Clarissa Joanna Lyon Watson, seorang putri Duke satu-satunya yang awalnya punya sifat manja serta lemah berubah menjadi karakter wanita bar-bar setelah siuman dari tidur panjangnya. Dengan jiwa yang berbeda. Konflik antara ayahnya yang seorang Duke dengan Putra Mahkota yang merupakan tunangannya menjadi pemicu ketidak stabilan duchy (wilayah) Lyon yang membuat Clarissa harus turun tangan dengan memberi pelajaran pada Putra Mahkota atau membuatnya mencintai setengah mati.
jangan lupa like, komen, rate dan vote ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erofantic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16 : Kerjasama
Sungguh aku tidak menyangka akan duduk saling berhadapan dengan orang yang cukup penting di kekaisaran. Duke Muda Arched. Meskipun sesama Duke, tapi posisi Duke Arched terbilang istimewa karena masih bagian dari keluarga kekaisaran. Terlebih aku dengan penampilan yang bisa dibilang 'gila'. Reputasiku benar-benar jatuh sebagai putri Duke yang cantik dan elegan. Tapi mau bagaimana lagi, sudah terlanjur seperti ini. Dan lagi ini kesempatan aku untuk meminta izin akses untuk penyelidikan di wilayahnya.
"Jadi... Nona baru selesai melakukan penyelidikan terkait jual beli budak? Makanya berpenampilan seperti ini?"
Aku menarik nafas panjang. Merasa malu pun terlambat.
"Iya, dan menjadi hiburan untuk Anda."
Dia mengulum senyum, menahan tawa.
"Maafkan ketidaksopanan saya, Nona."
Sekalipun dia bilang seperti itu, garis bibirnya masih terlihat mencuat keatas. Ah, menyebalkan sekali.
"Sebenarnya sudah lama sekali saya mencurigai Marquess Luke ikut andilnya dalam perjual belian budak, hanya saja bukti-bukti tidak cukup kuat untuk saya menekan dan memprosesnya ke pengadilan."
Aku menyodorkan buku usang yang aku ambil dari ruang meja pemilik bar, bawahannya Count Lumird.
"Anda bisa menekan orang-orang yang tercantum namanya disana. Para bangsawan kecuali Marquess Luke pasti akan bisa Anda tekan untuk memperoleh informasi dan bukti keterlibatan Marquess Luke dalam kasus ini." cerocosku, menjelaskan.
"Dan para bangsawan lain yang berada di Duchy Lyon yang terlibat itu akan menjadi bagian saya." lanjutku.
"Bagaimana Nona bisa mendapatkan buku ini?" Tanyanya seraya menyeruput teh yang dihidangkan kafe yang kami tempati.
"Saya membobol ruang kerja orangnya Count Lumird tadi malam."
"Uhuk..." Tuan Arched sedikit tersedak mendengar ucapanku.
Dia kemudian menyimpan kembali gelas ke meja, meraih sapu tangan dan mengelap bibirnya, dengan elegan. Diraihnya buku usang yang aku sodorkan lalu diamatinya dengan seksama.
"Cukup banyak juga bangsawan yang terlibat dalam perjual belian budak, baik sebagai pelaku ataupun sebagai pembeli. Bisakah Nona berbagi informasi apa saja yang sudah Nona dapatkan?"
Aku menjelaskan semua informasi yang aku ketahui, tapi tidak aku sebutkan darimana aku dapatkan informasi itu, secara terperinci dan rencana kedepannya.
"Ini kartu undangan sekaligus akses masuk ke pesta bangsawan tempat diadakannya pelelangan budak yang akan dilakukan tiga hari kedepan." Aku menyodorkan kartu undangan berwarna hitam.
"Darimana Nona mendapatkan undangan ini juga?"
Tuan Duke Muda Arched mungkin terheran karena begitu banyaknya informasi yang aku dapat mengenai kasus perjual belian budak. Dan membuat heran, penyelidikan seperti apa yang dilakukan kekaisaran sampai minim informasi yang didapat?
"Hasil dari membobol juga."
Untuk kedua kalinya dia tersedak.
"Kalau boleh jujur, saya merasa merinding sekarang.Tim intelejen keluarga Duke Lyon benar-benar tidak bisa dianggap remeh. Saya dan kekaisaran sangat kesulitan mencari informasi kasus ini, tapi Nona sudah banyak mengumpulkan informasi sedetail ini."
"Tim intelejen keluarga Lyon langsung dibawah komando saya, langsung menyelidiki ke lapangan itu sebabnya saya bekerja keras sampai berpenampilan seperti ini. Karena kasus ini tidak bisa dibiarkan begitu saja." sahutku.
Ya, aku tidak bisa membiarkan gadis-gadis tak berdosa itu hancur masa depannya karena kebejatan orang yang berkuasa. Di jaman ini, wanita masih dianggap tidak berarti. Dari pewarisan kepala keluarga, wanita masih dikesampingkan, bukannya tidak bisa tapi pemikiran kolot para kepala keluarga sebelumnya yang menganggap wanita terlalu lemah untuk menjadi pewaris kepala keluarga. Dari segi pendidikan pun hanya wanita dengan status tinggi yang bisa memperoleh pendidikan, ditambah wanita disini lebih cendrung memilih pendidikan etika menjadi nyonya rumah.
"Kenapa di kekaisaran ini tidak dibuat undang-undang kesetaraan gender, sih? dimana hak wanita akan sama dengan pria. Dari perlindungan hukum, pewarisan sampai hak pendidikan." gumanku. Pikiran random selalu saja muncul tiba-tiba diotakku.
"Apa?" Duke Muda Arched tampak kaget dengan ucapanku.
"Ah, tidak. Bukan apa-apa."
Aku mengalihkan topik pembicaraan ke awal, enggan juga karena pikiran randomku akan dianggap penentang undang-undang kekaisaran yang absolut. Selama pembahasan sering kali aku mendapati Duke Muda Arched menatapku lekat, tatapan yang membuat aku salah tingkah. Apa penampilanku sekarang sebegitu aneh dimatanya?.
"Baiklah, Nona. Besok saya akan berkunjung ke kediaman Lyon untuk membahas rencana kasus ini."
Aku mengangguk menanggapi.
"Saya harap Putra Mahkota jangan dulu mengetahui hal ini. Anda pasti tahu kasus ini akan jadi boomerang untuk kita."
Setelah sedikit basa-basi, aku pamit undur diri. Dan karena terlalu lelah, sesampainya di kediaman aku tertidur, tentunya setelah melapor semua hasil investigasi pada ayah untuk kemudian selebihnya ayah yang menangani lalu aku mandi dilayani semua pelayanku.
Mataku terbuka ketika pelayan membangunkanku untuk makan malam. Ah, iya. Aku tidak boleh melewatkan makan malam, aku tidak bisa membiarkan ayah makan sendirian. Aku meraih mantel dan memakainya lalu berjalan menuju ruang makan. Tampak ayah sudah terduduk dimejanya. Aku menghampiri ayah, mengecup pipinya lalu duduk dimejaku.
"Hasil penyelidikanmu sungguh akurat, Clarissa. Ayah sampai takjub. Semua informasi cukup untuk menyeret Count Lumird ke pengadilan. Tinggal mencari bukti-bukti saja."
Aku tersenyum, merasa bangga.
"Saya juga sudah membuat kesepakatan dengan Duke Muda Arched untuk bekerja sama dengannya. Karena ada bangsawan yang cukup berpengaruh juga dari wilayah Arched yang ikut andil atas pejual belian budak."
Ayah mengkerutkan kening, heran.
"Kapan kamu membuat kesepakatan dengannya?" tanya ayah heran.
"Tadi siang, ayah. Saya bertemu Duke Muda Arched di kekaisaran. Karena waktunya juga mepet, jadi sekalian saja saya bicarakan semuanya, dan Duke Muda menyanggupi untuk bekerja sama."
Ayah manggut-manggut mendengar penjelasanku.
"Saya hebat kan, ayah?" celotehku, bangga.
Ayah tertawa mendengarnya.
"Iya, ayah sampai takjub dan bertanya-tanya, sejak kapan putri ayah begitu hebat? Atau ayah sebenarnya kurang mengenal karakter putri ayah? Maaf, kalau ayah selama ini kurang memperhatikanmu."
Aku menggeleng seraya tersenyum.
"Tidak, ayah. Bagi saya, ayah selalu menjadi ayah yang hebat dan penyayang. Makanya, saya bila di depan ayah selalu ingin dimanja dan kekanak-kanakan."
Ayah tersenyum. Percakapan kecil disela makan membuatku tahu bahwa Duke Albert seorang yang penyayang terhadap keluarganya, karena sifatnya yang tegas membuatnya kaku untuk sekedar menunjukan rasa sayang itu. Diingatan Clarrisa, suasana seperti ini tidak pernah terjadi. Setiap makan malam selalu tercipta kekakuan. Sifat Clarissa yang egois membuatnya tidak menyadari bentuk kasih sayang ayahnya untuknya.
SEMENTARA ITU TADI SIANG DI KEKAISARAN
"Ppfftttt...buahahahahaha..." Arched tertawa terpingkal-pingkal mengingat bagaimana lucunya penampilan Clarissa. Putra Mahkota yang melihat tingkah Arched tampak kesal.
"Kau itu kenapa? Datang dari pusat kota langsung bertingkah aneh begitu." Ucap Putra Mahkota dengan nada kesal.
"Sewaktu di pusat kota, saya bertemu Nona Clarissa. Dia sungguh diluar dugaan, ya? Dia menarik juga lucu." Arched kembali tertawa.
Seketika hatinya bergemuruh nama Clarissa disebut. Putra Mahkota menatap Arched penuh ketidak sukaan.
"Memangnya ada apa terus kenapa dia ada di pusat kota?" tanyanya.
Arched tersenyum. Penuh makna. Putra Mahkota semakin merasa tidak suka melihatnya.
"Besok saya akan datang ke kediaman Nona Clarisssa. Ada hal yang harus saya kerjakan dengannya."
Alis Putra Mahkota mengernyit mendengar ucapan Arched.
"Hal apa yang akan kalian kerjakan? Sejak kapan kalian ada kepentingan bersama? Apa dia membuat ulah lagi?" Arched diberondong pertanyaan-pertanyaan, nada ketidak sukaan semakin terdengar jelas.
Arched menatap heran Putra Mahkota. Sejak kapan Putra Mahkota ada rasa penasaran pada Nona Clarissa? Bukankah selama ini dia acuh untuk semua hal yang Nona Clarissa lakukan?.
"Akan saya laporkan begitu kasusnya selesai."
Aura mencekam tiba-tiba menyeruak. Membuat Arched merasa tertekan dan sesak.
"Lebih baik kau bilang sekarang sebelum lehermu aku patahkan."
"Astaga, ucapan Anda menyeramkan sekali. Yang Mulia." ujarnya seraya tersenyum jahil.
"Sejak kapan Anda penasaran tentang apa yang Nona Clarissa lakukan?"
Putra Mahkota tak menyahut, hanya aura yang keluar dari tubuhnya semakin mencekik.
Pada akhirnya Arched menceritakan semua informasi yang didapatkan oleh Clarissa berikut rencana kedepannya. Karena Arched tahu, marahnya Putra Mahkota tidak main-main, jadi hal harus dirahasiakan pun akan susah disembunyikan.
'Maafkan saya, Nona Clarissa.' ucap batin Arched
"Aku ikut kesana."
"Apa?!" Arched terkejut.
(Ini pendapat pendapat aku pibadiya)
( ・∀・)
⊂_へ つ
(_)| 🙋♀️ 💕 янǟ࿔ янǟ࿔ ☘
◦•●◉✿ Terima kasih ✿◉●•◦
ʕっ•ᴥ•ʔっ 💜 ⭕ ( ͡°ᴥ ͡° ʋ) (๑•́ ₃ •̀๑)
💐🌻🌹🥀🌻⚘🦋🎀💎💘⚘🌻
✾༊᭄◉absent 🆁🄷🅰✿🆁🄷🅰 ∘̥⃟⸽⃟ ೄྀ
mirip loh tp aq suka
sehingga meleleh kan hatiku😂😂😂🥰🥰🥰🥰
Pokoknya gk rela bngt clasisa sm si pengecut putra mahkota