Bagi Karin, dosen pembimbingnya yang bernama Pak Arkan adalah monster nyata di dunia perkuliahan. Dingin, kaku, dan tidak segan mencoret draf skripsinya sampai penuh tinta merah. Karin bertekad untuk segera lulus agar bisa terbebas dari pria menyebalkan itu.
Namun takdir berkata lain. Demi melunasi utang pengobatan ibunya yang menumpuk, Karin terpaksa menyetujui pernikahan kontrak selama satu tahun dengan Pak Arkan sebuah rencana perjodohan rahasia yang diatur oleh keluarga mereka.
Kini, Karin tidak hanya harus berhadapan dengan Pak Arkan di ruang dosen yang menegangkan, tapi juga harus berbagi atap di apartemen yang kamarnya saling bersebelahan. Di kampus mereka harus pura-pura tidak kenal, sementara di rumah, Karin perlahan menemukan sisi lain sang dosen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak tii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
makan siang yang menegang kan
Matahari siang hari di Jakarta terasa sangat terik menyengat kulit saat aku melangkah keluar dari pintu belakang gedung perpustakaan. Aku berjalan menyusuri koridor beton yang teduh di bawah rindangnya pepohonan taman tengah, mencari sosok pria jangkung yang berjanji menungguku di sekitar area ini.
Dari kejauhan, aku bisa melihat Mas Arkan sedang berdiri menyandarkan punggungnya pada tiang koridor yang berukir indah, masih mengenakan kemeja abu-abunya namun dasinya kini sudah sedikit dilonggarkan untuk memberikan kesan yang lebih santai. Ia tampak sedang fokus membalas pesan di ponselnya dengan kening yang sedikit berkerut.
"Selamat siang, Pak Arkan," sapaku dengan suara pelan begitu jarak kami sudah cukup dekat, memastikan tidak ada mahasiswa lain yang sedang berjalan di sekitar koridor ini mendengar panggilanku.
Mas Arkan mendongak, memasukkan ponselnya ke dalam saku celana bahan hitamnya dengan gerakan cepat. "Siang. Bagaimana revisinya? Sudah selesai semua?"
Gila ya ini dosen, baru juga ketemu setelah berjam-jam pisah, yang ditanyain langsung masalah revisi skripsi! batinku menjerit kesal, meskipun di luar wajahku hanya bisa tersenyum canggung yang dipaksakan.
"Sudah sebagian besar kok, Pak. Tinggal bagian diagram alur sistemnya saja yang masih agak membingungkan bagi saya," jawabku sangat sopan.
"Ya sudah, nanti kita bahas di apartemen setelah makan siang selesai," ujarnya datar, lalu mulai melangkah mendahuluiku menyusuri koridor menuju sebuah kafetaria khusus dosen yang terletak di bagian belakang gedung rektorat. "Kita makan di kafetaria dalam saja, menunya lebih bersih dan suasananya tidak terlalu bising oleh mahasiswa baru."
Aku hanya bisa mengekor di belakangnya dengan patuh.
Kafetaria khusus dosen ini benar-benar sangat berbeda dengan kantin mahasiswa biasa yang sering kukunjungi. Di sini suasananya sangat tenang, ber-AC dingin, dengan jajaran meja kayu jati yang rapi dan beberapa dosen paruh baya yang sedang mengobrol santai sambil menikmati cangkir kopi mereka masing-masing.
Mas Arkan memilih meja di sudut yang agak tersembunyi dari pandangan pintu masuk utama. Ia memesankan dua porsi nasi goreng spesial dengan es teh manis hangat untuk kami berdua tanpa perlu bertanya lagi apa menu kesukaanku.
"Karin," panggil Mas Arkan tenang setelah pramusaji meletakkan dua gelas es teh manis di atas meja kami.
"Iya, Pak?"
"Selama di perpustakaan tadi, ada yang mengganggu kamu? Saya dengar hari ini banyak mahasiswa baru yang sedang melakukan tur keliling fasilitas kampus," tanyanya dengan nada suara yang terdengar sedikit peduli, meskipun matanya tetap menatap gelas tehnya yang berembun dingin.
"Nggak ada kok, Pak. Semua lancar-lancar saja, cuma tadi sempat agak canggung pas turun dari mobil Bapak di lobi depan perpustakaan. Banyak yang ngeliatin saya dengan tatapan heran," jawabku jujur, menyeruput es teh manisku dengan pelan menggunakan sedotan plastik.
Mas Arkan terdiam sejenak mendengar penuturanku. Ia menatapku lurus-lurus dengan sepasang mata cokelat gelapnya yang sangat tajam di balik kacamata bacanya yang kini sudah terpasang kembali di hidungnya yang mancung.
"Kamu tidak perlu memedulikan tatapan orang lain di kampus ini, Karin. Status kamu di sini adalah mahasiswi bimbingan saya yang sedang menyelesaikan tugas akhir secara profesional. Selama kita tidak melakukan kesalahan atau melanggar aturan akademik di depan umum, tidak akan ada masalah apa pun yang bisa merugikan kamu," ujarnya dengan nada suara yang sangat mantap dan menenangkan.
Mendengar penuturannya yang begitu kokoh, rasa cemas yang sejak tadi pagi bergelayut di sudut hatiku perlahan-lapan mulai memudar sepenuhnya. Kata-katanya selalu memiliki cara yang unik untuk membuatku merasa terlindungi, meskipun disampaikan dengan nada dingin khas dosen killer-nya.
"Iya, Pak. Terima kasih," jawabku tulus dengan senyuman tipis yang manis.
Setelah makan siang yang cukup menegangkan karena dikelilingi oleh jajaran dosen senior yang sesekali menyapa Mas Arkan dengan ramah, kami akhirnya kembali ke mobil untuk pulang menuju apartemen di sore hari yang mulai mendung.
Awan hitam tebal tampak berarak cepat di atas langit Jakarta, menandakan badai hujan musim panas akan segera mengguyur jalanan kota dalam beberapa menit ke depan.
"Mas... eh, maksud saya Pak," panggilku canggung saat mobil mulai melaju membelah kemacetan jalan tol kembali menuju apartemen mewah kami di pusat kota.
"Panggil Mas saja kalau sudah di dalam mobil seperti ini, Karin. Di sini tidak ada mahasiswa atau dosen lain yang mendengarnya," potong Mas Arkan tenang tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan depan yang mulai diguyur oleh rintik gerimis tipis pertama.
Aku menarik napas lega, membetulkan posisi dudukku agar lebih menghadap ke arahnya. "Mas... besok kita beneran harus kembali ke kota tempat kuliah saya?"
"Iya. Urusan berkas pernikahan kita di Jakarta sudah selesai diurus oleh asisten Kakek siang ini. Besok sore kita akan mengambil penerbangan kembali ke sana, jadi malam ini pastikan kamu sudah merapikan semua barang bawaanmu ke dalam koper kembali," jelasnya panjang lebar dengan gerakan tangan yang sangat terampil memutar kemudi mobil di antara deretan kendaraan yang padat.
"Paham, Mas. Oh ya, diagram alur sistem yang tadi saya bilang membingungkan itu... nanti malam Mas Arkan beneran mau bantu saya merapikannya?" tanyaku penuh harap dengan binar mata yang tampak sangat polos menatap wajahnya dari samping.
Mas Arkan melirikku sekilas melalui sudut matanya, lalu kembali fokus menatap kaca depan yang kini mulai dipenuhi oleh butiran air hujan yang semakin deras membasahi permukaan kaca mobil kami.
"Tentu saja. Menjelaskan diagram alur sistem informasi itu adalah bagian dari tugas saya sebagai dosen pembimbing utama kamu, Karin. Tapi ingat satu hal..." Mas Arkan menjeda kalimatnya sejenak, membuatku menahan napas penasaran. "Jika nanti malam penjelasan saya terlalu detail dan kamu ketahuan mengantuk lagi saat mendengarnya, saya tidak akan segan-segan memberikan coretan tinta merah baru di halaman diagram alur kamu tersebut."
"Ih! Mas Arkan kok gitu sih! Galak banget!" gerutuku spontan dengan wajah cemberut yang menggemaskan, langsung membuat pria di sebelahku itu mengeluarkan kekehan pelan yang sangat renyah di tengah gemuruh suara hujan yang mulai deras mengguyur atap mobil kami sore itu.