NovelToon NovelToon
TERJERAT OBSESI ELZIO

TERJERAT OBSESI ELZIO

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / One Night Stand / CEO / Percintaan Konglomerat / Office Romance
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

"Dendanya lima miliar rupiah, Clara. Atau... kamu tanda tangani kontrak tiga tahun jadi asisten pribadi saya!"
Berniat kabur dari masa lalu dan hidup mandiri, Clara justru terjebak dalam jaring laba-laba Elzio Mahendra—CEO tampan, kaya raya, dan obsesif yang tak mempan digertak. Hanya demi mengikat Clara di sisinya, Elzio tak ragu membeli perusahaan tempat Clara melamar dan menjeratnya dengan kontrak denda bernilai fantastis.
Segala cara Clara lakukan agar Elzio ilfil—mulai dari bersikap super galak, memboroskan uangnya, hingga kabur naik KRL. Namun, bukannya menyerah, sang CEO gila justru makin gila dan posesif padanya.
Di tengah intrik perjodohan elit dan trauma masa lalu yang menghantui, akankah Clara berhasil bebas dari jerat denda lima miliar, atau justru akhirnya bertekuk lutut dalam pelukan sang CEO?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 22

"Ini... apartemen siapa lagi, Elzio?"

​Clara menghentikan langkahnya di ambang pintu unit lantai 15 sebuah bangunan apartemen modern di kawasan Jakarta Selatan. Matanya mengedar meneliti ruangan yang tampak hangat, berkonsep minimalis-elegan, dan jauh dari kesan mencolok seperti penthouse mewah Elzio sebelumnya.

​Elzio yang berdiri di belakang Clara langsung meletakkan tas kerja Clara di atas meja konsol kayu dekat pintu, lalu merangkul pinggang wanita itu pelan dari belakang.

​"Apartemen sederhana ini milik saya, Clara," bisik Elzio rendah di dekat telinga Clara. "Saya beli pakai sisa uang saya minggu lalu."

​Clara memutar badannya di dalam dekap Elzio, menyandarkan punggungnya pada dada tegap pria itu sambil menatapnya curiga. "Sederhana dari mananya? Ini luas banget buat kita berdua!"

​"Bandingkan dengan penthouse 45 lantai saya yang kemarin, sweetheart," kilat jenaka terpancar dari mata Elzio. "Ini cuma apartemen dua kamar. Tapi lokasinya hanya lima menit dari kantor baru 'Clara Corp'. Kamu tidak perlu macet-macetan atau desak-desakan di KRL lagi."

​Clara tertegun. Dia menyapu pandangannya ke sekeliling. Dapur bersih bernuansa kayu hangat, sofa empuk berwarna abu-abu pastel, dan balkon luas yang menampilkan pemandangan kota. Tempat ini tidak intimidatif, terasa sangat nyaman, dan jujur saja... sangat aman.

​"Lu sengaja nyari tempat ini buat gue?" tanya Clara dengan suara memelan.

​"Bukan cuma buat kamu, tapi buat kita," ralat Elzio lembut. Tangannya terulur mengusap pipi mulus Clara. "Di sini sistem keamanannya pakai pemindai sidik jari dan retina mata. Tidak akan ada preman suruhan, orang asing, atau bahkan keluarga kamu yang bisa masuk sembarangan. Saya tidak mau kejadian kemarin terulang lagi."

​Clara menatap mata Elzio yang jernih. Tidak ada tatapan posesif yang mengekang, hanya ada rasa ingin melindungi yang sangat tulus tanpa membuat Clara merasa terkekeh atau risih.

​Rasa lelah, trauma, dan benteng gengsi yang selama berbulan-bulan ini Clara bangun mendadak runtuh sepenuhnya di tengah keheningan ruangan hangat itu.

​Clara menghela napas panjang. Dia tidak mendorong dada Elzio kali ini. Malah, kedua tangan lentiknya terulur, mengalungkan diri di leher tegap Elzio secara perlahan.

​DEG.

​Elzio tersentak kaget. Binar matanya membelalak lebar menatap Clara yang kini mengikis jarak di antara mereka.

​"Elzio..." panggil Clara parau, menengadah menatap iris mata pekat sang pria.

​"Ya, Clara?" suara Elzio mendadak bergetar halus.

​"Gue... gue mau nyoba," bisik Clara jujur, air mata haru tergenang di sudut matanya. "Gue mau mulai buka hati gue penuh buat lu. Gue mau coba percaya sama hubungan ini."

​Elzio membeku total. Jantung di dalam dada bidangnya mendadak berdegup kencang bagaikan maraton. "Kamu... kamu serius, Clara?"

​Clara mengangguk pelan, menyunggingkan senyum manis yang paling tulus—sebuah senyuman yang belum pernah Elzio lihat sebelumnya. "Gue capek terus-terusan lari dan cemas. Lu udah ngebuktiin semuanya, El. Lu ada pas gue hancur, lu lindungi gue dari keluarga gue, bahkan lu rela lepas segalanya demi gue."

​"Clara..." Elzio merengkuh pinggang Clara makin rapat, menekan tubuh wanita itu ke dadanya seolah takut apa yang didengarnya hanyalah mimpi. "Terima kasih... Terima kasih, sweetheart."

​"Tapi..." potong Clara cepat, menahan dada Elzio dengan satu tangannya.

​Elzio menunduk, menatap Clara cemas. "Tapi apa?"

​Raut wajah Clara berubah menjadi sangat serius dan tegas. Binar matanya menajam, menatap lurus ke dalam jiwa Elzio.

​"Gue punya satu syarat mutlak," ujar Clara dengan suara tak terbantahkan. "Hanya satu, dan ini kunci utama kalau lu beneran mau hidup sama gue."

​"Sebutkan, Clara. Apa pun itu," balas Elzio mantap.

​"Jangan pernah ada kebohongan di antara kita," desis Clara tajam. "Gue bisa terima kalau lu miskin, gue bisa terima kalau kita harus merintis dari nol, tapi gue paling benci dibohongi. Sekali aja lu bohong sama gue... detik itu juga gue bakal pergi dan enggak akan pernah balik lagi ke hidup lu."

​DEG.

​Kata "kebohongan" seketika menghantam kesadaran Elzio bagaikan petir di siang bolong.

​Tenggorokan Elzio mendadak terasa sangat kering. Keringat dingin mulai menyelisik halus di tengkuknya. Wajahnya yang biasanya tenang dan dominan seketika mengeras kaku.

​Gila... batin Elzio histeris. Saya sedang berbohong soal kepailitan Mahendra Group, berpura-pura merintis dari nol, dan menyembunyikan identitas saya sebagai pemilik AetherCorp!

​"Elzio?" tegur Clara mengerutkan keningnya, melihat perubahan raut wajah pria di depannya. "Kok lu malah bengong? Kenapa? Lu ada sembunyiin sesuatu dari gue?!"

​"T-tidak!" tangkas Elzio cepat, suaranya sedikit meninggi karena panik—sebuah reaksi langka yang membuat Clara makin memicingkan mata curiga.

​"Kok lu gagap?" selidik Clara, menyilangkan tangan di dada. "Elzio Mahendra... lu enggak lagi bohongin gue kan soal bisnis kecil yang baru kita bangun kemarin?"

​Elzio menelan ludah kasar, berusaha memutar otak dengan kecepatan penuh untuk menetralkan raut wajahnya. "Mana mungkin saya bohong, sweetheart? Saya... saya cuma kaget dan terlalu bahagia dengar kamu akhirnya mau buka hati buat saya."

​Clara menatap Elzio lekat-lekat selama beberapa detik, lalu menghela napas dan menyunggingkan senyum tipisnya kembali. "Bagus kalau gitu. Karena kalau sampai gue tahu lu bohong... jangankan nikah, ngetatap muka lu aja gue enggak akan sudi."

​Elzio memaksakan sebuah senyuman tampan di bibirnya, meski di dalam hatinya dia sudah mengutuk keputusan konyolnya berpura-pura bangkrut kemarin. Rasa takut membayangkan Clara mengetahuinya kini membakar jiwanya lebih dari ancaman kakeknya sekalipun.

​"Tidak akan ada kebohongan, Clara," bisik Elzio parau, meraih tangan Clara dan mengecup punggung tangannya dengan sangat lama untuk menutupi getaran di jarinya. "Saya janji."

​Clara tersenyum puas, menyandarkan kepalanya di dada bidang Elzio. "Ya udah. Sekarang mana kamar gue?"

​"Kamar kamu?" Elzio menaikkan sebelah alisnya, mengalihkan rasa paniknya dengan godaan khasnya. "Maksud kamu kamar kita?"

​"Enak aja!" semprot Clara galak, mencubit pinggang Elzio kuat-kuat. "Kan gue bilang baru mau mulai buka hati! Belum nikah, Pak CEO! Kamar kita beda!"

​"Aww! Clara, sakit!" ringis Elzio berpura-pura, tapi tangannya justru makin erat memeluk pinggang Clara dari belakang. "Kan apartemen ini cuma ada dua kamar. Satu kamar utama, satu lagi kamar kerja saya. Jadi mau tidak mau kamu harus tidur sama saya."

​"Gak sudi! Gue tidur di sofa kalau gitu!"

​"Tidak boleh," potong Elzio tegas, menyunggingkan seringai bahagianya kembali. "Sofa ini terlalu keras buat calon istri saya. Kalau kamu tidak mau tidur di kasur sama saya, biar saya yang tidur di lantai kamar kamu. Yang penting saya bisa lihat kamu pas bangun tidur."

​Clara memutar bolanya malas, tapi bibirnya tidak bisa menahan tawa renyah yang meledak halus dari tenggorokannya. Rasa hangat yang begitu nyata memenuhi dadanya.

​"Dasar penempel profesional!" ejek Clara.

​"Hanya profesional untuk kamu, sweetheart," balas Elzio rendah, menunduk dan mendaratkan sebuah kecupan hangat yang lembut di bibir Clara—sebuah ciuman yang kini tak lagi ditolak oleh sang wanita.

​Di balik pelukan hangat malam itu, Elzio memejamkan mata erat-erat sambil membatin panik: Arka... besok pagi kamu harus bantu saya membereskan kebohongan 'AetherCorp' ini sebelum Clara membunuh saya hidup-hidup.

1
umie chaby_ba
mampir thor..🙏
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!