NovelToon NovelToon
The Alpha'S Secret Girl

The Alpha'S Secret Girl

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:612
Nilai: 5
Nama Author: Scrpn

“Rangga Dewantara Aldebaran menguasai sekolah ini, tapi Keisha Zahra Aurellia menguasai jantungnya.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Bab 21: Jejak Langkah di Atas Pijakan Baru

Mentari pagi di awal semester kedua perkuliahan menyinari pelataran kampus universitas dengan kehangatan yang menyegarkan. Udara terasa sejuk setelah semalam disiram hujan gerimis, meninggalkan aroma tanah basah yang khas di bawah rimbunnya pepohonan mahoni. Di sepanjang koridor gedung Fakultas Teknik dan Fakultas Ekonomi, lalu-lalang mahasiswa tampak sibuk membawa tumpukan buku tebal, bersiap menghadapi jadwal kuliah pagi yang padat.

Di sebuah bangku kayu panjang yang berada tepat di bawah naungan pohon rindang dekat taman pusat kampus, Rangga duduk bersandar sambil membaca sebuah jurnal teknik mesin terbaru. Mengenakan kemeja flanel kotak-kotak biru gelap yang lengannya dilipat hingga siku dan celana bahan hitam, penampilan pemuda itu kini jauh lebih matang dan mencerminkan sosok mahasiswa teladan yang dapat diandalkan. Tidak ada lagi sisa-sisa penampilan arogan ala ketua geng motor masa lalu; yang tersisa hanyalah aura ketenangan, ketegasan, dan sorot mata tajam penuh determinasi.

Tap... tap... tap...

Suara langkah kaki ringan mendekat dari arah koridor perpustakaan. Seorang gadis dengan ransel kecil di punggungnya muncul membawa dua cangkir kopi panas dalam wadah kertas khusus.

"Nih, buat pengawas akademik paling rajin yang dari subuh udah standby di kampus," sapa Keisha lembut sambil menyodorkan salah satu cangkir kopi kepada Rangga, lalu duduk di bangku tepat di sebelah pemuda itu.

Rangga mendongak, menutup jurnal di tangannya, lalu menyambut cangkir kopi tersebut dengan senyuman hangat yang seketika menghiasi wajah tampannya. "Terima kasih, Keish. Kamu sendiri dari mana pagi-pagi begini? Bukannya kelas pengantar akuntansi kamu baru mulai jam sembilan?"

Keisha membuka buku catatan kecilnya sambil merapikan letak kacamata berbingkai tipis di hidungnya. "Tadi aku mampir dulu ke sekretariat BEM fakultas buat ngecek jadwal sosialisasi program kerja pengabdian masyarakat bulan depan. Kebetulan aku dipercaya jadi bendahara panitia kecil buat kegiatan bakti sosial di panti asuhan."

Rangga memerhatikan wajah serius namun tetap memesona dari gadis di sampingnya itu. Hubungan mereka yang telah melangkah ke jenjang tunangan semenjak pertunangan sederhana di tepi danau kampus beberapa bulan lalu membuat ikatan di antara keduanya semakin kuat dan dewasa. Tidak ada lagi kecemasan berlebihan atau rasa takut akan masa lalu; yang ada hanyalah komitmen bersama untuk saling mendukung menyelesaikan impian akademis masing-masing.

"Bakti sosial?" tanya Rangga memastikan. "Kapan pelaksanaannya? Kalau butuh bantuan logistik atau tenaga tambahan buat transportasi barang-barang sumbangan, anak-anak Black Raven yang sekarang aktif di kegiatan sosial pemuda kota pasti siap turun tangan."

Mendengar itu, tawa renyah lepas dari bibir Keisha. Ia menoleh menatap Rangga dengan pandangan jenaka. "Wah, ketua geng motor yang sekarang sudah insaf ini rupanya masih suka mengerahkan pasukan setianya buat urusan amal ya?"

Rangga ikut terkekeh pelan, merangkul bahu Keisha dengan penuh kasih sayang. "Tentu saja. Kalau untuk kebaikan dan buat ngebanggain calon istriku ini, mengerahkan seluruh mantan punggawa Black Raven bukan masalah besar."

Wajah Keisha seketika merona merah mendengar sebutan 'calon istri' yang diucapkan begitu santai namun penuh ketulusan oleh Rangga. Meskipun mereka sepakat untuk fokus menyelesaikan kuliah strata satu terlebih dahulu sebelum melangkah ke pelaminan resmi, panggilan dan komitmen batin di antara keduanya sudah tidak pernah goyah oleh apa pun.

Sementara itu, tidak jauh dari posisi mereka duduk, dua sosok familiar berjalan mendekat sambil membawa kantong plastik berisi roti bakar kantin. Satria dan Bara menghampiri bangku tersebut dengan gaya santai khas mereka.

"Wih, pagi-pagi udah pamer kemesraan aja nih calon pengantin baru," ledek Satria langsung sambil duduk di bangku seberang, meletakkan kantong roti bakar di atas meja kayu. "Bikin jomblo di kampus ini merasa terintimidasi tahu nggak, Bos."

Bara ikut menarik kursi kecil dan duduk di sebelah Satria. "Bener tuh, Sat. Mending energi bucinnya disimpen nanti pas udah yudisium. Oh ya, Rang, ngomong-ngomong soal bengkel modifikasi tempat lu kerja paruh waktu kemarin, klien yang kemarin nyariin lu buat restorasi motor klasik era sembilan puluhan itu nanyain kelanjutan proyeknya lagi."

Rangga mengubah posisinya menjadi sedikit lebih tegak, meneguk kopinya sebelum merespons laporan dari sahabatnya itu. "Oh, motor Honda CB antik milik om-om kolektor itu? Blok mesinnya sudah selesai kuperbaiki minggu kemarin. Tinggal tahap finishing pengecatan tangki dan penyesuaian sistem kelistrikan baru. Minggu ini pasti beres."

Sejak keluar dari rumah keluarganya dan memilih hidup mandiri, Rangga tidak pernah meninggalkan dunia mesin yang dicintainya. Sembari menempuh kuliah teknik mesin di universitas, ia tetap mempertahankan pekerjaan paruh waktunya di bengkel besar, bahkan kini dipercaya sebagai kepala mekanik junior berkat keahlian tangan dinginnya yang luar biasa dalam merestorasi kendaraan roda dua.

"Hebat bener emang ketua kita satu ini," puji Bara kagum menggelengkan kepala. "Kuliah teknik nilai IPK-nya di atas rata-rata, kerjaan di bengkel lancar, urusan percintaan sama mahasiswi teladan fakultas ekonomi juga mulus tanpa hambatan. Sempurna."

Keisha tersenyum simpul mendengar pujian tersebut. "Itu semua karena Kak Rangga punya tekad yang kuat buat ngebuktiin kalau pilihan hidupnya nggak salah. Aku cuma nemenin dan nyemangatin dari dekat."

Pembicaraan santai di pagi hari itu mendadak terhenti ketika bel tanda masuk kuliah berbunyi nyaring di seluruh penjuru kampus, memecah suasana hangat di bawah pohon rindang. Para mahasiswa berhamburan bangkit berdiri menuju ruang kuliah masing-masing.

"Wah, gawat! Dosen mata kuliah makroekonomi galaknya minta ampun kalau ada mahasiswa yang telat semenit pun," seru Keisha kaget, buru-buru memasukkan buku catatannya ke dalam ransel. "Aku duluan ya, Kak! Nanti siang kita ketemuan pas jam istirahat di kantin!"

"Iya, hati-hati jalannya, Keish," pesan Rangga lembut, membiarkan gadis itu berlari kecil menuju gedung fakultas ekonomi.

Rangga, Satria, dan Bara kemudian berjalan beriringan menuju gedung fakultas teknik yang terletak di sisi utara kampus. Sepanjang perjalanan, beberapa mahasiswa junior menyapa Rangga dengan penuh rasa hormat. Kharisma kepemimpinan yang dulunya terpancar di dunia jalanan kini bertransformasi menjadi kewibawaan intelektual yang diakui oleh rekan-rekan kampusnya.

Jam berputar cepat hingga akhirnya matahari tepat berada di atas kepala, memancarkan terik hangat yang menyengat di halaman terbuka kampus. Suasana kantin utama universitas tampak sangat ramai dan dipenuhi oleh ratusan mahasiswa yang mengantre memesan makanan siang.

Di salah satu meja sudut kantin yang cukup tenang, Keisha sudah duduk lebih dulu sambil menata buku-buku tugasnya. Tidak lama kemudian, Rangga datang membawa dua porsi nasi goreng spesial pesanan mereka.

"Nih, makan yang banyak. Jangan terlalu sibuk mikirin laporan bakti sosial sampai lupa jam makan siang," ucap Rangga perhatian, meletakkan piring makanan di hadapan Keisha.

"Terima kasih, Kak," jawab Keisha tersenyum manis. Mereka mulai menikmati makan siang sambil membahas berbagai rencana ringan untuk akhir pekan mendatang, mulai dari jadwal bimbingan skripsi awal hingga rencana berkunjung ke rumah ibu Keisha.

Namun, di tengah obrolan hangat tersebut, suasana meja mereka tiba-tiba didatangi oleh seseorang yang tidak terduga.

Seorang pria paruh baya berjas rapi dengan postur tegap dan rambut beruban di pelipisnya berdiri tepat di samping meja mereka. Pria itu menatap lurus kepada Rangga dengan sorot mata yang memancarkan campuran antara rasa bangga, kerinduan mendalam, dan gengsi khas seorang ayah yang keras kepala.

Danendra Aldebaran.

Rangga langsung terpaku di tempatnya. Sendok di tangannya berhenti bergerak. Suasana di sekitar meja mereka mendadak terasa senyap, seolah menghentikan seluruh kebisingan kantin universitas. Sudah lebih dari setahun mereka tidak bertemu secara langsung setelah insiden malam penangkapan dan keputusan pemberontakan Rangga untuk keluar dari rumah keluarga.

Keisha yang mengenali sosok pria paruh baya itu langsung merespons dengan rasa gugup, buru-buru berdiri dari kursinya dan menundukkan kepala hormat. "S-selamat siang, Om..." sapa Keisha cemas, takut kehadiran ayah Rangga akan memicu ketegangan lama.

Danendra mengalihkan pandangannya sekilas kepada Keisha, lalu mengangguk pelan dengan ekspresi wajah yang jauh lebih lembut dibanding pertemuan terakhir mereka di kantor polisi setahun lalu. "Selamat siang, Nak Keisha. Tidak perlu tegar begitu, duduklah kembali."

Danendra kemudian kembali menatap anak tunggalnya. Ia menarik kursi kosong di sebelah Rangga lalu duduk tanpa diundang, merapikan jasnya sejenak.

"Bisa-bisanya kamu bertahan hidup di rumah petak kecil itu selama setahun penuh tanpa sepeser pun bantuan fasilitas dari kartu kredit keluarga, dan sekarang malah jadi mahasiswa teladan sekaligus kepala mekanik bengkel terkemuka di kota ini," buka Danendra dengan nada suara rendah yang khas, terdengar seperti sebuah sindiran halus namun di baliknya tersirat rasa bangga yang luar biasa besar.

Rangga menarik napas pelan, menegakkan punggungnya, lalu menatap lurus manik mata ayahnya tanpa ada secercah rasa gentar sedikit pun. "Saya hanya membuktikan pada Bapak bahwa hidup saya tidak diatur oleh uang atau fasilitas mewah yang Bapak pegang. Saya bisa berdiri dengan keringat dan usaha saya sendiri."

Alih-alih marah mendengar jawaban menantang tersebut, Danendra justru mendengus pelan, lalu tiba-tiba menarik selembar amplop dokumen resmi berlogo perusahaan dari dalam tas kerjanya dan meletakkannya di atas meja di hadapan Rangga.

"Aku tidak datang untuk berdebat atau mengajakmu pulang ke rumah lama," ujar Danendra serius namun tenang. "Perusahaan properti keluarga kita baru saja meresmikan proyek pusat pengembangan teknik mesin dan galeri otomotif modern di pusat kota. Dewan direksi membutuhkan tenaga ahli muda yang mengerti struktur mesin sekaligus manajemen lapangan secara langsung."

Rangga mengerutkan keningnya, melirik amplop dokumen tersebut. "Maksud Bapak apa?"

"Aku tidak meminta kamu meninggalkan kuliahmu atau melepaskan idealismemu," lanjut Danendra menatap lekat-lekat mata anaknya. "Aku menawarkan posisi sebagai direktur operasional muda di proyek baru itu untukmu. Kamu bebas menjalankan proyek itu dengan caramu sendiri, membuktikan kapasitas profesionalismemu tanpa campur tangan langsung dariku."

Keisha yang mendengarnya membelalakkan mata kaget, menyadari betapa besarnya tawaran dan pengakuan profesional yang baru saja diberikan oleh Danendra kepada Rangga—sebuah bentuk restu tertinggi dari seorang ayah yang keras kepala terhadap jalan hidup putranya.

Rangga terdiam sejenak. Ia memandang amplop dokumen tersebut, lalu beralih menatap wajah ayahnya yang mulai menampakkan garis-garis kerutan penuaan di sekitar mata. Perasaan benci dan amarah di masa lalu perlahan sirna sepenuhnya, digantikan oleh kedewasaan jiwa seorang pria muda yang siap merangkul masa depan.

Rangga mengulurkan tangan kanannya di atas meja, bukan untuk menolak, melainkan menyambut tawaran tersebut dengan genggaman tangan yang tegas dan penuh keyakinan.

"Saya terima tawarannya, Pak," ucap Rangga mantap dengan suara baritonnya yang tenang. "Tapi ingat satu syarat: saya bekerja berdasarkan kemampuan profesional saya sendiri, bukan karena status saya sebagai anak pewaris Aldebaran."

Danendra tertegun sejenak, lalu untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun lamanya, sebuah senyuman tulus terukir di bibir pria paruh baya itu. Ia membalas genggaman tangan putranya dengan erat.

"Deal," jawab Danendra singkat. Ia kemudian berdiri dari kursinya, melirik sekilas ke arah Keisha sambil mengangguk ramah. "Sampai jumpa di acara peresmian proyek bulan depan, Nak Keisha."

Setelah kepergian Danendra, suasana kantin kembali normal. Keisha menghela napas panjang penuh kelegaan, lalu menatap Rangga dengan senyuman lebar.

"Wah... Kak Rangga hebat banget! Sebentar lagi jadi direktur muda nih!" puji Keisha antusias.

Rangga merangkul bahu Keisha erat-erat, mengecup puncak kepala gadis itu dengan penuh kasih sayang di tengah keramaian kantin universitas. Masa lalu yang gelap, badai jalanan, dan pertentangan keluarga kini telah sepenuhnya melebur menjadi kekuatan. Di bawah langit kota yang cerah, lembaran hidup baru yang jauh lebih gemilang telah resmi mereka buka bersama menuju masa depan abadi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!