minumannya sendiri saat ia mendengar ucapan Alee yang terasa aneh di telinganya.
"Hei, Ruby, kau harus hati-hati!" tangannya mengulur memberikan tisu pada Aluna.
"Sorry, aku terkesan dengan cerita awalmu!" mengusap bibirnya yang basah karena minumannya sendiri.
Kembali Alee tertawa melihat respon yang diberikan oleh Aluna.
"Terima kasih jika kau terkesan. Itulah kehidupanku yang terenggut empat bulan lalu, ups hampir lima bulan tepatnya!"
"Who did it? Keluargamu? Temanmu?"
Alee mengedik pertanda tidak tahu, membuat Aluna mengerutkan keningnya.
"Saat aku akan berangkat menuju ke gedung dimana aku akan mengikat janji pernikahan, saat itulah kepalaku di pukul seseorang dari belakang dan aku membuka mata sudah berada di sebuah gudang. Dan untung saja aku bisa keluar dan bertemu dengan kalian saat itu!"
"Oh, aku turut prihatin. Lalu kenapa rumahmu, mobilmu-?"
"Iya, saat aku sampai di rumah waktu itu, aku sudah di keluarkan dari kontrakan oleh pemilik rumah, iya aku kontrak saat itu, bukan rumah sendiri," Alee tertawa," mobilku, ponsel, semua tidak ada. Hanya ada dompet yang berisi KTP, SIM yang tersisa di dalamnya. Mengenaskan bukan?" pria itu menyeringai sambil mengaduk kopinya dan menyesapnya kembali.
"Gosh. Siapa yang melakukan itu kepadamu?"
"Tidak tahu."
"Kau tidak mencari calon istrimu itu?" tanya Aluna kemudian.
"Mencari, tapi dia dibawa suaminya dan tidak berada di rumahnya sendiri saat ini," terlihat sudut mata Alee basah karena air mata." Aku sangat rindu padanya, dan mungkin dia membenciku karena mengira aku kabur dari pernikahan ku sendiri."
Tangan Aluna mengulur dan mengusap lengan Alee. Ia merasa iba pada pria malang itu." Semua pasti akan berlalu. Ada kalanya seseorang mendapatkan ujian yang berat seperti yang kau alami saat ini, Alee,"
Alee mengangguk dan tersenyum, mulutnya menggumamkan terima kasih pada wanita manis di hadapannya ini.
"Maaf aku memintamu ke sini hanya untuk mendengar cerita hidupku yang pahit. Sekalian aku hanya ingin minta tolong, jika kau menemukan calon istri ku itu, beritahu aku, ya!" Alee tersenyum berharap.
"Bagaimana wajahnya? Apa kau tidak memiliki fotonya?"
Kembali raut wajah Alee berubah sedih mengingat hal itu." Bahkan fotonya sudah hilang dan aku tidak memilikinya sekarang,"
Alee menegakkan wajahnya seperti mendapatkan sebuah pencerahan." Astaga kenapa aku bisa lupa!"
Melihat raut wajah Alee yang berubah kembali seperti teringat sesuatu, membuat Aluna menaikkan alisnya dan menatap tangan pria itu mengambil ponsel dan mencari sesuatu.
"Dia anak orang kaya, pasti fotonya ada di mesin pencarian!" matanya berbinar saat mengatakan hal itu.
Aluna tersenyum, wanita itu begitu berarti baginya. Pikir Aluna.
"Yap, aku benar. Ini dia!" Alee menyodorkan ponselnya memperlihatkan foto Aina pada Aluna yang seketika membulatkan matanya.
untuk penjahatnya tidak di hukum
jd kurang gereget dan kurang puas endingnya..