Ketika langit malam berkedip dan suara mekanis yang dingin bergema di benak miliaran manusia, Bumi tidak lagi sama. Kiamat tidak datang membawa api dari neraka atau wabah mematikan, melainkan sebuah layar biru transparan yang melayang di udara.
Era damai telah dihancurkan oleh "Sistem". Manusia secara paksa ditarik ke dalam arena kelangsungan hidup semesta, di mana monster bermunculan dari bayang-bayang dan hukum rimba menjadi satu-satunya aturan. Beradaptasi, berevolusi, atau mati.
Yudha, seorang mekanik penyendiri yang lebih nyaman berbicara dengan mesin daripada manusia, secara tidak sengaja meretas anomali sesaat sebelum kiamat dimulai. Berkat sebuah kubus hitam misterius yang ia temukan di pasar loak, Sistem salah mengidentifikasinya dan memberikannya kelas yang belum pernah tercatat dalam sejarah integrasi: Mekanik Kosmik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Bintang Jatuh dan Runtuhnya Sang Raja
Bab 33: Bintang Jatuh dan Runtuhnya Sang Raja
BOOOOOM!
Jarak di antara moncong meriam dan dada Raja Darah tidak lebih dari dua meter. Di jarak sedekat itu, bahkan insting monster puncak Tingkat 7 pun tidak memiliki waktu untuk menghindar.
Peluru magma yang merupakan kompresi ekstrem dari Inti Batu Darah melesat menembus kubah Perisai Absolut—yang dirancang Sistem untuk mengizinkan proyektil keluar namun memblokir serangan masuk—dan langsung menghantam dada sang raksasa.
Raja Darah hanya sempat menyilangkan kedua lengan raksasanya yang berlapis sisik naga di depan dada, memusatkan seluruh Qi darahnya untuk membentuk perisai daging.
Namun, tembakan Meriam Penghancur Formasi bukanlah serangan fisik biasa. Begitu peluru padat itu membentur sisik naga, efek destruktifnya terpicu.
DUAAAAARRRR!
Ledakan radius sepuluh meter meledak murni di udara, tepat di wajah Raja Darah. Suhu ribuan derajat Celcius melahap oksigen di sekitarnya. Langit fajar yang sudah berwarna merah kini berubah menjadi putih menyilaukan.
Sisik naga kemerahan yang dibanggakan Raja Darah sebagai zirah tak tertembus seketika meleleh. Lengan kanannya hancur berkeping-keping hingga ke bahu, menjadi abu yang tersapu gelombang kejut. Ledakan itu merobek separuh dadanya, memperlihatkan tulang rusuk raksasanya yang hangus dan paru-parunya yang terbakar.
Tubuh seberat hampir satu ton itu terhempas ke belakang layaknya meteor yang jatuh dari langit, menciptakan lintasan asap hitam tebal di udara, sebelum akhirnya menghantam daratan aspal dengan kecepatan mengerikan.
BAMMMMM!
Aspal terbelah, menciptakan kawah selebar sepuluh meter yang menelan puluhan pasukan Aliansi Binatang yang berdiri di titik jatuhnya. Debu dan serpihan batu beterbangan, menutupi pandangan seluruh medan perang.
Hujan paku dari Menara Lontar berhenti. Suara tebasan pedang Lin bersaudara terhenti. Raungan puluhan ribu monster mendadak lenyap ditelan keheningan yang mencekam.
Semua mata, baik dari pihak Tatanan Besi Hitam maupun Aliansi Binatang, terpaku pada kawah berasap tersebut.
Di dasar kawah, Raja Darah belum mati. Vitalitas dari garis keturunan Kera Naga Darah Tingkat 7 benar-benar menakutkan. Otot-ototnya yang hancur berkedut liar, berusaha beregenerasi dengan cepat. Namun, cairan magma dari peluru Yudha masih menempel di lukanya, membakar sel-sel daging itu lebih cepat dari kemampuan tubuhnya untuk menyembuhkan diri.
"Arrghhh... Keparat... Manusia keparat..." Raja Darah terbatuk darah hitam, berusaha bangkit menggunakan satu lengan kirinya yang tersisa. Matanya yang merah kini dipenuhi teror mutlak.
Di atas tembok, Yudha menurunkan meriam genggamnya yang mengeluarkan uap panas. Ia menyerahkan senjata berat itu kepada Bara yang berdiri mematung dengan rahang terjatuh.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Yudha melompat turun dari tembok benteng setinggi sepuluh meter itu. Ia mendarat di atas aspal dengan anggun, jubah kelamnya berkibar tertiup angin panas sisa ledakan.
Yudha melangkah santai menuju kawah raksasa tersebut. Puluhan ribu pasukan Aliansi Binatang, termasuk para Penjinak Buas dan monster-monster raksasa, secara naluriah membuka jalan untuknya. Mundur teratur dengan kaki gemetar. Hawa intimidasi yang dipancarkan pemuda itu kini jauh melampaui raja mereka sendiri.
Yudha berdiri di tepi kawah, menatap ke bawah pada Raja Darah yang sedang berlutut bersimbah darah.
"Kau meremehkan logam," ucap Yudha dingin. "Daging dan darah memiliki batasan evolusi. Namun baja... baja tidak memiliki batas, selama kau memiliki cukup panas untuk menempanya."
"Persetan dengan bajamu!" aum Raja Darah.
Dalam tindakan keputusasaan terakhirnya, Raja Darah menolak tanah, melesat ke atas dengan lengan kirinya yang mengayunkan cakar mematikan lurus ke leher Yudha. Serangan itu mengorbankan seluruh sisa tenaga kehidupannya.
Yudha tidak mundur. Ia mengangkat Lengan Baja Peleburnya yang kini telah mencapai suhu putih menyilaukan.
TRANG!
Bukan hantaman, melainkan tangkisan presisi tinggi. Lengan mekanis Yudha membelokkan cakar Raja Darah dengan mulus. Di detik yang sama, tangan kiri Yudha yang tidak berlapis besi mencabut pedang pendek dari balik pinggangnya, yang telah dialiri kekuatan fisik Tingkat 7 (berkat bonus atributnya) dan menusukkannya tepat ke mata kiri Raja Darah hingga menembus otak.
Gerakan sang monster raksasa terhenti seketika di udara.
Yudha tidak berhenti di situ. Ia mengayunkan Lengan Baja Peleburnya, menghujamkannya langsung ke dada sang raja yang sudah robek akibat tembakan meriam, mencari sumber kekuatan makhluk tersebut.
Tangan mekanis itu mencengkeram sesuatu yang berdenyut kuat, lalu menariknya keluar dengan kasar.
CRASH!
Darah kental menyembur. Tubuh raksasa Raja Darah kehilangan seluruh kekuatannya, merosot, dan jatuh berdebum di kaki Yudha sebagai seonggok daging mati.
Di telapak tangan baja Yudha, sebuah kristal berukuran sebesar buah melon kecil, berwarna merah darah dengan kilatan emas di dalamnya, berdenyut kencang memancarkan energi liar.
[Inti Naga Darah (Tingkat 7 - Mutasi Puncak) berhasil diekstrak!]
Suara mekanis Sistem yang menggema di seluruh Sektor 7 dan Sektor 8 seketika pecah membelah langit.
[PENGUMUMAN REGIONAL SEKTOR GABUNGAN 7-8]
[Entitas Puncak Sektor 8: 'Raja Darah' (Tingkat 7) telah terbunuh!]
[Pembunuh: Yudha (Ketua Tatanan Besi Hitam)]
[Hukum Rimba Selesai. Penguasa Tunggal untuk Sektor 7-8 telah ditetapkan.]
[Anda mendapatkan +5.000 Poin Pengalaman.]
[Tingkat 7 -> Tingkat 8]
[Anda mendapatkan 5 Poin Atribut Bebas.]
[Anda mendapatkan 'Peti Material Faksi Monster (Peringkat Atas)'.]
Yudha mengangkat Inti Naga Darah itu tinggi-tinggi. Cahaya paginya menyinari kristal berdarah tersebut, memastikan seluruh sisa pasukan Aliansi Binatang melihat kematian penguasa absolut mereka.
Klang... klang...
Suara senjata yang dijatuhkan kembali terdengar, namun kali ini resonansinya ribuan kali lipat lebih masif. Para Penjinak Buas, monster mutan berakal, hingga makhluk buas tingkat rendah menempelkan kepala mereka ke tanah aspal. Lautan ribuan makhluk ganas yang tadinya siap meratakan kota itu kini bersujud tanpa syarat kepada manusia berjubah mekanis di depan mereka.
Lin Tian dan Lin Chen segera melompat ke sisi kiri dan kanan Yudha, bertindak sebagai pengawal inti. Pedang dan tombak mereka masih meneteskan darah musuh, namun tidak ada satu pun monster yang berani menatap mata kedua pemuda itu.
"Ini panen yang terlalu besar, Ketua," bisik Lin Tian, matanya mengawasi lautan monster yang membentang hingga ke batas hutan. "Apa yang akan kita lakukan pada mereka? Benteng kita tidak akan muat menampung sepuluh ribu tenaga kerja."
Yudha menyimpan Inti Tingkat 7 ke dalam ruang penyimpanan sistemnya. Ia menatap lautan musuh yang menyerah. Pemahamannya tentang kekuasaan tidak pernah berlandaskan pada belas kasihan.
"Kita tidak akan membawa mereka masuk," jawab Yudha dingin.
Ia menatap aspal di bawah kaki mereka. Darah dari ribuan monster yang mati di gelombang pertama tadi mulai meresap ke dalam aspal, ditelan oleh efek Tanah Penyerap Darah dari Inti Epik bentengnya. Cahaya keemasan Perisai Absolut di belakang mereka bersinar semakin terang, menandakan pasokan energinya meluap.
"Lin Tian, Lin Chen. Sektor 8 adalah hutan purba dengan material kayu besi dan tulang monster yang melimpah," perintah Yudha, suaranya menggema membelah pagi. "Kalian berdua kini membawahi pasukan baru ini. Pisahkan mutan dan monster Tingkat 4 ke atas. Mereka akan menjadi Pasukan Penebang dan Penambang Eksternal."
Lin Chen mengerutkan kening. "Bagaimana dengan mereka yang berada di Tingkat 3 ke bawah, Ketua? Mereka terlalu lemah untuk bekerja cepat, tapi terlalu banyak untuk diberi makan."
Yudha memutar tubuhnya, berjalan kembali menuju benteng yang kini tak tersentuh.
"Jadikan mereka pupuk untuk tanah kita. Bantai yang lemah di dalam radius tiga kilometer. Biarkan darah mereka memperkuat perisai wilayah ini secara permanen."
Keputusan yang sangat kejam, namun diucapkan dengan nada senormal memesan secangkir kopi. Di dunia kiamat, moralitas dunia lama adalah beban. Efisiensi sumber daya adalah dewa baru.
Lin Tian dan Lin Chen menangkupkan tangan, kilat membunuh seketika kembali menyala di mata mereka. "Sesuai perintah Ketua!"
Pembantaian sepihak kembali meletus di luar tembok Tatanan Besi Hitam. Di bawah komando dua Tetua Penegak Hukum dan pengawasan skuadron udara Gagak Besi, mutan-mutan kuat dipaksa mengeksekusi kelompok mereka yang lemah. Darah membanjiri bumi, dihisap habis oleh rakusnya Inti Pengendali Wilayah, membuat Tatanan Besi Hitam semakin tak tertembus.
Sementara itu, Yudha telah kembali ke dalam bengkel utamanya. Ia meletakkan Inti Naga Darah Tingkat 7 di atas meja kerjanya. Jantung dari seorang raja hutan itu berdenyut memanggilnya.
"Sistem, alokasikan 5 poin Atribut Bebasku ke Kecerdasan," perintah Yudha pelan.
[Kecerdasan: 43 -> 48]
[Batas Daya Komputasi Meningkat: 350 -> 400]
Pikirannya kini terasa setajam silet yang membelah ruang dan waktu. Dengan Daya Komputasi sebesar 400, ia kini mampu merakit struktur yang melampaui batas senjata genggam atau sekadar robot otonom berukuran kecil.
Yudha membuka Peti Material Faksi Monster dari Sistem.
[Anda mendapatkan: Cetak Biru Kendaraan Berat 'Behemoth Lapis Baja' (Peringkat Atas).]
Mata Yudha menyipit. Sektor 7 telah ditaklukkan. Pasukan dari Sektor 8 kini menjadi budak kayunya.