Nayara Zayna Az-Zahra putri kiai besar yang anggun, taat agama, dan berprestasi cemerlang hidup di balik pagar syariat yang ketat. Dunianya yang tenang seketika terusik oleh kehadiran Revan Al-Gibran: bad boy kampus, playboy legendaris, dan mantan kekasih dari lebih dari sepuluh wanita.
Berawal dari sebuah taruhan egois untuk menjadikannya kekasih yang kelima belas, Revan justru terjebak dalam pesona ketulusan dan benteng pertahanan Nayara. Di tengah teror cemburu dari sang ketua geng penindas kampus, pertarungan antara dunia bebas sang pemuda dan dunia suci sang bidadari pesantren dimulai.
" Bisakah seorang bad boy berandalan meluluhkan hati wanita yang dijaga ketat, atau justru keyakinan dan cinta sejatilah yang mengubah segalanya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Hitam di Lorong Sepi
Matahari sore di kota Surabaya memantulkan cahaya jingga kemerahan yang perlahan meredup di balik gedung-gedung tinggi Universitas Airlangga Nusantara. Suasana kampus mulai lengang, seiring derap langkah para mahasiswa yang bergegas pulang menuju kos atau kediaman masing-masing setelah seharian penuh berjibaku dengan jadwal kuliah yang melelahkan.
Nayara berjalan seorang diri menyusuri koridor samping gedung perpustakaan lama yang dikelilingi rimbunnya pohon ketapang. Hari itu, Alya terpaksa pulang lebih awal karena harus mendampingi ibunya berobat ke rumah sakit, meninggalkan Nayara untuk menyelesaikan sisa revisi makalah kedokteran di ruang baca lantai dua.
Angin sore berhembus lembut, menerbangkan ujung jilbab navy yang dikenakannya. Di tengah langkah kakinya yang tenang, pikiran Nayara tanpa sengaja kembali melayang pada kejadian di taman kampus beberapa hari lalu. Penolakannya terhadap Revan bukanlah hal yang mudah untuk diucapkan; ada rasa nyeri yang sempat menyelinap di relung hatinya, menyadari betapa tulusnya pemuda itu saat membawa setangkai Edelweis putih di bawah rintik hujan. Namun, prinsip hidup, batasan agama, dan tembok pemisah di antara dunia mereka terlalu kokoh untuk diabaikan begitu saja.
“Kita harus berhenti sebelum perasaan ini berjalan terlalu tahun dan melukai kita berdua...” batin Nayara lirih, menarik napas panjang untuk menepis bayangan wajah Revan yang tampak terluka.
Ia mempercepat langkahnya, berniat segera menuju gerbang utama tempat Fathan sudah menunggunya di dalam mobil operasional pesantren.
Namun, insting tajamnya tiba-tiba menangkap kejanggalan. Suara langkah kaki di belakangnya terasa tidak wajar bukan derap langkah mahasiswa biasa, melainkan suara sepatu bot berat yang bergema rapat, seolah sengaja mengikuti setiap ritme gerakannya.
Nayara menghentikan langkahnya secara mendadak. Ia menoleh ke belakang.
Koridor panjang itu tampak sunyi dan temaram. Bayangan dahan pohon yang bergoyang tertiup angin menciptakan siluet menyeramkan di dinding semen. Tidak ada siapa pun di sana.
"Merasa paranoid sendiri, Nay," gumamnya pelan mencoba menenangkan debaran jantungnya yang mulai berpacu lebih cepat. Ia kembali membalikkan badan dan melanjutkan langkah dengan kecepatan yang sedikit ditingkatkan.
Sialnya, firasat buruknya tidak meleset.
Bruk!
Tiba-tiba, dari arah tikungan lorong sempit dekat gudang inventaris lama, dua orang bertubuh tegap berjaket hitam dan mengenakan masker kain mencegat jalannya. Gerakan mereka begitu cepat dan terkoordinasi, menutup seluruh akses jalan keluar Nayara.
Napas Nayara tercekat. Sontak ia melangkah mundur, namun dari arah belakang, sesosok pria bertato dengan seringai mengerikan sudah berdiri menghalangi jalannya.
"Mau ke mana, Neng Cantik? Sendirian aja sore-sore begini. Nggak takut apa?" suara serak pria bertato itu terdengar menjijikkan, melangkah mendekat dengan tatapan lapar yang membuat darah Nayara mendadak membeku.
"Siapa kalian?! Jangan mendekat!" bentak Nayara, berusaha mempertahankan keberanian meski suaranya bergetar hebat. Ia meraba tas ranselnya, berniat mengeluarkan ponsel untuk menghubungi Fathan atau pihak keamanan kampus.
Belum sempat jemarinya meraba tombol darurat, salah satu preman berbadan besar menerjang maju dengan kasar.
Prang!
Tas ransel Nayara terlepas dari genggamannya, jatuh menimpa lantai semen hingga buku-buku dan ponselnya berserakan. Preman itu mencengkeram pergelangan tangan Nayara dengan kuat tanpa ampun, menarik tubuh gadis itu ke area sudut lorong yang tertutup pilar tebal, jauh dari jangkauan pandangan orang lain.
"Lepaskan aku! Tolong! Tolong!" teriak Nayara sekuat tenaga, memberontak mati-matian sambil memukulkan tangan bebasnya ke dada sang preman.
"Teriak aja sepuasnya, Neng! Di sini sepi, nggak bakal ada yang dengar!" seringai pria bopeng itu semakin melebar. Tangannya yang kasar mulai meraba kain gamis Nayara, menarik bagian bahunya dengan kasar hingga kain berkualitas sederhana itu terdengar nyaris merobek.
Air mata ketakutan tumpah seketika membasahi pipi Nayara. Seluruh pertahanan mentalnya runtuh. Rasa ngeri, jijik, dan keputusasaan menghantam batinnya secara bersamaan. Di tengah pergulatan putus asa itu, bayangan wajah Abah, Ummi, dan Fathan berkelebat di benaknya. Apakah hari ini adalah akhir dari kehormatannya?
"Ya Allah... Lindungi aku..." rintik isak tangis Nayara pecah, tubuhnya melemah saat cengkraman tangan kotor itu semakin beringas merobek jilbab dan lapisan bajunya.
Di belahan kampus yang lain, ribuan meter dari lorong sunyi itu, Revan sedang duduk di dalam mobil sport mewahnya di area parkir utama. Ia baru saja hendak melajukan kendaraannya meninggalkan kampus setelah seharian mengurus urusan bisnis. Namun, ada perasaan gelisah yang luar biasa aneh bergejolak di dalam dadanya sebuah intuisi kuat yang membuatnya urung menancap gas.
"Kenapa perasaan ku jadi nggak enak begini..." gumam Revan gelisah, meremas setir kemudi erat-erat.
Pandangannya secara refleks menyapu ke arah koridor fakultas lama yang tampak remang-remang dari kejauhan. Mengabaikan logika rasionalnya, Revan mematikan mesin mobil, membuka pintu, dan langsung berlari kencang menerobos halaman rumput menuju arah area perpustakaan lama.
Kembali ke lorong sempit perpustakaan, situasi Nayara sudah berada di ambang kehancuran. Kain gamis bagian depannya telah robek di bagian lengan, dan air mata telah membasahi seluruh wajahnya yang pucat pasi. Preman bopeng itu tertawa puas, bersiap melancarkan aksi pelecehan yang lebih keji.
"Bagus, nangis aja yang kencang, manis..." bisik preman itu dengan seringai menjijikkan, mendekatkan wajahnya.
Bugh!
Sebuah hantaman keras tiba-tiba melayang dari arah samping, menghantam rahang preman bopeng itu hingga terpental membentur dinding semen dan tersungkur tak berdaya di lantai dengan darah segar mengalir di sudut bibirnya.
Dua preman lainnya terperanjat kaget. Sebelum mereka sempat bereaksi, sesosok bayangan hitam dengan mata menyala penuh amarah murka sudah menerjang membabi buta.
Revan.
Pemuda itu datang bagaikan singa yang kelaparan melihat mangsanya diganggu. Napasnya memburu, urat-urat di lehernya menonjol keluar, dan kepalan tangannya menghantam wajah preman kedua dengan kekuatan penuh hingga tersungkur pingsan. Preman ketiga yang mencoba melawan dengan pisau lipat langsung dilumpuhkan Revan dalam tiga gerakan telak menendang perutnya hingga tersengal-sengal sebelum membantingnya ke lantai beton.
Dalam waktu kurang dari satu menit, ketiga preman bayaran itu terkapar tak berdaya di lantai lorong.
Revan tidak memedulikan mereka lagi. Pandangannya langsung tertuju pada sosok gadis yang meringkuk di sudut pilar dengan tubuh gemetar hebat dan pakaian yang koyak.
Hati Revan seperti ditusuk ribuan belati melihat kondisi Nayara saat itu. Tanpa pikir panjang, ia melepas jaket bomber hitam miliknya, lalu bergegas melangkah mendekat dengan penuh kehati-hatian, berusaha tidak membuat Nayara semakin ketakutan.
"Nay... Nayara..." panggil Revan dengan suara parau yang bergetar hebat, nyaris menangis melihat keadaan gadis yang paling dicintainya itu.
Mendengar suara familiar itu, Nayara mendongakkan kepalanya yang basah oleh air mata. Begitu melihat sosok Revan berdiri di hadapannya, pertahanan terakhir Nayara runtuh. Ia langsung menerjang maju, memeluk erat pinggang Revan, dan menangis sejadi-jadinya di dada bidang pemuda tersebut.
"Revan... hiks... hiks... mereka..." tangis Nayara pecah, mencengkeram erat kain kaos Revan seolah-olah pemuda itu adalah satu-satunya benteng keselamatan di dunia ini.
Revan memeluk tubuh Nayara erat-erat, mendekapnya penuh perlindungan di balik jaket bomber miliknya yang menutupi bagian pakaian yang robek. Tangan kanannya mengusap lembut pucuk kepala Nayara yang jilbabnya berantakan, sementara matanya menatap tajam penuh dendam ke arah preman-preman yang mulai merangkak kabur ketakutan.
"Tenang, Nay... Tenang, ada aku di sini. Nggak ada satu orang pun di dunia ini yang boleh nyentuh kamu lagi," bisik Revan penuh keyakinan, suaranya bergetar menahan amarah yang luar biasa besar.
Di bawah temaram lampu koridor yang sunyi, malam itu menjadi saksi bisu bagaimana Revan mempertaruhkan segalanya untuk melindungi sang bidadari pesantren, sementara benih badai yang lebih besar yang dirancang oleh Jessica diam-diam mulai bersiap menghantam seluruh kampus keesokan harinya.