Arthur Fabian Kell adalah vampir yang dianugerahi kekuatan terlarang dari Lucifer. Bukannya dipuja, ia justru dibenci oleh klannya sendiri dan ditolak oleh ayahnya, pemimpin Dark Moon.
Saat sang ibu mengorbankan nyawanya demi menyelamatkannya, Arthur berubah menjadi sosok kejam yang hidup hanya untuk membalas dendam. Untuk menyempurnakan kekuatan hitamnya, ia harus meminum darah manusia yang diberkahi.
Setelah berabad-abad menunggu, Arthur akhirnya bertemu Sonja, gadis yang memiliki darah tersebut. Namun, alih-alih membunuhnya, ia justru jatuh cinta.
Kini Arthur harus memilih, menyempurnakan dendamnya atau mempertahankan satu-satunya orang yang mampu menghidupkan kembali hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Pangeran Kegelapan
Sonja akhirnya memutuskan keluar dari kamarnya. Rasa bosan yang sejak pagi menggerogoti pikirannya sudah tak sanggup lagi dia tahan. Larangan Alea agar tetap berada di dalam kamar sengaja ia abaikan.
Apa kedua gadis lainnya juga mengalami hal yang sama? Dikurung di dalam kamar seperti tahanan?
Namun, baru beberapa langkah meninggalkan kamar, langkah Sonja langsung terhenti. Di hadapannya, Alea sudah berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Tatapan matanya yang dingin seolah sudah mengetahui apa yang akan dilakukan Sonja sejak awal.
"Bukankah aku sudah mengatakan padamu untuk tidak meninggalkan kamar?" tegurnya datar.
Sonja mengembuskan napas panjang, lalu memasang wajah memelas."Aku bosan," keluhnya lirih. "Aku hanya ingin berjalan-jalan sebentar. Aku berjanji tidak akan pergi jauh."
Tatapan Alea masih tertuju pada wajah gadis itu. Beberapa saat ia terdiam, seakan mempertimbangkan permintaan tersebut. Entah mengapa, melihat raut kecewa di wajah Sonja membuat hatinya sedikit terusik."Baiklah," jawabnya akhirnya.
Senyum tipis langsung menghiasi bibir Sonja."Terima kasih."
Mereka pun mulai berjalan menyusuri lorong-lorong rumah besar itu. Sonja memandang setiap sudut bangunan dengan penuh rasa ingin tahu. Rumah itu begitu luas, megah, tetapi juga terasa sunyi dan dingin. Tak banyak pelayan yang berlalu-lalang. Hanya suara langkah kaki mereka yang sesekali memecah keheningan.
Sementara itu, Alea tetap berjalan beberapa langkah di belakang Sonja. Seperti biasa, ia terus mengawasi gadis itu tanpa lengah sedikit pun. Entah sejak kapan, Sonja mulai terbiasa dengan kehadiran vampir wanita itu. Sosok Alea memang terlihat dingin dan sulit didekati, tetapi setidaknya ia belum pernah menyakiti Sonja.
"Alea," panggil Sonja sambil melirik ke arah jendela besar yang memperlihatkan hamparan pepohonan lebat di luar. "Apa rumah ini memang berada di tengah hutan? Dari tadi yang kulihat hanya pepohonan."
Alea mengikuti arah pandangan Sonja."Benar," jawabnya singkat. "Rumah ini memang berada di tengah hutan."
Sonja mengangguk pelan. Tak heran jika suasananya terasa begitu sepi dan terasing dari dunia luar. Beberapa saat mereka kembali berjalan dalam diam. Namun, kali ini justru Alea yang membuka percakapan.
"Sonja." Panggil Alea, masih menatap gadis itu dengan sorot mata tajam seolah sedang berusaha membaca isi pikirannya."Kau pasti pernah bertemu vampir sebelumnya, bukan?"
Pertanyaan itu membuat Sonja menoleh bingung."Apa maksudmu?"
"Saat pertama kali melihatku," Alea berhenti sejenak. "Kau tidak berteriak. Kau juga tidak berusaha melarikan diri seperti manusia pada umumnya."
Langkah Sonja perlahan melambat hingga akhirnya berhenti, dia membalas tatapan Alea, tetapi bibirnya tetap terkatup rapat. Sonja sama sekali tidak berniat menjawab.
Melihat kebungkaman itu, Alea kembali angkat bicara."Dan ada hal lain yang membuatku semakin yakin."
Sonja menelan ludah.
"Aku mencium aroma vampir yang sangat kukenal melekat di tubuhmu malam itu."
Jantung Sonja berdegup lebih cepat.
Arthur. Itu pasti aroma kekasihnya.
Tatapan Alea berubah semakin dalam."Awalnya aku mengira malam itu adalah malam kematianku."
Sonja mengernyit bingung.
"Karena aroma yang kudekati bukan aroma vampir biasa." Suara Alea terdengar semakin dingin. "Itu adalah aroma milik Pangeran terkutuk." Alea menatap lurus ke dalam mata Sonja.
"Malam itu, seluruh tubuhmu dipenuhi oleh hawa milik Pangeran Kegelapan, Sonja."
Kedua mata Sonja seketika membelalak. Wajahnya memucat, sementara napasnya terasa tercekat di tenggorokan.
"Kalian sedang apa? Saling beradu pandang seperti itu sampai membuatku iri," celetuk Elle tiba-tiba.
Ucapan itu sontak membuat Sonja dan Alea menoleh bersamaan ke arah wanita bergaun seksi tersebut.
"Kau selalu saja bicara omong kosong," balas Alea tajam. Tanpa menunggu tanggapan, dia langsung berlalu meninggalkan Sonja dan Elleanor.
Elle berdecak pelan."Kenapa akhir-akhir ini dia jadi semakin pemarah, ya?" gumamnya sambil menggeleng kecil.
Tak lama kemudian, tatapan mata wanita berkulit pucat mulus itu beralih kepada Sonja yang masih memandangnya dengan raut gugup."Kau terlihat tegang. Apa kau takut padaku?" tanya Elleanor seraya melangkah mendekat.
Refleks Sonja mundur beberapa langkah.
"Tenang saja, aku tidak akan menggigitmu. Alea pasti akan mengamuk kalau aku sampai menggigit leher indahmu itu, Manis."
Sonja hanya terdiam. Entah kenapa, menurutnya wanita yang berdiri di hadapannya ini justru terasa lebih menyeramkan daripada Alea. Padahal Elle tampak ramah dan murah senyum, berbeda dengan Alea yang selalu bersikap dingin.
"Namaku Elleanor. Kau bisa memanggilku Elle." Elleanor mengulurkan tangan, dan Sonja menyambutnya dengan ragu.
"Aku Sonja."
"Aku sudah tahu." Elle melepaskan jabatan tangan mereka sambil tersenyum tipis. "Kau cukup terkenal di sini. Kedekatanmu dengan Alea membuat semua vampir di tempat ini penasaran padamu."
"A, Apa?" Sonja tergagap, matanya membulat karena terkejut.
Senyum Elleanor semakin mengembang. Melihat ekspresi Sonja, dia bisa menebak kalau gadis manusia itu masih merasa canggung berbicara dengannya."Kembalilah ke kamarmu Sonja, karena tidak ada tempat yang aman disini selain kamar tidurmu," lanjut Elle, sembari melangkah pergi meninggalkan Sonja yang tentu saja sangat mengerti apa arti dari ucapan vampir itu.